Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: KERAS KEPALA
Matahari sudah naik tinggi, membiaskan cahaya keemasan melalui jendela-jendela besar mansion Volkov. Namun bagi Alana, keindahan itu hanya berarti satu hal: debu-debu yang harus ia bersihkan. Mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu yang ukurannya sedikit agak besar di tubuh mungilnya, Alana mulai menyisir setiap sudut ruangan.
Ia tidak berhenti sejak pagi. Ia menyapu lorong-lorong panjang, mengelap furnitur antik yang harganya selangit, hingga mengepel lantai marmer yang seolah tak ada ujungnya. Keringat membasahi kening dan lehernya, tapi Alana tidak mengeluh. Justru, ada semacam ketenangan yang ia rasakan.
Para pelayan lain yang biasanya bekerja di sana hanya bisa berdiri terpaku, merasa sangat tidak enak hati. Mereka tahu siapa wanita ini—dia adalah istri sah tuan mereka, sang Nyonya Volkov.
"Nyonya... berhentilah sejenak. Biar kami yang melanjutkan bagian ini," bisik salah satu pelayan wanita dengan raut cemas.
Alana menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangannya, lalu tersenyum tulus. "Tidak apa-apa, aku senang melakukannya. Setidaknya dengan begini aku merasa bebas. Aku tidak mau merasa terlalu berhutang budi pada Tuan Dante karena hutang pamanku. Aku ingin membayar apa yang kubisa dengan tenagaku."
Arthur, yang sedari tadi mengawasi dari kejauhan, melangkah mendekat. Ia melihat betapa kerasnya gadis itu bekerja. Namun, matanya yang tajam menangkap sesuatu yang mengkhawatirkan: tangan mungil Alana yang memegang gagang pel mulai bergetar hebat karena kelelahan otot yang dipaksakan.
Tanpa banyak bicara, Arthur maju dan mengambil alih alat pel tersebut dari tangan Alana.
"Cukup untuk sekarang, Nyonya. Tubuh Anda punya batas," ucap Arthur dengan nada tegas namun kebapakan. "Sebaiknya Nona beristirahat dan makan dulu. Biar saya siapkan sesuatu di dapur."
Alana segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Wajahnya yang pucat tampak panik. "T-tapi Arthur... Tuan Dante bilang aku tidak boleh makan sebelum semua pekerjaanku beres. Aku tidak mau melanggar perintahnya. Aku tidak mau dia punya alasan lagi untuk memarahiku."
"Tuan sedang tidak ada di sini, dia sedang di markas pusat. Tidak akan ada yang tahu," bujuk Arthur.
"Aku tahu, Arthur," sahut Alana dengan suara lembut namun sarat akan prinsip. "Tapi aku tahu. Aku tidak mau menipu diriku sendiri. Jika aku belum selesai, maka aku belum pantas untuk makan."
Alana mencoba mengambil kembali alat pel itu, namun Arthur menahannya. "Nyonya, wajah Anda sudah sangat pucat. Jika Anda pingsan, Tuan akan jauh lebih marah pada kami semua karena membiarkan Anda bekerja sampai kolaps."
"Aku tidak akan pingsan," Alana memaksakan senyum meski napasnya mulai pendek. "Tolong, biarkan aku menyelesaikannya. Aku sudah biasa bekerja keras saat tinggal bersama paman. Ini bukan apa-apa."
Arthur tertegun. Ia melihat binar keras kepala di mata bulat Alana. Gadis ini bukan hanya polos, tapi dia memiliki harga diri yang sangat tinggi di balik kerapuhannya. Dia lebih memilih kelaparan dan kelelahan daripada harus menerima belas kasihan di bawah bayang-bayang pria yang telah membelinya.
Arthur menghela napas panjang, akhirnya melepaskan alat pel itu. "Ternyata Anda cukup keras kepala juga, Nyonya Alana."
"Terima kasih, Arthur," bisik Alana.
Saat Alana kembali mengepel dengan tangan yang terus gemetar, ia tidak menyadari bahwa di sebuah layar monitor besar di markas pusat, Dante sedang duduk diam memandangi rekaman CCTV mansionnya. Dante meremas gelas kristal di tangannya hingga nyaris pecah. Ia ingin menghukum Alana, ia ingin gadis itu memohon ampun, tapi melihat Alana yang justru "menikmati" kerja paksa itu dan menolak makan demi menuruti perintahnya, membuat dada Dante terasa sesak oleh amarah yang bercampur dengan rasa asing yang tidak ia mengerti.
