Sadewa dan Bianca sudah bersahabat dari kecil. Terbiasa bersama membuat Bianca memendam perasaan kepada Sadewa sayang tidak dengan Sadewa,dia memiliki gadis lain sebagai tambatan hatinya yang merupakan sahabat Bianca.
Setelah sepuluh tahun berpacaran Sadewa memutuskan untuk menikahi kekasihnya,tapi saat hari H wanita itu pergi meninggalkannya, orang tua Sadewa yang tidak ingin menanggung malu memutuskan agar Bianca menjadi pengantin pengganti.
Sadewa menolak usulan keluarganya karena apapun yang terjadi dia hanya ingin menikah dengan kekasihnya,tapi melihat orangtuanya yang sangat memohon kepadanya membuat dia akhirnya menyetujui keputusan tersebut.
Lali bagaimana kisah perjalanan Sadewa dan Bianca dalam menjalani pernikahan paksa ini, akankah persahabatan mereka tetap berlanjut atau usai sampai di sini?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 25
Suasana pagi terasa biasa saja.
Bianca sibuk mengikat rambut sambil mengoles lip balm, sementara Sadewa sedang merapikan dasi di pantulan cermin. Mereka tidak bicara, tapi ada ketenangan canggung di udara bukan hangat, tapi juga bukan dingin seperti dulu.
Bianca selesai memakai sepatu.
Bip. Ponselnya bergetar.
> Raka:
> *Halo, Bianca 🤭. nanti istirahat ikut aku makan siang ya? Aku butuh teman supaya makanannya nggak berantem sendirian.*
Bianca mengetik cepat.
> Bianca:
> *Maaf, kak Raka. Aku biasa makan sama tim. Mungkin lain kali?*
Tidak butuh lima detik, balasan masuk lagi.
> Raka:
> *Tim kamu kan bisa makan sama kamu… BESOK.*
> *Hari ini sama aku. Aku sudah reservasi. Jangan bikin aku malu ya, Bianca 😌✌️*
Bianca mendengus pelan, setengah kesal setengah geli.
Raka memang punya skill membujuk yang tidak bisa diremehkan.
> Bianca:
> *Baik. Tapi cuma sebentar.
> Raka:
> *Cuma sebentar kok. Kecuali kamu betah sama aku 😎.*
Bianca buru-buru mengunci ponsel, pipinya memanas.
Sadewa menatap dari samping, alisnya terangkat tipis.
Sadewa berjalan menuju pintu
"Siapa?"
Bianca agak gugup,"Nggak… cuma teman kantor."
Nada Sadewa datar, tidak menuntut, tidak peduli. Atau mungkin terlalu pura-pura tidak peduli.
"Kalau begitu cepat berangkat. Jangan terlambat."
Mereka keluar berbarengan.
Di lift, hening kembali menggantung seperti kabut.
---
Waktu istirahat tiba.
Teman-teman satu divisi menawarkan untuk makan bareng, tapi Bianca menggeleng sambil tersenyum.
"Kalian duluan aja. Aku ada janji."
Mereka menggoda sebentar, tidak curiga hanya menyangka Bianca masih beradaptasi.
Begitu Bianca keluar lobby, ia melihat Raka sudah menunggu di depan mobilnya. Sunglasses hitam, kemeja santai, aura selebriti-nya mencuri perhatian banyak mata.
Raka tersenyum lebar,"Akhirnya muncul juga. Aku kira kamu kabur lewat pintu belakang."
Bianca mendengus,"Kalau aku kabur pun, kak Raka pasti ngejar."
"Jelas. Kalau nggak aku kejar, nanti kamu diculik orang."
"Sayang banget."
Bianca terdiam sebentar.
Entah Raka bercanda atau serius dengan Raka, garis itu selalu kabur.
---
Bukan restoran mewah.
Hanya tempat ramen kecil dengan dekorasi minimalis.
Bianca tidak menyangka.
"Kirain kak Raka bakal ajak ke tempat fancy."
"Kalau fancy, aku takut kamu malah nggak nyaman. Aku pilih tempat yang bisa bikin kamu… relax."
