NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

"Ini adalah Novel Ringan dan Santai".
Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 - Pembukaan Class Meeting

Hingar-bingar pagi di sekolah dimulai lebih awal dari biasanya. Suasana koridor yang biasanya sepi di jam segini, kini riuh dengan suara langkah kaki dan tawa siswa. Rombongan "Pasukan Sentiong" tiba di depan kelas PH2 dengan napas sedikit terengah namun wajah penuh kemenangan.

Dion yang sudah berjaga di kelas segera menghampiri saat melihat Gery, Reno, dan Sammy membawa kardus-kardus besar. "Nah, ini dia amunisi kita! Sini, biar gue bantu bawa!" seru Dion sambil menyambar salah satu kardus berisi risoles hangat.

Begitu barang-barang diletakkan, Dion langsung beraksi sebagai manajer kelas yang sigap. "Vivi! Sini Vi, tolong rincikan semua barang belanjaan ini. Catat modalnya biar kita tahu untungnya berapa nanti," perintah Dion.

Vivi segera mendekat dengan buku catatan dan pulpen di tangannya. Ia mulai mengatur posisi kue-kue tradisional itu di atas meja yang sudah dilapisi taplak rapi di depan kelas. Lemper diletakkan di sisi kanan, risoles di tengah, dan kue talam warna-warni di sisi kiri. "Atur yang cantik, Van! Biar anak-anak kelas sebelah langsung ngiler pas lewat," ucap Vivi pada Vanya yang ikut membantu menata.

Teeeeeet!

Bel panjang berbunyi, disusul suara statis dari speaker kelas.

"Mohon perhatian untuk seluruh siswa-siswi SMK Pariwisata. Diharapkan segera berkumpul di lapangan upacara untuk mengikuti pembukaan Class Meeting. Terima kasih."

Ribuan siswa berbondong-bondong turun ke lapangan. Di bawah terik matahari pagi yang mulai menghangat, kepala sekolah berdiri di podium dengan wajah sumringah. Beliau memberikan pidato singkat yang membakar semangat.

"Class Meeting tahun ini adalah wadah kalian untuk menyalurkan bakat di luar akademik. Jadilah jujur dalam berdagang, dan jadilah sportif dalam bertanding!" seru Kepala Sekolah. Beliau kemudian memaparkan jadwal kegiatan:

- Agenda Hari 1 : Pembukaan, Turnamen Olahraga (Penyisihan), & Bazaar Entrepreneur.

- Agenda Hari 2 : Semi Final Olahraga & Bazaar Lanjutan.

- Agenda Hari 3 : Final Olahraga & Pentas Musik Penutup (Hiburan).

Riuh tepuk tangan membahana saat kepala sekolah secara simbolis menendang bola futsal ke tengah lapangan sebagai tanda dimulainya acara. Gery melirik ke arah Reno yang sudah mulai melakukan pemanasan kecil.

"Hari pertama, Ger. Jangan sampai dagangan kita sisa, dan jangan sampai futsal kita kalah di babak awal," bisik Reno dengan tatapan fokus.

Vanya yang berdiri di samping Gery menyenggol lengannya. "Gue sama anak-anak cewek bakal urus stand jualan. Lo fokus aja di lapangan, awas ya kalau kalah, nggak dapet bonus martabak lagi!" ancam Vanya dengan senyum manisnya yang mematikan.

Gery tertawa kecil. "Liat aja nanti siapa yang bakal bawa piala buat PH2."

Peluit panjang ditiup oleh wasit, menandakan dimulainya babak penyisihan futsal yang paling dinantikan. Lapangan semen sekolah dikelilingi oleh ratusan siswa yang bersorak-sorai, menciptakan atmosfer panas yang membakar semangat.

Di bawah terik matahari, "PH2 Warrior" berdiri dengan formasi solid. Dion sengaja memasang Gery sejak menit pertama. Meski semua orang tahu Gery adalah raja lapangan basket, namun postur tubuhnya yang atletis dan kelincahannya membuat tim lawan dari jurusan Tour Guide harus berpikir dua kali untuk meremehkannya.

"Ger, jaga sisi kanan. Jangan biarin mereka lewat satu jengkel pun!" teriak Reno sambil melakukan juggling kecil sebelum kick-off.

Pertandingan berjalan sangat dinamis. Reno, dengan jam terbang futsalnya yang tinggi, menari-nari di sayap kiri, melewati lawan dengan teknik step-over yang memukau. Namun, kejutan sebenarnya datang dari sayap kanan. Gery, meski hanya menguasai teknik dasar futsal, mampu mengonversi visi bermain basketnya ke dalam lapangan hijau. Ia tahu persis kapan harus mencari ruang kosong dan kapan harus melakukan pergerakan tanpa bola.

"Sini, No!" seru Gery.

Reno mengirimkan umpan silang mendatar yang sangat deras. Dengan sekali kontrol yang sempurna, Gery langsung melakukan tiki-taka pendek kembali ke Reno, lalu berputar melewati bek lawan. Pola serangan mereka begitu mengalir, sangat artistik, seolah mereka sudah berlatih bertahun-tahun.

