Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Hati Andini
Nadira berbaring menyamping, menghadap ke arah jendela kamar yang sudah gelap. Hatinya dirundung gelisah. Aroma tak sedap dari kotoran Gina terasa masih menempel di hidung dan tangannya.
"Kenapa aku tiba-tiba jadi teringat Andini, ya? Apa dia baik-baik setelah aku pergi?"
"Saat kemarin pergi, dia nangis sangat keras," gumam Nadira.
Ia meraih ponsel dari dalam laci nakas dan menatap layar ponsel yang menunjukkan nomor ponsel Arga. "Apa aku menghubungi Mas Arga aja, ya? Aku kangen sama Andini."
Nadira dengan sedikit ragu menekan tombol call dan menempelkan ponsel itu di telinganya.
Dering pertama, belum ada jawaban. Baru setelah dering ketiga, panggilan terhubung. Nadira tidak langsung bicara, begitu juga di sebrang sana, dia tidak mendengar suara apapun.
"Mas," panggil Nadira lemah karena Arga tak kunjung membuka suara.
"Ada apa? Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Arga di sebrang sana, suaranya terdengar bergetar.
"Aku... aku ingin bicara dengan Dini. Dia masih bangun, kan?" tanya Nadira tiba-tiba merasa gugup.
Arga menghela napas panjang.
"Sebentar, akan aku panggilkan."
"Dini, ini Ibu telpon!"
"Mana, Ayah?!"
Nadira tersenyum getir mendengar suara putrinya yang begitu antusias.
"Halo, Ibu. Apa Ibu sudah sampai di rumah baru Ibu yang besar itu?"
Nadira terdiam sejenak sebelum menjawab, "Ya. Ibu sudah sampai tadi malam. Kamu baik-baik aja, kan, Dini? Kamu nggak nangis lagi?"
Suara tawa kecil terdengar dari sebrang sana. "Dini baik-baik aja, Bu."
"Tapi, kemarin Ayah sempat kena demam sampai dibawa ke puskesmas. Dini takut banget Ayah ninggalin Dini kayak Ibu ninggalin Dini."
"Beruntung tadi pagi Ayah sudah sembuh dan pulang," cerita gadis itu dengan semangat.
"Oh, ya... Bu. Tadi Ayah ajak Andini makan bakso di pasar. Ini pertama kali Andini makan bakso tanpa nasi, rasanya ternyata enak banget. Andini sampe kekenyangan dan tidur di jalan," lanjutnya.
Nadira tertegun. Hal sederhana seperti itu saja sudah membuat putrinya bahagia. Sementara dirinya, tinggal di rumah mewah, namun belum menemukan kebahagiaan yang ia cari. Justru, hanya rasa lelah dan kecewa yang dia dapatkan.
"Dini, kamu harus sekolah yang rajin. Awasi terus ayahmu supaya dia bekerja dengan giat untuk membiayai pendidikan kamu."
"Anak ibu harus jadi orang hebat."
"Dan, satu lagi... katakan pada ayahmu, supaya fokus saja mencari banyak uang untukmu, jangan cari istri dulu. Dia harus tahu diri, jika wanita butuh pria yang beruang, nggak cukup cuma modal kerja keras."
Keheningan menyelimuti sesaat. Sebelum tawa Andini terdengar meledak. Gadis itu kemudian menjawab di sela tawanya.
"Ibu, Ayah bilang... Andini butuh ibu baru. Jadi, kemungkinan dia akan menikah setelah menemukan ibu yang cocok."
Nadira mengepalkan tangan. Suara tawa dan canda putrinya kini terdengar seperti ejekan untuknya.
"Ya sudah, terserah. Ibu hanya mengingatkan kamu. Kalo sampai salah cari ibu baru, kamu bakal dapat ibu tiri yang jahat," ujar Nadira ketus.
"Ibu tenang saja. Ayah sayang sama Andini. Dia pasti cari ibu baru yang baik, seperti Bu bidan," jawab Andini sambil terkekeh pelan, beberapa saat kemudian tawanya pecah.
"Ayah, geli..."
"Ibu-ibu, Ayah menggelitiki Dini. Padahal Dini hanya bilang, Bu Bidan sangat baik dan perhatian sama Ayah," cerita Andini penuh semangat.
"Bu bidan?" gumam Nadira.
"Apa maksudnya Bidan Rini?"
Nadira tertawa sinis. "Dia mana mau dengan ayahmu, Dini. Jangan banyak menghayal. Dia wanita berpendidikan dan berpenghasilan. Sementara ayahmu, hanya tukang kuli."
"Andini hanya becanda, Bu. Dini lebih suka kalau ibu pulang dan kita tinggal bersama lagi," ucap gadis itu, suaranya mulai lirih.
"Tapi, Ibu pasti sudah bahagia di sana bersama Ayah baru, ya. Tinggal di rumah besar, punya baju bagus, makanan enak. Makasih karena Ibu masih ingat Dini, ya."
"Dini doakan, semoga ibu selalu bahagia bersama Ayah baru. Dini juga bakal bahagia terus sama Ayah."
