Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juno ragu
Adisti terus menangis sambil memeluk Yuna, dia tidak mau di tolong perempuan dengan pakaian perawat itu meskipun dia memaksa ingin mengobati Adisti yang lututnya berdarah sedikit. bahkan meskipun Juno sudah memberi kode supaya Adisti mau di obati perempuan berpakaian perawat itu, Adisti tidak menurutinya.
"Adis, di obati dulu kakinya" bujuk Juno
"Tidak mau! Tante itu jahat tadi melotot sama Adis, papa jangan sama dia!" jawab Adisti
"Tante tidak seperti itu, tadi juga Tante mau tolong kamu tapi keburu di gendong adik ini" ucap perempuan itu
"Kakak obati ya" bujuk Yuna dan Adisti mengangguk
"Biar Yuna saja yang obati kak"
"Memangnya kamu tahu bagaimana cara mengobati, biar saya saja!" ketus perempuan itu
"Kalau hanya luka lecet seperti ini cukup dengan di berikan obat antiseptik kak, lagi pula lukanya tidak serius, hanya lecet" jawab Yuna mengambil obat merah di tangan perempuan itu dengan wajah kesal karena memang dia melihat sendiri perempuan itu sama sekali tidak peduli dengan Adisti yang terjatuh tadi, tapi Yuna tidak mengatakan apapun karena dia tidak mau membuat masalah di taman itu.
"Papa, ayo pelgi, Adis nggak mau lihat Tante itu, Tante itu aulanya gelap sepelti gelapnya hati papa yang jomblo setelah mama meninggal" celetuk Adisti membuat teman Yuna ingin tertawa tapi dia tahan.
"Tidak usah di bahas juga nak" keluh Juno memelas
"Mbak, ini saya beli saja obat merahnya ya, anak saya memang nakal" ucap Juno menyerahkan dua lembar uang merah pada perempuan berseragam perawat itu yang terlihat menahan kesalnya.
Adisti lalu di bawa ke sebuah gazebo yang kosong, dia di dudukkan di sana dan di bersihkan lukanya dengan air mineral yang di bawa Yuna, bahkan Yuna juga mengobati Adisti dengan cekatan sambil di perhatikan Juno yang kebingungan karena Adisti malah memilih gadis sekolah yang tidak mungkin Juno dekati.
"Terima kasih ya adik adik, kalian baru lulus?" tanya Juno
"Iya Om, kami baru lulus pagi ini dan sekarang kami sedang merayakan kelulusan kami" jawab Yuna
"Kakak, kakak sudah punya pacal?" tanya Adisti
"Kakak masih sekolah, jadi tidak punya pacar, kakak mau kerja dulu" jawab Yuna
"Kami sudah melamar untuk jadi Office girl di sebuah perusahaan" ucap teman Yuna
"Kenapa tidak lanjut kuliah?" tanya Juno
"Kami anak panti asuhan Om, jadi kami akan pindah ke kos kosan, sudah tidak ada yang mau mengadopsi kami jadi kami harus bekerja" jawab Yuna
"Kami memang dapat beasiswa untuk kuliah, tapi untuk biaya sehari hari kami akan kesulitan kalau kami ngontrak dan harus cari makan sendiri" ungkap teman Yuna.
"Begitu ya, kalian besok kirimkan data kalian ke perusahaan saya saja, biar saya bantu kalian supaya bisa tetap kuliah dan bekerja paruh waktu, bagaimana, saya punya kenalan seorang pengusaha kafe" ucap Juno
"Yun... kita bisa kuliah!" pekik teman Yuna terlihat senang.
"Tapi Om, ko Om mau percaya sama kami?" tanya Yuna
"Karena anak saya ini punya kemampuan untuk melihat orang yang tulus atau yang modus, kalian juga tadi tidak ragu menolong anak saya" jawab Juno tersenyum manis membuat Yuna gugup.
"Tuh kak, pelcaya saja sama papa Juno, dia akan bantu kakak sampai jadi istlinya" celetuk Adisti.
"Apa?"
