NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rara Bangkit

Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan dingin di ruang BEM dan pengkhianatan diam seribu bahasa di lobi rektorat. Kamar kos Rara kini nampak lebih berantakan dari biasanya. Bukan karena tumpukan kabel logistik, melainkan karena tumpukan tisu dan draf tulisan yang disobek-sobek. Rara masih sering terbangun di tengah malam, secara refleks mengecek notifikasi Fantasy World, hanya untuk kembali diingatkan oleh kenyataan pahit bahwa Paladin_Z telah menghilang dari jangkauannya. Kesunyian kamarnya terasa menulikan, seolah setiap sudut dinding ikut menghakiminya atas kehancuran yang terjadi.

Namun, pagi ini ada yang berbeda. Rara tidak lagi ingin tenggelam dalam tangis yang sia-sia. Sembari berjalan menuju kampus dengan topi yang ditarik rendah, mencoba menghindari tatapan sinis yang mulai menjadi makanan sehari-hari, langkahnya terhenti di depan mading besar Fakultas Ilmu Komunikasi. Di sana, di antara deretan poster seminar yang membosankan, sebuah poster berwarna merah menyala menarik perhatiannya dengan cara yang provokatif.

"LOMBA MENULIS ESAI NASIONAL: Suara di Balik Topeng – Mencari Kejujuran di Era Citra Digital."

Rara menatap poster itu cukup lama. Kalimat "Suara di Balik Topeng" seolah menamparnya tepat di wajah, membangunkan sesuatu yang sudah lama ia tekan demi rasa iba. Ia teringat Genta. Ia teringat bagaimana pria itu lebih memilih topeng besinya daripada kejujuran yang mereka bagi di bawah hujan. Ia teringat bagaimana Kania meremehkannya sebagai pengganggu masa depan yang sempurna, seolah Rara hanyalah noda pada porselen mahal.

"Aku bukan sekadar skandal," bisik Rara pada dirinya sendiri, suaranya parau namun tegas. Jemarinya mengepal kuat di tali tas, hingga buku jarinya memutih. "Aku jurnalis. Dan seorang jurnalis tidak menyembuhkan dengan mantra, tapi dengan kebenaran yang pahit."

Rara berbalik dan berjalan pulang dengan langkah yang jauh lebih mantap. Ia tidak akan masuk kelas hari ini. Ada sebuah narasi yang harus ia rebut kembali.

***

Malam itu, kamar kos Rara hanya diterangi oleh pendar biru dari layar laptop yang kontras dengan kegelapan pekat di sekelilingnya. Suasana sunyi, hanya diiringi oleh suara deru kipas angin dan bunyi ketikan keyboard yang cepat, keras, dan berirama. Seperti detak jantung yang sedang mengamuk.

Rara tidak lagi menulis berita pesanan atau tugas kuliah yang membosankan. Ia menulis sebuah esai panjang yang mengalir langsung dari lubuk hatinya yang paling terluka. Ia menulis tentang "Pangeran" yang dipuja karena kesempurnaannya, namun sebenarnya membusuk di dalam karena ketakutan. Ia menulis tentang "Masyarakat" yang lebih mencintai berhala digital daripada manusia yang rapuh.

Ia mengetik dengan penuh emosi. Air matanya sesekali jatuh mengenai keyboard, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena katarsis yang membebaskan.

"Dunia kita adalah panggung sandiwara yang kejam," tulisnya di baris pertama, jemarinya bergerak tanpa ragu. "Kita menuntut pemimpin kita untuk tidak memiliki celah, atlet kita untuk tidak pernah lelah, dan idola kita untuk tidak pernah takut. Kita merayakan zirah perak yang mengilat di bawah lampu sorot, namun kita secara kolektif meludahi orang yang mencoba memegang tangan ksatria itu saat ia gemetar di balik zirahnya. Kita lebih suka melihat robot yang sukses daripada manusia yang jujur."

Rara menceritakan pengalamannya tanpa menyebutkan nama, namun setiap diksi yang ia pilih terasa begitu spesifik. Ia menceritakan bagaimana rasanya dikuliti oleh publik hanya karena mencoba menjadi sandaran bagi seseorang yang dianggap terlalu sempurna untuk butuh diselamatkan. Ia menggunakan segala amarahnya terhadap Kania yang manipulatif, kepengecutan Genta, dan kekejaman seluruh kampus untuk menyusun argumen yang tajam dan menusuk. Ia tidak lagi menjadi Healer yang lembut, ia menjadi kritikus yang membedah kepalsuan dengan pisau bedah kata-katanya.

Pukul empat pagi, diiringi suara azan yang sayup-sayup, Rara menekan tombol Save. Judul esainya sederhana namun provokatif: "Tragedi Kesempurnaan: Mengapa Kita Membunuh Manusia Demi Menciptakan Idola."

