Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Ferrari Masuk Pasar dan Teman SMP Sultan
|Dalam Perjalanan - Menuju Jakarta Timur|
Ferrari 812 Superfast putih mutiara itu melaju membelah kemacetan sore Jakarta, meninggalkan kemewahan Jakarta Selatan menuju sisi kota yang lebih "merakyat" namun penuh kejutan.
"Raka, kita mau ke mana sebenarnya? Kok arahnya ke timur?" tanya Clarissa, tangannya memegang handle pintu karena Raka baru saja menyalip Kopaja dengan agresif.
"Nyari harta karun," jawab Raka singkat.
Clarissa mengerutkan kening. "Harta karun? Maksud kamu... Pasar Rawa Bening atau Jatinegara?"
"Bener banget. Saya denger di sana pusatnya segala macem barang. Mulai dari perabotan, batu akik, keris, sampai barang antik jaman Belanda. Siapa tau ada yang cocok buat pajangan di villa."
Clarissa langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Wajah cantiknya terlihat khawatir.
"Raka, dengerin saran saya. Tempat itu... tricky," jelas Clarissa serius. "Itu emang pasar antik dan grosir terbesar di Jakarta. Luasnya gila-gilaan, dan orangnya rame banget. Tapi..."
Clarissa menatap Raka.
"Di sana itu sarangnya barang palsu. Fake. KW Super. Barang 'antik' yang dijual di sana, 99% itu buatan pabrik kemarin sore yang dikasih obat kimia biar keliatan tua."
"Banyak kolektor pemula yang nangis darah di sana karena ketipu ratusan juta. Kamu yakin mau ke sana? Mending kita ke galeri resmi aja."
Raka tersenyum miring. Dia tahu Clarissa benar. Pasar antik adalah hutan rimba bagi orang awam. Tapi bagi Raka yang sekarang punya [Mata Kebenaran]?
Itu adalah taman bermain.
"Tenang aja, Ris. Saya punya 'bakat alami' buat bedain mana emas mana loyang," kata Raka percaya diri. "Lagian, seru kan bawa Ferrari ke pasar?"
Clarissa menghela napas pasrah. "Terserah kamu deh, Sultan. Asal jangan nangis kalau nanti beli guci majapahit yang ternyata Made in Tangerang."
|Gerbang Masuk Kawasan Pasar Antik Jatinegara|
Situasi di depan pasar sangat chaos. Angkot ngetem, pedagang kaki lima, dan hiruk pikuk manusia.
Tiba-tiba, suara raungan mesin V12 memecah kebisingan pasar.
NGNGNGNGNGNG!!!
Semua aktivitas terhenti. Tukang parkir, pedagang asongan, ibu-ibu belanja, semua menoleh.
Sebuah Ferrari 812 Superfast putih mengkilap perlahan masuk ke area parkir yang berdebu. Kontrasnya luar biasa. Seperti melihat pesawat UFO mendarat di tengah sawah.
"Anjir! Ferrari woy!" "Gila, mobil siapa tuh? Pejabat nyasar?" "Jangan deket-deket, nyenggol spionnya jual rumah kita!"
Raka memarkirkan mobilnya di spot VIP (yang langsung dikosongkan oleh tukang parkir dengan sigap).
Raka turun dari mobil. Kemeja putihnya yang rapi, jam tangan Patek Philippe, dan kacamata hitamnya membuat dia terlihat seperti artis sinetron yang sedang syuting.
Seketika, mata para wanita di sekitar pasar mulai dari SPG rokok sampai mbak-mbak penjaga toko langsung berbinar.
Beberapa cewek berani bahkan terang-terangan mengedipkan mata dan menggigit bibir ke arah Raka. Kode-kode nakal beterbangan di udara.
"Ganteng banget..." "Mas, mampir lapak aku dong!" "Sini Mas, aku kasih diskon... plus-plus!"
Raka hanya tersenyum tipis, memakai kacamata hitamnya untuk menutupi tatapan judging-nya. Gila, agresif bener cewek-cewek sini. Harus hati-hati nih, takut diculik.
Namun, begitu Clarissa turun dari sisi penumpang... atmosfer berubah.
Clarissa keluar dengan anggun, rok pensil dan stocking hitamnya membuat kakinya terlihat jenjang memikat. Wajahnya yang cantik dan makeup yang flawless langsung membuat cewek-cewek tadi minder.
Tatapannya dingin, menyapu sekeliling seolah Ratu yang sedang menginspeksi rakyat jelata.
"Cih, kalah saing," gumam seorang SPG sambil membuang muka iri.
Para cowok di pasar ganti menatap Raka dengan tatapan membunuh. Udah kaya, mobil Ferrari, ceweknya spek bidadari. Rakus amat hidup lo, Bang!
Raka mengabaikan tatapan itu. Dia menggandeng Clarissa masuk ke dalam pasar.
|Area Barang Antik & Seni|
Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi barang dagangan. Ada patung kuningan, keramik China, lukisan tua, hingga pedang samurai yang jelas-jelas palsu.
Clarissa tampak pusing melihat tumpukan barang itu. "Raka, ini beneran tempat sampah berkedok toko antik. Liat deh, debunya aja tebel banget."
"Justru itu seninya, Ris. The thrill of the hunt," jawab Raka.
