Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 13
Yurie baru menyadari satu hal yang mengganggunya sejak beberapa waktu terakhir: keheningan di rumah ini tidak lagi terasa menakutkan.
Dulu, setiap sudut selalu membuat dadanya sesak. Langkah kaki terdengar seperti ancaman. Setiap pintu yang terbuka membuatnya waspada, seolah sesuatu yang buruk akan menyusul setelahnya. Namun sekarang, ada jeda-jeda sunyi yang justru terasa… tenang. Seperti ruang kosong yang perlahan diisi sesuatu yang belum ia beri nama.
Ia berdiri di depan jendela kamar, memandangi halaman belakang yang masih basah oleh embun sisa malam. Cahaya pucat menyelinap di sela dedaunan, menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan tertiup angin. Rambut pirangnya tergerai, belum sempat ia ikat. Untuk sesaat, ia lupa bahwa dirinya berada di rumah orang lain, di kehidupan yang sama sekali berbeda dari yang pernah ia bayangkan.
Langkah kaki terdengar di koridor.
Yurie tidak menoleh, tapi ia tahu siapa itu.
Tidak ada ketukan. Tidak ada suara pintu dibuka tergesa. Hanya bunyi langkah yang berhenti di ambang pintu, memberi jarak yang cukup—seolah penghuni ruangan itu diberi pilihan untuk menoleh atau tidak.
“Kau belum turun?” suara itu rendah, tenang, tanpa tekanan.
Yurie menggeleng kecil. “Sebentar lagi.”
Kaiden Gelano Reynard berdiri bersandar di kusen pintu. Kemeja hitamnya sudah terganti dengan kaus polos berwarna gelap, lengan bajunya dilipat asal. Rambutnya sedikit berantakan, tanda ia baru saja bangun. Wajahnya tetap dingin seperti biasa, namun matanya tidak lagi terasa jauh.
“Sarapan sudah siap,” katanya lagi. “Kalau kau mau turun.”
Kalimat itu sederhana. Tidak ada perintah. Tidak ada nada memaksa. Tapi entah kenapa, Yurie merasa dipersilakan—bukan disuruh.
“Aku akan turun,” jawabnya akhirnya.
Kaiden mengangguk singkat, lalu berbalik pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Yurie menatap punggungnya yang menjauh, dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi, ia tidak merasa sendirian di rumah sebesar ini.
Meja makan pagi itu tidak ramai. Tidak ada suara perdebatan, tidak ada tatapan tajam yang mengawasi setiap geraknya. Hanya denting alat makan yang sesekali bersentuhan dengan piring.
Yurie duduk berhadapan dengan Kaiden, jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi juga tidak sejauh biasanya. Ia memperhatikan bagaimana pria itu makan dengan gerakan tenang, teratur, seolah segala hal di dunia harus berada pada porsinya masing-masing.
“Tidurmu bagaimana?” tanya Kaiden tiba-tiba.
Yurie sedikit terkejut. “Baik,” jawabnya jujur. “Lebih nyenyak.”
Kaiden berhenti makan sejenak, menatapnya. “Bagus.”
Hanya satu kata, tapi cukup untuk membuat Yurie menunduk, menahan sesuatu yang hangat di dadanya.
Setelah itu, keheningan kembali turun. Namun kali ini, tidak ada rasa canggung. Yurie bahkan mulai menikmati momen kecil itu—sarapan tanpa tekanan, tanpa takut salah bicara.
“Aku harus ke kantor setelah ini,” ujar Kaiden sambil meletakkan sendoknya. “Ada beberapa hal yang perlu diurus.”
Yurie mengangguk. “Aku akan di rumah.”
“Ada yang kau butuhkan?” tanyanya lagi, datar, tapi jelas ditujukan padanya.
Pertanyaan itu membuat Yurie terdiam beberapa detik. Ia terbiasa tidak ditanya. Terbiasa harus mengira-ngira sendiri kebutuhannya, atau lebih sering, menyingkirkannya.
“Tidak,” katanya akhirnya. “Aku baik-baik saja.”
Kaiden menatapnya lama, seolah membaca sesuatu yang tidak terucap. “Kalau berubah pikiran, katakan.”
Setelah itu, ia berdiri, mengambil jasnya, dan pergi.
Yurie duduk mematung beberapa saat setelah pintu depan tertutup. Ia menatap piringnya yang hampir kosong, lalu tersenyum kecil—senyum yang bahkan tidak ia sadari muncul.
Siang menjelang dengan pelan. Yurie menghabiskan waktunya di taman belakang.
Taman itu tidak seramai taman rumah Nazeeran, tapi jauh lebih terawat. Ada bangku kayu di bawah pohon tua, tempat ia duduk sambil membawa buku yang belum benar-benar ia baca.
Pikirannya melayang.
Tentang ibunya. Tentang Agnesa. Tentang Bimantara yang memilih diam saat ia paling membutuhkan perlindungan. Tentang bagaimana hidupnya seolah digeser begitu saja, tanpa pernah diminta pendapat. Dan kini, tentang Kaiden.
