Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. The Ghost in the Frame
Julian Reed tidak ingat kapan terakhir kali ia tidur lebih dari dua jam. Studio rekamannya sekarang berbau rokok dan kopi basi. Di layar monitor, ia melihat unggahan terbaru Sean Miller.
Sean sedang melakukan Live Instagram. Latar belakangnya adalah pantai tropis dengan air biru jernih.
"Lihat siapa yang sedang bersantai," ujar Sean sambil memutar kamera ponselnya.
Di sana, di atas kursi pantai, Alice sedang tertawa sambil menyesap kelapa muda. Ia mengenakan bikini hitam minimalis yang memamerkan kulitnya yang kecokelatan tertimpa matahari. Ia tampak sangat segar, sangat bebas, dan sangat cantik tanpa beban.
"Sean! Berhenti melakukan siaran langsung!" teriak seorang gadis dari arah belakang. Itu Katty Sander, sahabat karib Alice, yang muncul sambil menggandeng pacarnya. Mereka sedang berlibur bersama, sebuah perjalanan double date yang terlihat sangat normal dan bahagia.
Julian mematikan layar ponselnya dengan kasar. Ia merasa seperti pecundang yang hanya bisa mengintip dari balik tirai. Dengan emosi yang meluap, ia meraih gitarnya dan menulis lirik yang lebih tajam—sebuah serangan langsung untuk Sean.
Pukul tiga pagi, ia mengunggah sebuah kutipan lirik di Twitter (X):
"You’re showing her off like a trophy you won, but you don't know the weight of the crown. You’re just a temporary shadow in a sun she built with me. Keep her name out of your mouth before I make you lose your voice."
Internet langsung meledak lagi. Tapi, seperti biasa, arahnya melenceng jauh.
@JelenaNation: "WOW! Julian benar-benar marah besar! Ini pasti buat penyanyi Inggris yang mau kolaborasi sama Ellena! Julian nggak rela Ellena dipamerkan pria lain!"
@DailyPopNews: "Perseteruan memanas! Julian Reed mengancam pria yang mendekati 'ratunya'. Ellena Breeze tampaknya punya pelindung yang sangat posesif."
Bahkan Ellena Breeze ikut "menyiram bensin" ke api. Ia mengunggah foto dirinya memakai gaun merah dengan caption: "Only you have the key to my crown, J. Stop being so jealous, it’s just work."
Di pantai, Alice sedang duduk di pasir sambil melihat ponselnya. Senyumnya memudar saat melihat kutipan lirik Julian yang sedang trending.
"Ada apa?" tanya Sean, duduk di sampingnya sambil merangkul bahu Alice yang hangat karena matahari.
"Julian," bisik Alice. "Dia membuat keributan lagi. Dia benar-benar tidak bisa membiarkan Ellena memiliki kariernya sendiri tanpa rasa cemburunya yang berlebihan."
Sean melirik layar ponsel Alice lalu terkekeh pelan. "Dia hanya takut kehilangan pusat dunianya, Al. Biarkan saja. Itu urusan mereka. Kita di sini untuk bersenang-senang, kan?"
Alice menatap laut lepas. Ada rasa sakit yang kecil namun tajam di hatinya. Bukan karena cemburu pada Ellena, tapi karena ia merasa Julian benar-benar sudah melupakannya. Di mata Alice, setiap kata-kata "galau" Julian adalah bukti betapa besarnya cinta pria itu pada Ellena.
"Kau benar," jawab Alice, berusaha mengusir bayangan Julian. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Sean. "Aku tidak ingin memikirkan drama mereka lagi."
Alice tidak tahu, bahwa di belahan bumi lain, Julian sedang duduk di lantai studionya, menatap foto Alice yang sedang memakai bikini di layar HP-nya. Julian memperbesar foto itu, menatap mata Alice, dan berbisik pelan pada layar yang dingin.
"Aku tidak sedang membela Ellena, Alice... aku sedang memperingatkannya agar menjauh darimu," desis Julian dengan suara parau.
Namun suaranya hanya memantul di dinding studio. Seluruh dunia tetap menganggapnya sebagai kekasih Ellena yang sedang cemburu buta, sementara Alice—satu-satunya alasan ia masih bernapas—semakin yakin bahwa tidak ada lagi tempat baginya di hati Julian Reed.
Di tengah siaran langsung (Live) Instagram Sean yang penuh dengan komentar pujian dari penggemar, tiba-tiba muncul sebuah nama yang membuat kolom komentar bergerak secepat kilat.
@JulianReed: 🖕🖕🖕
Hanya itu. Tiga emoji jari tengah.
Sean yang sedang memegang ponsel sempat tertegun sejenak melihat nama itu muncul, namun ia segera tertawa meremehkan ke arah kamera. "Wah, sepertinya ada yang sedang tidak bisa tidur di New York. Halo, Julian. Semoga kopimu tidak terlalu pahit malam ini," sindir Sean sebelum mengakhiri siarannya.
Alice tidak melihat komentar itu. Ia sedang berjalan menuju bibir pantai, membiarkan ombak kecil membasahi kakinya. Ponselnya ia tinggalkan di dalam tas rotan yang tergeletak di atas kursi pantai, tertutup oleh handuk.
Di studionya, Julian hampir gila. Setelah memberikan komentar kasar itu, ia mulai menekan tombol panggil. Satu kali, dua kali, sepuluh kali.
Tut... tut... tut...
Tidak ada jawaban.
"Angkat, Alice. Tolong, angkat..." gumam Julian parau. Ia berjalan mondar-mandir seperti singa dalam kandang.
Ponsel Alice di dalam tas rotan terus menyala. Nama "Julian" muncul berulang kali di layar yang redup, bergetar pelan di balik tumpukan kain. Namun, karena mode silent dan deburan ombak yang kencang, Alice sama sekali tidak mendengarnya.
Julian mencoba sekali lagi. Kali ini ia mengirim pesan singkat dengan tangan gemetar.
Julian: Aku tahu kau melihat siarannya. Aku tahu kau melihat komentarku. Berhenti memamerkan tubuhmu di depannya, Alice. Kau bukan miliknya.
Pesan itu masuk, tapi tetap tidak dibaca.
Rasa frustasi Julian mencapai puncaknya saat ia melihat unggahan terbaru Katty Sander (sahabat Alice) yang memperlihatkan Sean sedang menyelimuti bahu Alice dengan handuk sambil tertawa mesra.
Julian melempar ponselnya ke sofa. Ia tidak tahan lagi. Ia merasa seolah-olah seluruh dunia sedang menertawakannya—menganggapnya sedang galau pada Ellena, padahal jiwanya sedang terbakar melihat Alice.
"Kau ingin bermain diam-diam, Al?" desis Julian sambil menyambar kunci motor besarnya dan jaket kulit yang tersampir di kursi. "Kalau kau tidak mau mengangkat teleponku, aku yang akan mendatangimu."
Malam itu, dengan emosi yang gelap dan mata yang menunjukkan depresi berat, Julian memacu motornya menuju bandara pribadi. Ia tidak peduli jika besok pagi berita tentangnya akan semakin simpang siur. Ia hanya tahu satu hal: ia harus menarik Alice keluar dari pelukan Sean Miller, sebelum benang merah yang ia yakini ada di antara mereka benar-benar putus selamanya.
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/