NovelToon NovelToon
Love Ribbon

Love Ribbon

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: Marsanda

Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan campuran

Leo memasuki kantin bersama ketiga temannya, wajahnya terlihat biasa saja, langkahnya tenang tanpa banyak bicara. Ia sempat melirik ke arah meja kosong yang biasa mereka tempati, hendak duduk seperti biasa.

Beberapa anak langsung melirik kearahnya, kapten tim basket memang selalu cukup mencuri perhatian.

Chacha menyikut zea pelan. "Kak leo ze." bisik chacha pelan.

Zea tidak langsung menoleh. "Biarin."

Angel hanya tersenyum tipis, menikmati perubahan dinamika ini.

Leo berjalan melewati beberapa meja, langkahnya santai tapi matanya sempat menangkap sosok zea. Biasanya zea yang lebih dulu terlihat memperhatikan, sekarang? zea tetap duduk, sibuk dengan minumannya.

Saat melewati meja zea, langkahnya melambat, leo berhenti sebentar lalu dengan ekspresi setengah datar setengah gengsi, ia melangkah mendekat ke meja mereka.

"Ehem." leo berdehem pelan, cukup untuk menarik perhatian.

Zea mendongak pelan. "Iya?"

Leo memasukkan tangan ke saku seragamnya, terlihat santai.

"Hari ini latihan basket." suaranya tidak keras, tapi cukup jelas

Zea mengangkat alis tipis. "Iya, tau kok."

"Pulang sekolah, jangan telat." perintah leo.

Zea tetap tenang. "Iya kak."

Leo menatapnya sepersekian detik lebih lama, lalu mengangguk singkat. "Bagus."

Tanpa menunggu jawaban panjang, ia langsung berbalik sambil berjalan kemeja yang biasa ia duduki bersama temannya, leo menambahkan dengan nada masih terdengar gengsi tanpa menoleh ke zea kembali.

"Pemanasan mulai lebih awal." ujar leo dan melanjutkan langkahnya.

"Iya kak."

"Kapten tim turun langsung jadi pengingat pribadi." bisik angel.

Zea memutar sedotan di gelasnya, berusaha terlihat biasa saja. "Dia kapten ngel, wajar ngingetin anggota."

Chacha mencondongkan badan. "Lewat grup bisa."

Zea terdiam, tangannya masih memutar sedotan pelan, tapi pikirannya tidak lagi setenang wajahnya.

"Iya juga ya, lewat grup kan bisa, tapi kok dia malah milih ngomong langsung." ujar zea dalam hati.

Ia menunduk sedikit, pura-pura memperhatikan es yang sudah mulai mencair di gelasnya.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. "Mungkin dia kebetulan lewat." kata zea.

"Gue nggak bilang apa-apa ya, tapi tadi dia sempat liat lo dulu sebelum ngomong." kata angel.

Zea langsung menoleh. "Liat gimana?"

Angel mencondongkan badan sedikit. "Kayak….memperhatiin gitu, bukan cuma liat biasa."

Chacha mengangguk cepat. "Iya, dia jalan terus langkahnya agak pelan waktu lewat meja kita, matanya ke lo dulu, bukan ke kita."

"Ya wajar lah, kan dia mau ngomongnya sama gue, bukan sama lo berdua." zea berusaha tetap tenang, nada suaranya terdengar stabil.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, pura-pura santai, tapi jemarinya masih sibuk memutar sedotan tanpa sadar.

"Iya kita tau, tapi....gimana sih jelasinnya, intinya gitu deh, tatapannya tadi beda banget kayak biasanya." timbal angel.

"Iya ze, sebentar tapi jelas." ujar chacha.

"Jangan geer, Jangan geer zea." gumamnya dalam hati.

Tapi sudut bibirnya tetap saja ingin terangkat.

Di meja seberang, leo tampak sedang mendengarkan digo, dani, dan sony bicara, tapi tidak dengan tatapannya. Tanpa sadar pandangannya sempat bergeser ke arah meja gadis yang sempat ia datangi tadi.

Dan kali ini, zea kebetulan melihatnya, waktu seperti melambat sepersekian detik, tatapan itu bertemu begitu saja tanpa aba-aba. Leo tampak menyadari kalau zea menangkap tatapannya, rahangnya mengeras sedikit, lalu ia mengalihkan pandangan, tidak terburu-buru tapi cukup jelas, ia mengambil minumnya, pura-pura fokus pada obrolan digo.

Di seberang, zea refleks ingin menunduk, tapi entah kenapa ia justru terpaku, pandangan leo tidak dingin seperti biasanya. Bukan melihat meja, bukan melihat sekitar tapi benar-benar ke arahnya, jantung zea berdegup lebih keras.

Ia akhirnya buru-buru menunduk, tangannya otomatis menempel ke dada.

"Ya ampun....bisa-bisa asma gue kambuh gara-gara jantung gue kerja lembur begini." gumamnya pelan.

Zea menghela napas panjang, mencoba mengatur ritme napasnya.

"Oke….tarik….buang….tarik….buang…."

