NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pertemuan dengan Nyonya Zhu

Gerimis tipis mulai membasahi debu Kota Qing-He, mengubah aroma gang sempit itu menjadi campuran bau tanah basah dan jelaga. Di depan penginapan lapuk yang menjadi tempat perlindungan sementara mereka, Guiren duduk bersila. Xiaolian tertidur di dalam, napasnya masih berat namun sudah tidak lagi tersengal.

Guiren sedang membersihkan sisa arang di jemarinya saat ia merasakan perubahan atmosfer.

Bukan suara langkah kaki yang menarik perhatiannya, melainkan aroma. Bau cendana yang halus, dingin, dan mahal, jenis aroma yang tidak mungkin berasal dari penghuni distrik kumuh ini. Melalui Visi Qi-nya yang samar, Guiren melihat sebuah siluet energi yang berbeda. Jika energi orang-orang di pasar kemarin terasa seperti lumpur keruh, siluet di depannya ini seperti aliran air perak yang tenang namun dalam. Sangat dalam hingga dasarnya tidak terlihat.

"Lukisan itu," sebuah suara wanita memecah kesunyian. Suaranya rendah, memiliki intonasi yang tertata rapi. "Pria yang membelinya kemarin hampir gantung diri tadi malam."

Guiren tidak bergerak. Tangannya tetap berada di atas lutut, menyembunyikan getaran kecil yang muncul karena kewaspadaan. "Saya hanya menjual apa yang dia inginkan."

Wanita itu melangkah mendekat. Guiren bisa merasakan sapuan kain sutra halus di udara saat wanita itu berjongkok di hadapannya. Ia tidak membawa kehangatan, justru ada hawa dingin yang kalkulatif terpancar darinya.

"Dia menginginkan seni. Kau memberinya racun," lanjut wanita itu. Ia meletakkan lukisan "Keputusasaan" yang dijual Guiren kemarin di atas tanah. "Garis-garis ini... mereka tidak sekadar ditarik. Mereka mengandung Hukum Kesedihan yang murni. Begitu mentah, begitu jujur, hingga orang biasa tidak akan sanggup menanggung bebannya lebih dari satu malam."

Guiren tetap diam. Ia tahu wanita di depannya ini bukan pedagang kecil oportunis. Ada pengetahuan yang berbahaya di balik setiap ucapannya.

"Anda siapa?" tanya Guiren datar.

"Orang-orang memanggilku Nyonya Zhu," jawabnya. "Aku mengoleksi hal-hal yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Dan lukisanmu adalah salah satunya."

Nyonya Zhu mengulurkan tangan, jemarinya yang ramping bergerak di atas kertas tanpa menyentuhnya, seolah sedang membaca getaran energi yang tersisa. "Banyak orang bisa melukis penderitaan, tapi hanya sedikit yang bisa menjadikannya sebuah hukum yang hidup. Kau tidak melukis apa yang kau lihat. Kau melukis apa yang kau rasakan setelah dunia menghancurkanmu."

Guiren meraba tongkat kayunya, bersiap untuk kemungkinan terburuk. "Jika lukisan itu membahayakan, ambil kembali uang Anda. Saya tidak mencari masalah."

Nyonya Zhu mengeluarkan tawa kecil yang kering. "Uang? Kepingan perak kecil itu bahkan tidak cukup untuk membeli satu tetes tinta yang layak bagi bakat sepertimu. Aku tidak datang untuk meminta pengembalian uang. Aku datang karena aku membenci pemborosan."

Ia berdiri kembali, bayangannya jatuh menutupi tubuh kurus Guiren. "Kau memiliki kemampuan untuk mengguncang jiwa manusia, tapi kau menggunakan arang sampah dan kertas pembungkus daging. Itu penghinaan terhadap seni."

"Saya hanya butuh obat untuk adik saya," balas Guiren, suaranya mulai menajam oleh rasa curiga. "Saya tidak peduli pada seni."

"Justru karena itulah hukum itu ada padamu. Kau tidak berpura-pura," Nyonya Zhu melangkah mundur satu langkah, memberikan ruang yang terasa seperti sebuah undangan sekaligus jebakan. "Dengarkan aku, bocah buta. Di kota ini, kau bisa mati sebagai pengemis yang menjual kesedihan di pinggir jalan, atau kau bisa menjadi orang yang membuat para kultivator berlutut hanya untuk melihat goresan kuasmu."

Nyonya Zhu menjatuhkan sebuah lencana kayu kecil di depan kaki Guiren. Lencana itu beraroma cendana yang sama kuatnya dengan tubuhnya.

"Datanglah ke Paviliun Awan Hijau besok saat matahari di puncak kepala. Aku tidak menjanjikan keselamatan, tapi aku menjanjikan sarana. Kau butuh tinta yang lebih baik jika ingin tetap hidup saat Paviliun Yama menemukan jejak energi yang kau tinggalkan di setiap lukisan sampahmu ini."

Mendengar nama Paviliun Yama disebut, napas Guiren tertahan sejenak. Nyonya Zhu tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan berjalan pergi, menghilang ke dalam kabut gerimis dengan ketenangan yang menakutkan.

Guiren mengambil lencana kayu itu. Permukaannya halus, terasa dingin di telapak tangannya yang kasar. Ia bisa merasakannya, tawaran ini bukan didasari belas kasihan. Nyonya Zhu melihatnya sebagai aset, sebuah investasi yang mungkin sangat berisiko.

Ia menoleh ke arah pintu penginapan, tempat Xiaolian berada. Dunia di luar sana mulai mengetuk pintunya, bukan lagi dengan pedang, melainkan dengan pilihan yang sama tajamnya.

Guiren meremas lencana itu. Ia tahu, ia baru saja bertemu dengan seseorang yang mungkin lebih berbahaya daripada penjarah di desa, namun juga merupakan satu-satunya jalan agar ia tidak lagi harus melukis dengan debu dan arang.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!