NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Undangan Emas dan Kado dari Hati

​Dua hari kemudian, sebuah amplop tebal mendarat di meja kayu Fatih di kampus.

​Amplop itu bukan sembarang amplop. Warnanya krem dengan tekstur fancy paper yang mahal, berhiaskan pita emas, dan wangi parfum samar-samar. Di bagian depannya, tertulis nama "Fatih & Partner" dengan kaligrafi tinta emas yang dicetak timbul (embossed).

​"Gila..." Hadi memegang amplop itu dengan ujung jarinya, seolah takut mengotorinya. "Ini undangan ulang tahun apa undangan pelantikan presiden? Kertasnya aja lebih tebel dari dompet gue."

​Fatih tidak menjawab. Ia menatap undangan itu dengan perasaan campur aduk. Undangan pesta ulang tahun Zalina ke-23. Di Hotel Grand Preanger, salah satu hotel paling bersejarah dan mewah di Bandung.

​"Lu beneran diundang, Tih?" tanya Hadi tak percaya. "Gue kira si Erlangga bakal nge-blacklist nama lu dari daftar tamu."

​"Zalina yang ngasih langsung tadi pagi, lewat Nisa," jawab Fatih pelan. Ia teringat kejadian tadi pagi di lobi jurusan. Nisa menghampirinya, menyerahkan undangan itu sambil berbisik, "Zalina maksa ini harus sampai ke tangan lo. Jangan nggak dateng, ya. Dia butuh temen waras di sana."

​"Dateng nggak lu?" desak Hadi.

​Fatih menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi perpustakaan yang keras. "Nggak tau, Di. Lu liat dress code-nya? 'Elegant Formal'. Gue punya baju apaan yang elegan? Batik gue udah pudar warnanya. Jas almamater? Dikira mau demo entar."

​"Sewa lah! Atau pinjem punya anak-anak teater."

​"Bukan cuma soal baju, Di," potong Fatih. Matanya menerawang ke luar jendela. "Di sana itu kandangnya Erlangga. Isinya relasi bisnis bapaknya, temen-temen sosialitanya. Gue ke sana cuma bakal jadi butiran debu yang ganggu pemandangan."

​"Tapi kalau lu nggak dateng, lu kalah sebelum perang," sela Hadi tegas. "Lu mau Erlangga mikir kalau lu minder? Lu mau Zalina nungguin lu, tapi lu malah ngurung diri di kamar kos sambil dzikir? Dzikir itu bagus, Tih, tapi ikhtiar menampakkan batang hidung itu juga perlu!"

​Kata-kata Hadi menampar logika Fatih. Benar. Mundur sekarang berarti membenarkan ejekan Erlangga di perpustakaan kemarin.

​Fatih meraih undangan itu, memasukkannya ke dalam tas. Tekadnya membulat, meski keraguan masih menggayuti dadanya.

​"Gue dateng," putus Fatih.

​"Nah, gitu dong! Laki!" seru Hadi sambil menepuk meja. "Terus kado? Lu jadi bawa 'doa' doang? Jangan malu-maluin lah, Tih. Minimal bawa sesuatu yang bisa dipegang."

​Fatih tersenyum tipis. Misterius. "Gue udah siapin. Sesuatu yang nggak bisa dibeli Erlangga pake Black Card-nya."

​Sementara itu, di butik langganan Ibu Ratih di kawasan Dago Atas.

​Zalina berdiri di depan cermin besar setinggi tiga meter. Ia mengenakan gaun malam berwarna champagne yang indah. Bahannya sutra premium, jatuh dengan lembut membalut tubuhnya. Namun, wajah Zalina tampak murung.

​"Ini agak ketat di bagian pinggang, Tante," keluh Zalina pada desainer butik itu. Ia menarik-narik kain di bagian pinggangnya, merasa risih. "Dan kerudungnya... ini kependekan. Nggak menutup dada."

​"Duh, Zalina!" seru Ibu Ratih yang duduk di sofa beludru sambil meminum teh. "Itu sudah model paling up-to-date! Kalau kerudungnya dipanjangin lagi, detail payet di dadanya ketutup dong. Sayang, itu payet swarovski asli lho."

