"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMARAHAN LEO
"Kamu putri kerajaan yang suci, Aurora. Sedangkan aku? Aku adalah hasil dari persilangan yang seharusnya tidak pernah ada, di mata kaumku, aku anomali, dan di mata kaum vampir, aku adalah ancaman," ujar Leo, matanya yang perak berkilat redup.
"Tapi kamu menyelamatkanku," ucap Aurora cepat.
"Itu karena tugasku," bantah Leo dingin.
"Bohong," jawab Aurora, kini dia berani menatap mata Leo.
"Tugas tidak membuat seseorang terlihat semarah itu saat melihat targetnya terluka. Kamu menghancurkan mereka bukan karena perintah, tapi karena amarah," lanjut Aurora, datar.
Suasana mendadak menjadi sangat tegang, jarak di antara mereka begitu dekat hingga Aurora bisa mencium aroma maskulin Leo yang bercampur dengan bau hujan dan kayu pinus.
Leo tidak menjawab, justru dia melangkah maju, membuat Aurora terdesak hingga punggungnya menyentuh dinding gua yang beku.
Leo meletakkan satu tangannya di dinding, tepat di samping kepala Aurora, mengurung gadis itu dalam ruang sempit.
"Jangan mencoba membaca pikiranku, Putri. Itu berbahaya," bisik Leo, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Aurora.
"Kenapa? Kamu takut aku menemukan sesuatu yang lembut di balik wajah batu mu ini?" tantang Aurora, meskipun jantungnya berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar.
Tiba-tiba, telinga Leo bergerak lagi, geraman rendah keluar dari tenggorokannya.
"Sial, mereka tidak menyerah," desis Leo, seketika aura dingin nya kembali meledak.
Srett
Tanpa sepatah kata pun, Leo menarik Aurora ke belakang tubuhnya dalam satu gerakan cepat.
Di luar gua, puluhan pasang mata merah mulai bermunculan satu per satu dari balik kegelapan.
Para penyihir vampir murni itu telah memanggil bala bantuan yang lebih besar.
"Tetap di belakangku, Aurora! Kali ini, jangan lepaskan pedangmu!" perintah Leo, mengepal kan tangan nya, hingga urat-uratnya menonjol, siap untuk kembali meledakkan kekuatan Alpha-nya.
SRING
Aurora menarik pedang peraknya dengan seringai tipis, rasa takutnya telah hilang, digantikan oleh adrenalin yang membara.
"Jangan memerintah ku, Serigala. Kita habisi mereka bersama," jawab Aurora, berdiri sejajar dengan pria yang baru saja mengubah dunianya dalam satu malam.
Leo tidak sempat membalas ucapan Aurora, seberkas cahaya merah darah melesat membelah badai salju, menghantam dinding gua tepat di atas kepala mereka.
BOOM
DUARRRRRR
Reruntuhan dinding batu gua jatuh berserakan, Leo menarik Aurora ke samping, lalu tanpa aba-aba, dia menerjang keluar menembus tirai badai.
"Maju kau! makhluk-makhluk busuk!" raung Leo, dengan suara menggelegar.
WUSHH
WUSHH
DUARRRRRR
Tubuh Leo seolah menghilang, hanya menyisakan jejak bayangan hitam yang sangat cepat.
Dia menabrak kerumunan prajurit vampir di barisan depan layaknya sebuah meteor.
BRAKK
DUARR
Satu hantaman tinju Leo membuat dada seorang musuh amblas ke dalam, tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan suara.
Leo meraih kepala musuh lainnya, memutarnya dengan satu sentakan kuat hingga bunyi krak terdengar mengerikan di tengah sunyi nya badai.
Di sisi lain, Aurora tidak tinggal diam, dia melesat dari sisi kanan, pedang peraknya menari-nari di udara.
TRANG
TRANG
Dia menangkis dua sabetan tombak sekaligus, lalu merunduk di bawah ketiak lawan.
CRASSS
JLEP
Dengan gerakan yang sangat elegan namun mematikan, Aurora menebas kaki lawan tersebut, lalu melompat dan menusukkan pedangnya tepat ke pangkal leher musuh di belakangnya.
"Lumayan untuk seorang Putri!" seru Leo di tengah hiruk pikuk pertempuran.
Leo baru saja menendang seorang vampir hingga terpental menghantam pohon pinus sampai tumbang.
"Diam dan urusi bagianmu, Alistair!" jawab Aurora, mendengus.
