Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skandal Foto
Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar kos Rara terasa seperti jarum-jarum tajam yang menusuk matanya. Rara menggeliat, mencoba mempertahankan sisa-sisa mimpi indah semalam. Tentang aroma citrus pada tuxedo Genta, tentang hangatnya genggaman tangan pria itu saat mereka berlari menembus gelap, dan tentang tawa lepas yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Untuk sesaat, Rara tersenyum sendiri. Ia merasa seolah-olah ia baru saja menyelesaikan misi paling mustahil di Fantasy World dan mendapatkan harta karun yang paling berharga.
Namun, senyum itu membeku ketika tangannya meraba nakas dan menemukan ponselnya.
Meskipun belakangan ini ponsel itu sudah cukup sering "panas" karena berbagai gosip miring yang menyerangnya, pagi ini layarnya nampak benar-benar meledak. Angka merah di ikon WhatsApp menunjukkan angka ratusan. Grup kelas "Ilmu Komunikasi '23" yang biasanya berisi keluhan tugas atau diskusi materi, kini bergerak secepat arus sungai di musim badai.
Dengan jantung yang mulai berdegup tidak beraturan, Rara membuka aplikasi tersebut.
"Ya Tuhan..." bisik Rara, suaranya tercekat di tenggorokan.
Pesan pertama yang ia lihat adalah sebuah kiriman tangkapan layar dari akun Instagram @UniversitasNusantara_Confess. Di sana, terpampang sebuah foto yang diambil dari sudut bawah taman rektorat. Foto itu hanya berupa siluet, namun siapa pun yang mengenal kampus ini akan tahu lokasi dan pelakunya. Di bawah pendar rembulan semalam, terlihat dua sosok manusia yang berdiri sangat dekat di balkon lantai dua. Sosok pria yang tinggi tegap dengan garis bahu yang khas, Genta, dan sosok gadis yang lebih pendek dengan gaun yang melambai tertiup angin.
Posisi mereka dalam foto itu sangat ambigu. Genta nampak sedang menunduk, sementara Rara mendongak. Di mata kamera yang tidak sempurna itu, mereka terlihat seperti sedang berciuman panas tepat sebelum lampu senter satpam menyala.
Rara segera beralih ke kolom komentar, dan seketika ia merasa mual. Narasi yang dibangun di media sosial kampus benar-benar berbeda dengan apa yang terjadi semalam. Tidak ada cerita tentang ketakutan Genta, tidak ada cerita tentang dansa tanpa musik, yang ada hanyalah sebuah skandal murah yang melibatkan "Gadis Komunikasi" dan "Presiden Mahasiswa Terhormat".
“Gadis Komunikasi Menggoda Presma di Tempat Terlarang,” tulis judul unggahan tersebut.
Komentar-komentar di bawahnya jauh lebih kejam daripada serangan siber yang ia alami beberapa hari lalu.
“Wah, gila ya. Ternyata si Rara ini emang nggak main-main peletnya. Bisa-bisanya dia ajak Kak Genta ke balkon rektorat malem-malem pas Dies Natalis.”
“Kasian banget Kak Genta. Mukanya yang kaku gitu pasti karena dipaksa atau dijebak sama dia. Liat tuh posisinya, agresif banget si cewek.”
“Citra Genta yang bersih selama tiga tahun hancur cuma gara-gara satu maba yang haus pansos. BEM harus segera ambil tindakan sih ini.”
“Mungkin dia pake cara kotor biar dapet nilai A di mata kuliah jurnalisme. Murahan banget.”
Rara melempar ponselnya ke atas kasur, napasnya memburu. Ia merasa kotor. Ia merasa seolah-olah seluruh kampus sedang menelanjanginya melalui layar ponsel mereka. Narasi itu sengaja dibuat untuk menempatkan Genta sebagai korban dan dirinya sebagai antagonis yang licik. Citra Genta sebagai pria terhormat, religius, dan beretika tinggi kini goyah, dan orang-orang lebih memilih menyalahkan "faktor eksternal" yaitu Rara, daripada menerima kenyataan bahwa Genta adalah manusia yang punya perasaan.
Ia tahu siapa yang paling mungkin memancing air keruh ini. Kania. Meski mungkin bukan Kania yang memotret, namun penyebaran narasi "Gadis Penggoda" adalah gaya khas politik Kania untuk mengamankan posisi Genta sekaligus menyingkirkan pengganggu.
Rara tahu ia tidak bisa bersembunyi selamanya. Dengan keberanian yang dipaksakan, ia berangkat ke kampus untuk mengikuti kelas pagi. Namun, begitu kakinya menginjak koridor gedung fakultas, ia langsung menyadari bahwa dunia sudah berubah.
Suasana yang biasanya riuh dengan sapaan mendadak menjadi hening setiap kali ia lewat. Mahasiswa yang sedang berkumpul di lobi fakultas serentak berhenti bicara, mata mereka mengikuti setiap gerakan Rara dengan tatapan dingin, sinis, dan penuh penghinaan. Beberapa mahasiswi terang-terangan berbisik sambil menunjuk ke arahnya, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat tajam di telinga Rara.
