(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback On
...Milan 2004. Mansion Moretti....
Semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Di setiap sudut rumah megah keluarga Moretti berdiri para bodyguard dengan setelan hitam rapi, tatapan tajam menyapu setiap gerakan. Para maid berlalu-lalang tanpa henti ada yang menyapu lantai marmer hingga berkilau seperti cermin, ada yang mengepel dengan aroma lavender yang lembut, dan ada pula yang menemani para tuan muda bermain di ruang keluarga yang luas.
Marry berdiri di dapur utama, tangannya cekatan mengatur piring-piring porselen mahal di atas meja makan panjang. Malam ini bukan malam biasa. Tuan besar Moretti dan anak-anaknya baru saja kembali dari perjalanan bisnis selama tiga bulan.
Sebagai kepala pelayan, Marry memikul tanggung jawab besar. Di usianya yang tiga puluh tahun, ia masih kuat, disiplin, dan dihormati seluruh staf. Wajahnya yang tegas namun hangat membuat siapa pun percaya bahwa ia memang pantas memegang posisi itu.
Setelah memastikan sup hangat tetap pada suhu sempurna dan steak dipanggang sesuai tingkat kematangan favorit tuan besar, Marry melangkah keluar dari dapur. Matanya menelusuri ruang keluarga. Para tuan muda Moretti bermain dengan riang tawa pecah di satu sudut, tangis kecil terdengar di sudut lain karena mainan yang direbut.
Namun pandangannya berhenti di dekat tangga besar, tepat di samping kursi piano hitam mengilap.
...Sumb by: pinterest...
Di sana, Marco Moretti, anak enam tahun itu duduk tegak di depan piano. Jemari kecilnya menekan tuts dengan pelan, memainkan nada yang tenang. Melodi yang keluar terdengar sendu, seolah menyimpan cerita yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata.
Dari semua tuan muda Moretti, hanya Marco yang berbeda. Ia pendiam, penyendiri, dan sangat menjaga jarak. Ia tidak menyukai sentuhan fisik bahkan dari keluarganya sendiri.
Suara langkah lembut terdengar dari tangga.
Anna Moretti turun perlahan dari lantai dua. Gaun rumah berwarna putih melekat anggun di tubuhnya. Wajahnya cantik, tetapi tampak lelah. Senyum tipis tetap terlihat, meski matanya menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.
Ia berjalan mendekati Marco.
Tangannya terangkat, hendak mengusap kepala putranya. Namun sebelum sentuhan itu terjadi, suara kecil yang dingin terdengar.
"Don't touch me, Mom."
Anna terdiam.
Tangannya membeku di udara. Ia menatap putranya lama, mata indah itu mulai berkaca-kaca.
"I want to hug you, Son…" suaranya bergetar, hampir tak terdengar.
Marco berhenti memainkan piano. Jemarinya menggantung di atas tuts. Ia menoleh perlahan, menatap ibunya dengan tatapan yang terlalu dewasa untuk anak enam tahun.
"I don't want to hurt you, Mom."
Kalimat itu seperti pisau tak kasat mata yang menusuk dada Anna.
Air mata mengalir membasahi pipinya. Ia tak mengerti atau mungkin terlalu mengerti. Putranya bukan menolak karena benci. Ia menjauh karena takut.
Takut menyakiti, takut kehilangan kendali, takut menjadi seperti monster dari pada manusia..
Tanpa berkata apa-apa lagi, Marco kembali menekan tuts piano. Nada yang ia mainkan kini terdengar lebih dalam, lebih sendu, memenuhi ruangan megah itu dengan kesunyian yang menyakitkan.
Anna berbalik. Langkahnya pelan saat melewati ruang keluarga, melewati para maid yang pura-pura tidak melihat, melewati bodyguard yang tetap berdiri tegap tanpa ekspresi. Pintu utama terbuka, angin menyambutnya.
Di luar, langit mendung seolah menggambarkan isi hati nya, hati seorang ibu hancur dalam diam.
Dari kejauhan, Marry menyaksikan semuanya. Ia menghela napas pelan. Sudah dua belas tahun ia bekerja di rumah ini, dan enam tahun pula ia melihat jurang tak kasat mata antara ibu dan anak itu semakin dalam.
Namun malam ini berbeda, karena tuan besar telah kembali.Dan setiap kali Moretti pulang, rumah ini tak hanya dipenuhi suara langkah sepatu mahal, tapi juga ketegangan yang membuat semua orang menahan napas.
Pintu gerbang depan perlahan terbuka mobil hitam panjang melaju sedang memasuki halaman. Marco tetap memainkan pianonya.
Lampu meja menyala redup, memantulkan bayangan panjang di dinding kamar yang dipenuhi rak buku dan peta kota Milan yang tersemat rapi. Jam di sudut meja menunjukkan pukul 22.00. Sunyi. Terlalu sunyi.