​"Tapi Zalina nggak nyaman, Bu. Zalina mau yang lebih syar'i. Ini pesta, banyak laki-laki bukan mahram."

​"Ini pesta privat, Sayang. Isinya orang-orang terhormat," sanggah ibunya. "Lagian Erlangga suka model begini. Kemarin dia yang request warna champagne ini biar matching sama dasinya dia."

​Zalina terdiam. Lagi-lagi Erlangga.

​Sejak persiapan pesta ini dimulai, Zalina merasa bukan menjadi dirinya sendiri. Ia merasa seperti boneka Barbie yang didandani untuk kepuasan orang lain. Erlangga menentukan tempat, Ibu menentukan baju, Ayah sibuk mengurus daftar tamu VIP. Tidak ada yang bertanya: Zalina maunya apa?

​Pintu butik berdenting. Sosok yang baru saja dibicarakan muncul. Erlangga masuk dengan setelan jas kasual yang pas badan, kacamata hitam, dan senyum lebar yang memamerkan deretan gigi putih hasil veneer.

​"Wow!" Erlangga bertepuk tangan pelan saat melihat Zalina. Ia berjalan mendekat, matanya menyapu penampilan Zalina dari atas ke bawah dengan tatapan posesif. "Sempurna. Kamu kelihatan kayak putri kerajaan, Zal. Stunning."

​Zalina memaksakan senyum sopan. "Makasih, Angga. Tapi aku mau minta Tante Desi nge-rombak bagian kerudungnya. Terlalu pendek."

​"Eh, jangan dong," cegah Erlangga cepat. "Gini aja udah bagus banget, Zal. Kelihatan modern. Nanti kalau terlalu tertutup malah kayak mau pengajian, bukan garden party. Kan nanti banyak temen-temenku dari klub mobil juga, masa kamu kaku banget?"

​Dada Zalina sesak. Komentar Erlangga barusan menyiratkan bahwa penampilan syar'i itu "kaku" dan "memalukan".

​"Kalau gitu aku nggak mau pake gaun ini," suara Zalina bergetar menahan marah.

​"Zalina..." Ibu Ratih memberi kode mata melotot.

​"Nggak apa-apa, Tante," Erlangga menengahi dengan gaya sok bijak. Ia menatap Zalina, kali ini suaranya merendah, sedikit menekan. "Zal, hargai usaha aku dong. Aku udah pilihin yang terbaik. Ini cuma buat malem itu aja. Tiga jam doang. Demi aku? Demi nama baik keluarga kita di depan tamu?"

​Demi aku. Kata-kata manipulatif itu lagi.

​Zalina menunduk, menelan kepahitan di tenggorokannya. Ia merasa terperangkap. Ia tidak ingin ribut di butik orang. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengangguk lemah.

​"Oke. Tapi cuma buat malam itu," lirih Zalina.

​Erlangga tersenyum puas, merasa menang. "Nah, gitu dong. Itu baru calon istri yang baik."

​Kata "calon istri" itu terdengar seperti vonis penjara di telinga Zalina.

​Malam sebelum pesta.

​Di kamar kosnya, Fatih tidak sedang tidur. Meja belajarnya yang sempit penuh dengan kertas sketsa, penggaris, dan pensil berbagai ukuran. Lampu belajar menyorot fokus ke satu titik kertas manila putih berkualitas tinggi.

​Fatih bukan sedang mengerjakan tugas kuliah. Ia sedang mengerjakan kado untuk Zalina.

​Sebagai mahasiswa arsitektur yang hobi kaligrafi, Fatih memutuskan untuk menggabungkan dua keahliannya. Ia tidak mampu membelikan tas Gucci atau sepatu Louboutin. Tapi ia mampu memberikan sebuah karya seni yang dibuat dengan doa di setiap goresannya.

​Tangan Fatih bergerak luwes dan hati-hati. Ia sedang menggambar sebuah sketsa isometrik bangunan masjid impiannya—sebuah desain masjid futuristik namun tetap membumi, dikelilingi taman bunga. Dan di langit-langit masjid itu, ia menyisipkan kaligrafi Surah Ar-Rum ayat 21 yang ditulis dengan gaya Kufi yang geometris, menyatu dengan struktur bangunan.

