Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REKAMAN YANG TERNODA
"Koin ini bukan cuma kenang-kenangan, Pak Tua. Ini remote control buat ngerusak perpustakaan lo yang ngebosenin itu."
Lukas menyeringai, meskipun peluh dingin mengalir deras di pelipisnya. Tangannya yang memegang koin emas retak itu bergetar hebat, namun pendar merah yang terpancar dari artefak tersebut justru semakin intens, seolah-olah benda itu sedang menghisap emosi negatif di ruangan hampa tersebut. Koin itu tidak hanya berdenyut; ia mulai mengeluarkan suara dengung frekuensi tinggi yang membuat serpihan kaca di sekeliling mereka bergetar sinkron.
Sang Archivist menyipitkan mata, langkahnya terhenti. Jubah abu-abunya berkibar meski tidak ada angin, dan buku besarnya yang terbakar api biru mendadak meredup. "Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu genggam, Bocah. Koin itu adalah serpihan Paradoks yang seharusnya sudah menguap saat Jantung Waktu pecah. Membawanya di sini sama saja dengan membawa bom aktif ke dalam ruang penyimpanan data."
"Emang itu rencananya!" Lukas tertawa nekat, jemarinya menekan retakan di tengah koin tersebut. "Lo pikir Nirmala masuk ke masa lalu tanpa persiapan? Dia itu Arsitek, Pak Tua. Dia tahu lo bakal muncul buat 'bersihin' sisa-sisa. Makanya dia titipin ini ke gue. Dia bilang, kalau lo mulai macem-macem, gue tinggal tekan 'Delete'."
Keheningan metafisis di tempat itu mendadak pecah oleh suara langkah kaki yang berat dari arah kegelapan yang pekat. Bukan langkah kaki yang teratur, melainkan langkah yang diseret, penuh dengan aura ancaman yang sangat akrab.
"Lukas, lo jangan kebanyakan gaya. Tekan tombolnya sekarang atau gue yang bakal potong tangan lo."
Sesosok pria jangkung muncul dari balik distorsi udara. Julian berdiri di sana, jas hujan transparannya kini tampak kusam dan dipenuhi noda perak yang mulai mengering. Di tangannya, ia masih menggenggam gagang payung merah yang sudah hancur kainnya, menyisakan rangka logam yang meruncing seperti senjata tajam.
Lukas berjengit kaget, hampir saja menjatuhkan koinnya. "Julian?! Lo ngapain di sini? Bukannya lo udah kabur pas di Monas tadi?"
"Gue nggak kabur, gue cuma nyari jalan pintas buat masuk ke lapisan perak ini," Julian melirik sang Archivist dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam. "Gue ada urusan sama si tukang catat ini. Dia punya utang 'halaman' yang belum dia balikin ke gue sepuluh tahun lalu."
Sang Archivist menegakkan punggungnya, wajahnya yang tua tampak mengeras. "Julian. Sang Penagih yang gagal. Kamu masih saja terobsesi dengan lembaran masa lalu yang sudah saya segel. Elena adalah milik Ordo, dan setiap memorinya adalah aset Perpustakaan Sunyi."
"Elena bukan aset lo, Bajingan!" Julian menerjang maju. Rangka payung merahnya memancarkan kilatan energi hitam yang langsung menghantam perisai api biru sang Archivist.
Benturan energi tersebut menciptakan gelombang kejut yang sangat kuat, melemparkan Lukas hingga ia menabrak tumpukan serpihan kaca yang melayang. Koin emas di tangannya berdenyut semakin liar, memproyeksikan gambar-gambar buram ke udara—visi tentang Nirmala yang sedang berjuang menahan jarum-jarum hitam di dalam kamar rumah sakit masa lalu.
"Julian, tahan!" teriak Lukas sambil berusaha berdiri. "Kalau lo berdua berantem di sini, kestabilan dimensinya bakal runtuh! Nirmala nggak bakal bisa keluar!"
"Biarin aja runtuh!" Julian berteriak murka, ia terus menghujamkan senjatanya ke arah sang Archivist. "Asal gue bisa hancurin buku sialan itu, gue nggak peduli kalau Jakarta harus ilang dari peta!"
Sang Archivist mengangkat tangan kirinya, dan ribuan benang perak tiba-tiba muncul dari kegelapan, melilit tubuh Julian dalam sekejap. "Kamu terlalu emosional, Julian. Itulah sebabnya Nathan Mahendra bisa dengan mudah membodohimu sepuluh tahun lalu. Kamu ingin menyelamatkan Elena, tapi kamu justru menjadi alasan kenapa dia dihapus dari sistem."
"Lo bohong!" Julian meronta, namun benang-benang perak itu mulai memakan energinya, membuat pendar merah dari payungnya meredup.
Lukas melihat kesempatan itu. Ia menyadari bahwa koin di tangannya bukan sekadar senjata, melainkan sebuah antena. Gawai di sakunya yang tadinya mati mendadak menyala kembali, menangkap frekuensi yang dikirimkan oleh koin tersebut. Di layar gawainya, deretan kode hijau mulai tertulis sendiri dengan kecepatan cahaya.
