Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahan hidup
Di tengah sebuah lembah terpencil, berdiri satu bangunan tua yang rapuh dan tak terurus.
Di dalamnya tinggal seorang murid sekte dari klan ortodoks bernama Ci Lung.
Saat perang antar klan pecah, ia ditinggalkan oleh masternya dengan sebuah barrier penghalang yang tak dapat ditembus oleh monster maupun kultivator tingkat tinggi.
Terjebak di tempat itu, Ci Lung bertahan hidup hanya dengan pil sebagai makanan sehari-hari.
“Astagaaa… gimana bisa aku berakhir di sini?!”
Namun kenyataannya, Ci Lung bukanlah penduduk asli dunia ini.
Ia sebenarnya bernama Tio, seorang buruh pabrik yang tanpa sengaja bertransmigrasi ke alam kuno di Benua Tianlong.
Tubuh yang kini ia tempati adalah Tubuh Suci, keberadaan langka yang hanya terlahir sekali dalam seribu tahun.
Karena tubuh itulah, ia menjadi incaran berbagai sekte dan kaum iblis.
Masalahnya, Tio sama sekali tak tahu cara memanfaatkan Tubuh Suci tersebut.
Ia bahkan masih berada di tahap Qi Refining, tahap paling dasar dalam kultivasi.
Alih-alih meraih keabadian yang diidamkan banyak orang, ia justru harus hidup bersembunyi.
“Tubuh abadi? Menjadi immortal?”
“Aku lebih memilih jadi budak pabrik seumur hidup daripada diburu iblis dan manusia sinting seperti ini.”
JLARRR—!
Petir menyambar dengan keras, seolah merespons ucapannya.
Ci Lung, yang masih berdiri kaku dengan jarinya menunjuk ke langit seperti sedang mengutuk, langsung terkejut.
“D-DEWA! Bukan begitu maksudku! Kamu ngerti, kan?!”
Ia menghela napas panjang.
“Hah… biasanya orang-orang yang bertransmigrasi jadi kuat, keren, dan menguasai dunia.”
“Tapi aku? Aku cuma dikasih Tubuh Suci yang bahkan nggak tahu cara makenya…”
Pagi menjelang dan disertai dengan hujan rintik rintik. Kabut pagi menyelimuti lembah seperti kain kafan yang tak pernah diangkat.
Bangunan tua di tengah lembah berdiri miring, dindingnya retak, atapnya bocor. Angin yang lewat membawa suara siulan rendah, seolah ada sesuatu yang berbisik dari balik bebatuan.
Ci Lung yang sudah berputus asa pun duduk bersila di lantai batu yang dingin.
Di telapak tangannya, sebuah pil berwarna abu-abu kusam tergeletak. Pil itu retak, tanda kualitas pil rendah. Ia menatap pil itu lama, lalu berkata
“Ini adalah sisa sisa pil yang ada sini, oh malangnya nasibku”
Ia menelan pil itu tanpa ada perasaan ragu. Tidak ada rasa. Tidak ada kehangatan. Hanya aliran qi tipis yang menyebar ke tubuhnya, nyaris tidak terasa.
Ia pun menembus ranah Qi Refining Layer Kedua.
Dan berhenti di situ.
Sudah hampir tiga bulan sejak perang antar klan memaksa masternya meninggalkannya di lembah ini. Barrier yang ditinggalkan masih aktif. Lapisan tak kasat mata yang menolak monster, manusia, dan bahkan kultivator tingkat tinggi.
Masalahnya, barrier itu sudah terkikis oleh waktu, sudah hampir setengah tahun ia bertahan.
Makanan habis. Pil menipis. Dan qi alam di lembah ini terasa sedikit… aneh.
Ci Lung membuka mata perlahan. Ia merasakan sesuatu yang tidak sinkron.
Qi di sekitarnya seperti mengalir, tapi enggan masuk ke tubuhnya. Seolah ada aturan tak terlihat yang menahannya.
“Oh dewa, ini sangat pelan, seakan ia tak mau masuk kedalam tubuhku… terlalu pelan,” gumamnya.
Ia mencoba menarik napas lebih dalam, memaksakan sirkulasi qi sesuai teknik dasar sekte. Beberapa detik berlalu.
Tzzk.
Rasa nyeri menusuk di dadanya. Ia langsung menghentikan sirkulasi, terbatuk pelan.
“Astaga, kalau kupaksa… meridianku bisa rusak.”
Ia tertawa pendek, hambar.
“Hah....Tubuh suci katanya?!"
Hari itu, Ci Lung memutuskan keluar dari bangunan tua. Ia membawa pedang latihan yang sudah tumpul. Bukan senjata sungguhan, tapi cukup untuk menenangkan pikirannya.
