Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Pelakor
“Tentu saja,” jawab Kalina sambil mengangguk berulang kali. Tatapannya jujur, bahkan sedikit terpesona.
“Kamu kelihatan berbeda. Tapi bukan karena gaunnya. Karena kamu sendiri.”
Seorang staf butik yang sejak tadi berdiri agak ke samping ikut tersenyum sopan. "Nona terlihat sangat cocok dengan potongan ini. Gaunnya tidak menutupi Anda, justru menegaskan keanggunan alami.”
Staf lain menambahkan dengan nada profesional,
“Jarang ada yang bisa membuat gaun ini terlihat begitu hidup.”
Ayuna menunduk sedikit. Bukan karena malu, melainkan karena ia belum sepenuhnya terbiasa menerima pujian tanpa syarat, terlebih hari ini, ketika hatinya masih menyisakan ganjalan yang belum menemukan tempatnya.
Kalina melirik staf dan memberi isyarat halus.
“Kalau begitu,” katanya ringan, “sekarang giliran
seseorang di luar sana.”
Ayuna mengangguk pelan. Saat tirai ditarik perlahan, ia sempat tersenyum gugup.
Namun begitu ia mengangkat wajah, senyum itu langsung memudar.
Kalina di sampingnya ikut terdiam, napasnya tercekat.
“Ayuna…” bisiknya.
“Itu… bukankah itu Shaila?”
Dari tempat mereka berdiri, jarak antara Shaila dan
Renan tampak terlalu dekat.
Terlalu pribadi.
Perempuan itu berdiri hampir menyentuh ruang aman Renan. Atasan sifon tanpa lengan berwarna krem membungkus tubuh rampingnya, dipadukan dengan rok pensil ketat yang menegaskan lekuk pinggangnya. Penampilannya rapi, namun jelas disengaja.
“Kak Renan…” suara Shaila bergetar, lembut, sarat emosi.
“Aku benar-benar menyukaimu. Sejak pertama kali melihatmu di gerbang kampus, aku sudah jatuh cinta.”
Ia menunduk. Bulu matanya bergetar, air mata menggenang seolah hanya menunggu alasan untuk jatuh.
“Aku tidak pernah menyangka kamu ternyata pacar Ayuna.”
Renan melangkah mundur setengah langkah saat Shaila hendak mendekat.
Gerakannya tenang. Jelas. Menolak.
Shaila menggertakkan gigi, namun wajahnya tetap mempertahankan ekspresi rapuh.
“Kak Renan, awalnya aku berniat menyimpan perasaan ini sendiri,” lanjutnya lirih.
“Tapi aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa melepaskanmu.”
Ia mengangkat wajah, menatap Renan dengan mata basah.
“Aku tahu kamu dan Ayuna sudah menikah. Tapi, aku hanya ingin bersamamu sekali saja.”
“Satu kali saja,” ulangnya, nyaris memohon.
“Setelah itu, aku tidak akan menyesal seumur hidup.”
Renan kembali mundur.
Napasnya baru terasa lebih ringan saat melihat Ayuna keluar dari ruang ganti.
Ekspresi lega di wajahnya terlalu jelas.
Dan entah mengapa, itu membuat dada Ayuna terasa sedikit mengeras.
Bukan cemburu, melainkan kesadaran bahwa pria itu masih menggantungkan ketenangannya pada kehadirannya.
Tatapan Renan padanya seolah berkata: Tidak bisakah kamu keluar lebih cepat?
“Shaila, apa yang sedang kamu lakukan?” Kalina akhirnya bersuara, tak mampu lagi menyembunyikan keterkejutannya.
“Aku—”
“Bukankah sudah jelas?” Ayuna memotong dengan suara tenang, datar, namun tajam.
“Dia sedang merayu suamiku.”
Tidak ada emosi berlebihan di sana. Tidak ada amarah.
Hanya pernyataan fakta.
Tatapan Shaila langsung tertuju pada gaun pengantin yang dikenakan Ayuna.
Putih. Bersih. Elegan.
Rasa iri dan kebencian bergulung dalam dadanya.
Semua ini karena Ayuna menemukan pria yang tepat.
Kenapa bukan aku?
“Kamu sangat cantik dalam gaun itu,” ujar Renan datar, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Shaila.
“Hanya saja, kehadiran orang-orang yang tidak penting bisa merusak suasana.”
Ia menggenggam tangan Ayuna, lembut, berhati-hati.
Bukan sebagai klaim. Lebih seperti permintaan maaf
yang tak terucap.
Ayuna menoleh padanya. Tatapannya singkat. “Gaun ini karya desainer ternama dari Amerika. Pesanan langsung dari ibu mertuaku.”
Ia tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. “Aku langsung jatuh cinta begitu melihatnya.”
Renan mengangguk. “Pilihan yang bagus. Kamu terlihat sangat cantik.”
Mereka berbicara seolah dunia hanya berisi mereka berdua.
Namun, Ayuna tahu tidak semua jarak bisa disembuhkan dengan kalimat sederhana.
Dan itu membuat Shaila hampir kehilangan kendali.
Tangannya tiba-tiba ditarik.
