NovelToon NovelToon
Aku Dan Jam Ajaibku

Aku Dan Jam Ajaibku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Komedi / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hafidz Irawan

Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bunga Lili Beracun dan Singa Betina

Lantai 40 Gedung Financial Tower di kawasan SCBD. Ruangan kantor ini lebih mirip galeri seni daripada tempat kerja. Lukisan abstrak karya pelukis ternama menghiasi dinding, karpet persia tebal melapisi lantai, dan pemandangan kota Jakarta terlihat kecil dari jendela kaca floor-to-ceiling.

Di balik meja kerja mahoni yang besar, duduklah Nyonya Mariana, pemilik Bank Swasta terbesar di Indonesia. Wanita berusia 50-an itu memiliki aura yang mengintimidasi. Rambutnya disanggul rapi tanpa cela, kacamata bacanya berantai emas, dan setelan jas putihnya terlihat sangat berwibawa.

Di sofa kulit di hadapannya, duduk Clara, putrinya. Clara jauh lebih cantik dari Rana. Wajahnya blasteran Indo-Eropa, kulitnya putih porselen, dan gayanya sangat elegan. Tidak ada logo merk norak di bajunya, tapi siapa pun tahu gaun sutra yang dipakainya harganya ratusan juta.

Clara sedang menyesap Earl Grey Tea dengan anggun, tapi matanya memancarkan api cemburu yang dingin.

"Jadi..." suara Nyonya Mariana memecah keheningan, nadanya datar namun tajam. "Kamu kalah dansa dari anak magang gudang?"

Clara meletakkan cangkir tehnya dengan sedikit keras. Tak.

"Bukan kalah, Ma. Adi yang buta," jawab Clara ketus. "Masa dia milih cewek kampung pake kebaya apek itu? Padahal Clara udah pake gaun rancangan Elie Saab. Clara udah latihan dansa sebulan sama instruktur dari Paris. Tapi Adi malah dansa sama si Sifa itu!"

"Sifa..." Nyonya Mariana mengulang nama itu seolah mencicipi racun. "Mama sudah cek latar belakangnya. Anak janda miskin di Jakarta Utara. Rumah petak. Utang banyak. Tidak ada koneksi. Tidak ada apa-apa."

"Makanya Clara heran, Ma! Kok bisa Adi nempel banget sama dia?" Clara berdiri, berjalan menuju jendela, menatap gedung NVT Tower di kejauhan. "Tadi siang, mata-mata Clara di NVT lapor. Katanya Adi makan siang di kantin umum sama Sifa. Makan nasi goreng bekal dari Sifa. Mereka ketawa-ketiwi kayak orang pacaran."

Nyonya Mariana membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah map tebal berwarna hitam. Dia membukanya perlahan.

"Jangan remehkan orang miskin, Clara. Mereka punya motivasi bertahan hidup yang lebih kuat dari kita. Sifa ini mungkin terlihat polos, tapi dia berhasil menyingkirkan keluarga Adiwangsa yang bodoh itu dalam semalam," kata Nyonya Mariana tenang.

"Itu karena Rana emang bego, Ma. Mainnya kasar. Pake acara nempel poster segala," cibir Clara.

"Betul. Rana itu amatir. Kita tidak akan main seperti itu."

Nyonya Mariana menutup map itu, lalu menekan tombol interkom di mejanya.

"Pak Surya, masuk."

Pintu ruangan terbuka. Seorang pria tegap berjas hitam dengan earpiece di telinga masuk. Wajahnya kaku, tanpa ekspresi. Dia adalah Kepala Keamanan Pribadi keluarga Mariana, mantan anggota pasukan khusus yang punya jaringan intelijen luas.

"Siap, Bu," kata Pak Surya.

"Surya, saya mau kamu urus 'hama' kecil di NVT. Namanya Sifa Adistia. Divisi Gudang," perintah Nyonya Mariana dingin.

"Siap, Bu. Apakah perlu tindakan fisik?"

"Jangan bodoh," Nyonya Mariana mengangkat tangan. "Tindakan fisik itu kotor. Tinggalkan jejak. Polisi bisa lacak. Kita main bersih. Kita main sistem."

Nyonya Mariana menatap Clara. "Clara, kamu bilang Sifa jualan nasi goreng di kantor?"

"Iya, Ma. Katanya laku keras. Adi juga suka banget."

Nyonya Mariana tersenyum tipis. Senyum yang membuat siapa pun yang melihatnya merinding.

"Makanan," gumam Nyonya Mariana. "Makanan adalah kelemahan terbesar sekaligus senjata paling efektif. Kalau orang makan dan sakit, siapa yang disalahkan? Pembuatnya."

Clara mengerti arah pembicaraan ibunya. Matanya berbinar licik. "Maksud Mama... kita racuni makanannya?"