​“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya...”

​Ini bukan sekadar gambar. Ini adalah visi masa depan Fatih. Sebuah janji diam-diam. Bahwa jika suatu hari nanti ia mampu, ia tidak akan membangunkan istana emas untuk Zalina, tapi ia akan membangunkan rumah yang menenteramkan, tempat sujud mereka berdua.

​Fatih menyelesaikan goresan terakhirnya pukul 02.00 pagi.

​Ia menatap karyanya. Sederhana, hitam putih, namun berkarakter kuat. Ia membingkainya dengan bingkai kayu minimalis yang ia buat sendiri dari sisa kayu maket.

​"Semoga kamu paham bahasanya, Zal," bisik Fatih pada sketsa itu. "Bahwa cinta itu bukan tentang memamerkanmu, tapi tentang menenteramkanmu."

​Hari H. Hotel Grand Preanger, Sabtu Malam.

​Lobi hotel bintang lima itu tampak lebih gemerlap dari biasanya. Mobil-mobil mewah—Alphard, Mercedes, BMW, bahkan satu dua Porsche—antre di area drop-off. Valet parking sibuk berlarian membukakan pintu untuk para tamu yang turun dengan gaun dan jas mahal.

​Suasana wangi parfum mahal menyeruak di udara. Musik orkestra sayup-sayup terdengar dari arah Grand Ballroom.

​Di tengah antrean mobil mewah itu, terdengar suara motor yang agak batuk-batuk.

​Brremmm... bret... bret...

​Sebuah Honda Supra keluaran tahun 2005 berwarna hitam kusam berhenti di belakang sebuah mobil Ferrari merah.

​Satpam hotel yang berjaga di depan lobi segera berlari mendekat, wajahnya panik sekaligus sedikit meremehkan.

​"Maaf, Mas! Ojol dilarang masuk lobi utama! Lewat pintu samping kalau mau anter makanan!" bentak satpam itu sambil melambaikan tangan mengusir.

​Pengendara motor itu membuka helmnya. Fatih.

​Malam ini, Fatih mengenakan kemeja batik lengan panjang terbaiknya—batik motif Mega Mendung berwarna biru tua warisan almarhum ayahnya. Batik itu sedikit kebesaran di bahu, tapi bersih dan disetrika licin. Celananya bahan kain hitam standar, dan sepatu pantofel murah yang baru ia semir mengkilap.

​"Maaf, Pak. Saya tamu undangan," ucap Fatih tenang sambil mengeluarkan undangan emas dari saku jaketnya.

​Satpam itu tertegun melihat undangan "Fatih & Partner" yang asli. Ia menatap Fatih, lalu menatap motor bututnya, lalu menatap undangan itu lagi. Ragu-ragu.

​"Oh... tamu undangan Mbak Zalina?" nada suara satpam itu berubah sedikit sopan, meski tatapan curiganya belum hilang. "Tapi motor nggak bisa parkir valet di lobi, Mas. Harus parkir sendiri di basement P3. Di pojok belakang."

​"Baik, Pak. Terima kasih."

​Fatih tidak tersinggung. Ia justru bersyukur tidak perlu menyerahkan kunci motornya ke petugas valet yang mungkin akan bingung cara menyalakan motor tuanya yang kuncinya sudah dol itu.

​Setelah memarkir motor di basement yang pengap dan berjalan kaki naik ke lobi, Fatih akhirnya berdiri di depan pintu masuk Ballroom.

​Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa seperti alien yang mendarat di planet lain.

​Di dalam, dekorasi pesta itu luar biasa mewah. Ribuan bunga mawar putih asli menghiasi setiap sudut. Lampu kristal menggantung megah. Para tamu berdiri berkelompok, memegang gelas minuman, tertawa renyah membicarakan saham dan liburan ke Eropa.

​Fatih melangkah masuk. Ia memeluk bingkai kadonya yang dibungkus kertas cokelat sederhana (kertas samson klasik) dan diikat tali rami. Sangat artsy dan rustic, kontras dengan kado-kado lain di meja penerima tamu yang dibungkus kertas kado mengkilap dan pita raksasa.