"Itu dia orangnya..."
"Nggak tahu malu banget ya, masih berani masuk kampus."
Rara mencoba menatap lurus ke depan, mencengkeram tali tasnya hingga jari-jarinya memutih. Ia merasa seperti seorang tersangka yang sedang digiring menuju tiang gantungan. Saat ia berbelok di koridor sempit menuju ruang kelas, seorang mahasiswa laki-laki dari angkatan atas berjalan cepat dari arah berlawanan.
BRAK!
Pria itu menabrak bahu Rara dengan sangat keras hingga Rara terpental ke dinding. Tumpukan buku referensi jurnalisme dan draf tugasnya jatuh berserakan di lantai yang kotor.
"Eh, sori. Nggak liat ada artis lewat," ucap pria itu dengan nada datar yang penuh kebencian, lalu berjalan pergi tanpa sedikit pun berniat membantu.
Rara berlutut di lantai, mencoba memungut buku-bukunya yang kini sudah kotor oleh debu koridor. Tidak ada satu pun orang yang menawarinya bantuan. Beberapa orang justru melewati draf tugasnya dengan sengaja, meninggalkan jejak sepatu di atas kertas-kertas kerjanya.
Di saat itulah, Rara merasa benar-benar terisolasi. Ia adalah seorang Healer yang kini tidak bisa menyembuhkan lukanya sendiri. Keberanian yang ia miliki di depan Genta semalam seolah menguap, berganti dengan rasa lelah yang luar biasa. Ia rindu pada Paladin-nya. Ia rindu pada rasa aman yang ia rasakan saat berada di bawah perlindungan jas almamater Genta di halte bus waktu itu.
***
Setelah berhasil sampai di perpustakaan yang sepi, satu-satunya tempat yang ia rasa cukup aman untuk bernapas, Rara segera mengeluarkan ponselnya. Tangannya gemetar saat ia membuka aplikasi WhatsApp.
**Rara:**Genta, kamu sudah lihat beritanya? Apa kamu baik-baik saja?
Pesan itu hanya menunjukkan satu tanda centang abu-abu. Rara mencoba menelpon, namun nomor Genta tidak aktif. Ia beralih ke aplikasi Fantasy World, berharap setidaknya bisa melihat status Paladin_Z yang menyala.
Offline.
Rara menyandarkan kepalanya di meja perpustakaan, rasa sesak mulai memenuhi dadanya. Kenapa dia diam saja? Apa dia marah padaku? Apa dia memutuskan untuk kembali memakai topeng esnya dan meninggalkanku sendirian di tengah amukan massa ini? batinnya penuh ketakutan.
Ia tidak tahu bahwa saat ini, di gedung Rektorat yang tertutup rapat, Genta sedang menjalani neraka dunianya sendiri. Genta sedang duduk di tengah sebuah meja oval besar, dikelilingi oleh jajaran Dewan Penasihat Mahasiswa dan beberapa pejabat universitas. Di depan mereka, foto skandal itu terpampang di layar proyektor raksasa.
Wajah Genta sepucat mayat. Tangannya yang berada di bawah meja bergetar begitu hebat hingga ia harus mendudukinya agar tidak terlihat oleh orang lain. Ia sedang disidang secara tidak resmi atas tuduhan pelanggaran etika dan moral sebagai pimpinan mahasiswa. Tekanan dari para dosen senior sangat besar, mereka menuntut Genta untuk memberikan klarifikasi yang tegas, atau lebih tepatnya, sebuah pengakuan bahwa ia "dijebak" agar nama baik universitas bisa dipulihkan.
"Genta, katakan saja yang sebenarnya. Gadis itu yang memaksamu, kan?" tanya salah satu dewan penasihat dengan nada mendesak.
Genta terdiam. Ia ingin berteriak bahwa dialah yang mengajak Rara ke sana. Dialah yang menarik Rara ke dalam pelukannya. Dialah yang merasa bebas saat berlari bersama gadis itu. Namun, suaranya seolah hilang. Setiap kali ia ingin membuka mulut, bayangan wajah kecewa ayahnya muncul di benaknya, mencekik setiap kata yang ingin ia ucapkan.
Rara di perpustakaan masih menatap layar ponselnya yang gelap. Keheningan Genta terasa jauh lebih menyakitkan daripada cemoohan seluruh mahasiswa di koridor tadi. Bagi Rara, satu-satunya hal yang lebih menakutkan daripada seluruh dunia yang membencinya adalah jika sang Paladin yang ia cintai memutuskan untuk tidak lagi menjadi ksatria pelindungnya.
Malam mulai turun, dan badai ini baru saja dimulai. Di tengah kesunyian kampus yang mencekam, Rara menyadari bahwa di dunia nyata, tidak ada mantra Full Heal yang bisa memperbaiki reputasi yang hancur dalam semalam.