“Apa yang kamu lakukan?” bentaknya.
Kalina menatapnya dengan wajah pucat karena marah.
“Kamu sudah keterlaluan!”
Shaila menepis tangannya. “Apa masalahnya?” suaranya meninggi.
“Kamu membiarkan Ayuna mengejar kebahagiaannya, tapi aku, Shaila, tidak boleh?”
“Kamu boleh mengejar kebahagiaan,” Kalina membalas, suaranya bergetar.
“Tapi bukan dengan mengejar suami orang lain!”
“Sha, kenapa kamu melakukan ini?” suara Kalina merendah, nyaris memohon.
Shaila tertawa kecil, sinis. “Jangan berpura-pura, Kalina. Aku mendekati Ayuna hanya karena Kak Renan.”
“Kamu pikir aku kekurangan teman?” lanjutnya meremehkan.
“Teman-temanku mentraktirku makan, minum, berbelanja. Apa yang membuatmu merasa pantas jadi temanku?”
Mata Kalina memerah. “Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu?”
“Kamu ini apa?” Shaila memotong tajam.
“Pengikut kecil yang sok suci?”
“Shaila, apa kamu tidak malu menjadi selingkuhan orang lain?” Kalina tak habis pikir.
“Apa salahnya jadi selingkuhan?” Shaila mendengus.
Tatapannya menyapu Kalina dari atas ke bawah, penuh penghinaan.
“Melihat dirimu saja, kamu bahkan tidak pantas jadi wanita simpanan.”
Beberapa pasang mata mulai berpaling.
Ada yang menunduk. Ada yang pura-pura sibuk.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Begitu hening hingga napas terasa terlalu keras.
Ketika Ayuna kembali setelah berganti pakaian, ekspresinya sudah sangat dingin. Ia mendengar semua ucapan Shaila dari ruang ganti.
Ia mengambil segelas air dari meja tanpa berkata apa pun, lalu menarik pergelangan tangan Shaila dan menyiramnya.
Crattt!
Air dingin mengenai wajah Shaila tanpa ampun.
Ia tidak pernah membayangkan bisa setenang ini saat bersikap kejam. Tapi kali ini ia tidak ingin diam.
“Kamu bangga, ya, merusak hubungan orang lain?” suara Ayuna tenang, tapi setiap katanya menusuk.
“Kamu selalu merendahkanku, menyebutku yatim piatu tanpa orang tua. Tapi lihat dirimu sendiri. Apa yang kamu lakukan hari ini tidak lebih dari mempermalukan orang tuamu.”
Air menetes dari rambut dan riasan Shaila. Make-up yang ia persiapkan dengan susah payah sebelum datang hancur berantakan. Wajahnya memerah karena marah dan malu.
“Kamu gila?!” bentaknya.
“Apa hakmu memperlakukanku seperti ini? Percaya atau tidak—”
“Percaya apa?”
Suara dingin itu datang dari belakang Ayuna.
Renan berdiri tegak, tatapannya tajam dan tanpa emosi.
Begitu mata Shaila bertemu dengannya, tubuhnya langsung menegang. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, melainkan karena takut.
“Aku mengabaikanmu selama ini dan tidak melakukan apa pun padamu hanya demi Ayuna,” ujar Renan datar.
“Karena sekarang kamu sendiri mengatakan bahwa kamu tidak pantas menjadi temannya, maka mulai hari ini jangan pernah muncul di hadapannya lagi.”
“Kak Renan…” Shaila tanpa sadar melangkah maju.
Namun, satu tatapan dari pria itu membuat kakinya terasa lemas.
“Pergi.”
Satu kata. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar.
Shaila menggigit bibirnya. Ia benar-benar tidak rela. Ia sudah berusaha sejauh ini, tapi Renan sama sekali tidak goyah. Semua usahanya selama ini sia-sia.
Renan kehilangan kesabaran. Ia memberi isyarat singkat.
Dua pengawal segera melangkah maju.
Kalina menahan napas. Ia tidak pernah melihat Ayuna setegas ini.
Ayuna berdiri tenang, wajahnya tak lagi menunjukkan emosi. Pengkhianatan seorang teman memang tidak melukai tubuh, tetapi rasanya jauh lebih menyakitkan dari yang ia kira.
“Dia telah membuat kita salah paham begitu lama,” bisik Renan pelan.
“Aku tidak akan membiarkannya mendekatimu lagi.”
Renan menarik napas dalam, bukan karena lega, melainkan memastikan situasi tidak berkembang lebih jauh.
Untung saja sejak awal ia tidak pernah memberi ruang. Jika tidak, menghadapi wanita seperti Shaila pasti akan jauh lebih merepotkan.
Ia menoleh pada Ayuna, nada suaranya melunak, namun tetap berhati-hati.
“Mau coba gaun pesta?”
Ayuna mengangguk pelan.
Ia tidak berniat membela Shaila sedikit pun. Perasaan dikhianati itu terlalu nyata, terlalu tidak menyenangkan.
Dan ia juga tidak ingin membuat Renan berpikir bahwa semuanya sudah baik-baik saja, bahwa luka itu sudah sembuh, padahal belum.
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta