NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan Jantung Waktu

"Vio, dengerin Ayah. Kita nggak punya banyak waktu. Lima detik itu bukan cuma angka, itu sisa napas dunia ini."

Viona terkesiap. Suara itu begitu jernih, menggetarkan ruang di antara rusuknya yang tadi sempat terasa hancur. Ia tidak lagi mencium aroma aspal basah Monas atau bau amis tinta dari para Penyapu. Ruangan ini berbau seperti serutan pensil kayu dan aroma teh melati, persis seperti ruang kerja ayahnya dahulu. Di sekelilingnya, ribuan cermin melayang tanpa bingkai, masing-masing menampilkan Viona dalam berbagai versi hidup yang tidak pernah ia jalani. Ada Viona sebagai pelukis, Viona yang tidak pernah mengalami kecelakaan, hingga Viona yang tampak tua dan bahagia.

Nathan Mahendra berdiri di tengah ruangan itu. Wajahnya tidak lagi kaku seperti rupa perunggu yang ia temui di bawah jembatan, tidak juga dingin seperti sosok Arsitek di Monas. Ia mengenakan kemeja flanel tua yang sedikit pudar warnanya, menatap Viona dengan tatapan yang sangat ia rindukan.

"Ayah? Jadi... semua yang tadi itu cuma bohong?" tanya Viona dengan suara bergetar. Ia masih menggenggam erat payung biru lipat yang rangkanya sudah bengkok parah.

Nathan tersenyum sedih. "Sebagian besar, iya. Itu cara Ordo untuk memancing Jantung Waktu supaya benar-benar matang di dalam jiwamu. Tapi payung yang kamu pegang itu nyata, Nak. Itu failsafe yang Ayah buat sebelum mereka 'menghapus' Ayah sepuluh tahun lalu."

Viona menyeka air matanya, berusaha menstabilkan napasnya. "Terus sekarang Vio harus gimana, Yah? Monas meledak, semuanya jadi putih. Apa Vio sudah mati?"

"Belum, Vio. Tapi kamu sedang berdiri di garis finish," Nathan melangkah mendekat, matanya menatap lekat pada telapak tangan kiri Viona yang masih bersinar biru redup. "Lima detik sebelum realitas ini di-reset total oleh Ordo, Ayah berhasil menarik kesadaran kamu ke Ruang Keputusan Utama. Di sini, waktu berhenti berdetak. Tapi daya tahannya cuma sebentar. Arsitek sudah mulai menggedor pintu."

Tiba-tiba, permukaan cermin-cermin di sekeliling mereka bergetar hebat. Suara hantaman keras terdengar dari balik dinding imajiner ruangan itu. Salah satu cermin di pojok retak, menampilkan sosok Elena dengan mahkota jarum jamnya. Wajah wanita itu berdistorsi, terjebak di antara kemarahan mesin dan sisa-sisa kemanusiaan yang dipaksakan.

"Buka pintunya, Nathan! Jangan biarkan anomali itu menghancurkan sistem yang sudah kita bangun!" teriak Arsitek melalui pantulan cermin. Suaranya melengking, sanggup meretakkan udara.

Viona berjengit, ia mengangkat payung birunya secara defensif. "Ayah, dia beneran bukan Ibu, kan?"

"Dia itu memori ibumu yang sudah diunggah ke sistem pusat Ordo, Vio. Elena yang asli sudah lama beristirahat," jawab Nathan dengan nada pahit. Ia meraih bahu Viona, memaksa putrinya untuk fokus. "Dengerin Ayah, Vio. Ayah nggak bisa lama-lama di sini. Kamu punya pilihan terakhir. Gunakan payung biru ini bukan untuk berlindung, tapi untuk menghancurkan Jantung Waktu di dada kamu."

Viona terbelalak. "Hancurin? Tapi kalau Jantung ini pecah, apa dunianya nggak akan hancur juga?"

"Kalau kamu menghancurkannya di sini, di Ruang Keputusan, energinya nggak akan menghapus dunia. Dia cuma bakal memutus kontrak Ordo atas sejarah manusia. Orang-orang bakal dapet takdir mereka kembali. Nggak ada lagi manipulasi waktu," Nathan menjelaskan dengan cepat sementara getaran di ruangan itu semakin menjadi-jadi.

"Terus nanti Ayah gimana? Apa Ayah bakal ikut hilang?" desis Viona. Ia mulai merasakan panas yang luar biasa memancar dari dadanya.

"Harganya adalah eksistensi Ayah," Nathan menunduk, menatap tangannya yang mulai terlihat transparan. "Begitu sistem Ordo hancur, semua sisa memori yang terjebak di sini bakal menguap. Termasuk Ayah. Kamu nggak akan punya lagi Ayah yang bisa kamu ajak bicara di dalam mimpi."

Hantaman di dinding ruangan semakin keras. Arsitek Elena kini berhasil menjebol salah satu cermin besar. Setengah tubuhnya yang terbuat dari rangkaian kabel cahaya masuk ke dalam ruangan, membawa aura kematian yang pekat.

