Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengiring Pengantin
Para musisi berhenti bermain, dan keheningan pun menyelimuti para tamu.
Sebuah mars baru yang ceria, dimulai ketika Haikal menaiki tangga panggung, diikuti Davis, Adnan, dan papa mereka, Sadewa.
Pose mereka hampir serentak, tangan terlipat di belakang punggung, tepat saat pendamping pengantin wanita pertama muncul dari belakang. Perempuan itu luar biasa. Maggie masih mengingatnya sejak semalam.
Tingginya sekitar satu meter delapan puluh, tubuhnya berotot dan kekar. Kulit sawo matangnya berkilau. Langkahnya mantap, nyaris seperti model.
Maggie membungkuk sedikit ke arah Kael. “Dua pendamping pengantin Salifa itu binaragawan,” katanya pelan. “Keren, kan?”
Pendamping kedua tiba. Ia tidak setinggi yang pertama, tapi kulitnya cokelat sempurna. Saat ia lewat, punggungnya terlihat seperti iklan suplemen penambah nafsu makan.
“Mengesankan,” bisik Kael.
Maggie menepuk lengan Kael sambil bercanda. “Oh kamu suka yang begitu.”
Pendamping berikutnya datang dengan sosok yang jauh lebih mungil dan lembut. Kulitnya juga cokelat, hangat. Di belakangnya, Dimmar, sepupu bungsu keluarga Adiputra, berjalan dengan khidmat sambil membawa bantal satin putih. Wajahnya serius, memikul tanggung jawab besar.
Maggie kembali mendekat. “Katanya Adnan sempat terpeleset di lantai rumah sakit waktu Emmy melahirkan, karena dia pikir harus menangkap bayinya.”
Kael mengangguk. “Joann cerita soal itu? Itu tradisi keluarga mereka.”
Mereka tertawa pelan sambil memperhatikan Dimmar, yang terlalu fokus menatap bantal sampai keluar jalur dan berlari ke salah satu kursi. Seorang tamu langsung menepuk kepalanya pelan dan menunjuk ke arah panggung.
Begitu Dimmar tiba di depan, gelombang tawa pun muncul dari belakang kerumunan. Ia terus berjalan, dan Maggie serta Kael saling berpandangan, sempat bertanya-tanya, siapakah yang sedang melempari bunga ke arah mereka?
Lalu mereka melihat pelakunya.
Nenek Puspa, nenek sepuh klan Adiputra, mengambil segenggam kelopak bunga dan menaburkannya ke lantai dengan penuh semangat.
“Itu nenek penabur bunga,” Maggie tertawa. “Katanya beberapa pengantin memang begitu.”
Seorang tamu pria di barisan depan menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Puspa berhenti, menatapnya tajam. Lalu ia mengambil segenggam kelopak lagi dan melemparkannya tepat ke wajah pria itu.
Seluruh kerumunan langsung pecah oleh tawa.
“Dia pantas dapat itu,” kata Kael.
Puspa menaburkan lebih banyak bunga di tangga, bahkan melempar cukup banyak ke kaki tiga bersaudara itu yang berusaha mempertahankan senyum sopan mereka. Setelah puas, ia duduk manis di barisan depan bersama para sepupu tiga bersaudara.
Musik berganti.
Seorang perempuan yang memegang buku merah naik ke panggung dan memberi isyarat agar semua orang berdiri.
Karena duduk di ujung barisan, butuh waktu bagi Maggie dan Kael untuk menemukan pengantin wanita. Bahkan dengan sepatu hak super tinggi yang Haikal ceritakan, tubuh Salifa tetap tampak mungil.
Mereka baru bisa melihatnya dengan jelas ketika Salifa mulai menaiki tangga panggung. Veil-nya sangat panjang, menjuntai di atas tangga berlapis perak bahkan saat ia sudah berada di puncak. Rambutnya disanggul rapi di atas kepala, dengan veil renda jatuh lembut ke punggung.
“Katanya dia sendirian?” bisik Maggie. “Lihat. Orang tuanya duduk di kursi.”
Haikal memang sempat menceritakan kalau Salifa tidak bersama orang tuanya. Salifa tidak menyangka kalau orang tuanya akan datang.
Hubungan mereka tidak dekat, dan kakaknya pun tidak hadir. Salifa memutuskan jika ayahnya tidak layak mendapat kehormatan untuk mengantarnya. Dan ia ingin melangkah ke pelaminan sendirian.
Namun saat Salifa berbalik ke arah Haikal, dengan ekspresi bahagia di wajah mereka berdua, dan ketika Sadewa Adiputra maju mencium keningnya, semuanya terasa jelas. Ia telah berada di tangan yang tepat. Keluarga sejatinya telah menemukannya.
Maggie dan Kael saling menggenggam tangan saat upacara berlanjut. Janji pernikahan yang mereka ucapkan sederhana, standar, dan diucapkan sambil berdiri sangat dekat satu sama lain.
Pemandangannya spektakuler. Maggie bisa merasakan dadanya menghangat, melihat kilau di matanya sendiri saat Haikal mencium pengantinnya, kembang api meledak di langit, dan matahari tenggelam perlahan di balik Keraton.
Maggie memang menyukai dongeng. Dan jika suatu hari ia menginginkannya, ia tahu, pria di sampingnya adalah orang yang tepat untuk mewujudkannya.