fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jack Robson
Layar bersenandung, dayung berayun mulus dan tak lama kemudian mulut Pelabuhan membuka didepan mereka.
Sepi.
Mereka menurunkan layar begitu memasuki Pelabuhan. Untuk berlabuh hanya dengan dayung.
Kapal itu berlabuh di Dermaga Kaitaia,
Sekelompok prajurit penjaga dermaga berjaga-jaga. Diantara meraka William Meredith berdiri dengan gagah, disampingnya Rugina Loaun, wanita parubaya pemimpin Keluarga Loaun, juga berdiri menunggu orang-orang dari perahu besar itu turun.
Kelihatannya mereka tak berbahaya, fikir William. meskipun sebagian besar juga memegang senjata. Salah satu diantara mereka menemui William. Sosok tampan usia 30 tahun.
Ia memberikan penghormatan.
“Salam tuan, bisakah kami menemui pemimpin Kaitaia?” kata pemuda itu. Disampingnya seorang wanita dan dua orang pengawal, sementara yang lain
“Kaitaia saat ini di pimpin Lord Jhuma. Pemimpin Union. ada keperluan apakah?” kata William dengan nada yang tak bersahabat. Rugina juga memberikan hormat seadanya. para pengawal dibelakang keduanya.
“Oh Jhuma, ia pemimpin?” tanya orang itu.
“Iya, beliau menggantikan Leader pertama Owen Ghie.”
“Ser Owen dimana sekarang?”
“Baginda Owen setahun yang lalu meninggal dunia.”
“Oh…ayah..” Nampak air muka pria itu berubah. terlihat ia menahan kesedihannya. Namun wajah yang tertunduk menunjukan seperti apa isi hatinya.
“Beliau ayahku…” kata pemuda itu setengah berbisik. hadirin terkejut, saling memandang, memastikan siapa pemuda ini.
“Anda Ommer Ghie?” tanya William. ia maju selangkah, dan sikap tak bersahabatnya seketika hilang.
“Benar. Aku anak semata wayang Ser Owen Ghie.” kata Ommer. Kini wajahnya diangkat, balik menatap William. Segera wajah sedih itu berubah menjadi wajah penuh percaya diri saat menyebutkan nama ayahnya.
“Ser Ommer..salam. aku William Meredith, salah satu kesatria Iblis Merah.” William memberikan penghormatan. Ia kini berbalik menengok beberapa prajurit dibelakangnya.
“Beri hormat pada Ommer Ghie. Putra Leader pertama!” setengah mengertak William memberikan komando.
“Hormat kami Ser Ommer.” serentak belasan prajurit me. berikan penghormatan.
“Terima kasih tuan-tuan, aku bersama pengikutku dan keluarga mereka. Datang ke Kaitaia berencana menemui ayahku, membantu perjuangan. Bisakah aku menemui Leader Jhuma?” tanya Ommer lagi. Kini dibelakangnya berdiri belasan pengikutnya. Baik pria maupun wanita. mereka tak hanya bersuku Adara namun juga Grade atau campuran keduanya. seperti Ommer ia adalah kombinasi Adara dan Grade.
“Dengan senang hati tuan muda. Hanya sebaiknya rombongan tuan kami tempatkan dulu di sini. tuan bisa menemui baginda sore hari bersama beberapa orang.” Kata William
“Baik. Terima kasih.”
Setelah saling mengenal, antara para tamu dan tuan rumah kini akrab. tak ada lagi rasa saling curiga dan suasana kamu seperti sebelumnya.
Demikianlah.
Rombongan dari Lemuria itu ditempatkan sementara di batak Dermaga. Ommer putra Owen akhirnya menyusul ayahnya setelah lebih dari dua tahun. Kini ia sudah ada di The The Horn Land berniat membantu perjuangan dengan pasukan pengawalnya sendiri.
Keluarga Loaun membantu mempersiapkan semuanya. Rumah-rumah, dan aula besar di Desa terdekat dengan Dermaga sekitar menjadi tempat tinggal para pengungsi itu. Total jumlah mereka adalah 81 pria dewasa, 44 wanita dan 27 anak-anak baik pria maupun wanita.
Siang itu,
Saat sedang bersama Ommer di aula. datang lagi laporan dari seorang prajurit Dermaga pada William Meredith. Bahwa ada perahu kedua mendekati Dermaga. Berisi beberapa pemuda. Juga berasal dari Lemuria.
“Katanya mereka para kesatria Iblis Merah.”
“Kesatria Iblis Merah?...mungkinkan itu Kapten Jack Robson.” Segera William berangkat ke dermaga.
Ommer tidak menemaninya. Hanya dua orang prajurit Dermaga keluarga Loaun. Rugina juga sudah kembali ke kediamannya.
Dan benarlah,
Perahu kedua yang lebih kecil ini ditumpangi beberapa nelayan merapat di pinggir dermaga, diantara mereka ada lima orang kesatria. mereka adalah ; Kapten Baleth Robson, dan empat orang pengawalnya Arthur Alman ,Sam Cookson, Thomas Chortlon dan Arthur Cashmore. Mereka semua adalah kesatria Iblis Merah dari Lemuria. Yang datang berencana untuk memperkuat kembali Iblis Merah di The Horn Land. Yang saat ini hanya tersisa 5 orang saja ; yakni William Meredith, Alexander Turnbull, Enoch West, George Anderson dan Robert Beale. Tak ada pemimpin diantara mereka yang tersisa ini pasca meninggalnya John Bentley. Kini Kapten Robson datang untuk menggantikan kepemimpinan.
“Senang bertemu denganmu lagi Meredith.” kata Kapten Jack Robson. Pria gagah dengan dada bidang. Tingginya 190. Pedang besar dibalik pinggangnya.
“Bagaimana kabarmu Ser, kami menunggumu.” sapa William. Senyum, Bahagia tersirat dibalik wajah William menjemput pemimpin.
“Sangat disayangkan John dan Mangnall meninggal begitu cepat ya. Perang disini ternyata sangat sengit. Aku mendapatkan laporan jumlah kalian berkurang banyak setelah memulai perang dengan kekaisaran.” kata Baleth.
“Benar ser. Dan kedatangan tuan setidaknya bisa membantu baginda Jhuma untuk memperluas lagi wilayah merdeka.”
“Hmm. Semoga Meredith. Baik. Mari kita menemui baginda.” ia melangkah tanpa menunggu William. Penuh percaya diri.
***