NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Kunci Tanpa Pintu

Arlan duduk tersandar di dinding beton yang lembap, tepat di balik tumpukan kontainer tua di zona netral. Napasnya memburu, menciptakan kabut putih yang tebal di udara yang suhunya terus merosot akibat efek endotermik kota. Ia merobek sedikit bagian dari mantel kurirnya untuk menyeka noda perak yang mengering di tangannya—sisa-sisa konfrontasi dengan sosok yang menyerupai ibunya di apartemen Sektor Tujuh tadi. Namun, rasa sakit yang paling hebat bukan berasal dari luka fisik, melainkan dari dada kirinya. Kunci tua yang tergantung di lehernya terasa membara, seolah logam itu baru saja dicabut dari tungku api.

"Jangan ditekan, Arlan. Kau hanya akan memperburuk luka bakarnya," sebuah suara berat muncul dari kegelapan di depannya.

Dante melangkah keluar dari balik bayangan pilar. Wajahnya terlihat letih, dengan garis-garis kecemasan yang lebih dalam dari biasanya. Ia segera berlutut di samping Arlan, memeriksa uap panas yang keluar dari balik kerah baju pemuda itu.

"Ini bukan panas biasa, kan?" Arlan bertanya dengan gigi yang bergeletuk. "Rasanya seolah jantungku dipaksa berdetak mengikuti irama kunci ini."

Dante menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan timah dari tas taktisnya. "Ini adalah reaksi resonansi. Kunci itu mendeteksi duka yang kau rasakan setelah meninggalkan rumahmu. Karena kau memiliki darah murni, emosimu menjadi bahan bakar bagi kunci itu untuk mencari 'pintu' yang terhapus."

"Aku melihat buku catatan Ayah di dalam kotak timah yang kutemukan di bawah ubin dapur," Arlan merogoh saku mantelnya, mengeluarkan kotak kecil yang ia selamatkan dari proses penghapusan apartemennya. "Dante, Ayah menyebutkan tentang pintu yang ada di dalam pikiran. Apa maksudnya?"

Dante mengambil kotak itu dengan hati-hati. Ia membukanya dan membolak-balik halaman buku catatan tua yang kertasnya sudah mulai menguning. Matanya terpaku pada sebuah sketsa denah yang tampak tidak logis; sebuah pintu yang digambar melayang di atas sebuah gedung tanpa tangga atau akses fisik apa pun.

"Ayahmu, almarhum kepala kurir, adalah seorang pelopor dalam memetakan anomali realitas primer," gumam Dante. "Dia percaya bahwa para Peniru hanya bisa menyalin apa yang bisa mereka lihat. Mereka tidak bisa menyalin apa yang hanya ada dalam ingatan. Kunci ini adalah pemancar. Jika kau memfokuskan memori tentang tempat yang paling kau rindukan, kunci ini akan memproyeksikan pintu menuju tempat itu, meskipun secara fisik tempat tersebut sudah dihapus dari kota ini."

"Jadi, aku harus memikirkan rumahku? Tapi rumah itu sudah hancur, Dante! Aku melihatnya memudar menjadi debu kelabu tepat di depan mataku!" suara Arlan meninggi, penuh dengan keputusasaan yang tertahan.

"Justru karena itulah ia menjadi jangkar," sela Mira yang tiba-tiba muncul dari arah terowongan pembuangan. Langkahnya ringan, namun wajahnya pucat. "Hampa akustik di sekitar gedung ini mulai menguat. Para Eraser sudah berada di radius lima ratus meter. Mereka melacak lonjakan energi dari kuncimu, Arlan."

Arlan memejamkan mata, mencoba menahan denyut panas di dadanya. "Bagaimana aku bisa membuka pintu jika aku sendiri bahkan tidak yakin apakah aku nyata? Bagaimana jika aku juga hanya sebuah salinan yang memiliki memori palsu tentang duka ini?"

Mira mendekat dan menggenggam tangan Arlan yang gemetar. "Salinan tidak akan pernah merasakan panas yang membakar kulitnya sendiri demi sebuah kenangan, Arlan. Mereka dingin. Kau panas. Kau adalah satu-satunya hal yang membara di kota yang membeku ini."

"Dante, beri aku pembungkus timah itu," Arlan mengulurkan tangan. "Aku harus mematikan sinyalnya sekarang sebelum mereka mengepung kita."

Dante menyerahkan lembaran timah kurir. "Bungkus dengan rapat. Lapisan timah ini akan mengisolasi frekuensi kunci tersebut, tapi kau hanya punya waktu singkat. Begitu timah ini dibuka, Eraser akan mengunci koordinatmu dalam hitungan detik."

Arlan membungkus kunci di lehernya dengan timah tersebut. Seketika, rasa panas yang menyiksa itu mereda menjadi denyutan hangat yang tumpul. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, mencoba mengatur napasnya kembali secara manual. Ia harus memastikan setiap tarikan napasnya teratur untuk menenangkan detak jantungnya yang tadi sinkron dengan kunci tersebut.

