alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh enam
"Aku sudah menjawab semua hal yang ingin kamu tahu dari aku, jadi sekarang giliranmu, tolong hapus video itu, langit" pinta alia memecah keheningan.
Langit mendongakkan kepalanya, kerutan di keningnya terlihat begitu jelas,kebingungan melanda pikirannya. Ia tak memahami maksud ucapan alia.
"Video apa?" Tanya langit datar, sungguh ia sedang tidak fokus, pikirannya saat ini di penuhi dengan alia dan luka.
Kepala langit rasanya mau pecah, begitu banyak informasi yang ia terima saat ini, di saat hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Alia menatap langit heran, ia mengamati langit yang terlihat sedang terguncang, sungguh alia tidak menyangka pria di hadapannya ini bisa syok dan terlihat..sedih, tapi alia tidak perduli, saat ini ia harus memastikan video yang langit gunakan untuk mengancamnya itu, harus sudah di hapus.
Pria itu tiba-tiba bangkit dari duduknya melangkah dengan gontai, meninggalkan alia yang terpana, menuju ke arah pintu, netra indah milik alia mengamati dengan bingung.
"Kamu mau kemana?" Tanya alia menegur langit yang tetap berjalan linglung, ia juga berdiri berjalan menghampiri pria itu yang tiba-tiba mematung.
"Aku mau pulang.." jawab langit pelan, sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Kepalanya menunduk, aura pria brengsek yang selama ini pria itu tunjukkan, malam ini hilang tak berbekas. Langit terkulai, tubuh jangkungnya terlihat tak berdaya dan tidak bersemangat, wajahnya sendu, tatapan matanya terlihat pilu.
Hati alia iba, namun entah mengapa, di sudut lain dalam hati tidak mengijinkan rasa itu hadir dalam hatinya. Saat ini, hati alia juga sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu belum jawab permintaanku langit" alia menarik lengan langit menghadapkan ke arahnya. Pria itu diam saja, tubuhnya berputar ke arah alia tanpa perlawanan, kepalanya masih menunduk.
"Kamu belum menghapus video itu"
Langit mengangkat wajahnya yang sendu, alia terkejut, mata pria itu berembun.
"Video apa yang kamu maksud?" Tanya langit dengan suara lemah, mata elangnya terlihat kuyu.
"Kamu sakit?" Tanya alia tiba-tiba, reflek tangannya menyentuh kening pria itu.
Panas, kepala pria itu panas, alia terlihat panik, dengan gerakan cepat ia menarik langit untuk duduk kembali ke sofa panjang, alia meminta langit untuk meletakkan tubuhnya di sofa.
"Aku hanya tak enak badan, 4 hari yang lalu aku kehujanan, efeknya baru terasa sekarang" ucap langit lirih memejamkan matanya yang panas, ada air mata yang hampir jatuh di sudut mata langit.
Hati langit saat ini menghangat, perhatian alia hampir membuat pertahanannya bobol, langit memejamkan matanya erat, ia ingin menikmati perhatian alia yang terlihat cemas dan khawatir akan dirinya.
"Kenapa kamu nggak ngomong dari tadi!, kalau saja aku tahu kamu sakit, aku nggak akan ngomongin masalah ini sekarang. aku kompres yah" omelan alia terdengar indah di telinga langit, ada rasa cemas di sana.
Perlahan langit membuka matanya, wanita itu terlihat mondar-mandir mengambil es dari kulkas dan duduk di sisinya mengompres kepala.
Langit ingin menangis, sungguh seandainya saja kalau dirinya bukanlah seorang pria, langit akan menangis saat ini. Perhatian alia sungguh membuatnya ingin meledak karena bahagia.
Seumur hidupnya, langit belum pernah mendapatkan perhatian setulus ini. Ada rasa yang sangat membuncah di hatinya, tidak mampu langit ucapkan namun rasa itu membuatnya ingin menangis.
"Istirahatlah sebentar, sampai demammu berkurang, nanti kalau tidak kurang juga, kita ke rumah sakit"
Alia membawa selimut dari kamarnya, dan menyelimuti langit yang terlihat meringkuk kedinginan.
"Kamu sudah makan?"
Langit menggeleng "cuman sarapan saja hari ini"
"Hhhhhhh" alia menghembuskan nafas, rasa kesal menyerangnya, wajah cantiknya memberengut.
"Apa saja kerjamu seharian, sampai kamu lupa makan" alia mengomel meninggalkan langit sendirian menuju ke dapur.
Pria itu mengamati alia yang mondar-mandir, hatinya bahagia mendengar omelan alia, kecemasan wanita itu menumbuhkan asa dalam hatinya.