Pria itu tidak banyak bicara. Sikapnya dingin. Kadang terlalu sulit ditebak. Tapi Yurie merasakan sesuatu yang berbeda—bukan dari kata-katanya, melainkan dari caranya memberi ruang.
Ia tidak pernah menyentuh tanpa izin. Tidak pernah menuntut penjelasan yang belum siap ia beri. Tidak pernah memandangnya seperti barang barter yang berpindah tangan.
“Ini aneh,” gumam Yurie pada dirinya sendiri.
Ia seharusnya membenci pernikahan ini. Membenci segala yang terjadi setelahnya. Tapi yang ia rasakan justru sebaliknya—perasaan waspada yang perlahan melunak, berubah menjadi kehati-hatian yang tidak lagi dipenuhi ketakutan.
Langkah kaki mendekat dari arah dalam rumah.
Yurie mendongak dan mendapati seorang wanita paruh baya berdiri beberapa langkah darinya, membawa nampan berisi teh hangat.
“Nyonya Yurie,” sapa wanita itu lembut. “Saya Mira.”
Yurie segera berdiri. “Panggil aku Yurie saja.”
Mira tersenyum. “Tuan Kaiden bilang Anda mungkin ingin minum sesuatu.”
Sekali lagi, Yurie terdiam.
“Oh,” katanya pelan. “Terima kasih.”
Mira meletakkan teh di meja kecil di samping bangku. “Kalau ada yang Anda butuhkan, jangan sungkan.”
Setelah wanita itu pergi, Yurie menatap cangkir teh yang mengepulkan uap tipis. Hangatnya merambat ke telapak tangannya, menenangkan.
Ia mulai menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan: perhatian tidak selalu datang dalam bentuk kata manis atau janji besar. Kadang, ia hadir dalam hal-hal kecil—pertanyaan sederhana, jarak yang dihormati, dan kehadiran yang tidak memaksa.
Malam turun perlahan. Yurie kembali ke kamarnya lebih awal. Ia duduk di tepi ranjang, membuka laci kecil di meja samping. Di dalamnya, ia menyimpan sesuatu yang selalu ia bawa ke mana pun—sebuah kalung sederhana milik Shella.
Ia menggenggamnya erat. “Mama,” bisiknya. “Kalau Mama melihatku sekarang… apa Mama akan marah?”
Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
Yurie menoleh. “Masuk saja.”
Kaiden berdiri di sana, kali ini dengan ekspresi yang sedikit berbeda—lebih ragu, lebih hati-hati.
“Aku hanya ingin memastikan kau sudah makan malam,” katanya.
“Sudah,” jawab Yurie. “Terima kasih.”
Kaiden mengangguk, hendak pergi, tapi langkahnya tertahan. “Yurie.”
“Ya?”
“Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman di rumah ini,” katanya pelan, “katakan padaku. Aku tidak ingin kau merasa… terkurung.”
Kata itu menghantam Yurie tepat di dada.
Ia menatap Kaiden, matanya sedikit berkilat. “Aku akan bilang.”
Kaiden menahan tatapannya beberapa detik lebih lama dari biasanya, lalu mengangguk. “Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Pintu tertutup perlahan.
Yurie bersandar ke sandaran ranjang, menghela napas panjang. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang mulai tumbuh—rapuh, belum berbentuk, tapi nyata.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak lagi merasa harus bertahan sendirian.
......................
Waktu berjalan pelan di rumah itu. Bukan karena jam berhenti berdetak, melainkan karena Yurie tidak lagi merasa dikejar-kejar olehnya. Sejak pagi berlalu—tanpa ia sadari kapan tepatnya—ia tetap berada di taman belakang, duduk di bangku kayu yang sama, dengan buku yang terbuka di pangkuannya namun jarang benar-benar ia baca.
Angin berembus ringan, cukup untuk menggerakkan dedaunan dan ujung rambut pirangnya. Udara tidak berubah drastis, hanya bergerak dari dingin tipis menuju hangat yang samar. Yurie menyukai ritme itu. Tidak tergesa. Tidak memaksa.
Ia mengangkat pandangan ketika langkah kaki terdengar mendekat, berhenti beberapa langkah darinya.
Kaiden.
Ia tidak membawa apa-apa, hanya berdiri dengan tangan di saku celana, memperhatikan Yurie sejenak sebelum berkata, “Kau sudah lama di sini.”
Yurie mengangguk kecil. “Aku tidak sadar.”
“Tidak apa-apa,” jawab Kaiden. “Tempat ini memang seperti itu.”
“Seperti apa?” tanya Yurie
“Membuat orang lupa waktu.”
Yurie tersenyum tipis. Ia menutup bukunya, menepuk-nepuk sampulnya perlahan. “Aku tidak pernah punya waktu untuk… lupa.”