Raka memesan menu favorit tempat itu tanpa melihat buku menu. Sepertinya ia pelanggan tetap.
Selama menunggu makanan datang, Raka menatap Bianca cukup lama sampai Bianca merasa risih.
"Kenapa liat aku terus?"
"Aku hanya… penasaran.
Sadewa menikahi kamu, bukan Sarah.
Berarti kamu istimewa."
Bianca tercekat. Jantungnya berdetak lebih cepat antara marah, sedih, dan bingung.
"Pelan-pelan, kak. Aku bukan pengganti siapapun."
Raka terdiam. Sorot matanya berubah dari penasaran menjadi tajam seketika.
Bianca meremas serbet di pangkuannya, tidak menjawab.
Raka hampir berbisik,"Dewa memang pinter bikin orang percaya dia nggak butuh siapapun."
Bianca menoleh cepat, terkejut mendengar kalimat itu.
Raka "Santai aja. Aku nggak akan pakai info ini buat gosip."
"Cuma kalau kamu butuh seseorang buat cerita aku ada."
Bianca menahan senyum kecil.
Ada rasa nyaman yang aneh berbahaya, tapi hangat.
---
Sadewa akhirnya memutuskan makan siang di kantin perusahaan. Tray berisi nasi goreng dan es teh ia bawa menuju barisan meja tengah. Matanya otomatis mencari sosok yang sudah menjadi pusat kecemasan hatinya beberapa hari ini.
Sekumpulan teman divisi Bianca terlihat duduk bersama bercanda, tertawa, membahas pekerjaan. Tapi tidak ada Bianca di sana.
Sadewa mengerutkan dahi.
"Biasanya jam segini dia sudah makan. Apa dia telat? Atau lagi ada kerjaan?"
Ia mencoba mengabaikan rasa resah yang tiba-tiba menekan dadanya, seolah ada yang tidak beres tanpa ia tahu apa. Namun, bayangan Bianca terus muncul di kepalanya, membuat suapan makanannya terasa hambar.
Di sisi lain ruangan, di lantai berbeda, suasana justru jauh dari kecanggungan.
Raka berjalan berdampingan dengan Bianca di lorong menuju pantry. Ia membawa dua gelas kopi dengan senyum miring khasnya.
“Aku masih nggak ngerti,” ujar Raka pelan sambil memberikan satu kopi pada Bianca. “Kok kamu bisa kerja secepat itu.”
Bianca menerima kopi itu dengan hati-hati. “Udah biasa aja, kak. Orang kepepet mah bisa semuanya,” jawabnya sambil tersenyum kecil.
Raka tertawa. “Kalau gitu, aku harus sering kepepet biar jago kayak kamu.”
Meski terdengar seperti candaan sederhana, Bianca mulai terbiasa dengan cara Raka memperlakukannya. Tidak ada lagi tegang atau kikuk seperti minggu pertama. Sesekali, ia bahkan membalas candaan itu.
“Kak Raka, jangan jadi manajer kepepet dong. Bahaya buat divisi aku nanti,” ucap Bianca sambil menahan tawa.
“Aku kepepetnya cuma kalau kamu nggak jawab chat-ku.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, membuat Bianca tersentak. Pipi Bianca memanas, tapi ia pura-pura sibuk mengaduk kopi.
Suasana di antara mereka kini berbeda.
Lebih hangat. Lebih hidup.
Seolah perlahan, jarak yang mereka pertahankan mulai memudar sedikit demi sedikit, tanpa disadari.
Dan di tempat lain, Sadewa terus makan dalam diam, tidak tahu bahwa hubungan yang ia takuti mulai berubah bentuk.
Selesai makan siang, Raka dan Bianca berjalan berdampingan menuju lobi gedung. Suasana siang terasa hangat, angin membawa aroma kopi yang masih menempel di baju mereka. Bianca memegang tas kecilnya, sedangkan Raka tetap menjaga jarak yang sopan, meski tatapannya sering mencuri-curi waktu untuk melihat Bianca.
“Sampai sini ya, kak. Aku balik ke kantor dulu,” ujar Bianca sambil tersenyum tipis.