"Ini bukan kode Ordo..." gumam Lukas, matanya membelalak. "Ini... ini pesannya Adrian! Dia nggak bener-bener ilang!"
Lukas segera menempelkan gawainya ke permukaan koin emas. "Adrian! Kalau lo denger gue, lakuin sesuatu! Julian mau bunuh diri, dan Pak Tua ini mau hapus Nirmala!"
Tiba-tiba, frekuensi suara yang jernih muncul dari gawai Lukas, memotong keriuhan pertarungan antara Julian dan sang Archivist.
"Lukas... fokus ke koordinat 0-0-1... gue lagi coba narik kesadaran Nirmala keluar dari loop memori... tapi gue butuh lo buat ngerusak buku sang Archivist dari dalem..."
"Gimana caranya, Adri?!" tanya Lukas panik. "Gue cuma manusia biasa, bukan Arsitek kayak lo atau Nirmala!"
"Gunakan koin itu sebagai Trojan Horse... lempar ke dalem api biru bukunya! Koin itu isinya bukan energi, tapi virus emosi yang Nirmala kumpulin di gudang payung tadi!"
Lukas menatap sang Archivist yang kini sedang bersiap untuk menusuk jantung Julian dengan pena emas besar. Jarak mereka sekitar lima meter, terpisah oleh badai serpihan kaca yang tajam. Lukas menarik napas panjang, ia teringat semua momen menyebalkan dan mengerikan yang ia lalui bersama Nirmala. Ia memadatkan semua rasa takut dan amarahnya ke dalam genggaman tangannya.
"Eh, Pak Tua! Liat nih, ada hadiah buat koleksi lo!"
Lukas melemparkan koin emas itu dengan sekuat tenaga. Koin itu melesat, membelah benang-benang perak, dan masuk tepat ke tengah buku besar sang Archivist yang sedang terbuka.
Seketika, api biru yang membakar buku itu berubah menjadi merah darah. Sang Archivist berteriak ngeri saat tangannya mulai tertutup oleh cairan biru yang keluar dari buku tersebut—cairan yang sama dengan tinta memori Nirmala.
"Apa yang kamu lakukan?! Kamu mengkontaminasi catatan suci ini dengan sampah perasaan!" raung sang Archivist. Tubuhnya mulai bergetar hebat, wajahnya mulai retak seolah-olah ia terbuat dari porselen tua.
Julian, yang terlepas dari lilitan benang perak, jatuh terduduk sambil terengah-engah. Ia menatap buku yang kini meledak-ledak mengeluarkan fragmen memori yang kacau. "Lukas... lo beneran gila."
"Emang!" Lukas menyahut bangga, meski kakinya lemas.
Tiba-tiba, cermin raksasa yang tadi dimasuki Nirmala mulai bercahaya sangat terang. Retakan di permukaannya mulai menyatu kembali, namun cahayanya berubah dari perak menjadi emas murni. Sebuah tangan terjulur keluar dari permukaan kaca—tangan yang kini terlihat padat, bukan lagi transparan.
Nirmala keluar dari cermin itu dengan napas tersengal. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah jarum jam hitam besar yang sudah patah menjadi dua. Matanya memancarkan pendar biru safir yang kini terasa jauh lebih tenang dan stabil.
"Nirmala! Lo berhasil?!" Lukas berlari menghampiri.
Nirmala mengangguk lemah, ia menoleh ke arah sang Archivist yang kini sedang meluruh menjadi butiran debu hitam di lantai kaca. Buku besarnya telah hancur, menyisakan tumpukan abu yang tertiup angin dimensi.
"Gue sudah kunci masa lalu Ibu," bisik Nirmala. "Dia aman. Tapi tempat ini... tempat ini bakal kolaps karena pusat datanya hancur."
Julian berdiri dengan susah payah, ia menatap Nirmala dengan pandangan yang sulit diartikan. "Lo sudah dapet apa yang lo mau, Nirmala. Sekarang biarin gue pergi. Gue punya jalan gue sendiri buat nyari Elena yang asli."
"Julian, tunggu!" Nirmala menahan lengan Julian. "Gue liat sesuatu di memori tadi. Sesuatu yang Nathan sembunyiin bukan cuma soal gue, tapi soal lo juga."
Julian terhenti, punggungnya menegang. "Gue nggak butuh denger omong kosong dari anak pencuri."
"Ini bukan omong kosong," Nirmala mendekat, ia menyerahkan patahan jarum jam hitam itu ke tangan Julian. "Ini adalah kunci buat masuk ke 'Ruang Arsip Terlarang' di pusat Ordo. Ayah naruh ini di dalem detak jantung Ibu supaya Ordo nggak bisa ambil, tapi Ibu kasih ini ke gue pas gue nyelamatin dia tadi."