Tak terasa air mata menggenang di pelupuk mata Nadira. Ia ingin menjerit, jika dia sama sekali tidak bahagia di rumah itu. Tapi, egonya menahan dirinya untuk mengungkap fakta.
"Ya, tentu saja. Ibu sangat bahagia di sini. Besok, ibu mau beli perhiasan dan banyak pakaian baru. Andai kamu bisa ikut Ibu. Kita akan sangat bahagia," jawab Nadira bangga.
"Andini nggak butuh semua itu, Bu. Ayah saja cukup buat Andini. Dia tadi belikan Dini tas baru. Uang Ayah memang nggak banyak. Tapi, Ayah pasti akan bekerja keras buat Dini. Ibu tenang saja."
"Di sini, Dini bahagia bersama Ayah."
"Ya-ya, terserah. Ibu mau tidur dulu. Besok ibu nggak boleh telat bangun dan segera belanja persiapan pernikahan. Ibu akan hubungi kamu kalo ada waktu lagi."
"Selamat malam, Ibu. Andini sayang Ibu," ucap Andini di sebrang sana. Tak seberapa lama, panggilan terputus.
Nadira meremas ponsel, dadanya terasa sesak setiap kali suara tawa putrinya menggema di dalam telinga. Bagaimana gadis itu bisa bahagia dalam kehidupan sederhana, sementara dirinya yang kini dikelilingi kemewahan terasa hampa?
"Mas Arga, dia pasti sudah mencuci otak Dini buat bicara seperti itu padaku. Lihat saja nanti. Aku akan tunjukkan, jika aku juga bisa bahagia di sini. Sementara kalian, orang miskin, kebahagiaan kalian pasti nggak bakal bertahan lama," gumam Nadira lalu memukul pinggiran ranjang.
---
Di kediaman Arga.
Pria itu tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala mendengar kalimat-kalimat ajaib yang keluar dari mulut putrinya.
"Jangan bicara soal Bidan Rini lagi, ya. Apalagi di depan orang lain, nanti mereka salah paham," pesan Arga. Mereka berbaring di atas kasur di depan televisi yang menyala.
Andini ingin tidur di ruang tengah supaya bisa sambil menonton televisi.
"Tapi Bidan Rini sangat cantik dan baik, Ayah. Kalo nanti Ayah mau nikah lagi, cari yang seperti bidan Rini, ya," goda Andini sambil tersenyum lebar.
"Dasar anak nakal. Dia masih gadis, sementara ayahmu ini duda beranak satu. Dia nggak mungkin mau nikah sama Ayah. Apalagi Ayah cuma tukang kuli."
"Ayah memang tukang kuli, tapi Ayah Dini ganteng. Semua wanita pasti mau jadi istri Ayah," puji Andini sambil mengusap pipi ayahnya.
Arga tak bisa menahan diri untuk tertawa lalu mencubit pipi putrinya. "Sudah cepat tidur. Besok kamu harus sekolah."
"Ayah akan antar kamu dulu sebelum berangkat kerja."
"Ciee, Ayah besok ketemu lagi sama Bu bidan," goda Andini.
"Dini..." Arga menggelitik tubuh putrinya yang tertawa terpingkal-pingkal.
"Saat ini, Ayah hanya ingin memastikan kamu dapat kehidupan yang layak. Ayah tidak berencana memiliki istri lagi sebelum Ayah merasa mampu."
"Cukup ibumu saja yang meninggalkan kita hanya karena ayahmu ini miskin. Ayah tidak ingin menambah korban baru," batin Arga merasa tak siap memulai hubungan baru.
Pagi harinya, setelah mengantar Andini sekolah, Arga segera pergi menuju tempat kerjanya, rumah Bidan Rini. Ia langsung mengambil cangkul untuk mengaduk pasir dan semen.
"Mas Arga, Dini sudah diantar ke sekolah?"
Rini muncul dengan seragam kerjanya, dan hijab berwajah putih. Nampak sangat cantik, dan anggun. Ditambah usianya masih sangat muda, 24 tahun.
"Sudah. Tadi saya antar dulu ke sekolah," sahut Arga sambil tersenyum kikuk, teringat akan ucapan putrinya tadi malam, membuat dia gugup.
"Kalau gitu, saya tinggal ke puskesmas, ya. Untuk makan siang nanti ibu saya antar ke sini," pamit Rini.
Arga dan Ruslan yang berada di sana langsung mengangguk. Perempuan itu baru saja akan pergi, saat tiba-tiba sebuah motor datang dan berhenti secara mendadak.
"Bu Bidan, tolong! Saya mau melahirkan!"
Seorang wanita berperut besar turun dari atas motor. Tubuhnya seketika ambruk ke tanah, dan mulai ngeden membuat Rini dan kedua pria itu panik.
"Mbak! Jangan melahirkan di sini!" teriak Rini, tegang.
Sementara ekspresi Arga dan Ruslan nampak pucat pasi menyaksikan wanita yang akan melahirkan di hadapan mereka.
Bersambung...