"Kita harus ke atap gedung tua di ujung jalan ini," Dante berdiri, memberikan instruksi dengan nada komandan yang dingin namun melindungi. "Itu adalah titik tertinggi di zona netral yang belum terkena pembersihan total. Arlan, di sana kau harus melepas timahnya dan membiarkan kunci itu memandu kita."

"Tapi kita akan menjadi sasaran empuk di atas sana," Arlan membantah sambil berdiri dengan kaki yang masih agak lemas.

"Itulah rencananya," balas Dante sambil memeriksa pistol analognya. "Kita akan menggunakan 'Third Option Strategy'. Kita tidak akan melawan mereka secara frontal. Kita akan memancing mereka ke satu titik fokus, dan saat mereka mengira telah menangkapmu, kau akan membuka pintu itu dan kita menghilang ke dalam memori yang tidak bisa mereka masuki."

"Dan jika aku gagal memproyeksikan pintunya?" tanya Arlan.

"Maka kita akan terhapus bersama sejarah yang gagal kita selamatkan," jawab Dante tanpa keraguan.

Mereka mulai bergerak menyelinap di antara bayangan gedung-gedung yang tampak seperti nisan raksasa di bawah cahaya lampu jalan yang hijau-kebiruan. Arlan memegang kotak timah ayahnya erat-erat. Di dalamnya bukan hanya ada catatan, tapi ada harapan yang terasa begitu berat untuk dipikul oleh seorang kurir biasa.

"Arlan, dengarkan suara itu," bisik Mira saat mereka berada di tangga darurat menuju atap. "Bukan suara alarm, tapi suara dengung... seperti ribuan lebah di dalam dinding."

"Sistem penghapusan sudah mulai menyelimuti zona ini," Arlan menyahut. Ia merasakan udara di sekitarnya menjadi sangat tipis, khas dari area hampa akustik yang mulai memadat. "Dante, mereka sudah di bawah."

"Jangan menoleh ke bawah, Arlan! Terus naik!" perintah Dante.

Begitu mereka mencapai atap, pemandangan kota Lentera Hitam terlihat sangat mengerikan. Sebagian distrik di kejauhan tampak sudah kehilangan warna sepenuhnya, hanya menyisakan kerangka kelabu yang statis. Di bawah gedung, beberapa kendaraan hitam tanpa lampu mulai mengepung area, dan sosok-sosok bermantel kelabu mulai keluar dengan senjata sensor yang memancarkan cahaya ungu.

"Sekarang, Arlan!" Dante berseru di tengah deru angin yang membeku. "Buka timahnya! Fokuskan pikiranmu pada ruang tengah rumahmu, pada aroma sup yang pernah kau hirup, pada setiap retakan di dinding yang kau hafal sejak kecil!"

Arlan menarik napas dalam-dalam, menahan napasnya untuk sesaat guna mengunci fokusnya. Ia merobek pembungkus timah di lehernya.

Cahaya keemasan yang menyilaukan meledak dari dadanya, menembus kegelapan malam.

Cahaya keemasan yang memancar dari dada Arlan menyapu permukaan beton atap gedung, menciptakan kontras yang menyakitkan terhadap spektrum lampu kota yang hijau-kebiruan. Arlan jatuh berlutut, kedua tangannya mencengkeram tepian mantelnya sendiri seolah sedang menahan jantungnya agar tidak melompat keluar. Di bawah sana, para Eraser berhenti bergerak sesaat; sensor ungu mereka berputar liar, terkunci pada anomali energi yang tidak seharusnya ada di dunia salinan ini.

"Fokus, Arlan! Jangan biarkan rasa takutmu memecah cahayanya!" teriak Dante sambil melepaskan tembakan peringatan ke arah tangga akses atap yang mulai didobrak dari dalam.

"Aku tidak bisa... rasanya terlalu berat!" Arlan merintih. Pikirannya mencoba memanggil bayangan rumahnya, namun yang muncul justru gambaran mengerikan saat "Ibu" berubah menjadi perak di dapur. "Setiap kali aku mencoba mengingat rumah, aku hanya melihat mereka menghapusnya!"

Mira merangkak mendekat di tengah terpaan angin endotermik yang mengamuk. Ia meletakkan telapak tangannya di punggung Arlan, mencoba menstabilkan frekuensi hampa akustik yang mulai mengoyak kewarasan pemuda itu.

"Jangan ingat kehancurannya, Arlan," bisik Mira tepat di telinga Arlan. "Ingat duka yang kau rasakan saat menyadari tahi lalat ibu berpindah. Ingat kemarahanmu saat melihat ayah dihapus dari foto. Duka adalah satu-satunya hal yang tidak bisa mereka salin. Jadikan itu jangkar!"

Arlan mengerang, memeras setiap sel otaknya. Tiba-tiba, udara di depan mereka mulai bergetar. Sebuah garis vertikal setinggi manusia muncul, berpendar samar di tengah udara kosong. Garis itu tidak memiliki material fisik, namun saat Arlan menatapnya melalui pantulan koin perak di telapak tangannya, ia melihat sebuah pintu kayu jati dengan ukiran yang sangat ia kenali—pintu rumah lamanya sebelum kebakaran tahun 2012.

