NovelToon NovelToon
Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Giok Purba: Multiplikasi Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: aryaa_v2

Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.

Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.

Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengadilan Kardashev dan Harga Sebuah Jiwa

Enam puluh jam berlalu sejak plaza itu terhapus. Enam puluh jam tanpa matahari yang sebenarnya, hanya cahaya madu pucat dari kubah yang menyinari reruntuhan Jakarta. Kota itu seperti lukisan yang dibasuh air, warna-warnanya pudar, suaranya teredam. Kawah Sudirman menjadi pusarannya, luka yang terlalu bersih untuk dikatakan alami.

Leo berdiri di bibir kawah itu, bukan di dalamnya. Tidak ada yang berani mendekati pusat itu. Udara di sana terasa berat, dan ruang terdistorsi, membuat orang yang melihatnya merasa mual. Dia tidak sendirian. Dr. Arif berada di sampingnya, bersama beberapa anggota tim Aeternum yang paling setia. Mereka telah mendirikan markas darurat di basement sebuah hotel yang setengah hancur.

Perubahan pada Leo halus namun tidak dapat disangkal. Dia tidak lagi memakai sarung tangan. Dua giok yang menyatu—sekarang sebuah medali hijau gelap dengan urat hitam seperti marmer di telapak tangan kanannya—terlihat tenang. Tapi jika diperhatikan terlalu lama, urat-urat hitam itu tampak bergerak, seperti aliran yang lambat. Matanya mempertahankan kilatan hijau samar, dan di pusat pupilnya, titik hitam yang hampir tak terlihat, seperti sebuah singularitas yang jauh.

"Dokumen-dokumen itu sudah dikirim," kata Dr. Arif, memecah keheningan. Suaranya serak. Mereka telah menghabiskan dua hari mengumpulkan data—bukti teknologi Hati Prometheus, data tentang singularitas mikro, bahkan rekaman pertemuan dengan Pengawas. Semua dikirim melalui jalur fisik tersembunyi ke kontak media dan pemerintah di seluruh dunia. Sebuah pesan dalam botol, menjelang badai.

"Mereka tidak akan mempercayainya," jawab Leo, tanpa menoleh.

"Mereka harus! Ini tentang kelangsungan hidup spesies!"

"Pengadilan Kardashev tidak peduli dengan spesies. Mereka peduli pada skala. Pada kontaminasi. Pada ancaman terhadap tatanan." Leo akhirnya menoleh, dan Dr. Arif melihat kelelahan yang dalam di wajahnya. "Aku bukan lagi manusia bagi mereka, Arif. Aku adalah insiden yang perlu dibersihkan."

"Lalu mengapa mereka belum kembali?"

"Karena mereka sedang memanggil sesuatu yang lebih besar." Leo menunjuk ke langit, ke kubah. "Perhatikan pola cahayanya. Lihat bagaimana garis-garis madu itu bergerak sekarang."

Dr. Arif melihat. Garis-garis itu, yang awalnya statis, sekarang berputar perlahan, seperti pusaran raksasa, berpusat tepat di atas kepala mereka. "Itu... itu seperti saluran."

"Ya. Untuk menurunkan sesuatu. Atau seseorang."

Guntur menggema, tetapi bukan dari awan. Itu berasal dari atas kubah. Sebuah suara yang dalam dan beresonansi, seperti lonceng raksasa yang dipukul di dalam gua. Seluruh kota—bahkan yang teredam—terdiam. Burung-burung yang tersisa jatuh dari langit. Mobil-mobil berhenti. Orang-orang berjongkok, menutupi telinga mereka.

Cahaya madu di kubah terkonsentrasi menjadi satu pilar putih murni yang turun dari langit, mendarat dengan lembut di tengah kawah. Tidak ada ledakan, tidak ada debu. Hanya cahaya. Dan dari cahaya itu, sebuah figur melangkah keluar.

Dia bukan seperti Pengawas. Dia humanoid, mengenakan jubah sederhana berwarna abu-abu yang tampak terbuat dari kabut dan cahaya bintang. Tingginya normal, fitur wajahnya biasa saja—seperti seseorang yang bisa ditemui di kereta bawah tanah, namun dengan satu perbedaan: matanya. Matanya adalah miniatur galaksi, spiral bintang dan nebula yang berputar lambat di dalam soket mata manusia.

Dia memandang sekeliling, lalu menatap Leo. Saat dia berbicara, suaranya terdengar di setiap pikiran di dalam kubah, dalam bahasa mereka masing-masing, dengan kejelasan yang menyakitkan.

