NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat

Meira terlihat melamun di dalam kelas sambil mencorat-coret buku miliknya. Ini adalah hari keduanya bersekolah disana, tapi sejak bel pertama berbunyi, belum ada guru yang masuk untuk mengajar di kelasnya.

Ayara yang sedari tadi mengobrol dengan Lana, sesekali melirik ke arah Meira. Wajah sahabatnya itu tampak datar, tapi Ayara tahu betul, dibalik diamnya Meira, selalu ada sesuatu yang sedang bergejolak.

"Sebentar, ya. Gue kesana dulu." pamitnya pada Lana sebelum berjalan menghampiri Meira.

Ayara duduk di bangku kosong milik Hesty yang kebetulan sedang tidak ada di kelas, lalu menatap Meira lekat-lekat. Cewek itu menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sudah hafal betul perangai Meira. Ketika Meira sedang diselimuti banyak pikiran dan masalah, Ayara lah orang pertama yang bisa membacanya.

"Lo kenapa lagi?" tanya Ayara sambil merebut buku dari tangan Meira yang penuh coretan tanpa makna.

Meira menghela napas panjang. Ia mengalihkan pandangannya pada luar jendela dan kembali melamun.

"Kebiasaan, deh, lo kalau punya masalah cerita sama gue. Jangan dipendem terus. Ibarat kentut, semakin ditahan malah semakin nyesek, bukan lega."

Meira sedikit tergelitik dengan perumpamaan dari mulut Ayara. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Ayara lama.

"Kamu bisa tebak apa masalahku?" Meira mengangkat sebelah alisnya.

"Astaga, Meira. Lo kira lagi main teka-teki, harus ditebak. Gue bukan peramal yang bisa baca pikiran oranglain."

Meira hanya tersenyum tipis, lalu kembali terdiam. Pandangannya kosong dan matanya menyiratkan lelah yang tak bisa dijelaskan.

"Lo dapet pesan lagi?"

Meira menggeleng pelan dan kembali diam.

"Terus?"

"Ini soal Mama." jawab Meira akhirnya, suaranya pelan dan berat.

"Kenapa sama Mama lo? Lo udah bisa nemuin dia?" Ayara semakin mencondongkan dirinya pada Meira, mulai tertarik dengan obrolan.

"Aku gak yakin dia masih hidup."

Ayara membuang napas panjang mendengar perkataan putus asa dari sahabatnya.

"Kenapa lo jadi gampang nyerah gini sih. Kemarin-kemarin aja lo semangat pengen nyari Mama lo dan cari tahu penyebab Papa lo meninggal. Terus kenapa sekarang lo malah nyerah? Lo gak boleh cepat kalah sama asumsi lo sendiri yang belum tentu kebenarannya, Mei." ujar Ayara kesal. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.

Meira tetap tidak bergeming sama sekali. Masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa hidup tidak selalu berjalan pahit. Kini pikiran dan kata hatinya bertolak belakang, seolah berjalan berlawanan arah. Meira menatap Ayara tanpa kata. Ada sesuatu di dalam dirinya yang seolah retak. Antara ingin percaya, tapi juga takut kecewa lagi.

Ayara mengguncang bahu sahabatnya itu pelan. "Ayolah, Mei. Mana semangat lo di awal perjuangan, masa baru berjalan sedikit udah nyerah gitu aja. Cemen!"

Meira menatap tajam ke arah Ayara. Sedetik kemudian ia menoyor kepala Ayara pelan namun pasti.

"Nah, begini kan enak. Meira sudah kembali seperti semula, guys." seru Ayara sambil tertawa, diikuti oleh Meira yang juga akhirnya tertawa. Sahabatnya itu memang paling bisa membuat kegundahan di hatinya menghilang dalam sekejap.

"Begini, enak?" Meira kembali memukul lengan Ayara, membuat cewek itu meringis kesakitan.

Suasana berubah ringan lagi. Meira ikut tertawa, seolah beban yang sempat menindih dadanya perlahan menguap.

"Selamat pagi anak-anak." suara seseorang dari arah pintu membuat para penghuni kelas diam seketika. Begitu juga dengan Meira, ia membenarkan posisi duduknya sebaik mungkin. Sementara Ayara sudah kembali ke bangkunya bersamaan dengan kedatangan Hesty.

"Pagi, Bu." seru semua kompak.

"Ibu hanya ingin menyampaikan kalau Pak Iwan tidak bisa mengajar hari ini, kalian diberi tugas buku paket halaman 50." jelas Bu Resma tanpa basa basi. "Ibu juga akan meminjam waktunya sebentar untuk membagikan hasil ulangan kalian yang kemarin, ya." lanjutnya.

"Enggak usah dibagikan juga saya udah tahu nilainya, Bu." sahut Ilham santai, membuat seisi kelas tertawa.

