Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.
Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.
Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.
Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁
Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kedatangan Arthur.
“Awas ada ulatnya.” Ucap Chef Vin pada Andrea yang tengah membersihkan sayuran di bawah kucuran air keran.
“Saya tidak takut ulat, Chef.”
“Lalu? Kamu takut apa?” Pria tampan itu bersedekap dada di samping Andrea.
“Saya takut tidak punya uang, Chef.” Jawab Andrea terkekeh.
Chef Vin mencebikan bibirnya. “Jadi kamu hanya bekerja di pagi hari?”
Deg..
Andrea tiba-tiba menjadi gugup. Ia tak tau harus menjawab apa. Bingung mencari alasan, jika Chef Vin bertanya alasan di balik jadwal kerja pagi yang dapatkan.
“I-iya, Chef.”
“Kenapa?”
Benar saja. Gadis itu bingung harus menjawab apa.
“I-itu. Itu karena di sore hari saya harus menjaga seorang bayi, Chef.”
“Benarkah? Kamu sudah memiliki anak?”
Kepala Andrea menggeleng. “Sebenarnya, setelah lulus kemarin, saya ikut bibi bekerja di rumah majikannya. Kebetulan disana mencari pengasuh bayi. Jadi sembari menunggu waktu pemanggilan pekerjaan, saya menerima tawaran menjadi pengasuh.”
‘Benarkah? Kenapa pihak hotel begitu mudah menyetujui?’
Lagi-lagi Chef Vin menemukan kejanggalan dalam penerimaan Andrea. Mulai dari gadis itu di terima dalam waktu singkat, dan sekarang ia di beri keistimewaan bekerja hanya di pagi hari.
Kemarin Chef Vin sempat mencari tau tentang Andrea pada pihak HRD, namun mereka mengatakan jika pemanggilan Andrea di langsung oleh General Manager.
“Pulang kerja nanti, bagaimana jika kita mampir di kafe depan hotel?” Ajak pria tampan itu kemudian. Tiba-tiba ia penasaran dengan mantan anak didiknya itu.
Andrea yang dulu sederhana, kini terlihat berbeda. Lebih dewasa dan terlihat cantik.
Gadis itu nampak berpikir, sebelum ia menjawab pertanyaan atasannya itu.
“Tetapi, Chef. Saya tidak bisa lama-lama. Karena saya harus menggantikan Suster yang pengasuh nona kecil.” Jawabnya kemudian.
“Mm, tidak masalah. Hanya sebentar. Jika majikanmu marah, saya yang akan berbicara.” Tukas Chef Vin kemudian.
“Baiklah, Chef.”
Waktupun berlalu. Pesanan makanan mulai berdatangan. Jangankan mengobrol, bertegur sapa pun tak sempat.
Restoran yang di beri nama Daisy Restaurant itu, tidak hanya di peruntukan untuk tamu yang menginap di hotel saja, tetapi juga di buka untuk umum.
Jadi tak heran, jika menjelang makan siang, banyak pesanan mulai berdatangan.
Tempat makan berkapasitas lima ratus orang itu, menyediakan makanan khas nusantara, dan beberapa makanan barat.
Andrea sedang sibuk membantu Chef Vin menyiapkan satu porsi makanan Bali. Gadis itu sangat senang menatap hidangan yang telah siap di atas piring.
“Awas.” Terdengar suara orang memperingati.
Di bagian Hot Kitchen, tempat dimana semua bahan makanan di olah, yang tadinya riuh, mendadak senyap. Lima orang yang berada disana, termasuk Andrea dan Chef Vin, seketika menoleh ke arah sumber suara.
Deg..
Andrea tersentak. Ia tak hanya mengenali suara itu, tetapi juga mengenal pemilik suara maskulin itu.
‘Arth?’
Arthur berdiri di belakang gadis itu sedang menghalau sebuah panci besar yang hampir menimpa Andrea.
“Pak Arthur.” Chef Danu datang, mengambil alih panci yang sedang di tahan oleh pemilik hotel itu.
“Kamu tidak apa-apa?” Arthur menatap Andrea khawatir.
“I-iya, pak. A-aku baik-baik saja.” Memang tidak terjadi sesuatu pada gadis itu. Ia bahkan tidak tau, ada benda yang hendak menimpanya.
“Siapa yang meletakkan benda itu disana?” Tanya Arthur kemudian. Ia menatap nyalang empat orang lainnya.