Raka mengangguk dan cepat-cepat menghampiri pintu kaca besar. Ia menarik gagangnya lebih dulu, membukakan jalan. “Ladies first.”
Bianca sempat tertegun, tapi kemudian melangkah masuk. “Makasih, kak.”
“Nggak apa-apa,” jawab Raka, suaranya rendah namun terdengar tulus.
Bianca berhenti sejenak di depan pintu. “Oh iya makasih juga sudah ditraktir makan siangnya. Lain kali biar aku yang traktir. Kalau aku udah gajian.”
Raka menaikkan alis, seolah tertarik dengan ide itu. “Oh? Jadi, aku harus nunggu tanggal sekian, nih?” godanya.
Bianca tersenyum malu. “Iya dong. Biar adil.”
Raka mencondongkan tubuh sedikit, tanpa menakutkan hanya membuat kata-katanya terdengar lebih dekat. “Kalau gitu aku nggak sabar buat ditraktir kamu.”
Perkataan itu membuat Bianca salah tingkah. Ia cepat-cepat membetulkan tali tasnya dan mengangguk kecil. “I-iya nanti aku kabarin.”
“Deal,” sahut Raka, senyumnya terlukis jelas.
Bianca melangkah pergi menuju lift, namun sebelum pintu tertutup, ia sempat melirik kembali. Raka masih berdiri di depan pintu, memperhatikannya. Ada sesuatu di tatapannya, sesuatu yang belum berani diartikan Bianca.
Pintu lift menutup perlahan.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya, Bianca merasa ditunggu.
Di sisi lain, dari kejauhan, Sadewa baru saja keluar dari kantin. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap pemandangan yang membuat dadanya terasa aneh. Bianca turun dari mobil Raka yang terparkir di depan lobi. Mereka tampak tertawa ringan, lepas, seperti dua orang yang sudah akrab bertahun-tahun.
Sadewa tidak tahu sejak kapan Bianca bisa tertawa selepas itu. Tidak di rumah, tidak bersamanya.
Ada sesuatu yang menusuk tanpa suara.
"Apa aku yang aneh?"
"Kenapa harus… merasa seperti ini?"
Sadewa mengatur napas, mencoba meredam rasa tidak nyaman yang menyenggol egonya. "Mereka cuma teman. Cuma makan siang. Biasa saja.Mungkin."
Tanpa memberi waktu lebih lama pada pikirannya sendiri, Sadewa berbalik. Ia menuju lift.
Denting halus terdengar ketika pintu lift akan menutup. Namun sebuah tangan menahan celah itu Bianca. Ia masuk tergesa, lalu kaget melihat siapa yang ada di dalam.
“Oh—maaf, Pak. Selamat siang,” ucap Bianca cepat. Tubuhnya refleks menunduk hormat, formal seperti karyawan pada umumnya di hadapan atasan.
Sadewa mengangguk kecil.
Tidak ada percakapan lain.
Lift bergerak naik. Hening.
Hanya bunyi mekanik mesin dan jarum jam di dinding yang terdengar pelan.
Bianca berdiri tegak, menjaga jarak, menatap lurus ke depan seakan garis lantai lift adalah batas aman untuk tidak menginjak wilayah personal pria itu suaminya.
Sadewa sempat melirik, sekilas, diam-diam.
Ada sisa tawa di mata Bianca.
Bukan untuknya.
Pintu lift kembali terbuka di lantai divisi. Bianca menghentikan langkah sebelum keluar, menoleh sopan.
“Permisi, Pak Sadewa. Saya kembali bekerja dulu.”
“Iya,” jawab Sadewa, lagi-lagi singkat. “Silakan.”
Bianca melangkah pergi, sepatu haknya terdengar ritmis di lorong. Tanpa tatapan tambahan. Tanpa sisa tawa lagi.
Sadewa tetap berdiri di dalam lift, membiarkan pintu tertutup lagi. Perjalanan dilanjutkan ke atas, namun pikirannya tertinggal di lantai tadi.
Untuk pertama kalinya, Sadewa bertanya pada dirinya sendiri:
"Kenapa rasanya seperti ditinggalkan, padahal dia tidak pernah benar-benar datang?"
Nanti up lagi ya guyss