NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 - Perang Harga Di Sentiong

Semburat jingga mulai menghiasi langit Jakarta, menandakan para pekerja kantoran di sekitar Menteng mulai berhamburan keluar. Suasana Taman Suropati yang tadinya tenang perlahan berubah menjadi bising dengan deru kendaraan. Gery dan Vanya pun memutuskan untuk menyudahi momen manis mereka dan segera pulang.

Di tengah perjalanan, Gery tiba-tiba membelokkan motornya ke pinggir jalan, tepat di depan sebuah gerobak martabak yang baru saja menyalakan lampu neonnya. Bau mentega yang harum mulai tercium saat si penjual memoles loyang panasnya.

"Bang, martabak manis satu. Isinya campur ya; keju, cokelat, sama kacang. Margarinnya banyakin," pesan Gery sambil turun dari motor.

Vanya yang masih duduk di jok belakang, memperhatikan Gery dengan dahi berkerut. "Buat siapa itu, Ger? Tumben amat lo beli martabak jam segini?"

Gery menoleh singkat sambil merogoh dompet di saku celananya. "Buat adek gue," jawabnya pendek.

Vanya tersentak kaget. Matanya membelalak menatap punggung Gery. "Hah? Emang lo punya adek? Kok gue baru tahu sekarang? Selama ini lo nggak pernah cerita, Ger!"

Gery tidak membalas. Ia hanya memberikan senyum misterius yang sulit diartikan, membuat Vanya semakin penasaran dan terus bertanya-tanya sepanjang sisa perjalanan. Dalam hati Vanya menebak-nebak, "Sejak kapan Gery punya adik? Kenapa dia menyembunyikannya?"

Setibanya di depan pagar rumah mewah itu, suara mesin motor matic Gery rupanya sudah sangat dikenali oleh telinga mungil penghuninya. Pintu rumah terbuka lebar, dan seorang gadis kecil berlari kencang menuju pagar sambil berteriak kegirangan.

"Kak Geryyyyy!" seru Vania dengan wajah berseri-seri.

Gery turun dari motor, lalu dengan senyum lebar ia menyodorkan kotak martabak yang masih hangat itu ke arah Vania. "Nih, buat Vania. Kakak beliin martabak spesial."

Vanya yang berdiri di samping motor langsung melongo. Ia menunjuk-nunjuk kotak martabak itu lalu menunjuk Gery dengan wajah tak percaya. "Loh, Ger! Itu bukannya tadi lo bilang buat adek lu?"

Gery menoleh ke arah Vanya, senyum usilnya kini merekah sempurna. "Lah, emang bener kan? Ini kan adek gue. Masa lu nggak tahu kalau dia adek gue?"

Detik itu juga, Vanya menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan "oneng" yang dipasang Gery. Rasa kesal karena tertipu mentah-mentah bercampur dengan rasa gemas langsung meledak.

"Geryyyyy! Gue kira lo beneran punya adek kandung!" seru Vanya sambil melayangkan pukulan-pukulan kecil dan cubitan maut ke lengan Gery. "Sumpah ya, lo tuh bener-bener tukang tipu!"

Gery hanya bisa tertawa sambil menghindar, sementara Vania tertawa paling keras melihat kakaknya yang biasanya galak malah jadi bahan ledekan Gery. Martabak manis itu bukan hanya mengisi perut Vania, tapi juga menambah satu lagi memori hangat di teras rumah itu, di mana status Gery perlahan sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka.

Gery hanya bisa menggelengkan kepala sembari menyalakan mesin motornya. Setelah drama martabak dan cubitan maut di teras tadi, ia merasa suplai energinya untuk hari ini sudah cukup terpenuhi. Ia pun melaju menembus dinginnya angin malam Jakarta yang mulai menusuk tulang, meninggalkan kediaman Vanya dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

Sesampainya di rumah, Gery melakukan rutinitas yang biasa. Ia membersihkan diri, mengganti seragamnya dengan kaus oblong santai, lalu duduk di tepi tempat tidur untuk merapikan isi tas sekolahnya. Lembar-lembar jadwal class meeting dan beberapa coretan rumus ujian yang tersisa ia keluarkan satu per satu.

Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel Nokia di atas meja belajarnya bergetar. Sebuah pesan singkat (SMS) masuk. Nama "Vanya" berkedip di layar monokromnya.

