"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rasa canggung
Setelah memastikan dapur kembali bersih, Seila menghampiri Andersen. "Ayo, aku tunjukkan kamarmu," ajaknya pelan.
Mereka menaiki tangga kayu yang sesekali berderit, membawa mereka ke lantai atas yang terasa lebih dingin. Seila membuka sebuah pintu...
Andersen melangkah masuk dan disambut oleh aroma kertas tua dan kayu kering. Kamar itu tampak sangat rapi dengan tempat tidur tertutup seprai berwarna abu-abu pucat, meskipun lapisan debu tipis di atas meja kayu menunjukkan bahwa ruangan ini sudah cukup lama tidak berpenghuni.
"Ini kamar yang akan kamu tempati," ucap Seila, suaranya sedikit bergema di ruangan yang sunyi itu. Ia berjalan menuju jendela, memastikan kuncinya rapat agar angin musim dingin tidak menyelinap masuk.
Seila berbalik, menatap Andersen sejenak di bawah cahaya lampu tidur yang kekuningan. Ada keraguan di matanya, seolah ingin mengatakan sesuatu namun ia urungkan.
"Kalau kamu butuh sesuatu... mungkin bahumu terasa sakit lagi atau kamu kesulitan mengganti pakaian... jangan ragu untuk mengetuk dinding," ia menunjuk ke arah sisi kanan ruangan. "Kamarku tepat di sebelah kamar ini. Aku ada di sana."
Senyum tipis tersungging di bibir Seila sebelum ia melangkah mundur menuju pintu. "Selamat istirahat, Andersen."
Klik.
Suara pintu yang tertutup rapat meninggalkan Andersen sendirian dalam keheningan. Ia mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang, merasakan keempukan kasur yang asing baginya.
Melalui dinding kayu di sampingnya, ia sayup-sayup mendengar langkah kaki Seila yang lembut di kamar sebelah.
Begitu punggungnya menyentuh kasur, kesadaran Andersen seolah ditarik paksa ke dalam kegelapan membuatnya tertidur tanpa mimpi.
Beberapa jam kemudian, ia tersentak bangun. Kamar itu diselimuti cahaya abu-abu fajar yang remang. Udara musim dingin Belanda yang tajam merayap masuk melalui celah jendela, terasa menusuk hingga ke tulang dan membuat uap tipis keluar dari setiap napasnya.
Tubuhnya menggigil, namun alih-alih meringkuk di balik selimut, insting prajuritnya justru memberontak.
Andersen turun dari ranjang, kakinya menyentuh lantai kayu yang sedingin es. Dengan napas yang diatur, ia menjatuhkan tubuhnya ke posisi telungkup di atas lantai. Mengandalkan hanya pada lengan kanannya yang masih kokoh, ia mulai melakukan push-up.
Satu... dua... tiga...
Keringat dingin mulai bercampur dengan hawa beku ruangan. Otot-ototnya menjerit, namun ia terus memacu dirinya dengan latihan beban tubuh yang ekstrem. Di sela-sela repetisi, ia mencoba memberikan perintah pada lengan kirinya yang sejak kemarin layu seperti dahan kering.
Tiba-tiba, ia merasakannya—sebuah denyut halus, seperti sengatan listrik statis yang merambat dari pangkal bahu menuju ujung jari manisnya. Andersen tertegun.
Ia mencoba mengepalkan jemari kirinya. Sangat lemah, nyaris tidak terlihat, namun jemari itu bergerak.
Andersen terduduk di lantai, menatap lengan kirinya dengan napas tersengal. Rasa sakitnya masih ada, namun mati rasa yang seharusnya permanen itu mulai terkikis. Seolah-olah "Latihan Neraka" dalam pengulangan waktu yang ia lalui telah merombak metabolisme tubuhnya secara fundamental.
Sel-selnya tidak hanya pulih; mereka beradaptasi dengan kecepatan yang tidak masuk akal, seolah tubuh fisiknya sedang dipaksa untuk mengejar ketangguhan mentalnya yang sudah "mati" berulang kali.
Andersen meraih ponselnya yang tergeletak. Cahaya layar yang terang menyinari wajahnya, menampilkan sebuah pesan singkat dari Seila yang dikirim beberapa menit lalu: “Sudah bangun? Bersiaplah, pagi ini kita akan ke pasar bersama Nenek. Jangan sampai terlambat!”
Pesan itu membawa senyum tipis di wajah Andersen. Ia segera bangkit dan melangkah menuju kamar mandi di sudut ruangan. Begitu ia memutar keran, uap panas langsung membubung, memenuhi ruangan kecil itu dengan kehangatan yang nyaman.
Saat air hangat mulai membasuh tubuhnya, rasa dingin musim dingin Belanda yang tadinya menusuk hingga ke pori-pori perlahan sirna, digantikan oleh sensasi rileks yang merambat ke seluruh ototnya.
Di bawah kucuran air, ia kembali mencoba menggerakkan jari-jari tangan kirinya; sarafnya terasa lebih responsif, meski masih ada sisa-sisa kaku yang mengingatkannya pada pertempuran di basement tempo hari.
