Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual penghormatan leluhur
Freen, didampingi Nam, menghabiskan sisa malam itu di tenda darurat yang nyaman di lokasi proyek. Mandor yang kini sangat menghormati Freen, menyediakan kopi panas dan selimut tebal, memastikan mereka memiliki keamanan penuh.
Mandor itu bahkan terlihat bolak-balik memeriksa Patung Penjaga, seolah takut patung itu akan menghilang.
Nam segera tertidur pulas, tetapi Freen hanya bisa tidur ringan. Ia terus mengawasi lahan proyek. Meskipun aura kegelapan sudah mereda setelah Patung Penjaga dikembalikan, Freen tahu bahwa Roh-roh Leluhur itu masih berada di sana, mengawasi.
Tepat saat fajar menyingsing, Freen membangunkan Nam.
"Bangun, Researcher. Waktunya acara puncak."
Mereka bergegas keluar dari tenda. Suasana di lokasi proyek berubah drastis. Tenda-tenda sudah didirikan, dan sekelompok Biksu yang mengenakan jubah safron yang rapi tiba, dipimpin oleh seorang Biksu agung yang tampak sangat dihormati. Tuan dan Nyonya Vongrak tiba tak lama kemudian dengan mobil hitam mereka, ditemani Rebecca yang tampak lebih segar dan sehat.
Tuan Vongrak segera menghampiri Freen dan Nam. "Nona Freen, terima kasih banyak. Saya melihat Patung Penjaga itu sudah berdiri tegak. Saya tidak tahu bagaimana Anda melakukannya, tetapi itu membuktikan Anda luar biasa."
"Ini adalah simbol niat baik Anda, Tuan Vongrak," jawab Freen.
"Sekarang, fokus pada ritual. Itu harus berjalan sempurna."
Ritual pun dimulai. Biksu agung memimpin upacara, membaca doa-doa dengan lantang, menyucikan lokasi, dan melakukan persembahan berupa makanan serta bunga di sekitar Patung Penjaga. Tuan Vongrak, di bawah pengawasan ketat Nyonya Vongrak dan Nam, secara resmi mengumumkan janji sumbangan besar untuk Kuil Agung, sebagai bentuk penebusan dosa dan pemulihan nama baik leluhur.
Freen berdiri di samping Nam, mengawasi dimensi spiritual.
Saat Biksu agung mulai membaca mantra puncak, Freen melihatnya: seluruh aura gelap yang tersisa di lahan itu mulai bergerak, berkumpul di sekitar Patung Penjaga. Kemudian, tiga sosok Roh Leluhur yang Freen lihat di kamar Rebecca muncul. Mereka berdiri diam, mengamati ritual itu dengan saksama.
Roh tertua menatap Freen sejenak, tatapannya penuh evaluasi. Freen hanya membalasnya dengan anggukan kecil, seolah meyakinkan bahwa janji telah ditepati.
Saat Biksu agung menyelesaikan mantranya dan menaburkan air suci terakhir, Roh-roh Leluhur itu secara bersamaan membungkuk hormat ke arah Patung Penjaga. Aura kemarahan yang menyelimuti mereka lenyap, digantikan oleh cahaya keemasan yang lembut.
Satu per satu, mereka mulai bergerak menjauh, tidak lagi terikat pada lahan atau dendam. Roh-roh itu kini tampak bebas.
Freen menghela napas lega.
"Sudah selesai, Nam. Mereka sudah pergi," bisiknya.
Nam, yang melihat Biksu agung mengakhiri ritual dengan senyum damai, mengangguk.
"Tuntas. Sekarang, saatnya menikmati bayaran."
Tuan Vongrak menghampiri Freen dengan wajah berseri-seri.
"Nona Freen, ritualnya berhasil. Saya merasa ringan, dan lihat putri saya, dia benar-benar pulih! Saya akan segera menyiapkan bonus yang saya janjikan. Berapa pun yang Anda minta, akan saya berikan."
Freen tersenyum. Tugas spiritualnya selesai, karma Tuan Vongrak dibayar, dan dompetnya penuh.
"Kami hanya meminta bonus yang Anda janjikan, Tuan Vongrak," kata Freen dengan sopan.
"Dan sebagai pesan terakhir: Jangan ganggu makam kuno ini lagi. Biarkan mereka beristirahat dalam damai."
Setelah memastikan semuanya aman dan Rebecca benar-benar sehat, Freen dan Nam pamit. Mereka diantar supir pribadi kembali ke Ibu Kota, kali ini menuju stasiun bus untuk kembali ke rumah mereka di Nonthaburi.
Di dalam taksi menuju terminal, Nam menghitung total uang yang mereka dapatkan. Jumlahnya fantastis.
"Freen, kita bisa hidup nyaman setahun penuh! Kita bisa renovasi rumah Nam, kau bisa bayar semua hutang, dan kita bisa berlibur!" seru Nam gembira.
Freen hanya menyentuh Mustika Merah Delima di dadanya.
"Kita punya uang, Nam. Tapi aku ragu Mae Nakha akan membiarkan kita berlibur."
Saat Freen memikirkan itu, handphone-nya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal, lagi-lagi berisi alamat baru, kali ini di sebuah kota kecil di pegunungan, diikuti tiga kata:
"Misteri"
"Hilang"
"Hutan"
Freen dan Nam saling pandang. Liburan harus ditunda. Petualangan Paranormal Gadungan Freen Sarocha, yang kini menjadi alat yang sangat mahal bagi takdir, berlanjut.