Kaiden tidak langsung menanggapi. Ia justru duduk di bangku yang sama, menyisakan jarak yang sopan di antara mereka. Tidak terlalu dekat, tidak pula menjauh.
“Kau tidak harus menjelaskan apa pun,” katanya akhirnya. “Aku tidak ingin memaksamu membuka luka yang belum siap.”
Yurie menunduk. Kalimat itu terasa sederhana,
tapi menyentuh bagian dirinya yang paling rapuh. Di rumah lamanya, semua orang ingin tahu—ingin mendengar, ingin menilai, ingin menyimpulkan. Tidak ada yang memberi pilihan.
“Aku hanya… belum tahu bagaimana caranya bercerita,” ucapnya lirih.
Kaiden mengangguk, seolah itu jawaban yang sepenuhnya ia terima.
Mereka kembali diam.
Namun keheningan kali ini berbeda. Tidak berat. Tidak menekan. Seperti dua orang yang duduk di ruangan yang sama tanpa tuntutan untuk saling mengisi.
Beberapa saat kemudian, Yurie menyadari pandangan Kaiden tertuju pada kalung yang menggantung di lehernya.
“Itu milik ibumu?” tanyanya pelan.
Yurie refleks menggenggam liontin kecil itu. “Iya.”
“Kau sering memakainya.”
“Karena itu satu-satunya yang tidak pernah berubah,” jawab Yurie jujur. “Saat segalanya diambil… ini masih ada.”
Kaiden menatapnya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di matanya—bukan iba, bukan simpati kosong—melainkan pengenalan. Seolah ia juga tahu bagaimana rasanya kehilangan tanpa sempat mempertahankan.
“Aku mengerti,” katanya singkat.
Dan Yurie percaya, ia sungguh mengerti. Waktu terus bergerak, hampir tak terasa. Matahari bergeser perlahan, bayangan pepohonan memanjang, lalu memendek lagi. Yurie dan Kaiden tidak terus berbincang. Kadang mereka hanya duduk, kadang Kaiden berdiri untuk menerima panggilan singkat, lalu kembali tanpa mengganggu.
Yurie menyadari satu hal penting: Kaiden tidak pernah membuatnya merasa ditinggalkan.
Bahkan ketika ia harus pergi sebentar, ia selalu kembali.
Saat Yurie bangkit untuk merapikan bukunya, ponselnya bergetar di saku rok. Ia membeku ketika melihat layar.
Nomor tidak dikenal.
Pesan singkat itu masih sama seperti sebelumnya, hanya kini terasa lebih menekan karena datang di saat ia mulai merasa aman.
Kau terlihat lebih tenang sekarang.
Jarinya gemetar. Ia menoleh tanpa sadar, dan Kaiden langsung menangkap perubahan di wajahnya.
“Ada apa?” tanyanya.
Yurie ragu. Kebiasaan lamanya kembali muncul—menyimpan, menahan, memendam. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada ruang.
“Aku dapat pesan aneh,” katanya akhirnya. “Dari nomor yang tidak kukenal.”
Kaiden mendekat satu langkah, berhenti di jarak aman. “Isinya?”
Yurie menyerahkan ponselnya tanpa berkata apa-apa lagi.
Kaiden membaca pesan itu, ekspresinya tidak berubah, tapi sorot matanya mengeras sedikit. “Sudah berapa kali?”
“Dua,” jawab Yurie. “Aku tidak tahu siapa pengirimnya.”
Kaiden mengembalikan ponsel itu. “Untuk sementara, jangan balas.”
Yurie mengangguk.
“Dan jika pesan seperti ini datang lagi,” lanjut Kaiden, “katakan padaku.” Nada suaranya tidak menggurui. Tidak memerintah. Hanya pasti.
“Aku tidak ingin merepotkanmu,” ucap Yurie pelan.
“Kau tidak merepotkan,” jawab Kaiden cepat. “Kau istriku.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka dengan cara yang aneh—tidak romantis berlebihan, tidak juga dingin. Hanya fakta yang diucapkan dengan tanggung jawab.
Yurie menelan ludah. Dadanya terasa hangat dan sesak sekaligus.
Menjelang mereka kembali ke dalam rumah, Yurie berhenti sejenak di ambang pintu taman.
“Kaiden,” panggilnya.
“Ya?”
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan,” katanya. “Tapi… terima kasih karena tidak membuatku merasa sendirian.”
Kaiden menatapnya, lama. “Aku juga tidak tahu semuanya,” ujarnya jujur. “Tapi selama kau di sini, aku akan memastikan satu hal.”
“Apa?”
“Tidak ada yang akan menyentuhmu tanpa izinku.”
Yurie terdiam.
Untuk pertama kalinya, kata izin terasa seperti perlindungan, bukan batasan. Dan di saat itu, ia menyadari—kenyamanan tidak datang dengan ledakan besar. Ia datang perlahan, melalui kehadiran yang konsisten, dan janji yang tidak diucapkan dengan muluk.