From Vanya: "Gerrr! Adek lo pelit bangeeet! Masa gue cuma dikasih sepotong kecil? Dia bilang ini martabak dari Kak Gery buat dia doang, gue nggak boleh minta banyak-banyak. Sumpah ya, pengaruh lo buruk banget buat Vania! Gue laper tauuu!"

Gery tertawa geli membaca keluhan itu. Ia bisa membayangkan wajah Vanya yang sedang cemberut, mungkin sedang mencoba merebut potongan martabak dari tangan Vania namun berakhir dengan kekalahan telak karena Vania merasa mendapat "perlindungan" penuh dari Gery. Gery baru saja hendak mengetik balasan singkat berisi ledekan, namun belum sempat jempolnya menekan tombol kirim, ponselnya justru berdering nyaring.

Lagu polifonik khas nada dering bawaan ponsel itu menggema di kamar yang sunyi. Vanya rupanya sudah tidak sabar lagi berbalas pesan lewat teks.

Gery menekan tombol hijau, dan sebelum Vanya sempat mengucapkan satu kata pun, Gery sudah lebih dulu meledakkan tawa yang tertahan sejak tadi.

 "Hahaha! Kasihan banget sih, kalah sama anak kecil?"

"Geryyy! Malah diketawain!" teriak Vanya dari seberang telepon, suaranya melengking tinggi namun terdengar sangat menggemaskan. "Ini tuh nggak lucu ya! Dia bener-bener meluk kotak martabaknya kayak meluk harta karun. Gue dicuekin abis-abisan! Ini semua gara-gara lo yang bilang itu martabak buat 'adek lo'!"

"Ya kan emang bener," sahut Gery sambil merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak kunjung hilang. "Vania itu pinter, dia tahu mana yang bener-bener tulus ngasih sama mana yang cuma mau nebeng makan doang."

"Sialan lo! Gue laper beneran, Ger..." nada suara Vanya tiba-tiba berubah sedikit manja, membuat jantung Gery berdesir aneh. "Lain kali kalau beli martabak, belinya dua kotak. Satu buat Vania, satu buat kakaknya yang cantik ini."

"Dih, kepedean," ledek Gery, meski dalam hati ia mencatat permintaan itu sebagai agenda wajib untuk pertemuan berikutnya.

Percakapan telepon malam itu berlanjut lama. Mereka membicarakan hal-hal yang tidak penting, mulai dari persiapan jualan jajan tradisional besok subuh hingga foto kecupan di Taman Suropati yang masih tersimpan rapi di memori kamera digital. Di tahun 2009 itu, saat kuota telepon malam lebih murah daripada siang hari, Gery menyadari bahwa suara di seberang telepon itu telah menjadi penghantar tidur yang paling ia tunggu setiap harinya.

Subuh itu, udara Jakarta masih terasa menusuk tulang. Gery yang sudah rapi dengan jaket hitamnya segera meraih ponsel. Jempolnya lincah menekan tombol di atas keypad Nokia-nya, mengirimkan pesan singkat untuk Vanya.

To Vanya: "Gue jalan sekarang. Siap-siap ya, jangan telat."

Begitu tombol send ditekan, Gery langsung memacu motor matic-nya. Mesin yang sudah di-bore-up itu meraung gahar di tengah kesunyian pagi. Dengan kondisi jalanan yang masih sangat lenggang, Gery hanya butuh waktu kurang dari 15 menit untuk sampai di depan pagar rumah Vanya.

Vanya baru saja meletakkan ponselnya setelah membaca SMS Gery saat suara knalpot yang sangat ia kenali berhenti tepat di depan rumah. Matanya membelalak. Ia baru saja selesai mandi, rambutnya bahkan masih terbungkus handuk, dan wajahnya benar-benar polos tanpa riasan sedikit pun.

Dengan langkah cepat, Vanya keluar menghampiri Gery yang baru saja memarkir motor dengan santai. Namun, bukannya sapaan manis, justru rentetan omelan yang keluar dari mulutnya.

"Gery! Lo gila ya?!" seru Vanya dengan nada tinggi. "Gue baru baca sms lo satu menit yang lalu bilang mau jalan, sekarang udah di sini! Lo bawa motor kecepatan berapa, hah?!"

