Anjeli Pranita, putri cantik pak Burhan yang biasa di sapa Anjeli. Gadis cantik dengan julukan kembang desa rela putus sekolah semenjak insiden yang membuat Keseharian ayahnya hanya bisa duduk di kursi roda yang usang pemberian tetangganya. Anjeli adalah gadis yang pintar di bidang akademik, murah senyum dan ceria. Namun, kepergian ibunya bersama laki-laki lain dengan alasan sudah capek hidup miskin dan ditambah kondisi ayahnya, menghilangkan senyum dan keceriaan di wajahnya akibat luka yang ditoreh ibunya untuk mereka. Anjeli si gadis sederhana harus menjadi kuat dan tahan banting di umurnya yang masih 16 tahun. Suatu hari, Anjeli yang menjadi tulang punggung untuk keluarga sedang mengais rezeki sebagai kuli panggul di pasar menggantikan pekerjaan bapaknya sebelum kecelakaan. Pagi itu tanpa sengaja Anjeli bertemu seorang nenek yang sedang kelaparan, ia yang memang memiliki hati yang baik memberikan bekal untuk makannya kepada sang nenek itu. Dari pertolongan itu Anjeli diberikan sebuah cincin usang oleh sang nenek sebagai bentuk kebaikan Anjeli. Cincin apakah yang diberikan oleh sang nenek itu kepada Anjeli????? Apakah ada keajaiban untuk Anjeli dan keluarganya??? Yukkkkk….,ikuti cerita Anjeli….
3
Anjeli berdiri mematung di tengah gang yang sempit. Napasnya terasa sesak saat melihat punggung ketiga pria itu menghilang di tikungan jalan. Surat hutang yang tadi mereka pamerkan seolah masih menempel di matanya. Sepuluh juta rupiah. Bagi Anjeli, angka itu terasa seperti gunung yang siap runtuh dan mengubur keluarganya hidup-hidup.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan kaki yang terasa berat. Di dalam, Aris sedang duduk di lantai semen, berusaha mengerjakan pekerjaan rumah dengan pensil yang sudah sangat pendek.
"Kak, tadi ada tamu ya? Kenapa mereka suaranya keras sekali?" tanya Aris polos.
Anjeli memaksakan senyum, meski bibirnya gemetar. Ia mengelus kepala adiknya dengan lembut. "Bukan apa-apa, Ris. Hanya teman lama ibu. Sudah, lanjutkan belajarnya. Kakak mau ke dapur sebentar."
Di dapur yang hanya beralaskan tanah, Anjeli terduduk lemas di dekat tungku. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangis yang ia tahan sejak tadi akhirnya pecah, namun tanpa suara. Ia tidak ingin ayahnya yang berada di kamar sebelah mendengar kerapuhannya.
“Ibu... kenapa , kenapa kau begitu jahat. Meninggalkan Ayah disaat terpuruk dan sekarang kau membebani hutangmu ke kami juga. Kenapa kau meninggalkan luka sedalam ini? “batinnya menjerit.
Tidak cukup dengan kepergiannya yang tanpa pamit, kini ibunya meninggalkan warisan hutang yang mencekik. Anjeli tahu, uang sepuluh juta itu pasti digunakan ibunya untuk membeli pakaian bagus atau perhiasan sebelum dia lari dengan laki-laki kaya itu, sementara di sini, ayahnya harus menahan lapar dan menahan sakit.
Saat malam semakin larut dan rumah sudah senyap, Anjeli segera masuk ke dalam ruang di cincinnya. Ia butuh jawaban. Ia butuh ketenangan. Wuussshh! Dalam sekejap, ia sudah berada di tengah hamparan tanah hitam Ruang Ajaib.
Aroma tanah basah dan udara yang begitu murni menyambutnya. Namun, kali ini Anjeli tidak langsung menuju sumur. Ia berjalan ke arah gubuk bambu sederhana di tengah lahan. Kemarin ia hanya melihat-lihat sekilas, tapi sekarang ia merasa harus mencari tahu lebih dalam apakah ada sesuatu yang bisa membantunya keluar dari jeratan hutang ini.
Di dalam gubuk, di samping meja kayu tempat ia menemukan perkamen pertama, terdapat sebuah lemari kecil yang terbuat dari akar pohon. Anjeli membukanya perlahan. Di dalamnya, ada beberapa laci kecil yang terkunci, kecuali satu laci di bagian paling bawah.
Saat membukanya, Anjeli menemukan sebuah kantong kain kecil berisi segenggam benih yang berbeda dari benih kangkung yang ia beli di pasar. Benih-benih ini berwarna emas kecokelatan dan mengeluarkan aroma wangi yang menenangkan.
Di samping kantong itu, terdapat sobekan kertas tua bertuliskan
Padi Emas Surgawi. Hanya bisa tumbuh jika disirami dengan Air Rohani murni tanpa campuran. Satu butir berasnya mampu memberi energi bagi tubuh selama tiga hari, dan malainya bisa menjadi obat bagi jiwa yang lelah.
Anjeli tertegun. Jika padi ini begitu istimewa, harganya pasti sangat mahal. Namun, ia kembali teringat aturan rahasia itu. Jika ia tiba-tiba menjual beras emas, semua orang akan tahu dia memiliki sesuatu yang tidak wajar.
"Aku tidak bisa mungkin menjualnya sebagai beras emas," pikir Anjeli cerdik. "Tapi, aku bisa menggunakan padi ini untuk memberikan kekuatan ekstra pada Ayah dan Aris agar mereka tidak mudah sakit, dan aku bisa menjual hasilnya dalam bentuk lain. mungkin tepung atau olahan makanan?"