Julian menatap patahan logam di tangannya dengan tangan gemetar. Ia menoleh ke arah Nirmala, matanya yang dingin kini tampak sedikit goyah. "Kenapa lo kasih ini ke gue? Lo bisa aja pake ini buat jadi penguasa baru."
Nirmala tersenyum sedih, ia memandang ke arah langit perak yang mulai runtuh. "Karena gue sudah janji sama diri gue sendiri, Julian. Gue nggak mau jadi penguasa. Gue cuma mau jadi manusia yang punya keluarga."
Tiba-tiba, guncangan hebat melanda koridor cermin tersebut. Lantai kaca di bawah kaki mereka mulai pecah satu per satu, menyingkapkan jurang kegelapan di bawahnya.
"Kita harus cabut sekarang!" teriak Lukas. "Adrian bilang gerbangnya ada di ujung koridor ini, tapi cuma bakal kebuka selama sepuluh detik!"
Mereka bertiga berlari menembus badai kaca yang semakin ganas. Nirmala membuka payung birunya untuk melindungi mereka dari serpihan yang mematikan. Namun, tepat sebelum mereka mencapai pintu cahaya di ujung koridor, sebuah suara berat terdengar dari bawah jurang—suara yang jauh lebih purba dari sang Archivist.
"Kalian pikir bisa keluar dari sini setelah merusak perpustakaan saya?"
Sebuah tangan raksasa yang terbuat dari rangkaian jam dinding kuno muncul dari kegelapan, mencengkeram kaki Lukas dan menariknya ke bawah.
"LUKAS!" teriak Nirmala panik.
Julian tidak berpikir panjang, ia melompat dan menghujamkan rangka payung merahnya ke arah tangan raksasa tersebut, namun senjata itu justru patah berkeping-keping.
Lukas menatap Nirmala dengan wajah pucat pasi. "Kak... kayaknya gue harus 'pensiun dini' beneran kali ini."
"Lukas, jangan ngomong gitu! Pegang tangan gue!" Nirmala berusaha menggapai tangan Lukas, namun tarikan dari bawah terlalu kuat.
Tiba-tiba, Julian menoleh ke arah Nirmala dengan tatapan yang sangat asing—sebuah tatapan yang penuh dengan pengorbanan.
"Nirmala, bawa Lukas pergi," perintah Julian dingin.
"Maksud lo apa, Julian?!"
Julian tidak menjawab. Ia justru melepaskan pegangannya pada tepian lantai dan menjatuhkan dirinya sendiri ke arah tangan raksasa tersebut, sambil memeluk Lukas dan melempar pemuda itu ke arah Nirmala.
"Julian! Nggak!" teriak Nirmala saat melihat Julian tersedot masuk ke dalam kegelapan jurang bersama tangan raksasa itu.
Pintu cahaya di depan mereka mulai mengecil. Nirmala menangkap Lukas yang terlempar, lalu dengan sisa tenaganya, ia melompat masuk ke dalam cahaya tepat sebelum pintu itu tertutup rapat.
Dunia kembali menjadi sunyi.
Nirmala dan Lukas jatuh tersungkur di atas aspal dingin di pelataran Monas yang kini sudah sepi dan gelap. Hujan Jakarta masih turun dengan rintik yang tenang. Mereka berdua terengah-engah, tubuh mereka basah kuyup namun terasa sangat nyata.
Lukas bangkit perlahan, ia menatap tangannya yang kosong. "Julian... dia beneran ngorbanin dirinya buat gue?"
Nirmala tidak menjawab. Ia menatap payung birunya yang kini sudah patah sepenuhnya, tak bisa lagi digunakan. Ia memandang ke arah kegelapan malam, teringat pada wajah Julian yang terakhir kali ia lihat.
"Dia bukan ngorbanin diri buat lo, Lukas," bisik Nirmala pedih. "Dia cuma mau nebus utang yang dia rasa nggak pernah bisa dia bayar."
Tiba-tiba, ponsel Lukas bergetar. Sebuah pesan baru masuk. Bukan dari Adrian, bukan dari Ordo. Pesan itu berisi sebuah koordinat GPS di sebuah gang sempit di daerah Kota Tua.
Lukas menunjukkan layar ponselnya ke Nirmala dengan tangan gemetar. "Kak... liat ini."
Nirmala membaca pesan di bawah koordinat tersebut, dan seketika ia merasa seluruh dunianya kembali jungkir balik.
"Nirmala, jangan percaya pada cahaya yang baru saja kamu lewati. Aku masih terjebak di dalam cermin, dan pemuda yang bersamamu sekarang... bukan aku."
Nirmala membeku, ia perlahan-lahan menoleh ke arah 'Lukas' yang berdiri di sampingnya. Pemuda itu tersenyum lebar, namun kali ini, matanya tidak berkedip sama sekali.
"Jadi, Nirmala... kita mau pergi ke koordinat itu sekarang?" tanya 'Lukas' dengan suara yang tiba-tiba berubah menjadi suara sang Archivist.