​"Mas Fatih?"

​Suara itu membuat Fatih menoleh. Nisa berdiri di sana, mengenakan dress biru muda. Wajahnya tampak lega melihat Fatih.

​"Nisa. Assalamu'alaikum," sapa Fatih.

​"Wa'alaikumussalam. Gila, gue kira lu nggak bakal dateng!" Nisa menepuk lengan Fatih pelan. "Ayo masuk. Zalina lagi di panggung sama... you know who."

​Fatih mengikuti Nisa membelah kerumunan. Matanya tertuju ke panggung utama.

​Di sana, di bawah sorotan lampu spotlight, berdiri Zalina dan Erlangga.

​Fatih harus mengakui, mereka terlihat serasi secara visual. Erlangga gagah dengan jas tuksedo hitamnya. Zalina cantik luar biasa dengan gaun champagne itu, meski Fatih bisa melihat gesture tubuh Zalina yang tidak nyaman—tangannya terus-menerus membetulkan letak kerudungnya, dan senyumnya terlihat kaku.

​Erlangga sedang memegang mikrofon, memberikan kata sambutan.

​"...Dan terima kasih untuk bidadari tercantik malam ini, Zalina, yang sudah mengizinkan saya merancang malam spesial ini," ucap Erlangga dengan gaya pembicara ulung. "Malam ini bukan cuma perayaan ulang tahun, tapi juga pembuktian bahwa yang terbaik hanya pantas mendapatkan yang terbaik."

​Tepuk tangan riuh membahana. Erlangga menatap Zalina, lalu dengan sengaja meraih tangan gadis itu dan mencium punggung tangannya di depan semua orang.

​Zalina tersentak kaget, ingin menarik tangannya tapi sadar ratusan mata sedang menonton. Ia terpaksa membiarkannya, wajahnya memerah menahan malu.

​Di sudut ruangan, Fatih meremas bingkai lukisannya erat-erat. Hatinya perih, tapi bukan karena cemburu buta. Ia perih melihat Zalina diperlakukan seperti trofi kemenangan, dipamerkan seolah barang berharga, bukan dimuliakan sebagai wanita.

​"Tuh kan, apa gue bilang. Si Erlangga cringe banget," bisik Nisa jijik.

​Tiba-tiba, mata Erlangga yang sedang menyapu ruangan menangkap sosok Fatih.

​Erlangga terdiam sejenak di atas panggung. Senyumnya berubah menjadi seringai licik. Ia tidak menyangka Fatih berani datang. Ini kesempatan bagus untuk menunjukkan siapa yang berkuasa.

​"Oiya," suara Erlangga kembali terdengar di mikrofon, lebih keras. "Saya lihat ada tamu spesial yang datang jauh-jauh. Teman kampus Zalina. Mas... siapa itu? Mas Fatih ya?"

​Semua kepala di ruangan itu menoleh ke arah Fatih. Sorot lampu follow spot tiba-tiba diarahkan padanya.

​Fatih terpaku. Silau. Ia berdiri sendirian di tengah kerumunan orang-orang berjas mahal, memeluk kado kertas cokelatnya, dengan baju batik yang agak kebesaran.

​"Sini dong, Mas Fatih! Naik ke panggung!" panggil Erlangga dengan nada yang seolah ramah tapi penuh intrik. "Tadi saya liat Mas bawa kado. Ayo kasih langsung ke Zalina. Kita semua penasaran, kado apa yang dibawa mahasiswa arsitektur paling idealis di kampus."

​Suara tawa kecil terdengar dari beberapa tamu yang menangkap nada sarkasme Erlangga.

​Zalina di atas panggung tampak panik. Ia menggeleng pelan ke arah Erlangga, mencoba menghentikan kegilaan ini. "Angga, jangan..."

​"Kenapa? Kan kita harus menghargai tamu," potong Erlangga tanpa mematikan mik.

​Fatih menarik napas panjang. Ia tahu ia sedang dijebak. Erlangga ingin mempermalukannya. Erlangga ingin membandingkan kado Fatih yang "murah" dengan pesta megah ini.