Gery yang sedang membuka helm hanya bisa melongo melihat Vanya yang sudah "siap tempur" dengan wajah marah. "Ya... jalanan kosong, Van. Kan biar nggak telat ke pasar."

"Nggak lucu, Ger! Lo tahu nggak itu bahaya? Kalau ada apa-apa di jalan gimana? Gue nggak mau ya denger kabar lo kecelakaan cuma gara-gara mau jemput gue!" Vanya terus mengomel, rasa khawatir yang besar menyamar menjadi amarah yang meledak-ledak. Tubuhnya sedikit gemetar karena membayangkan risiko yang diambil Gery.

Suara keributan di depan rumah membuat Ibu Vanya yang sedang menyiapkan air hangat di dapur menoleh keluar. Beliau menyembulkan kepala dari pintu depan, heran melihat anak gadisnya sudah memarahi Gery di jam lima subuh.

"Vanya! Masih pagi kok sudah ribut sama Gery? Kasihan itu Gery-nya baru sampai," tegur Ibu Vanya lembut namun tegas.

Vanya menoleh ke arah ibunya dengan wajah cemberut. "Ini loh Ma, Gery bawa motornya kayak kesetanan! Bahaya banget!"

Gery hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal, memberikan senyum kecil yang canggung ke arah Ibu Vanya. "Maaf, Tante. Keasyikan narik gas soalnya jalanan sepi."

"Sudah, sudah. Vanya cepat masuk, dandan yang bener. Gery, masuk dulu sini, minum teh anget biar tenang jantungnya," ajak Ibu Vanya.

Vanya menyentak kakinya kesal sambil berjalan masuk ke dalam, namun sebelum masuk, ia sempat melirik Gery dengan tajam dan berbisik pelan, "Awas lo ya, pulangnya nggak boleh ngebut!"

Gery hanya bisa tersenyum simpul. Di balik omelan itu, ia tahu satu hal: Vanya sangat peduli padanya.

Gery duduk di sofa ruang tamu, menyesap teh hangat yang uapnya masih mengepul tipis. Aroma melati dari teh itu sedikit menenangkan sarafnya setelah "sidang subuh" dari Vanya tadi. Namun, keheningan itu pecah oleh suara langkah kaki kecil yang diseret di atas lantai marmer.

Vania muncul dengan piyama gambar kartun, rambutnya berantakan khas orang baru bangun tidur. Satu tangannya sibuk mengucek mata yang masih setengah terpejam.

"Selamat pagi, Kak Gery," sapa Vania dengan suara serak-serak basah. Ia duduk di samping Gery tanpa canggung. "Kakak Vanya berisik ya pagi-pagi? Emang udah biasa Kak, jangan dipikirin celotehan Kakak yang kayak nenek lampir itu."

Gery nyaris tersedak tehnya. Ia tertawa kecil lalu mengusap puncak kepala Vania dengan gemas. "Iya, nggak apa-apa. Kakak juga udah terbiasa kok ngadepin raungan singa betina tiap hari."

"Heh! Siapa yang lo bilang singa betina?!"

Vanya tiba-tiba sudah berdiri di anak tangga terakhir. Ia sudah rapi dengan jaket dan jeans, meski wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kekesalan. "Pada ngomongin gue ya lo berdua? Vania! Sana mandi! Masih ileran gitu udah berani nyambut tamu lo," usir Vanya telak.

Vania menjulurkan lidahnya ke arah kakaknya—sebuah gestur ejekan yang matang—lalu berlari ke arah dapur sambil berteriak memanggil mamanya untuk minta handuk.

Tanpa membuang waktu, Vanya langsung menarik lengan Gery. "Ayo buruan! Anak-anak udah pada nunggu di titik kumpul. Ma, Vanya jalan ya!" teriaknya berpamitan.

Begitu mesin motor menyala, Gery seolah lupa dengan peringatan Vanya tadi. Karena waktu sudah mepet dengan jadwal pasar subuh, Gery kembali memutar gas dengan dalam. Motor matic bore-up itu melonjak maju, membelah sisa kabut pagi yang masih menyelimuti jalanan Jakarta Pusat.

"Geryyy! Pelan-pelan!" teriak Vanya.