Skill [Mata Kebenaran] Raka otomatis aktif. Dunia di mata Raka berubah. Setiap benda yang dia lihat memunculkan panel informasi digital.
Raka melihat sebuah guci besar yang diklaim sebagai peninggalan Dinasti Ming saat berkunjung ke Majapahit pada Abad ke-14–15 M.
[Item: Guci Keramik Motif Naga] [Asal: Pabrik Keramik Cirebon] [Tahun Pembuatan: 2022] [Nilai Asli: Rp 350.000] [Status: PALSU (Artificial Aging)]
"Waduh," batin Raka. "Pedagangnya buka harga 80 Juta pasti nih."
Dia melihat lagi ke arah keris berkarat.
[Item: Keris Lekuk 9] [Bahan: Besi Scrap Daur Ulang] [Status: PALSU (Direndam air garam biar karatan)]
Raka menahan tawa. "Bener kata kamu, Ris. Di sini isinya sampah semua."
"Tuh kan! Saya bilang juga apa!" Clarissa bersedekap. "Yuk pulang. Mending beli di IKEA."
"Bentar, jalan-jalan dulu. Siapa tau nemu berlian di tumpukan jerami."
Saat mereka sedang berjalan santai, tiba-tiba terdengar suara perempuan yang ragu-ragu dari arah belakang.
"Raka?"
Raka berhenti. Dia menoleh.
Di depan sebuah toko buku bekas, berdiri seorang gadis muda. Penampilannya sangat unik. Dia tidak memakai kaos atau kemeja modern. Dia mengenakan Kebaya Encim modern berwarna pastel dengan kain batik yang dililit modis. Rambutnya disanggul modern dengan tusuk konde giok.
Wajahnya cantik, kulitnya putih bersih, memancarkan aura old money yang kental dan intelek.
Di sampingnya, berdiri seorang pria tua berambut putih dengan kemeja batik tulis dan tongkat kayu cendana.
"Loh?" Raka menyipitkan mata. Ingatannya berputar. "Ini... Luna?"
Gadis itu tersenyum lebar, matanya menyipit bulan sabit. "Bener kan Raka! Ya ampun, lama banget nggak ketemu! Kamu sekarang beda banget, makin ganteng!"
Raka tertawa. "Luna! Astaga, temen SMP gue yang paling artsy! Apa kabar?"
Luna adalah teman sekelas Raka waktu SMP. Dulu dia terkenal sebagai anak yang "aneh" karena tiba-tiba berhenti sekolah pas mau naik SMA, padahal dia pintar dan kaya raya.
Raka mengajak Clarissa mendekat.
"Ris, kenalin. Ini Luna, temen SMP aku. Luna, ini Clarissa, temen aku."
Clarissa tersenyum sopan. "Halo, saya Clarissa."
"Halo Kak Clarissa, cantik banget. Pacarnya Raka ya?" tanya Luna polos.
"Bukan, cuma temen kok," jawab Clarissa cepat tapi pipinya merona.
Raka menatap pria tua di samping Luna. "Ini..."
"Oh, ini Kakek aku. Kakek Darmawan," kenal Luna.
"Sore, Kek," sapa Raka sopan.
Kakek Darmawan mengangguk ramah, matanya yang tajam namun teduh menatap Raka dan Clarissa. "Anak muda yang serasi. Raka ya? Luna sering cerita soal temennya yang jago matematika dulu."
"Ah, biasa aja Kek," Raka merendah.
Raka kembali menatap Luna. Penampilannya yang nyentrik benar-benar menarik perhatian.
"Lun, lo sekarang sibuk apa? Dulu kan lo quit sekolah, katanya mau lanjut di luar negeri?" tanya Raka.
Luna tertawa renyah. "Ah, itu gosip. Aku nggak lanjut sekolah formal bukan karena nggak punya duit atau mau ke luar negeri."
Luna mengibaskan kipas tangannya dengan gaya lady.
"Kakek bilang, sekolah umum itu kurikulumnya lambat. Jadi aku Home Schooling privat di rumah. Belajar bisnis, seni, sama sejarah langsung dari ahlinya."
"Sekarang aku lagi bantuin Kakek ngurusin koleksi perpustakaan dan museum pribadi keluarga."
"Oh ya?" Raka mengangkat alis. "Perpustakaan pribadi? Pasti gede dong koleksi bukunya?"
Luna tersenyum bangga, tapi nadanya merendah untuk meroket.
"Yah... lumayan lah, Rak. Nggak gede-gede amat kok."
Luna memberi jeda dramatis.
"Cuma... yah, ukurannya sedikit lebih gede dari Aula Serbaguna sekolah kita dulu lah. Tiga lantai, full buku langka."
Raka: "..." Clarissa: "..."
Anjir. Raka ingat Aula SMP mereka. Itu aula yang bisa muat 1000 orang buat upacara indoor. Dan Luna punya perpustakaan pribadi segede itu di rumahnya?
"Sultan mah bebas," batin Raka. Ternyata temen SMP-nya ini adalah Crazy Rich jalur intelektual.
"Gila lo, Lun. Kapan-kapan gue main deh," kata Raka.
"Harus! Bawa Kak Clarissa juga. Kita ngeh teh bareng," undang Luna ramah.
Pertemuan tak terduga di pasar barang antik ini membuka satu lagi pintu koneksi bagi Raka. Teman lama yang ternyata anak sultan.