Anjeli mulai menanam benih padi emas itu di sudut lahan Ruang Ajaib, terpisah dari tanaman kangkungnya. Ia menggali tanah dengan jemarinya yang masih lecet akibat mencangkul di dunia nyata tadi sore. Setiap butir benih ia letakkan dengan penuh doa dan harapan.
Keesokan paginya, Anjeli terbangun dengan tekad yang lebih semangat. Ia tidak boleh hanya mengandalkan Ruang Ajaib. Ia harus terlihat bekerja keras di dunia nyata agar pertumbuhan ekonominya nanti dianggap masuk akal oleh warga desa.
Ia pergi ke kebun belakang. Kangkung yang kemarin sempat diributkan Bu Sumi kini sudah tumbuh semakin rimbun. Anjeli mencabut rumput-rumput liar yang mulai tumbuh di sekitarnya. Kali ini, ia tidak menggunakan Air Rohani murni. Ia hanya mengambil satu tetes kecil ke dalam satu ember besar air sumur biasa.
"Sabar, Anjeli. Pelan-pelan," bisiknya pada diri sendiri. "Jika tumbuh terlalu cepat, orang- orang yang melihatnya akan menyebutmu penyihir. Jika tumbuh normal, mereka hanya akan menyebutmu beruntung."
Saat sedang menyiram, Pak Burhan keluar ke teras belakang dengan kursi rodanya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar pagi ini.
"Nak, aneh sekali," panggil Pak Burhan.
Anjeli menoleh, jantungnya berdegup kencang. "Ada apa, Yah? Apa ada yang sakit?"
"Bukan. justru sebaliknya. Tadi pagi, Ayah merasa kaki Ayah sedikit hangat. Seperti ada aliran darah yang mengalir sampai ke jari kaki. Ayah bahkan bisa menggerakkan sedikit jempol kaki kiri Ayah, Nak," kata Pak Burhan dengan mata berkaca-kaca.
Anjeli menjatuhkan gayungnya. Ia berlari memeluk ayahnya. "Benar, Yah? Alhamdulillah, Itu berita luar biasa! Mungkin obat dari puskesmas mulai bekerja."
Pak Burhan menggeleng pelan. "Ayah sudah Lama berhenti minum obat dari puskesmas sejak sebulan lalu karena tidak memiliki uang, Nak. Ayah hanya minum air yang kamu kasih semalam itu. Sayang.”
Anjeli terdiam. Ia hampir saja keceplosan memberitahu tentang air sumur kristal itu, namun ia segera menahan lidahnya. Ia teringat peringatan di dalam Ruang Ajaib. Rahasia adalah pelindungmu
"Ah, ayah mah…itukan cuman air Yah, tapi Anjeli yakin ini mungkin karena semangat Ayah yang ingin cepat sembuh. Dan Alhamdulillah, udah mulai ada perubahan. Ayah harus banyak minum air putih, ya? Nanti Anjeli ambilkan lagi," ujar Anjeli sambil menyembunyikan senyum bahagianya.
Siang harinya, Anjeli kembali ke pasar untuk mengantarkan ikatan kangkung kedua pada Mak Odah. Namun, di tengah jalan, ia berpapasan dengan Bu Sumi yang sedang mengobrol dengan beberapa ibu-ibu di depan pos ronda.
"Nah, ini dia si Kembang Desa yang punya tanah ajaib!" sindir Bu Sumi dengan suara keras sengaja agar didengar semua orang.
Anjeli hanya menunduk dan berusaha berjalan cepat.
"Jangan sombong kau, Njel! Baru bisa tanam kangkung saja sudah gaya. Ingat ya, hutang ibumu itu sudah jadi rahasia umum. Mau jual berapa juta ikat kangkung buat bayar sepuluh juta?" lanjut Bu Sumi sambil tertawa mengejek.
Langkah Anjeli terhenti sejenak. Kata-kata itu pedih, tapi itu adalah kenyataan. Sepuluh juta tidak bisa dilunasi hanya dengan kangkung. Ia butuh strategi lain. Ia butuh tanaman yang lebih bernilai tinggi, namun harus diperkenalkan ke dunia nyata dengan cara yang sangat halus.
Sepanjang jalan menuju warung Mak Odah, Anjeli mulai memutar otak. Di dalam Ruang Ajaib, selain padi emas, ia melihat ada beberapa tanaman merambat yang belum ia kenali. Ia harus mulai mengeksplorasi tanaman obat atau tanaman hias yang harganya mahal di kota.
"Aku akan mulai dengan bibit tomat," gumam Anjeli. "Tomat lebih sulit dirawat daripada kangkung. Kalau aku berhasil menanam tomat yang bagus di tanah berbatu itu, orang akan menganggapku ahli tani, bukan pengguna sihir."
Anjeli tidak tahu, bahwa di salah satu sudut pasar, seseorang dengan pakaian rapi dan kacamata hitam sedang memperhatikannya. Orang itu memegang sebuah catatan dan tampak sangat tertarik pada kangkung yang dibawa Anjeli.
Perjalanan Anjeli masih sangat panjang. Setiap langkah kecil yang ia ambil di dunia nyata, didukung oleh keajaiban di jari manisnya. Namun, bayang-bayang hutang dan kecurigaan tetangga adalah badai yang setiap saat bisa menghancurkan segalanya.
semangat updatenya 💪💪
di awal bab emaknya kabur pake motor sm laki lain..trus berganti emaknya kabur dgn laki lain pake mobil merah..
bab ini emaknya malah meninggoy 🙏😄