Karena angin yang menderu kencang dan rasa takut akan kecepatan, Vanya secara refleks memajukan duduknya dan memeluk pinggang Gery erat-erat. Wajahnya dibenamkan di punggung Gery, namun tangannya tidak tinggal diam. Ia mendaratkan cubitan maut di perut Gery sebagai protes atas kecepatan yang "ngadi-ngadi" itu.

"Aduh! Sakit, Van! Iya-iya, ini udah stabil!" seru Gery sambil menahan tawa dan rasa perih di perutnya. Meskipun dicubit, Gery tidak bisa memungkiri bahwa pelukan erat Vanya di subuh yang dingin ini terasa jauh lebih hangat daripada segelas teh buatan Ibu Vanya tadi.

Mereka terus melaju menuju titik temu di mana Yola, Nadia, Reno, dan Sammy sudah menunggu. Hari pertama class meeting dimulai dengan adrenalin yang sudah terpacu sejak dari gerbang rumah.

Gery memelankan laju motornya saat melihat siluet motor yang sangat ia kenali terparkir di pinggir jalan. Di sana, Reno tampak menyedihkan; ia telungkup di atas jok motornya dengan helm yang masih terpasang miring, benar-benar seperti orang yang kehilangan daya hidup akibat dipaksa bangun sebelum matahari terbit.

Begitu rombongan lengkap—Yola, Nadia, Sammy, dan si ngantuk Reno—mereka segera bergerak beriringan menuju pusat keramaian kue subuh di Jakarta Pusat.

Pasar Kramat Sentiong di jam segini adalah medan tempur yang sesungguhnya. Aroma kue cucur yang digoreng, uap dari jajanan pasar yang baru matang, dan suara riuh rendah pedagang menyambut kedatangan mereka.

Vanya, Yola, dan Nadia seketika berubah menjadi jenderal perang. Mereka berjalan di depan dengan langkah tegap, mata mereka memindai setiap lapak kue tradisional dengan ketajaman yang menakutkan. Di belakang mereka, Gery, Sammy, dan Reno mengekor seperti pengawal pribadi yang membawa kantong belanjaan besar.

"Bang, ini lempernya kalau ambil seratus biji masa harganya nggak kurang? Ini kan buat dijual lagi, Bang. Masa Abang tega sama anak sekolah?" suara Vanya mulai "beraksi" di depan sebuah lapak.

Si Abang pedagang mencoba bertahan. "Nggak bisa, Neng. Ini ketannya kualitas super, daging ayamnya asli, bukan serundeng."

"Halah, Bang. Di lapak sana tadi dibilang harga segini udah dapet bonus. Masa di sini nggak? Kalau nggak dikurangin seratus per biji, kita pindah nih," timpal Nadia dengan nada yang sama tajamnya.

Gery, Reno, dan Sammy hanya bisa berdiri mematung di belakang, menghela napas panjang secara serempak. Mereka menyaksikan bagaimana para wanita ini bisa berdebat selama lima menit hanya demi selisih harga seratus perak per kue.

"Gila ya," bisik Reno yang kini sudah bangun sepenuhnya gara-gara suara teriakan di pasar. "Gue mending disuruh lari keliling lapangan sepuluh kali daripada harus nawar harga kayak gitu. Mental gue nggak kuat, Ger."

Sammy menyahut sambil menenteng dua dus kosong. "Sifat alami, No. Kalau udah urusan duit kas, singa betina pun kalah galak sama mereka kalau lagi nawar."

Gery hanya tersenyum tipis sambil memperhatikan punggung Vanya. Ia melihat bagaimana Vanya yang biasanya manja dan hanya tahu belanja di mall, kini begitu gigih menghitung sisa uang di tangannya demi keuntungan kelas mereka. Ada rasa bangga yang aneh melihat sisi "emak-emak" Vanya yang mulai muncul.

"Udah, jangan banyak protes," ucap Gery ke arah Reno dan Sammy. "Tugas kita cuma dua: jagain mereka biar nggak ilang, sama bawa ini barang-barang berat ke motor. Sisanya, biarin jenderal-jenderal kita yang beresin."

Setelah melalui "peperangan" yang sengit, akhirnya tiga kantong besar penuh berisi risoles, lemper, kue talam, dan pastel berhasil diamankan dengan harga yang sangat miring. Para wanita itu kembali ke arah motor dengan wajah kemenangan, seolah baru saja memenangkan lotre.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!