'Tuhan..apakah ini cinta?, apakah aku mencintai alia?' Batin langit bergejolak indah, mata elangnya tak henti mengamati alia yang membawa sebuah nampan, sampai wanita itu duduk di hadapannya, mata elangnya sekalipun tidak berkedip, ia tidak mau kehilangan momen indah itu.
"Duduklah, kamu makan dulu!, aku cari obat pereda panas" perintah alia tenang, suaranya tidak lagi terdengar cemas.
"Terima kasih" sahut langit, duduk dan menerima nampan dari tangan alia, mata mereka saling menatap, cukup lama dan syahdu.
Alia meninggalkan langit sendirian, ia masuk ke kamar, mencari obat yang ia sebutkan tadi. Sebenarnya itu alasan alia saja, hatinya saat ini sedang mengutuki dirinya sendiri.
Alia kesal, mengapa ia harus cemas melihat pria itu sakit, harusnya ia tidak boleh iba, seharusnya hati ini tahu kalau langit tidak pantas mendapatkan rasa kasihan darinya.
Alia menyumpahi kebodohan hatinya yang terlalu baik ini, tangannya sibuk mengobrak-abrik isi kotak p3k yang ada di atas nakas tempat tidurnya, ia kembali teringat tatapan syahdu pria itu tadi, ketika mata mereka saling menatap, pipinya mendadak merona merah, alia merasa jengah.
Alia menggeleng-gelengkan kepalanya keras, seakan ingin mengusir sesuatu yang tiba-tiba masuk ke dalam hatinya tanpa permisi.
'Ingat alia, pria itu, pria brengsek yang sudah merusak hidupmu' benak alia mengingatkan kembali. Pikirannya seakan ingin menyadarkan alia yang sedang terganggu.
"Ketemu..." seru alia, menyambar parasetamol dari dalam kotak p3k itu.
Ia berjalan tenang menuju ke sofa tempat pria itu tiduran, alia ingin menyerahkan obat yang ada ditangannya dengan segera, agar pria itu minum obat dan segera pergi dari rumahnya.
Namun mata indah alia meredup kembali, hati lembutnya kembali merasa iba. Pria yang ingin ia usir itu, ternyata sudah tertidur, tanpa menyentuh makanan yang ada di pangkuannya sama sekali.
Langit tertidur dengan posisi duduk dan kepala terkulai di atas sandaran sofa, hatinya terasa seperti diremas, sakit, pedih. Posisi tidur pria itu membuat alia jatuh kasihan, netranya tak henti mengamati langit.
Pria di hadapannya ini terlihat lemah, terlihat ingin di kasihani, terlihat..tampan..., astaga, alia menggelengkan kepalanya kembali, mengusir rasa aneh yang sedari tadi mondar-mandir di hatinya, menghadirkan gelenyar dan getaran.
"Ini efek..kasihan...ini kasihan hanya kasihan.." bisik alia lirih mengafirmasi dirinya sendiri.
Perlahan alia mengambil nampan dari atas pangkuan langit,meletakkannya ke atas meja, menyelimuti pria itu dengan gerakan lembut, agar tidak terbangun, meletakkan bantalan kursi di kepala langit, agar pria itu sedikit nyaman.
Sebelum ia masuk ke kamarnya sendiri, tidak lupa alia mematikan lampu, dan membiarkan kamar luka terbuka supaya cahayanya menerangi langit.
Tanpa alia sadari, ternyata langit belum tertidur nyenyak, ia hanya meletakkan kepalanya yang pusing tadi di sandaran sofa, sembari menunggu alia mencari obat untuknya.
Langit meletakkan kepalanya yang berat dan pusing, saat alia mengambil nampan dari tangannya tadi, pria itu menyadarinya. Namun langit tetap berpura-pura sudah tidur, semua perlakuan alia barusan mengulang indah dalam benaknya bagai tayangan sebuah adegan dalam film.
Bibir langit tersenyum indah, ia menarik kakinya, tidur dengan tenang di sofa dan menarik selimut yang alia selimutkan tadi. Ada harapan terpatri di hati langit, bahwa alia masih memiliki sedikit perhatian untuknya.
Ada asa di hati langit yang bergetar begitu indah, ia yakin suatu saat nanti alia akan memaafkan dirinya. Langit juga bersumpah, apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan ampunan dari wanita itu.
Jujur langit ingin hidup dengan alia dan luka. Sumpah di hatinya begitu kuat, apapun, apapun itu akan langit lakukan untuk meraih hati alia, untuk memohon ampunan dan maaf dari wanita itu.
Dan seandainya saja wanita itu meminta nyawanya sebagai ganti dari maaf yang ia pinta, langit akan berikan. Senyum indah langit masih terbawa dalam tidurnya, membawanya ke alam mimpi. Mimpi yang indah.
Bersambung...