Chef Vin mendekat, ia memperhatikan memang disana bukanlah tempat menyimpan panci. Kenapa benda itu berada disana?
“Siapa yang meletakan disini?” Pria tiga puluh lima tahun itu mengulang tanya pemilik hotel.
Ketiga orang lainnya saling tatap. Entah siapa yang meletakan panci di rak paling atas. Padahal benda berbentuk bulat itu tempatnya di bawah.
‘Si-al kenapa pak Arthur bisa datang kemari?’ Chef Danu mengumpat dalam hati.
“Tidak ada yang mau mengaku?” Arthur kembali berbicara. Sembari mengusap lengan dan bahu yang terkena badan panci.
“Baiklah, aku anggap ini sebuah kelalaian kalian dalam bekerja. Jadi, siapa yang harus aku salahkan dalam hal ini?”
“Maafkan kami, pak. Aku yang salah karena tidak memeriksa kembali keadaan dapur ini.” Chef Vin membela para bawahannya. Bagiamana pun, ia memiliki tanggung jawab besar terhadap di dapur itu.
“Mm, ada apa ya, pak? Tumben pak Arthur mampir kemari?” Chef Danu menyela. Ia tidak mau pemilik hotel memperpanjang masalah panci itu.
“Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh berkunjung kemari? Kalian keberatan atas kedatangan ku?”
Jawaban Arthur membuat Chef Danu bungkam.
Pria berusia tiga puluh tahun itu memutar badan, mencari keran air untuk membasuh tangannya.
‘Apa yang kamu lakukan disini, Arth?’
Andrea mendekat sembari memberi beberapa lembar tissue untuk mengeringkan tangan pria itu.
“Lain kali hati-hati. Bagiamana jika aku tidak datang tadi? Sesuatu pasti sudah terjadi padamu.” Arthur berbicara sangat pelan, sembari mengeringkan tangan dengan tissue.
“M-maaf.” Ucap Andrea yang juga sangat pelan. Ia tidak mau orang lain mendengar pembicaraan mereka yang terbilang sangat akrab.
“Sekali lagi, aku meminta maaf atas kejadian ini, pak.” Chef Vin kembali bersuara.
“Apa kejadian seperti ini sering terjadi? Apa kalian memang seenaknya dalam bekerja?” Arthur mendekati empat orang lainnya kemudian bersedekap dada.
Andrea merasa situasi menegang. Hanya karena masalah panci.
“C-Chef, sepertinya, kita harus menghidangkan makanan meja nomor sepuluh.” Celetuk gadis itu. Ia kemudian menyela di antara Arthur dan juga Chef Vin.
“Pak, maaf. Kami harus kembali bekerja. Aku takut nanti para pelanggan di depan marah karena makanannya terlalu lama.” Ucap Andrea ke arah Arthur.
‘Kamu membela mereka, Rea? Padahal sudah jelas, salah satu dari mereka ingin mencelakai mu.’ Arthur mencebikan bibirnya.
‘Aku? Kamu bicara padaku saja menggunakan bahasa formal, Rea. Tetapi kepada pak Arthur kamu bicara menggunakan kata ‘aku?’ Chef Vin memperhatikan interaksi kedua orang itu.
“Siapa namamu?” Tanya Arthur menatap Andrea. Karena ia merasa di perhatikan oleh Chef Vin.
“A-aku, A-Andrea, pak.” Ucap gadis itu sembari menundukkan kepalanya.
“Mm, nama yang bagus. Jam pulang kerja nanti, temui aku di ruang kerjaku. Kamar hotel nomor triple delapan.”
“T-tapi, pak—
“Kamu pekerja baru, bukan? Berani membantah?”
Kepala Andrea mengeleng kencang.
“Bagus. Lanjutkan pekerjaan kalian.” Arthur mengibaskan tangan. Kemudian memutar tubuh meninggalkan tempat itu.
“Rea, kamu tau siapa dia? Dia pemilik hotel ini. Berani sekali kamu menyela.” Chef Danu mendelik ke arah Andrea.
“Danu. Kembali bekerja. Apa kamu mau aku beri surat peringatan?” Chef Vin mulai geram dengan tingkah asistennya.
‘Si-al. Apa yang gadis ini lakukan? Sehingga Chef Vin dan pemilik hotel membelanya?’
.
.
.
Bersambung.
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an