​Jika Fatih lari keluar sekarang, ia akan selamat dari rasa malu, tapi ia akan kehilangan harga dirinya selamanya.

​Fatih menegakkan punggungnya. Ia menatap lurus ke arah Erlangga, lalu beralih menatap Zalina yang memandangnya dengan tatapan memohon maafkan-aku.

​Fatih melangkah maju.

​Langkahnya tenang. Tidak terburu-buru. Sepatu pantofel murahnya berbunyi tuk tuk tuk di lantai marmer, membelah kesunyian. Ia naik ke atas panggung.

​Kini ia berdiri berhadapan dengan Erlangga dan Zalina.

​Kontras itu semakin nyata. Erlangga yang wangi parfum Eropa, dan Fatih yang wangi minyak kasturi dan sedikit bau asap knalpot.

​"Selamat ulang tahun, Zalina," ucap Fatih lembut. Ia tidak menggunakan mikrofon, tapi suaranya cukup jelas terdengar karena heningnya ruangan. "Semoga sisa usiamu diberkahi Allah, dan setiap langkahmu selalu dalam lindungan-Nya."

​Fatih mengulurkan bungkusan cokelat itu.

​Erlangga menyambar bungkusan itu sebelum Zalina sempat menyentuhnya. "Wah, kita buka sekarang aja ya! Biar semua liat."

​Tanpa izin, Erlangga merobek kertas cokelat pembungkusnya dengan kasar.

​Zalina menahan napas. Nisa di bawah panggung menutup mulutnya tegang.

​Kertas robek. Bingkai kayu minimalis itu terlihat.

​Erlangga mengangkat lukisan itu tinggi-tinggi, berniat mencari celah untuk mengejeknya. "Apa ini? Gambar rumah? Oh, Mas Fatih mau nawarin jasa desain ru—"

​Kalimat Erlangga terhenti di tenggorokan.

​Ia melihat gambar itu. Sketsa masjid futuristik yang sangat indah, detail, dan hidup. Arsiran pensilnya begitu halus, menunjukkan skill tingkat tinggi. Tapi yang membuat Erlangga terdiam adalah kaligrafi ayat di langit-langitnya dan sebuah tulisan kecil di pojok bawah:

​"Rumah untuk menenteramkan, bukan untuk memamerkan."

​Tamu-tamu yang berdiri di dekat panggung mulai berbisik.

"Indah sekali gambarnya..."

"Itu buatan tangan? Arts banget."

"Dalem banget maknanya."

​Erlangga menyadari bahwa ejekannya tidak mempan. Lukisan itu punya aura yang tidak bisa direndahkan. Ia justru terlihat bodoh karena merobek bungkusnya dengan kasar.

​Zalina mengambil alih bingkai itu dari tangan Erlangga. Matanya berkaca-kaca menatap sketsa itu. Ia paham. Ia sangat paham pesan tersembunyi Fatih. Ini adalah kritik halus untuk situasi Zalina saat ini, sekaligus doa tulus untuk masa depannya.

​"Terima kasih, Mas Fatih," suara Zalina bergetar haru, tulus dari hati. "Ini... ini kado paling indah yang aku terima malam ini."

​Wajah Erlangga merah padam. Ia merasa dikalahkan di panggungnya sendiri, oleh laki-laki bermotor butut dan berbatik kedodoran.

​Fatih tersenyum. Senyum kemenangan yang santun.

​"Sama-sama. Saya permisi dulu. Masih ada urusan lain," Fatih mengangguk hormat pada Erlangga (sebuah pukulan telak atas arogansi Erlangga), lalu berbalik turun dari panggung.

​Ia berjalan keluar ruangan dengan kepala tegak, diiringi tatapan kagum dari beberapa tamu dan tatapan berapi-api dari Erlangga.

​Malam itu, di tengah pesta mewah yang menghabiskan ratusan juta, pemenangnya bukanlah si pemilik hajat. Pemenangnya adalah dia yang pulang dengan motor tua, namun berhasil meninggalkan jejak abadi di hati sang bidadari.

​(Bersambung ke Bab 4?)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!