Aurora melakukan gerakan salto ke belakang saat tiga rantai sihir darah kembali mencoba melilitnya.
Kali ini, Aurora sudah siap, sambil masih berada di udara, dia mengeluarkan belati dari pinggangnya dan melemparnya dengan akurasi yang luar biasa.
KRAKKKK
JLEP
"AAAAAAKKKKKKHHHHH!
Belati itu menancap tepat di dahi salah satu penyihir vampir yang sedang merapal mantra. Konsentrasi formasi mereka pecah.
"Sekarang, Leo!" teriak Aurora.
Seolah bisa membaca pikiran satu sama lain tanpa perlu bicara, Leo mengambil ancang-ancang, dia berlari ke arah Aurora, dan gadis itu memberikan tumpuan tangannya.
Leo melompat, menggunakan tangan Aurora sebagai pegas untuk meluncur lebih tinggi ke udara.
Leo melesat turun seperti elang yang menyambar mangsa, mengarah langsung ke tengah-tengah kelompok penyihir.
BHUKK
DUARRRRRRRR
Hantaman kedua tangan Leo ke tanah menciptakan gelombang kejut yang dahsyat.
Tanah meledak, melemparkan tubuh para musuh ke segala arah.
Energi perak Alpha Leo, menyapu bersih kabut hitam yang mengepung mereka.
Namun, sang komandan pemberontak yang masih hidup berteriak histeris.
"Lepaskan monster darah itu! Sekarang!" teriak nya, penuh amarah.
Dari balik bayangan pohon, muncul sebuah makhluk yang lebih besar dari vampir biasa, vampir eksperimen yang tubuhnya dipenuhi otot menonjol dan urat berwarna merah menyala.
"GGGGGRRRRRRRRRWWWWWW!"
Makhluk itu meraung, mengeluarkan bau busuk kematian, menerjang ke arah Aurora dengan kecepatan yang tak terduga.
"Aurora, awas!" teriak Leo.
Aurora mencoba menangkis, namun kekuatan makhluk itu terlalu besar.
Pedang peraknya terlepas dari genggamannya saat cakar besar makhluk itu menghantam bilah pedangnya.
BRAKK
Aurora terlempar dan menghantam dinding batu tebing.
"Ugh..." Aurora terbatuk darah, pandangannya sedikit mengabur.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Melihat Aurora terluka, sesuatu di dalam diri Leo seolah patah, matanya yang perak kini berubah menjadi warna merah gelap yang membara, aura predatornya meningkat sepuluh kali lipat.
"KAU! BERANI MENYENTUHNYA!"
Teriak Leo dengan suara yang bukan lagi suara manusia, melainkan geraman binatang buas yang sangat haus darah.
Leo menghilang dari posisinya, detik berikutnya, dia sudah berada di depan makhluk besar itu, dia menangkap tangan raksasa makhluk itu, lalu dengan kekuatan yang tidak masuk akal, dia mematahkan tangan itu seperti mematahkan ranting kering.
KRAKKK
DUARRR
"GGGGGRRRRRRRRRWWWWWW!"
Makhluk itu melolong kesakitan, tapi Leo tidak memberi ampun.
BHUK
BHUK
BRAKKKK
Leo menghujani makhluk itu dengan pukulan bertubi-tubi ke arah wajah dan dadanya. Setiap pukulan Leo menghasilkan bunyi dentuman yang membuat tanah bergetar.
BHUK
BRAK
DUARRR
Puncaknya, Leo mencengkeram rahang makhluk itu, lalu dengan satu sentakan raksasa, dia membanting makhluk itu ke tanah hingga menciptakan lubang besar.
"Mati kau," ucap Leo dingin.
JLEP
Loe menusukkan tangan kosongnya menembus dada makhluk itu, mencabut jantungnya yang masih berdenyut dan meremasnya hingga hancur menjadi debu.
Prajurit vampir lainnya yang tersisa gemetar hebat, mereka menjatuhkan senjata mereka, tidak berani lagi melawan monster yang berdiri di depan mereka.
"Lari! Laraiii!" teriak sang komandan ketakutan, melarikan diri ke dalam kegelapan hutan diikuti sisa anak buahnya.
Leo berdiri diam di tengah hamparan mayat, yang kini berubah warna menjadi merah. Napasnya memburu, uap panas keluar dari tubuhnya yang masih dialiri adrenalin tinggi.
Dia berbalik perlahan, menatap Aurora yang sedang berusaha berdiri sambil memegang dadanya yang sesak.