"Sampai sukses" ucap Juno menutup mulutnya Adisti
"Ayo kakak kakak kita makan di lumah papa, Om Juno sudah pesan banyak nasi goleng" ajak Adisti
"Tidak perlu adik manis, kami mau pulang saja soalnya sudah hampir Maghrib" jawab Yuna
"Yah... papa, minta nomol telepon kak Yuna dan kak Titi supaya Adis bisa telepon meleka kalau kangen" ucap Adisti yang bisa membaca nama di seragam keduanya.
"Tapi .."
"Tidak apa apa, Adis memang sering menggunakan handphone saya" ucap Juno memberikan handphone miliknya supaya Yuna bisa memasukan nomor telepon mereka.
Yuna dan Titi pamit pulang, tapi sebelum mereka pulang, Juno memberikan keduanya uang jajan dan nasi goreng masing masing satu porsi, awalnya mereka menolak tapi setelah di paksa barulah mereka mau.
"Adis, gagal lagi kita cari mangsa" keluh Juno
"Kita belhasil Om, Itu kak Yuna adalah mangsa kita hali ini, telus dekati dia kalena Adis mau kak Yuna yang jadi tantenya Adis" jawab Adisti membuat Juno terkejut
"Tapi dia terlalu muda, Om Juno sudah mau kepala tiga juga" ucap Juno ragu
"Tapi Om tampan, milip anak SD" ledek Adisti langsung di gelitiki Juno karena gemas.
°°°°°°°°°°°
Di rumah Kunto.
"Lilis tidak bisa di hubungi" ucap Kunto saat pagi itu dia ingin menghubungi anak angkatnya tapi tidak kunjung di angkat.
"Apa mungkin dia ketahuan dan di laporkan polisi Mbah?" tanya Hengki
"Aku tidak merasakan keberadaan Lilis di manapun, dia mungkin mati atau di bawa jin lain" bisik Khal
"Khal yang agung bilang dia tidak bisa merasakan keberadaan Lilis di manapun, Lilis sudah lenyap, bisa mati atau mungkin berada di alam lain" jawab Kunto
"Tapi tidak mungkin Anjas berani membunuh seseorang Mbah" ucap Hengki
"Bukan Anjas, tapi yang lain, yang selama ini berada dalam tubuh seseorang" jawab Kunto mencurigai Aisyah.
Kunto juga selama beberapa hari ini mengawasi Aisyah di sekolahnya, dia memang melihat perempuan itu memiliki darah wangi, bukan darah wangi dalam artian akan di sukai banyak makhluk halus tapi sesuatu yang lebih berbahaya, sesuatu yang bisa memusnahkan sesuatu juga.
"Mariska kembali menelpon, dia bilang syuting filmnya di batalkan karena reputasinya sudah mulai buruk di mata publik, dia juga minta tinggal di sini saja Mbah karena semua hartanya di jadikan jaminan ganti rugi ke agensi yang dia tempati sekarang" ungkap Hengki
"Tidak apa, minta dia datang dan tinggal di sini, seharusnya dia tidak mencoba mendekati Anjas, Anjas sudah mulai menjadi pembawa sial untuk para perempuan yang tidak punya malu seperti Mariska dan Triana" jawab Kunto
"Mas Anjas! Aku mau mas Anjas!"
"Triana juga semakin mengkhawatirkan Mbah, kalau bisa di operasi Caesar, sebaiknya anak saya di lahirkan saja karena saya tidak tahan dengan dia, dia seperti orang yang sekarat sekarang" ungkap Hengki karena memang Hengki sudah tidak di lihat Triana sebagai Anjas lagi setelah pengaruh pelet itu semakin besar menguasai Triana.
"Bersabarlah tiga bulan lagi, bayi itu akan kuat untuk kita ambil menjadi wadah Khal yang agung" jawab Kunto menyeringai
"Baiklah Mbah"
"Hubungi muridku yang lain, dan minta mereka waspada pada orang bernama Anjas juga Aisyah" perintah Kunto dan Hengki kembali mengangguk.