"Viona, jangan dengerin dia! Dia cuma mau kamu mati bareng idealismenya yang sampah!" Arsitek berteriak, tangannya yang panjang terjulur mencoba menggapai Viona. "Kasih koin itu ke Ibu, dan Ibu bakal buatin dunia di mana kita bertiga bisa hidup bahagia selamanya!"

Viona menatap Arsitek yang menyerupai ibunya itu, lalu beralih ke ayahnya. Ia melihat ketulusan di mata Nathan yang mulai memudar.

"Vio nggak butuh dunia sempurna yang isinya bohong, Bu," ucap Viona lantang. Ia menggenggam gagang payung birunya dengan kedua tangan. "Vio mending hidup susah tapi jujur, daripada jadi budak di dalem mesin punya Mama!"

"LAKUKAN, VIO! SEKARANG!" Nathan berteriak saat Arsitek berhasil melompat sepenuhnya ke dalam ruangan.

Viona mengangkat payung birunya tinggi-tinggi. Ia tidak membuka payung itu, melainkan memukulkannya sekuat tenaga ke arah dadanya sendiri, tepat ke titik di mana cahaya koin itu memancar paling terang.

PRANGGG!

Suara itu terdengar seperti jutaan jam saku yang jatuh dan hancur bersamaan. Cahaya emas murni meledak dari dada Viona, menyelimuti seluruh ruangan. Arsitek menjerit saat cahaya itu menyentuhnya, tubuh cahayanya meluruh menjadi butiran debu yang tidak berarti. Nathan berdiri diam di tengah ledakan itu, menatap putrinya dengan senyum bangga untuk terakhir kalinya.

Viona merasakan tubuhnya menjadi sangat ringan. Ia melihat potongan-potongan sejarah beterbangan di sekelilingnya, menata diri kembali ke tempat yang seharusnya.

"Ayah! Ayah jangan pergi!" teriak Viona saat sosok Nathan mulai memudar menjadi titik-titik cahaya putih.

Nathan hanya menggeleng lembut. "Vio, hidup itu emang kayak hujan. Kadang kamu harus basah kuyup dulu buat tahu gimana rasanya bener-bener kering."

Sebelum Nathan benar-benar hilang, ia membisikkan satu kalimat terakhir yang membuat jantung Viona serasa berhenti berdetak. "Tapi kamu harus hati-hati, Vio. Kalau Jantung itu pecah, kamu nggak bakal cuma lupa sama Ayah."

Viona terengah-engah, mencoba menggapai tangan ayahnya, namun hanya udara kosong yang ia dapati. Cahaya di ruangan itu semakin menyilaukan hingga semuanya kembali menjadi putih bersih.

Kesadaran Viona perlahan kembali. Ia merasakan permukaan dingin di bawah tubuhnya. Ia mencium bau desinfektan dan aroma obat-obatan yang tajam. Suara monitor jantung terdengar ritmis di telinganya. Viona membuka mata dan menyadari dirinya berada di sebuah kamar rumah sakit yang terang.

Viona mencoba duduk, kepalanya terasa pening. Ia meraba dadanya. Tidak ada cahaya, tidak ada koin. Ia melihat telapak tangan kirinya yang kini bersih, tanpa tulisan atau bekas luka. Tiba-tiba, pintu kamar rumah sakit terbuka. Elena masuk sambil membawa tas berisi makanan. Ia berjalan dengan sangat tegap, langkah kakinya berbunyi nyaring di lantai keramik.

"Vio, Sayang! Sudah bangun? Ibu bawain bubur ayam kesukaan kamu," ucap wanita itu dengan senyum manis.

Viona membelalakkan mata. Jantungnya berdegup kencang hingga monitor di sampingnya berbunyi lebih cepat. "Ibu? Ibu beneran sudah bisa jalan?"

Elena tertawa kecil, ia meletakkan bubur di meja samping tempat tidur. "Kamu ngomong apa sih, Vio? Ibu kan memang nggak pernah kenapa-napa. Efek pingsannya masih berasa ya? Kamu istirahat lagi, jangan mikir yang aneh-aneh."

Viona menatap ibunya dengan bingung. Semuanya tampak terlalu sempurna. Ingatannya tentang kecelakaan, tentang kursi roda, seolah dihapus dari dunia ini. Namun, ia teringat pesan terakhir ayahnya.

"Bu, Vio mau tanya sesuatu," bisik Viona pelan. "Nama belakang Vio... beneran Mahendra, kan?"

Elena terdiam sejenak. Senyumnya tidak memudar, namun tatapan matanya berubah menjadi sesuatu yang sulit diartikan—dingin dan asing.

"Vio, dengerin Ibu baik-baik," ucap Elena sambil mendekat ke telinga Viona. "Jangan-jangan, kamu lupa kalau kamu itu bukan Viona Mahendra?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!