Klik.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Marco sudah berdiri bahkan sebelum gagang pintu berhenti bergerak.
Seorang maid melangkah masuk. Wajahnya tertunduk, seragam hitam putihnya rapi seperti biasa. Tapi tangan kanannya menggenggam sesuatu yang berkilat di bawah cahaya lampu.
Suntikan.
Marco tidak terkejut.
Ia hanya menatapnya datar, Sorot matanya berubah dingin dalam sekejap. Refleksnya terlatih. Sejak kecil.
“Berhenti di situ,” ucapnya rendah.
Maid itu terdiam, namun tidak mundur.
Bagi orang luar, Marco Moretti hanyalah tuan muda keluarga terpandang di Italia utara. Namun bagi mereka yang tahu, nama Moretti adalah bayangan panjang yang menguasai lorong-lorong gelap kota Milan. Keluarga mafia terbesar. Kekuasaan. Uang. Darah.
Dan pengkhianatan.
Ini bukan pertama kalinya seseorang mencoba menyentuhnya dengan jarum berisi racun atau obat bius.
Marco melangkah pelan ke samping meja, menjaga jarak. Tubuhnya kecil nya tegang, tapi pikirannya jernih. Ia mengamati detail kecil napas maid itu sedikit gemetar, jari-jarinya kaku.
Bukan pembunuh profesional.
“Siapa yang menyuruhmu?” tanyanya.
Tak ada jawaban, hening itu menyeretnya kembali pada masa lalu.
Ia masih tiga tahun waktu itu. Terlalu kecil untuk mengerti arti kata ‘musuh’. Pengasuhnya, wanita yang selalu memeluknya saat ia terbangun dari mimpi buruk. Yang membacakan cerita sebelum tidur. Yang mengusap rambutnya dengan lembut.
Sentuhan yang hangat, sentuhan yang membuatnya merasa aman.
Sampai suatu malam, ia terbangun dan melihat kilatan logam di tangan pengasuh nya, pisau yang diarahkan ke dadanya sendiri.
Darah merembes keluar dari luka nya dan membasahi piyama tidur dan kasur nya, beruntung Bodyguard langsung masuk dan menangkap pengasuh Marco.
Sejak saat itu, Marco trauma pada kelembutan dan sentuhan fisik lawan jenis nya.
Maid di hadapannya kini melangkah lagi.
Salah.
Dalam satu gerakan cepat, Marco meraih buku tebal di mejanya dan melemparkannya ke arah tangan maid itu. Suntikan terlepas dan jatuh berguling di lantai marmer.
Belum sempat wanita itu bereaksi, Marco sudah berada di depannya. Tangannya segera meraih suntikan yang jatuh kelantai itu.
“Aku benci disentuh,” bisiknya dingin.
Ia menusuk maid itu dengan suntikan yang maid itu bawa, wajahnya tetap tenang, namun matanya… mata itu tak menyisakan belas kasihan.
“Siapa yang menyuruhmu?” ulangnya.
Kali ini suara maid itu pecah. “S-saya hanya disuruh memberikan obat tidur, Tuan Muda… saya tidak tahu apa-apa…”
Obat tidur.
Di keluarganya, obat tidur bisa berarti banyak hal.
Bisa berarti penculikan,bisa berarti negosiasi paksa, atau bisa berarti kematian yang dibuat terlihat seperti kecelakaan.
Suara langkah kaki terdengar di koridor. Dua bodyguard muncul di ambang pintu, wajah mereka tegang saat melihat situasi.
Marco melepaskan cengkeramannya.
“Bawa dia,” katanya singkat. “Interogasi. Pelan-pelan.”
Maid itu diseret keluar, tangisnya menggema sebentar sebelum pintu kembali tertutup.
Kamar kembali sunyi.
Namun kini udara terasa lebih berat.
Marco menatap suntikan yang tergeletak di lantai. Ia mengambilnya dengan tisu, memperhatikan sisa cairan bening di dalamnya.
"Siapa pun yang bermain kali ini… berani sekali."
Ia berjalan ke jendela besar kamarnya, memandang lampu-lampu kota Milan yang berkilauan di kejauhan. Kota yang tunduk pada nama keluarganya.
Tapi bahkan singa pun bisa diserang saat lengah.
Tangannya mengepal,di dalam hatinya, ada sesuatu yang lebih gelap dari rasa marah.
Rasa muak.
Rasa jijik.
Dan kebencian yang tak pernah padam setiap kali seorang wanita mencoba mendekatinya dengan senyum lembut dan tangan hangat.
“Jangan pernah percaya pada kelembutan,” gumamnya pelan.
Karena sentuhan pertama yang ia percayai…
Hampir merenggut nyawanya, malam ini, seseorang kembali mengingatkannya bahwa dalam keluarga Moretti, bahkan di dalam rumah sendiri tak ada yang benar-benar aman.
...Kamar Marco kecil....
...Sumb by: pinterest...