"Optimis sekali kamu, ya." Bu Resma menanggapi dengan kekehan.

"Harus, dong, Bu. Optimis kalau saya pasti kena remedial." seru Ilham yang langsung disuguhi tawa oleh semua orang.

"Sudah cukup, Ilham, jangan banyak mengulur waktu." lerai Bu Resma, wanita itu menghampiri bangku Rey setelah mengambil dua lembar hasil paling atas yang entah milik siapa. "Nanti kamu bagikan, ya."

"Baik, Bu."

"Oh, iya. Ibu akan umumkan nilai tertinggi di kelas ini." ucapnya lagi.

"Gak perlu diumumin juga semua orang pasti tahu Rey yang nilainya paling tinggi." bisik Hesty pada Meira.

"Oh, iya?" Meira refleks menolehkan kepalanya pada Hesty.

Hesty mengangguk cepat. Meira melirik ke arah bangku Rey yang berada di sebelahnya, terhalang satu bangku.

"Seperti yang kalian tahu, langganan nilai tertinggi di ulangan saya pasti Rey." Bu Resma tersenyum ke arah Rey lalu mengukir senyuman yang langsung dibalas oleh cowok itu, meski terlihat sangat tipis.

"Bosen, Bu, nilai tertinggi selama ini pasti dia terus. Gak ada yang lain apa?" Haris bersuara.

Bu Resma tersenyum semakin lebar. "Nah, itu dia, tentunya ada." timpalnya.

Semua orang sontak saling menatap heran, termasuk Rey. Pasalnya, tidak pernah ada yang bisa mengalahkan nilai Sang Ketua Kutub Es itu selama satu tahun lebih mereka berada di kelas ini.

"Siapa, Bu?" tanya Lana.

"Kalian penasaran?" pancing Bu Resma.

"Ayolah, Bu. Jangan kayak juri di lomba-lomba yang bisanya bikin oranglain deg-degan. Saya juga ikut deg-degan nih, takutnya itu nilai saya." Ilham menimpali.

"Yee, pede banget lo! Noh gak liat nilai lo angkanya ular melingkar gitu." Tiara melempar kertas ulangan ke arah Ilham tepat mengenai jidatnya. Terdapat angka 60 terpampang besar di kertas itu.

"Ya sudah, langsung Ibu umumkan saja, ya. Buat Rey, kamu jangan berkecil hati, harus lebih giat lagi belajarnya." usai berbicara pada Rey, wanita itu berjalan ke arah Meira dan berhenti tepat di depan mejanya.

"Selamat, ya, Meira." katanya sambil menyerahkan kertas ulangan dengan angka 100 besar di pojok kanan atas.

Bukan hanya Meira, tapi seluruh murid melebarkan matanya tak percaya. Hingga sedetik kemudian Hesty mengambil lembar ulangan itu dan mengangkatnya tinggi, memperlihatkan kepada semua orang yang penasaran.

"Wuhuuu! Mantap sekali Meira!" sorak Ilham paling keras, diikuti riuh tepuk tangan semua orang.

"Udah cantik, baik, pinter banget lagi. Kurang apalagi, Cuuyy!" sorak salah satu murid lainnya dari bangku paling pojok.

"Untung dia sebangku sama gue." Hesty menepuk dadanya bangga.

"Heh, lo jangan cari kesempatan ya, Ty!"

"Biarin!" Hesty menjulurkan lidahnya lalu tertawa.

Meira sendiri tidak tahu harus mengekspresikan semuanya bagaimana. Sebenarnya ia sudah sangat sering mendapat nilai sempurna dari semenjak Sekolah Dasar. Ia juga selalu mendapat peringkat pertama di sekolahnya. Jadi, yang bisa ia lakukan sekarang hanya tertawa karena melihat tingkah teman-teman baru di kelasnya.

Meira menatap Ayara yang sudah mengacungkan kedua jempolnya seraya menggumamkan kata 'good job' padanya. Cewek itu membalas lagi dengan acungan jempol. Senyuman di wajahnya semakin mengembang.

Namun, di tengah keriuhan itu, Meira merasakan sebuah tatapan yang berbeda. Ia menoleh sedikit ke arah samping, ke tempat Rey duduk. Cowok itu tidak ikut bertepuk tangan. Ia sedang menatap kertas ulangannya sendiri yang bertuliskan angka 95.

Ada kilatan emosi yang sulit diartikan di mata Rey. Bukan kemarahan karena posisinya tergeser, melainkan sesuatu yang lebih dalam seperti sebuah pengakuan yang dipaksakan. Rey perlahan melipat kertasnya, lalu kembali menatap Meira dengan intensitas yang membuat senyum gadis itu perlahan memudar.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!