"Itu dia! Pintunya mulai terbentuk!" Dante berseru, ia mulai mundur saat pintu akses atap meledak hancur. Pasukan Eraser mulai merangsek naik, wajah-wajah tanpa ekspresi mereka tampak berkilat di bawah cahaya keemasan Arlan.

"Arlan, pintunya belum terbuka sepenuhnya!" Mira memperingatkan. "Mereka akan sampai di sini dalam sepuluh detik!"

Arlan menatap kunci di lehernya. Logam itu kini bukan lagi berwarna kuningan kusam, melainkan putih berpendar. Ia meraih kunci itu dengan tangan telanjang, mengabaikan kulit telapak tangannya yang mulai melepuh karena panas duka yang terakumulasi.

"Dante, mereka sudah mengunci posisi kita dengan detektor spektrum!" Arlan berseru di tengah deru angin. "Jika kita masuk sekarang, mereka akan mengikuti jejak frekuensinya ke dalam memori!"

"Gunakan strategi ketiga, Nak! Jangan hanya membuka pintunya, tapi ubah urutan kodenya!" Dante membalas sambil menghantam salah satu Eraser dengan popor senjatanya.

Arlan mengangguk pelan, sebuah pemahaman mendalam tiba-tiba merasuki benaknya—sebuah instruksi yang seolah dibisikkan oleh ayahnya melalui getaran koin di sakunya. Ia tidak akan memasukkan kunci itu ke pintu yang melayang di depannya. Sebaliknya, ia memutar kunci itu di udara, berlawanan dengan arah jarum jam.

"Aku tidak akan masuk ke pintu yang kalian lihat," gumam Arlan dingin. "Aku akan membawa pintu ini masuk ke dalam diriku."

Dalam satu gerakan sentakan yang brutal, Arlan menarik garis cahaya itu ke arah dadanya sendiri. Udara di atap gedung seolah tersedot ke dalam satu titik pusat. Suara ledakan sunyi yang memekakkan telinga terjadi, menciptakan gelombang kejut yang mementalkan pasukan Eraser hingga terjatuh dari tepian gedung.

Keheningan total mendadak menyergap. Hampa akustik mencapai puncaknya hingga Arlan tidak bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Saat ia membuka mata, Dante dan Mira masih berdiri di sana, namun dunia di sekitar mereka telah berubah. Mereka tidak lagi berada di atas atap beton. Mereka berdiri di sebuah hamparan air setinggi mata kaki yang memantulkan langit yang penuh dengan retakan memori.

"Di mana kita?" Mira bertanya, suaranya terdengar seperti gema yang memantul di dalam kristal.

"Ini adalah ruang hampa antar-dimensi," suara Arlan terdengar berbeda—lebih berat dan tenang. "Pintu itu bukan jalan keluar, tapi sebuah perisai. Kita berada di dalam memori yang tidak memiliki koordinat fisik."

Dante menghela napas panjang, menurunkan senjatanya. Ia menatap Arlan dengan tatapan yang sulit diartikan; ada rasa bangga, namun juga ada ketakutan yang mendalam. "Kau baru saja mengaktifkan fase awal sebagai Chronicler, Arlan. Kau membawa kami masuk ke dalam 'Void' milikmu sendiri."

Arlan membuka genggaman tangannya. Kunci tua itu kini telah menghitam, kehilangan seluruh cahayanya, namun terasa menyatu dengan nadinya. Ia mengeluarkan buku catatan ayahnya yang masih kering meskipun mereka berdiri di atas air.

"Halaman terakhir catatan Ayah... sekarang aku paham," Arlan membuka halaman yang tadi kosong. Kini, muncul tulisan tangan yang baru: Kunci ini tidak membuka pintu kayu. Ia membuka pintu kebenaran bahwa kau adalah wadah dari semua yang telah mereka hapus.

"Kita tidak bisa selamanya di sini, kan?" Mira menyentuh permukaan air yang tidak menimbulkan riak itu.

"Tidak. Tapi di sini, kita aman untuk sementara waktu," Arlan menatap ke arah kejauhan, di mana ia bisa melihat bayangan kabur kota Lentera Hitam yang sedang membeku. "Di sini, aku bisa mempelajari apa yang Ayah tinggalkan. Dan saat kita keluar nanti, aku bukan lagi kurir yang melarikan diri."

Arlan memejamkan mata, merasakan aliran memori dari koin-koin di sakunya yang mulai tersinkronisasi dengan detak jantungnya. Rasa sakit dari luka bakarnya perlahan mendingin, meninggalkan bekas luka berbentuk kunci di telapak tangannya—sebuah tanda permanen bahwa martabat kemanusiaannya kini memiliki alat pertahanan yang nyata.

"Besok," gumam Arlan. "Besok kita akan mencari radio hitam itu. Kita akan menjawab setiap jeritan yang mereka coba bungkam."

Dante hanya mengangguk, menyadari bahwa murid yang ia latih kini telah melampaui batas-batas kemanusiaan biasa. Di ruang sunyi yang tidak terjangkau oleh para Peniru, Arlan berdiri tegak sebagai satu-satunya pustaka hidup yang tersisa di dunia yang sedang memutih.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!