Lembah itu sangat sunyi, terlalu sunyi, burung tidak terbang. Serangga hampir tak terlihat.
Bahkan angin pun seakan ragu untuk bergerak terlalu jauh.
Lalu, ia melihatnya.
Jejak kaki, bukan manusia.
Jejak itu dangkal, seperti diseret, dan berhenti tepat di tepi barrier. Di udara, samar terlihat distorsi. Tanda penghalang masih aktif.
Ci Lung menelan ludah.
“Apakah ini monster tingkat rendah...oh tamatlah riwayatku...” gumamnya.
Barrier masternya seharusnya menolak semua monster. Tapi jejak ini terlalu dekat. Terlalu nyata.
Ia mundur setengah langkah.
Tiba-tiba, udara di depan barrier bergetar.
Krek.
Sebuah tangan kurus, bersisik, menembus lapisan penghalang, tidak sepenuhnya, hanya ujung jari. Dagingnya terbakar perlahan, makhluk itu mengeluarkan bau busuk.
Makhluk itu mengerang pelan.
Ci Lung setengah ketakutan dengan tubuh membeku.
Barrier tidak runtuh.
Tapi… tidak absolut lagi.
Makhluk itu tidak bisa masuk, tapi jelas mencoba. Setiap detik, jari itu menekan lebih dalam sebelum akhirnya terbakar dan menarik diri.
Sunyi kembali.
Ci Lung berdiri terpaku, napasnya cepat.
“AAAAAH-barriernya mulai melemah,” Ucapnya.
Malam itu, ia tidak bisa tidur.
Ia duduk bersandar di dinding bangunan tua, pedang latihan di pangkuan. Setiap suara kecil membuat ototnya menegang.
Di tengah keheningan, sesuatu muncul di sudut pandangnya.
Bukan cahaya.
Bukan suara.
Melainkan Rasa.
Seolah ada sesuatu yang memperhatikannya.
Lalu, tanpa peringatan, sebuah teks samar muncul di benaknya.
[Kondisi Lingkungan Tidak Stabil]
[Pengguna Disarankan Menyesuaikan Eksistensi]
Ci Lung tertegun.
“Menyesuaikan… eksistensi?” ulangnya pelan.
Tidak ada instruksi lanjutan. Tidak ada penjelasan. Teks itu menghilang secepat kemunculannya.
Ia mengepalkan tangan.
“Hmzzz jadi… kau bukan sistem yang baik hati,” katanya dengan sikap dingin. “Kau cuma ngasih peringatan.”
Hari-hari berikutnya menjadi rutinitas yang brutal.
Ci Lung mengurangi makan. Satu pil kecil dibagi untuk dua hari. Ia berburu tanaman liar di sekitar lembah, kebanyakan pahit, beberapa beracun ringan.
Ia belajar mana yang bisa dimakan, mana yang membuat perutnya melilit semalaman serta membuat keracunan.
Setiap malam, ia memeriksa barrier.
Retakan kecil mulai muncul. Bukan secara fisik, tapi rasa. Tekanan di udara berubah. Seperti kain yang mulai menipis.
Lalu Monster itu kembali.
Kali ini bukan jari.
Wajahnya menempel di barrier, mata kosong, rahang terbelah, qi hitam mengalir dari pori-porinya. Barrier menahannya, membakar kulitnya, tapi makhluk itu tidak pergi.
Ia menatap Ci Lung.
Seolah tahu.
Ci Lung mundur perlahan, keringat dingin mengalir di punggungnya.
“Aku tidak bisa menunggu kematianku disini” katanya pada dirinya sendiri. “Kalau barrier runtuh sebelum aku naik layer…”
Ia duduk bersila malam itu, meski tubuhnya gemetar.
Ia menarik napas. Pelan. Lebih pelan dari biasanya.
Tidak memaksa qi masuk.
Ia menyesuaikan diri dengan aliran di lembah, membiarkan qi menyentuhnya, bukan ditarik.
Waktu berlalu.
Satu jam. Dua jam.
Rasa nyeri tidak datang.
Sebaliknya, qi tipis mengalir, patuh, seperti akhirnya menemukan tempatnya.
Di benaknya, teks itu muncul lagi.
[Adaptasi Diterima]
[Qi Refining — Layer 3: Sinkronisasi Awal]
Ci Lung membuka mata.
Tidak ada ledakan kekuatan.
Tidak ada rasa euforia.
Hanya satu kesadaran yang membuat tengkuknya dingin:
Barrier masih melemah.
Dan sekarang… sesuatu di lembah tahu dia bergerak.
Ia berdiri perlahan, menatap kabut yang semakin tebal.
“Kalau aku mau tetap hidup,” gumamnya, “aku tidak bisa menunggu dewa mengizinkan.”
Di kejauhan, sesuatu bergerak.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