Di seberang, leo yang tadinya tampak mendengarkan obrolan ketiga temannya, tanpa sadar kembali melirik ke arah meja zea, dan ia melihat itu. Zea menunduk serius, tangan di dada, bibirnya bergerak pelan seperti sedang memberi instruksi pada dirinya sendiri.

Leo mengernyit tipis.

"Kenapa dia?" tanyanya dalam hati.

Ia memperhatikan beberapa detik lebih lama, cara zea menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan dengan wajah yang terlalu fokus untuk ukuran kantin yang berisik.

Sudut bibir leo terangkat sedikit, bukan tawa, bukan senyum lebar, hanya lengkungan kecil yang cepat ia tahan.

Begitu zea hampir mengangkat wajahnya, leo langsung memalingkan pandangan, pura-pura kembali fokus pada minumnya, ia berdehem pelan menyembunyikan senyum yang nyaris terlihat jelas.

****

Jam pelajaran terakhir terasa lebih lama dari biasanya, jarum jam seperti sengaja bergerak pelan.

Begitu bel pulang berbunyi, zea langsung meraih tasnya.

"Latihan kan?" tanya chacha.

"Iya."

"Good luck, cadangan rasa inti." celetuk angel.

Zea hanya tersenyum tipis.

Lapangan belakang sudah cukup ramai ketika zea datang, beberapa anggota tim inti sedang pemanasan, bola dipantulkan berulang-ulang, sepatu bergesekan dengan lantai lapangan.

Leo berdiri di tengah lapangan, berbicara dengan coach sebentar sebelum meniup peluit pendek.

"Pemanasan lima menit lagi mulai!" ujar leo dengan suara tegas.

Zea meletakkan tasnya dan mulai stretching sendiri, dari kejauhan leo memperhatikannya.

Latihan dimulai.

Tim dibagi menjadi dua kelompok untuk latihan sore itu, masing-masing berisi lima pemain. inti melawan campuran inti dan cadangan melawan campuran cadangan. Tim campuran itu tim yang isinya gabungan pemain inti sama cadangan.

Jadi bukan full inti, bukan juga full cadangan, dicampur biar permainannya seimbang.

Tiga pemain inti utama tetap berada dalam satu tim sebagai patokan permainan, mereka sudah terbiasa bermain bersama, jadi ritmenya lebih padu. Sementara itu, sisa pemain tidak dibiarkan menjadi satu kelompok sendiri, dua anggota inti dipisahkan dari tim utama, lalu digabung dengan pemain cadangan, gabungan inilah yang disebut tim campuran.

Tujuannya supaya permainan tetap seimbang dan para cadangan bisa merasakan ritme bermain bersama pemain inti.

Tim pertama diisi tiga pemain inti utama, leo tetap di sana bersama sony, dani, dan dua pemain cadangan yaitu riko dan alby. Mereka berdiri berjejer sebentar sebelum permainan dimulai, sudah terbiasa satu sama lain.

Sementara kelompok kedua terdiri dari tiga pemain cadangan yaitu zea, refky, dan dandi. Serta pemain inti, digo dan rafael dipindahkan untuk melengkapi tim itu agar permainan tetap seimbang.

Zea masuk ke tim campuran.

Permainan langsung berjalan cepat, suara sepatu berdecit tajam di lantai, bola dipantulkan keras, instruksi singkat terdengar dari beberapa pemain.

Leo menjaga area depan, gerakannya efisien, minim ekspresi, tidak banyak bicara, hanya fokus membaca arah bola.

Beberapa menit pertama, zea bermain aman, mengoper seperlunya, menghindari duel langsung, lalu satu momen bola terlepas dari pegangan salah satu pemain inti, zea bereaksi paling cepat, ia merebut bola dan menggiringnya lurus ke depan.

Leo langsung bergerak menghalangi jalurnya, mereka berhadapan, tatapan bertemu.

"Lewati kalo bisa." ucap leo pelan, bukan menggoda, bukan emosi, hanya tantangan dingin.

Zea menyeringai tipis, dengan gerakan cepat ia melakukan crossover rapi, memutar arah tajam. Leo sedikit terlambat membaca perubahan langkahnya.

Zea lolos, lay-up bersih, bola masuk.

Beberapa anak bersorak kecil, leo mengambil bola tanpa komentar lalu menatap zea sekilas, wajahnya tetap datar tidak ada senyum sama sekali bahkan pujian.

Permainan dilanjutkan, beberapa kali mereka kembali berhadapan, zea kali ini tidak ragu. Gerakannya tegas. Fokusnya tidak pecah meski jarak mereka dekat, leo tetap sama tenang dan datar. Jika zea berhasil melewati, ia hanya berputar cepat dan kembali ke posisi dan jika berhasil menghentikan, ia langsung mengoper tanpa melihatnya.

Latihan selesai hampir pukul lima, semua terlihat lelah, zea duduk di bangku pinggir lapangan, menyeka keringat dengan handuk kecil.

Langkah sepatu berhenti di depannya. "Main lo meningkat." ujar suara yang baru saja menghampirinya.

Zea mendongak. "Makasih kak."

"Hem." leo mengambil tasnya dan berjalan pergi tanpa komentar tambahan.

Bersambung

1
syahsari
zea emang ga waras sih😭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!