"Gadis bodoh," desis Dante dengan mata berkilat gelap. "Kenapa kau tidak menangis dan memohon saja padaku?"
***
Di markas pusat organisasi Volkov, ruangan itu diselimuti asap cerutu yang tebal. Dante duduk dengan angkuh, kedua kaki panjangnya terangkat ke atas meja mahogani kebesarannya. Matanya tidak lepas dari layar monitor yang menampilkan rekaman live dari CCTV mansion. Di sana, ia melihat sosok mungil Alana yang masih terus bergerak, menggosok lantai marmer dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
Ponsel di atas meja bergetar. Dante melirik layar—Arthur. Dengan gerakan malas, ia mengangkat panggilan itu.
"Tuan," suara Arthur terdengar cemas di seberang sana. "Nyonya Alana... beliau benar-benar tidak mau menyentuh makanan sedikit pun. Beliau bersikeras tidak akan makan sebelum seluruh pekerjaannya selesai. Wajahnya sudah sangat pucat, Tuan."
Dante menghembuskan asap cerutu dari mulutnya, menciptakan kabut tipis di depan wajahnya yang dingin. "Aku sudah melihat semuanya, Arthur," sahutnya pendek. Suaranya datar, namun ada nada kepuasan yang aneh di sana.
Arthur di seberang sana terdiam sejenak, terkejut. "T-tuan... Anda melihatnya?"
Arthur tahu betul jadwal tuannya. Dante Volkov adalah pria yang sangat sibuk dengan urusan ekspansi wilayah dan perdagangan gelap. Pria itu tidak akan pernah membuang waktu hanya untuk menatap layar CCTV jika tidak ada ancaman keamanan yang serius. Namun sekarang, tuannya itu menghabiskan waktu hanya untuk mengawasi seorang gadis yang sedang mengepel lantai?
"Ya, aku sedang menontonnya. Kalau memang itu yang dia inginkan, biarkan saja. Jangan paksa dia," ucap Dante dingin.
Arthur merasa dadanya sesak karena khawatir. "T-tapi Tuan, jika Nyonya sakit... jika beliau kolaps karena kelelahan dan kelaparan, dampaknya akan buruk bagi kesehatannya."
"Kalau kubilang biarkan saja, maka biarkan saja, Arthur," potong Dante dengan nada yang mulai meninggi, tanda kesabarannya mulai menipis. "Gadis kecil itu ternyata punya nyali juga. Dia pikir dengan menuruti perintahku secara ekstrem, dia bisa membuatku merasa bersalah?"
Dante menyesap cerutunya dalam-dalam, matanya menyipit menatap layar di mana Alana nyaris terjatuh karena terpeleset namun segera bangkit kembali. "Dia ingin membuktikan sesuatu? Bagus. Mari kita lihat seberapa lama tubuh mungilnya itu bisa bertahan melawan perintahku."
"Baiklah, Tuan. Saya mengerti," balas Arthur dengan suara rendah, menyembunyikan rasa kecewanya.
Klik.
Dante memutus panggilan secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke meja dan kembali fokus pada layar. Tangannya yang bebas mencengkeram gelas wiski dengan kuat. Dalam hati, Dante merasa kesal. Ia ingin menghancurkan harga diri Alana, tapi gadis itu justru menggunakan "hukuman" tersebut sebagai senjatanya sendiri. Kepolosan yang berpadu dengan kekerasan kepala itu mulai mengganggu ketenangan Dante.
Di mansion, Arthur menurunkan ponselnya dari telinga dan menghela napas panjang yang sarat akan kelelahan batin. Ia menatap ke arah lorong di mana Alana masih sibuk bekerja tanpa henti.
"Tuan yang gila kuasa, dan Nyonya yang terlalu keras kepala," gumam Arthur sambil memijat pelipisnya. "Pernikahan ini benar-benar membuatku sakit kepala."
Arthur tahu, jika ini terus berlanjut, malam ini tidak akan berakhir dengan baik. Entah Alana yang akan tumbang, atau Dante yang akhirnya akan kehilangan kendali karena egonya sendiri.
lanjut thor👍😄
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