Setelah menyegarkan diri dan mengenakan pakaian hangat yang tebal, Andersen melangkah keluar kamar. Suara derit tangga kayu yang khas mengiringi langkahnya turun ke lantai bawah.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara tawa Seila yang beradu dengan suara tenang sang Nenek.
Di ruang makan, pemandangan hangat menyambutnya. Seila tampak cantik dengan sweter rajut berwarna krem, rambutnya diikat asal namun tetap terlihat anggun.
Ia sedang duduk bersandar di meja makan sambil menyesap teh hangat, tampak asyik mengobrol dengan sang Nenek yang sedang menyiapkan beberapa tas belanja berbahan kain.
Melihat Andersen muncul di ruang makan, Seila segera meletakkan cangkir tehnya. Dengan gerakan cekatan, ia menyambar secarik kertas kusam berisi daftar belanjaan yang telah ditulis rapi oleh sang Nenek.
"Kami berangkat dulu, Nek!" seru Seila riang.
Tanpa berpikir panjang, didorong oleh rasa semangat yang membuncah, Seila menyambar tangan kiri Andersen... Tangan yang sebelumnya terkulai lemas tak berdaya. Ia menariknya dengan kuat menuju pintu keluar. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Andersen tidak merintih kesakitan.
Alih-alih tertarik dengan lunglai, jemari tangan kiri Andersen justru membalas genggaman Seila dengan cengkeraman yang mantap dan kokoh. Saraf-saraf yang kemarin mati, kini seolah telah menyambung kembali sepenuhnya dalam semalam.
Andersen tertegun menatap tangannya sendiri, namun tarikan Seila terlalu kuat untuk membuatnya berhenti berpikir. Mereka tiba di depan sebuah mobil Eropa klasik tahun 90-an yang terparkir di halaman.
Begitu mereka duduk di dalam kabin, suasana menjadi sunyi sejenak. Andersen sudah memegang kemudi dengan kedua tangannya yang kini berfungsi normal, sementara Seila menatapnya dengan bingung.
"Tunggu... kamu mau menyetir?" tanya Seila heran.
"Sepertinya kamu salah masuk pintu, Shel," ucap Andersen datar, namun ada kilat jenaka di matanya.
Seila menatap pedal yang kosong di bawah kakinya, lalu menatap setir yang ada di depan Andersen. Wajahnya seketika merona merah karena malu.
Andersen terkekeh pelan—sebuah tawa yang tulus dan ringan. Di dalam kabin mobil yang sempit, Andersen mengulurkan telapak tangannya dengan gerakan halus. "Bisa aku minta kuncinya, Shel?" pintanya dengan nada bicara yang sangat lembut, mencoba meredakan kekesalan kecil gadis itu.
Alih-alih hanya menyerahkan kunci, ia justru memajukan tubuhnya. Karena jarak mereka yang begitu dekat di dalam mobil klasik itu, Seila secara spontan mendaratkan sebuah kecupan singkat dan hangat di pipi Andersen—sebuah gestur yang biasa ia lakukan jika sedang bermanja-manja untuk meminta maaf.
Klanting!
Genggaman Andersen melemah seketika; kunci mobil bermata besi itu terjatuh ke lantai mobil, beradu dengan pedal gas.
Andersen mematung, pupil matanya melebar karena terkejut. Ia bisa merasakan sisa kehangatan bibir Seila yang tertinggal di kulit pipinya, sementara jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke ujung telinga.
Seila tersentak, kesadarannya pulih sepenuhnya dalam sekejap. Ia menarik tubuhnya menjauh hingga punggungnya menempel keras ke pintu mobil.
"Maaf... maaf! Aku... aku tidak sengaja! Tadi aku masih mengantuk, aku pikir..." suaranya mengecil, kalimatnya menggantung di udara sementara wajahnya berpaling ke luar jendela, menyembunyikan wajahnya.
Andersen menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh. Ia merunduk, mengambil kunci yang terjatuh di bawah kakinya dengan tangan kiri.
"Iya, tidak masalah," ucap Andersen pelan, suaranya terdengar sedikit parau. Ia memasukkan kunci ke lubang starter dan memutarnya. Mesin mobil menderu pelan, mengisi kesunyian di antara mereka.
Sambil melirik sekilas ke arah Seila, ia menambahkan dengan nada menggoda yang tipis, "Tapi Shel... kalau kamu ingin menggodaku, jangan terlalu kasar seperti itu. Jantungku bisa lepas."
Seila semakin tenggelam dalam rasa malunya. Ia meremas daftar belanjaan di pangkuannya, tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Keheningan yang sangat canggung namun manis menyelimuti sepanjang perjalanan.
Begitu fokusnya Seila pada debaran jantungnya sendiri, ia bahkan tidak menyadari betapa lincahnya tangan kiri Andersen memutar setir dan memindahkan tuas gigi saat mereka membelah jalanan.