"Bukan racun mematikan, Sayang. Itu pembunuhan. Kita cuma butuh 'gangguan pencernaan massal'. Sedikit bakteri E. coli atau obat pencahar dosis tinggi di bahan makanannya... itu cukup untuk membuat satu kantor diare hebat."

"Dan kalau satu kantor sakit perut gara-gara masakan Sifa..." sambung Clara antusias.

"...maka Sifa akan dituduh meracuni karyawan. Itu pelanggaran berat. Bukan cuma dipecat, dia bisa dituntut pidana karena membahayakan kesehatan publik. Adi, sebagai CEO yang bertanggung jawab, terpaksa harus memecatnya dan menjebloskannya ke penjara demi menyelamatkan citra perusahaan."

"Brilian, Ma!" Clara bertepuk tangan pelan. "Adi pasti bakal jijik sama Sifa kalau tau masakannya bikin orang muntah-muntah."

"Surya," panggil Nyonya Mariana lagi.

"Siap, Bu."

"Kamu punya akses ke supplier pasar tempat Sifa belanja?"

"Tim saya bisa melacaknya, Bu. Dan kami punya orang dalam di cleaning service NVT yang bisa menyusup ke pantry divisi gudang tempat dia simpan bahan makanan."

"Bagus. Lakukan besok. Pastikan tidak ada CCTV yang merekam. Saya mau besok siang, NVT Tower jadi rumah sakit darurat."

"Dimengerti, Bu." Pak Surya membungkuk hormat, lalu keluar ruangan tanpa suara seperti hantu.

Nyonya Mariana kembali menyesap tehnya. "Dengar, Clara. Mendapatkan laki-laki seperti Adi itu bukan soal cinta-cintaan monyet. Ini soal aliansi bisnis. Keluarga Pratama butuh suntikan dana dari Bank kita untuk ekspansi global. Adi tidak punya pilihan selain menikahi kamu."

"Tapi Adi keras kepala, Ma. Dia nolak perjodohan."

"Laki-laki keras kepala itu seperti kuda liar. Harus dijinakkan dengan memutus semua opsi pelariannya," kata Nyonya Mariana bijak namun kejam. "Kalau Sifa hancur, Adi akan kesepian lagi. Saat dia kesepian dan terpuruk karena skandal keracunan makanan di kantornya, kamu datang sebagai penyelamat. Kamu bawa tim humas kamu, kamu bantu bersihkan nama baik NVT. Adi akan berhutang budi padamu."

Clara tersenyum puas, membayangkan skenario itu. Dia membayangkan dirinya berdiri di samping Adi di podium konferensi pers, terlihat anggun dan kompeten, sementara Sifa diseret polisi dengan tangan diborgol.

"Aku nggak sabar nunggu besok, Ma," kata Clara. "Sifa si tukang nasi goreng bakal tau rasanya main api sama Naga."

"Satu lagi," tambah Nyonya Mariana. "Mama dengar Sifa punya jam tangan aneh yang canggih. Katanya bisa ngebuka resleting macet. Mungkin itu gadget hacker."

"Masa sih, Ma? Paling mainan pasar gembrong," remeh Clara.

"Jangan lengah. Surya akan bawa Jammer (pengacak sinyal) militer besok. Kalau jam tangan itu alat elektronik, Jammer itu akan mematikannya. Sifa akan lumpuh total tanpa bantuan alatnya."

Clara tertawa renyah. "Mama emang The Best. Pantesan Mama ditakuti semua orang."

"Menjadi ditakuti itu lebih berguna daripada dicintai, Clara. Ingat itu."

Matahari mulai terbenam di luar jendela, menyisakan langit merah darah yang mencekam. Di gedung pencakar langit yang dingin itu, rencana jahat yang sistematis dan rapi sedang disusun. Tidak ada emosi meledak-ledak seperti keluarga Adiwangsa. Yang ada hanya perhitungan dingin dan eksekusi yang presisi.

Sifa, yang saat ini mungkin sedang bahagia menghitung keuntungan jualan nasi gorengnya, tidak tahu bahwa badai yang jauh lebih besar sedang menuju ke arahnya. Badai yang tidak bisa dilawan dengan sekadar melempar begal ke selokan.

Kali ini, Sifa akan melawan sistem. Melawan uang. Melawan kekuasaan absolut.

Dan yang paling berbahaya: Chrono, andalan utamanya, juga menjadi target.

1
Lala Kusumah
rasain Lo pada 😂😂😂
Lala Kusumah
semangat Sifa 💪💪👍👍
Tt qot
ok...di tunggu tanggal mainnya..
Tt qot
sabar sifa
Tt qot
ck..ck..ck..kaasihaan...😟
Tt qot
kaca mata joni iskandar tuh...😅
Tt qot
ih..kok kayak anak bujangku..persis gitu tahi lalatnya disitu😱
Hafidz Irawan: waduh kok bisa pas gitu 😂
total 1 replies
Yulya Muzwar
suka sama ceritanya.
semangat kakak
Hafidz Irawan: makasih ya suport nya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!