"Saya adalah Arbiter dari Pengadilan Kardashev, sektor Bima Sakti 3. Peradaban Bumi, terdaftar Tier 0.73, telah dinyatakan dalam pelanggaran berat terhadap Mandat Pengembangan Primitif, Pasal 7, Sub-seksi Gamma: Larangan manipulasi ruang-waktu dasar dan penjalinan dengan Entitas Konsumen di luar dimensi."

Suaranya tidak menghakimi. Hanya menyatakan fakta, seperti membaca meteran.

"Pengawas lokal gagal menetralisir ancaman. Operator primer, yang dikenal sebagai Leo Akira, telah mengkonsolidasi dua Fragmen Jantung dan mencapai simbiosis tingkat rendah dengan Entitas yang disebut 'Pengumpan'. Tingkat ancaman telah dinaikkan ke Level Omega."

Arbiter itu mengangkat tangannya. Dari jubahnya, tiga bola kristal kecil melayang keluar, memancarkan hologram: Bumi, dengan titik merah berdenyut di Jakarta, dan dua garis—satu hijau (Leo), satu hitam pudar (Rafael, yang sudah mati)—menghubungkannya ke sesuatu di luar bidang gambar, sesuatu yang besar dan gelap.

"Hukuman standar untuk pelanggaran Level Omega adalah pembersihan total planet untuk mencegah penyebaran kontaminasi."

Dr. Arif menjerit. "Tidak! Kami tidak tahu! Itu kecelakaan!"

Arbiter itu memandangnya, dan Dr. Arif merasakan seluruh hidupnya—setiap memori, setiap pikiran—dibaca seperti buku yang dibuka dengan cepat. "Ketidaktahuan bukan pembenaran dalam hukum kosmik. Kehidupan primitif tidak berhak membahayakan struktur realitas."

"Tunggu."

Itu adalah suara Leo. Dia melangkah maju, menuruni lereng kawah yang mulus, menuju Arbiter. Cahaya putih dari pilar itu tidak menyentuhnya; tampaknya membelok di sekelilingnya, seperti air di sekitar batu.

"Saya tidak akan membiarkan Anda membunuh dunia saya."

"Anda tidak memiliki pilihan. Anda adalah bagian dari kontaminasi."

"Saya adalah solusinya," kata Leo. Dia mengangkat tangannya, giok yang menyatu bersinar terang. "Saya telah menyatu dengan Pengumpan. Saya bisa mengendalikannya. Menutup salurannya."

"Pengumpan tidak bisa dikendalikan. Ia hanya bisa diberi makan, atau ditidurkan. Dan untuk menidurkannya, semua saluran harus ditutup. Itu termasuk Anda."

"Kalau begitu beri saya alternatif."

Arbiter itu diam sebentar, galaksi di matanya berputar lebih cepat. "Ada satu preseden. Untuk ancaman Level Omega yang menunjukkan kesadaran dan stabilitas, Pengadilan dapat memberikan pilihan: Pengasingan."

"Pengasingan ke mana?"

"Ke perbatasan. Anda akan dibawa dari dunia ini, ditempatkan di zona terlarang di antara spiral galaksi, di mana Anda tidak dapat membahayakan peradaban yang berkembang. Anda akan hidup, tetapi terputus dari semua yang Anda kenal. Selamanya."

Suara itu menggema di seluruh kota. Jutaan orang mendengar tawaran itu. Hidup seorang manusia, atau matinya sebuah dunia.

Dr. Arif berteriak, "Jangan, Leo! Mereka mungkin berbohong!"

Tapi Leo melihat ke mata Arbiter. Dia melihat tidak ada kebohongan di sana. Hanya kenyataan yang dingin dan tak terhindarkan. Pengadilan tidak membenci. Mereka hanya memelihara taman. Dan dia adalah gulma beracun.

Dia berpikir tentang Rafael, tentang keserakahannya yang buta. Dia berpikir tentang Dr. Arif, tentang timnya. Tentang orang-orang di kota ini yang bahkan tidak tahu namanya. Tentang angka 0.73 dan mimpinya untuk melihatnya menjadi 1.0.

"Dan Bumi?" tanya Leo, suaranya tenang. "Jika saya pergi, dan menutup saluran, apa yang terjadi pada Bumi?"

"Karantina akan dicabut. Peradaban akan dikembalikan ke Tier 0.73, dengan memori peristiwa ini dihapus. Mereka akan melanjutkan perkembangan alami mereka, tanpa kontaminasi Anda."