Di pinggir lapangan, Pak Firman—guru olahraga yang terkenal pelit pujian—tampak bertepuk tangan kecil. "Luar biasa. Bukan cuma main fisik, mereka main pakai otak," gumamnya kagum.

Dion, yang berperan sebagai target man di depan, berkali-kali mendapatkan umpan matang. Gery memberikan assist cantik dengan umpan terobosan yang membelah pertahanan lawan, memudahkan Dion untuk mengeksekusi tendangan keras ke arah gawang.

Sementara itu, di lini belakang, suasana tampak jauh lebih santai. Sammy yang menjaga pertahanan hanya berdiri sambil bersedekap dada, sesekali melirik Adrian yang juga tampak bosan di bawah mistar gawang.

"Yan, kayaknya kita cuma jadi pelengkap doang di sini. Itu trio monster di depan nggak kasih bola lewat ke tengah," celetuk Sammy sambil menyeka keringat di dahinya yang sebenarnya tidak seberapa.

Adrian tertawa kecil, matanya tetap mengikuti arah bola. "Biarin aja, Sam. Yang penting kita menang tanpa harus kotor-kotoran. Liat tuh, anak Tour Guide udah pada ngos-ngosan ngejar Gery sama Reno."

Skor terus bertambah untuk keunggulan PH2. Kekompakan mereka membuktikan bahwa kelas perhotelan bukan hanya unggul dalam melayani tamu, tapi juga mampu "melayani" lawan di lapangan dengan kekalahan telak.

Skor mencolok 14-0 terpampang di papan skor manual pinggir lapangan. Kemenangan telak atas jurusan Tour Guide itu menjadi pernyataan tegas bahwa PH2 tidak datang untuk sekadar berpartisipasi.

Dion segera menghampiri Gery dan Sammy yang masih mengatur napas. "Ger, Sam, kalian istirahat total sekarang. Babak kedua biar Reno dan yang lain yang urus. Kalian harus simpan tenaga karena jadwal basket sebentar lagi mulai," perintah Dion dengan nada kepemimpinan yang kuat.

Sementara tim futsal kembali menang mudah melawan kelas 3 jurusan Busana dan memastikan tiket ke semifinal, Gery dan Sammy sudah mengganti sepatu mereka dengan sepatu basket yang memiliki grip kuat. Atmosfer di lapangan basket terasa jauh lebih berat. Penonton mulai menyemut, karena mereka tahu "big match" akan terjadi: PH2 melawan sang senior, kelas 3 PH1.

PH1 kelas 3 dikenal sebagai tim yang fisik dan mentalnya sudah matang. Namun, mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan duet legendaris tingkat kota masa SMP.

"Sam, kayak waktu kita di final SMP dulu?" tanya Gery sambil melakukan shooting pemanasan. Bola meluncur mulus tanpa menyentuh ring—swish.

Sammy nyengir, memutar bola di ujung telunjuknya. "Sikat, Ger. Gue kangen narik rebound terus oper ke lo yang udah lari di depan."

Begitu peluit tip-off dibunyikan, chemistry yang sudah terkubur sejak lulus SMP itu meledak kembali. Sammy, dengan tubuhnya yang kokoh, menjadi tembok raksasa di bawah ring. Setiap kali pemain PH1 mencoba melakukan lay-up, Sammy selalu ada di sana untuk melakukan blokade bersih.

"Ger! Ambil!" seru Sammy setelah berhasil mengamankan bola rebound.

Tanpa perlu melihat, Sammy melempar bola jauh ke depan. Gery sudah berlari secepat kilat (fast break). Dengan dribel yang rendah dan sangat cepat, Gery melewati dua bek senior PH1 seolah mereka hanyalah tiang jemuran. Gery melompat, menggantung di udara sesaat, dan melepaskan tembakan jump shot yang sangat elegan.

Masuk!

"Gila! Gerakan mereka sinkron banget!" teriak salah satu penonton dari pinggir lapangan.

Anak-anak kelas 3 PH1 mulai tampak frustrasi. Mereka mencoba bermain fisik dengan menempel ketat Gery, namun Sammy selalu datang memberikan screen (penghadang) yang sempurna, memberikan ruang bagi Gery untuk melakukan tembakan tiga angka (three point).

Setiap gerakan Gery selalu diawali atau diakhiri oleh peran Sammy. Mereka bukan hanya sekadar bermain basket; mereka sedang menari di atas lapangan dengan bahasa tubuh yang hanya mereka berdua yang mengerti. Senior PH1 yang tadinya jumawa, kini mulai berkeringat dingin menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan dua monster yang memiliki jam terbang turnamen resmi.

1
dewi
sampe bab ini mkin suka ma ceritanya thor
Shintara: terima kasih kak, semoga aku bisa memberikan yang terbaik lagi .
total 1 replies
Shin Nara
Tinggalin jempol dulu akh👍
Shintara: 😍😍😍 semoga terhibur
total 1 replies
Shintara
Bagi yang ingin mendengarkan lagunya "Lembayung Senja" dari Little Jack, bisa buka di YouTube ya dan akan hadir lagu-lagu berikutnya dari Little Jack pada Bab yang akan datang. ☺️
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!