Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang Dihapus, Takdir yang Disembunyikan
Dua puluh tahun berlalu sejak malam hujan itu.
Nama Adiyaksa perlahan menghilang dari dunia bisnis.
Perusahaan yang dulu berdiri megah, kini hanya tinggal kenangan dalam arsip-arsip lama dan bisik-bisik pasar modal. Rumah besar keluarga itu dijual. Rekening dibekukan. Sahabat-sahabat menjauh.
Seolah keluarga itu tak pernah ada.
Tak ada yang tahu ke mana mereka pergi.
Tak ada yang tahu bagaimana nasib mereka.
Dan Tuan Wiryamanta… tidak pernah bertanya.
Tidak pernah membicarakannya atau ia berpura-pura tidak peduli.
Di ruang kerjanya yang luas, pria paruh baya itu berdiri memandangi foto lama yang tersembunyi di laci meja.
Dua pria muda tersenyum lebar di depan gedung pertama mereka.
Tangan saling merangkul bahu.
Tanpa kecurigaan. Tanpa kebencian.
Wiryamanta menghela napas panjang, lalu menutup kembali laci itu dengan cepat, seolah foto itu adalah dosa.
“Persahabatan tak seharusnya masuk ke dalam dunia bisnis,” gumamnya pelan.
Namun jauh di dasar hatinya, ada ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi.
Rindu yang tak pernah diakui.
Penyesalan yang tak pernah diucapkan.
Berbeda dengan Wiryamanta Group yang semakin menjulang, keluarga Adiyaksa justru tenggelam dalam kegelapan.
Setelah kebangkrutan itu, tekanan datang dari mana-mana.
Utang. Gugatan. Cemoohan.
Nyonya Merry Adiyaksa jatuh sakit, pikiran dan jantungnya tak kuat menahan beban ini, dan tak lama ia pun Meninggal Dunia
Tuan Adiyaksa? entah Dimana ia saat ini
Dan dalam waktu singkat, keluarga itu benar-benar hancur.
Yang tersisa hanyalah seorang gadis kecil berusia tiga tahun.
“Caliandra Adiyaksa”
Gadis kecil yang imut dengam mata indah dan bibir cimutnya yang selalu memanggil ayahnya dengan manja, selalu memeluk ibunya kala ketakutan.
Namun saat ini….. hanya tinggal ia seorang, sendirian.
Hari itu, di panti asuhan Harapan Kasih, seorang pria berdiri menatap gadis kecil itu dengan tatapan penuh perhitungan.
“Surya Pradana”
“Kasihan sekali,” ucapnya lembut, berlutut di depan Caliandra. “Sekarang kamu sendirian.”
Gadis kecil itu menunduk, menggenggam boneka lusuhnya erat-erat.
“Mama bilang aku tidak boleh manja lagi dan harus kuat,” bisiknya lirih.
Surya tersenyum tipis.
“Kamu bisa manja dan akan menjadi kuat. Bersamaku.”
Dan sejak hari itu, nama Caliandra Adiyaksa perlahan dihapus.
Ia tak lagi tercatat sebagai putri seorang pengusaha bangkrut.
Ia tumbuh dengan identitas baru.
“Aurora Salsabila Pradana”
Putri tunggal Surya Pradana.
Tak ada yang tahu darah siapa yang mengalir di tubuhnya.
Tak ada yang tahu bahwa di balik nama indah itu, tersimpan sejarah kelam yang belum selesai.
Dua puluh tahun kemudian.
Di aula megah Wiryamanta Group, seorang pria muda berdiri tegap mengenakan setelan hitam sempurna.
“Arka Wiryamanta”
Dua puluh lima tahun.
Pewaris tunggal kerajaan bisnis terbesar di kota itu.
Wajahnya tegas. Tatapannya dingin. Gerak-geriknya penuh wibawa.
Ia adalah refleksi sempurna ayahnya—tanpa kelembutan masa muda.
“Mulai bulan depan, saya akan mengambil alih divisi ekspansi internasional,” ucapnya dalam rapat direksi.
Suara baritonnya tenang, namun tak memberi ruang untuk dibantah.
Para direksi saling pandang.
Arka bukan sekadar pewaris manja.
Ia cerdas. Strategis. Ambisius.
Dan yang paling berbahaya—ia tidak mudah percaya pada siapa pun.
Di sudut ruangan, Wiryamanta memandang putranya dengan bangga… sekaligus cemas.
Karena di mata Arka, ia melihat sesuatu yang dulu pernah ia lihat pada sahabatnya.
Api.
Sementara itu, di sisi kota yang berbeda, seorang wanita muda turun dari mobil mewah dengan langkah anggun.
Aurora Salsabila Pradana.
Usianya dua puluh tiga tahun.
Rambutnya panjang tergerai, wajahnya lembut namun menyimpan ketegasan.
Ia dikenal sebagai putri kesayangan Surya Pradana—pengusaha berpengaruh yang kini menjadi salah satu pesaing terbesar Wiryamanta Group.
“Tuan Surya ingin Nona hadir di gala dinner Wiryamanta minggu depan,” ucap asistennya.
Aurora berhenti melangkah.
“Wiryamanta?” ulangnya pelan.
Entah mengapa, setiap kali mendengar nama itu, ada perasaan aneh yang mengusik dadanya.
Seperti kenangan yang terkubur.
Seperti luka yang belum pernah ia sadari.
“Ada kerja sama besar yang akan diumumkan,” lanjut sang asisten.
Aurora mengangguk pelan.
Ia tak tahu… bahwa takdirnya akan membawanya kembali ke lingkaran masa lalu yang seharusnya telah mati.
Tak tahu… bahwa pria bernama Arka Wiryamanta akan menjadi titik balik hidupnya.
Dan yang paling tak ia tahu....
Surya Pradana tidak pernah benar-benar mengadopsinya karena belas kasihan.
Melainkan karena sebuah rencana.
Rencana yang telah ia susun sejak malam hujan dua puluh tahun lalu.
Dan saat Aurora akhirnya berdiri di depan Arka…
Bukan hanya dua perusahaan yang akan berbenturan.
Melainkan dua darah lama yang menyimpan dendam.
Permainan generasi kedua pun dimulai.
😭😭😭