Freen menatap pesan singkat di handphone-nya. Alamat di kota pegunungan, 'Misteri', 'Hilang', 'Hutan'. Itu sudah cukup sebagai petunjuk dari manajernya di dunia arwah, Mae Nakha.
"Lihat, Nam," kata Freen, menunjukkan layar handphone-nya.
"Kita tidak bisa libur. Misi baru datang. Tapi sebelum kita masuk hutan, kita ke rumah sakit setiba di Nonthaburi. Melunasi biaya rumah sakit Ibu Khai dan memberikan sedikit uang yang kita dapat untuknya melanjutkan hidup, atau untuk modal usahanya."
Nam, yang tadinya sedang melamunkan liburan di pantai, langsung mengangguk setuju. Wajahnya berseri-seri.
"Tentu saja, Freen! Itu ide yang bagus! Kita punya uang lebih dari cukup sekarang. Khai pasti akan senang melihat ibunya dibantu, dan itu akan menjadi karma baik yang berharga untuk modal kita di misi hutan ini," ujar Nam.
"Kita bisa membayar semua biaya perawatan, dan menyisakan yang besar. Ibu Khai harus bisa hidup layak."
Freen tersenyum, merasa lega. Sejak ia dipaksa menjadi Paranormal Sejati, Freen selalu berusaha memastikan bahwa setiap tindakan 'baik' yang ia lakukan memiliki efek nyata, bukan sekadar simbolis.
"Aku akan mentransfer biaya rumah sakitnya sekarang juga, untuk mengamankan perawatannya," kata Freen, mengambil handphone-nya dan segera melakukan transfer.
"Dan kita akan bertemu langsung dengan Ibunya saat kita sampai di Nonthaburi. Setelah itu, kita baru bisa menikmati istirahat sebentar di rumah Nam sebelum berangkat ke pegunungan."
Perjalanan dari Ibu Kota terasa jauh lebih menyenangkan kali ini. Mereka tidak hanya membawa tas yang sama saat berangkat, tetapi juga membawa dompet yang tebal dan semangat yang baru.
Saat tiba di terminal Nonthaburi, mereka segera menyewa taksi menuju rumah sakit. Mereka langsung menuju bangsal tempat Ibu Khai dirawat.
Ibu Khai terlihat jauh lebih baik. Wajahnya tidak lagi pucat, dan matanya sudah memancarkan kehidupan. Ia duduk di tempat tidur, meskipun masih terlihat lemah.
"Nona Freen! Nak Nam!" sapa Ibu Khai dengan suara yang lebih kuat saat melihat mereka.
"Ibu, bagaimana kondisi Ibu?" tanya Freen, duduk di samping tempat tidur.
"Jauh lebih baik, Nak. Terima kasih. Saya sudah merasa tidak sakit lagi sejak semalam. Dokter bilang saya hanya perlu istirahat. Tapi... saya khawatir soal biaya," Ibu Khai merunduk, air mata menggenang.
"Saya tidak punya apa-apa lagi."
Freen tersenyum menenangkan.
"Ibu, jangan khawatir soal biaya. Kami sudah mengurus semuanya. Semua tagihan sudah lunas."
Ibu Khai terkejut. "Lunas? Tapi... bagaimana?"
Nam maju, menyerahkan sebuah amplop tebal. "Ini, Bibi. Khai adalah anak yang baik dan berbakti. Ini adalah sedikit rezeki yang kami dapatkan, yang ingin kami berikan kepada Ibu. Gunakan ini untuk modal usaha kecil, atau untuk kebutuhan Ibu. Ini adalah hadiah dari Khai."
Ibu Khai membuka amplop itu, dan matanya membelalak melihat tumpukan uang di dalamnya.
Ia kembali menangis, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang tak terhingga.
"Terima kasih... terima kasih banyak, Nak. Kalian adalah malaikat yang dikirim Khai," isak Ibu Khai.
Freen memeluknya erat. "Ibu harus sembuh total dan melanjutkan hidup. Itu adalah keinginan Khai."
Setelah memastikan Ibu Khai akan segera dipulangkan dalam kondisi sehat dan memiliki modal untuk memulai hidup baru, Freen dan Nam meninggalkan rumah sakit dengan hati yang ringan.
Kembali di rumah Nam, mereka berdua akhirnya bisa mandi dan berganti pakaian bersih. Freen duduk di ruang tamu, menyandarkan punggungnya di sofa, merasa lelah tetapi puas.
"Karma Ibu Khai sudah lunas, Freen," kata Nam, menyerahkan dua gelas es teh segar.
"Sekarang, mari kita lihat apa yang menanti kita di hutan."
Freen mengambil gelas itu. Ia menatap pesan dari Mae Nakha lagi.
"Besok pagi, kita berangkat ke kota pegunungan itu. Malam ini, kita riset. Aku ingin tahu apa yang 'hilang' di hutan itu, dan kenapa Mae Nakha begitu tertarik dengan 'misteri' ini." Freen menyesap es tehnya.
Petualangan Paranormal Gadungan Freen Sarocha, yang didanai oleh karma Tuan Vongrak dan dipimpin oleh Dewi Takdir, bersiap untuk menghadapi misteri baru di tengah hutan.