***

Rara tidak mengirimkan tulisan itu ke lomba nasional dulu. Ia ingin kampus ini, orang-orang yang menghujatnya, menjadi audiens pertama yang tertampar oleh kebenaran. Ia mengirimkan draf itu kepada editor senior di Persma (Pers Mahasiswa) yang selama ini menghargai keberaniannya.

Hanya butuh dua jam bagi editor tersebut untuk membalas dengan antusiasme yang meluap: "Ra, ini gila. Ini tulisan paling berani dan paling jujur yang pernah masuk ke meja redaksi kami dalam satu dekade terakhir. Kita terbitkan di buletin online sekarang juga."

Begitu artikel itu tayang di situs Persma dan tautannya tersebar di Twitter (X) serta Instagram, dunia Rara kembali meledak. Namun kali ini, arah anginnya berubah total.

Jumlah share melonjak drastis, menembus angka ribuan dalam hitungan jam. Artikel itu tidak hanya dikunyah oleh mahasiswa komunikasi, tapi mulai merambah ke fakultas hukum, teknik, hingga ke jajaran dosen senior. Mahasiswa yang tadinya berbisik-bisik menghujat Rara, kini mendadak terdiam. Mereka dipaksa untuk bercermin pada tulisan Rara yang menelanjangi kemunafikan mereka sendiri. Mereka mulai menyadari bahwa selama ini mereka adalah bagian dari massa yang menindas Genta dengan ekspektasi, dan menghancurkan Rara dengan prasangka murahan.

Grup WhatsApp kelas Rara yang tadinya berisi makian anonim, mendadak berubah suasananya. "Gila, esai Rara keren banget. Gue ngerasa tertampar pas bagian 'menuntut berhala daripada manusia'."

"Ternyata kita selama ini jahat banget ya sama dia? Kita cuma mau drama, tapi lupa kalau ada manusia di baliknya."

"Rara bukan penggoda, dia itu jurnalis yang liat kebenaran di balik topeng Kak Genta yang kaku."

Artikel itu viral secara organik. Rara tidak lagi menjadi "Gadis yang Menggoda Presma". Ia bertransformasi menjadi mahasiswi yang berani menyuarakan apa yang selama ini dirasakan semua orang namun tidak berani mereka akui.

Sore harinya, Rara berjalan menyusuri koridor kampus tanpa perlu lagi memakai topi atau masker untuk bersembunyi. Ia berjalan dengan dagu terangkat, bahu tegak, dan sepasang mata yang memancarkan ketenangan yang baru.

Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya memberikan jalan secara otomatis. Tidak ada lagi tawa mengejek atau bisikan sinis. Beberapa bahkan mengangguk hormat, seolah mengakui kekuatan yang baru saja Rara tunjukkan lewat tulisannya. Rara bukan lagi orang asing yang bisa ditindas, ia adalah pemilik narasi tunggal di kampus ini.

Ia sampai di lobi gedung rektorat, tempat Genta mengabaikannya beberapa hari lalu. Takdir nampaknya ingin bermain lagi, Genta nampak baru saja keluar dari lift bersama Kania dan gerombolan pengurus BEM lainnya. Langkah Genta terhenti seketika saat melihat sosok Rara yang berdiri tepat di hadapannya.

Kali ini, Rara tidak mematung penuh harap. Ia tidak menunggu Genta menyapanya atau memberikan penjelasan. Ia hanya menatap mata Genta sekilas, tatapan yang jernih, tajam, dan tidak lagi mengandung luka atau permohonan. Tatapan itu berkata dengan sangat jelas: "Aku sudah menemukan cara untuk berdiri tanpa perisaimu."

Rara berjalan melewati Genta begitu saja, bahkan tidak melambat sedikit pun. Ia bisa merasakan tatapan terkejut yang tertahan di tenggorokan Genta, serta wajah Kania yang memucat pasi karena sadar bahwa ancaman dan restriksi yang ia buat telah gagal total menghancurkan Rara. Rara justru tumbuh menjadi raksasa dari puing-puing fitnah mereka.

Rara berhenti di depan halte bus, tempat ia pernah berbagi jas dan kehangatan dengan Genta. Ia menarik napas panjang, menghirup udara sore yang segar dan bebas dari aroma kepalsuan. Ia menyadari bahwa ia memang telah kehilangan Pangeran-nya, namun ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih abadi: suaranya sendiri.

Ia bukan lagi sekadar Healer di balik layar digital yang pasif. Ia adalah Rara sang Penulis. Dan di dunia nyata ini, kata-katanya kini memiliki damage yang jauh lebih besar daripada mantra sihir mana pun. Rara merasa merdeka. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasa menang atas dunianya sendiri.

1
Hana Agustina
sabar ya genta.. menyakiti itu memang mudah banget.. tp utk pulih dr rasa sakit itu butuh waktu utk berdamai.. n rara butuh waktu itu
Hana Agustina
kamu hebat gentaa.... as a man.. real man...
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!