"Dan teknologi kami? Hati Prometheus?"

"Akan dibongkar. Itu adalah produk dari kontaminasi."

Jadi, itulah harganya. Kemajuan umat manusia, dibeli dengan jiwanya, akan dihapus juga. Mereka akan kembali ke titik awal, dengan bahan bakar fosil dan perpecahan. Tapi mereka akan hidup.

Atau, dia bisa melawan, dan mengutuk mereka semua.

Leo menutup matanya. Dia merasakan kehadiran Pengumpan di dalam dirinya, merasakan kelaparannya yang tak berkesudahan. Tapi dia juga merasakan sesuatu yang lain—sebuah jejak kesadaran Rafael, terperangkap di dalam giok yang menyatu. Sebuah peringatan.

Dia membuka matanya.

"Saya setuju."

Kota yang menyimak menghela napas kolektif—campuran lega, rasa bersalah, dan kesedihan yang luar biasa.

"Keputusan dicatat. Proses Pengasingan dimulai."

Pilar cahaya putih melebar, mengelilingi Leo. Dia merasakan tarikan, sebuah kekuatan yang mulai memisahkannya dari realitas Bumi.

Dr. Arif berlari ke tepi kawah. "Leo! Jangan!"

Leo memandang temannya untuk terakhir kalinya. "Jaga mereka, Arif. Jaga angka itu. Capai 1.0 tanpa aku."

Dia lalu melihat ke langit, seolah-olah bisa melihat melalui kubah, ke bintang-bintang. Dia berbicara kepada sang entitas di dalam dirinya. Kau ingin keluar? Mari kita pergi. Tapi kau harus melepaskan yang ini.

Dia merasakan penolakan, lalu—sebuah penerimaan yang rakus. Apa pun, asalkan diberi makan.

Cahaya putih itu menjadi silau. Leo mengangkat tangannya, bukan untuk melambaikan tangan, tetapi untuk melakukan satu hal terakhir. Dia memusatkan semua keinginannya, semua pengetahuan yang digandakan, ke dalam Vault-nya, lalu mentransfernya—sebagai paket data murni, tanpa singularitas, tanpa kontaminasi—ke dalam server yang mereka sembunyikan, yang hanya Dr. Arif yang tahu.

Hadiah perpisahan. Benih untuk masa depan.

Kemudian, cahaya itu padam.

Leo pergi.

Kubah madu di atas Jakarta mulai memudar, pecah seperti kaca patri yang hancur, membiarkan matahari sore yang sebenarnya menerangi kota yang terluka untuk pertama kalinya dalam tiga hari.

Di tengah kawah, hanya tersisa Arbiter, memandangi tempat Leo berdiam tadi.

Dr. Arif jatuh berlutut, tubuhnya diguncang oleh isak tangis yang hening.

Arbiter itu memandanginya.

"Peradaban Bumi. Ingatlah ini: harga kemajuan seringkali lebih besar daripada yang siap dibayar oleh mereka yang merindukannya. Berjalanlah dengan hati-hati."

Kemudian, Arbiter itu menghilang, tidak dengan cahaya, tapi dengan lenyap begitu saja, seperti dia tidak pernah ada.

Di basement hotel, di sebuah server yang tersembunyi di balik dinding beton, sebuah file bernama "Aeternum_Seed.zip" mulai berkedip, menunggu untuk dibuka.

Dan di suatu tempat di antara bintang-bintang, jauh dari rumah, Leo Akira membuka matanya di dalam sel penjara yang terbuat dari cahaya murni, dengan sebuah galaksi asing berputar di luar jendela yang tidak terlihat, dan sebuah kelaparan abadi sebagai satu-satunya temannya.

Perjalanan untuk mencapai Kardashev 1 telah berakhir bagi Bumi.

Tetapi bagi Leo, perjalanan yang sama sekali berbeda—dan lebih gelap—baru saja dimulai.

1
Arya Saputra
jangan-jangan ada identitas tersembunyi nih dari batu akiknya, jadi penasaran🤔
Arya Saputra
yok lah bisa otw ke peradaban tipe 1 nih
Arya Saputra
Jujur ini cerita yang layak masuk rekomendasi sih, perkembangan karakter Leo yang signifikan dari diinjak-injak bahkan dikubur lalu bangkit dengan identitas berbeda dan merubah sikap 180°, sistem kekuatan giok juga logis dibarengi cerita sains.
Arya Saputra
saya suka nih kalo ada cerita bertemakan sains🤩
Arya Saputra
awal yang lumayan bagus👏🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!