Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: KEBANGKITAN SANG PERMAISURI
Tiga bulan telah berlalu sejak malam berdarah di Dermaga Tua. Bagi dunia luar, nama Alana Dirgantara hanyalah catatan kaki dalam tragedi skandal kepolisian yang kini mulai terlupakan. Namun, di dalam sebuah pulau pribadi yang terisolasi di perbatasan laut internasional, sebuah kekuatan baru sedang ditempa.
Alana berdiri di balkon vila utama, menatap hamparan laut yang berwarna biru pekat. Ia mengenakan gaun sutra tipis berwarna hitam yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Di jari manisnya, berlian hitam masih berkilau, namun kini benda itu tidak lagi terasa seperti borgol. Benda itu terasa seperti bagian dari dirinya.
"Nyonya, tim analis sudah siap di ruang bawah tanah."
Suara Marco mengejutkannya. Alana menoleh, memberikan tatapan yang begitu tajam hingga Marco, sang tangan kanan Arkano yang tak kenal takut, harus menundukkan kepala sejenak. Rambut Alana kini dipotong lebih pendek, memberikan kesan yang lebih tegas dan dingin.
"Bagus. Katakan pada mereka aku akan turun dalam lima menit," jawab Alana singkat. Suaranya tidak lagi memiliki nada keraguan.
Sejak mereka tiba di pulau ini, Alana tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Ia menggunakan akses yang diberikan Arkano untuk membangun kembali unit intelijen klan Dirgantara dari nol. Ia merekrut peretas-peretas terbaik dunia dan membangun sistem pengawasan yang jauh lebih canggih daripada milik negara mana pun.
Di ruang komando yang dingin, Arkano sudah menunggu. Pria itu tampak sedang meninjau beberapa peta logistik baru. Begitu Alana masuk, Arkano langsung berdiri. Tatapannya yang biasanya dingin seketika melembut, penuh dengan kekaguman yang nyaris gila.
"Kau terlambat dua menit, Sayang," ujar Arkano sambil merangkul pinggang Alana dan mengecup pipinya di depan para staf. Ia tidak peduli dengan formalitas; ia ingin semua orang tahu bahwa Alana adalah dunianya.
"Aku sedang memastikan sistem enkripsi kita tidak bisa ditembus oleh unit pelacak internasional yang baru," balas Alana sambil melepaskan diri dari dekapan Arkano dengan halus untuk menuju meja utama. "Kita punya masalah baru, Arkano. Klan Silver Fang dari wilayah utara mulai mengendus jalur distribusi kita yang baru."
Arkano menyipitkan mata. "Mereka hanya sekumpulan serigala kelaparan. Kita bisa menghabisi mereka dalam semalam."
"Tidak semudah itu," potong Alana. Ia menekan sebuah tombol, dan layar hologram besar muncul di tengah ruangan. "Mereka memiliki dukungan dari beberapa pejabat di kepolisian pusat yang lolos dari pembersihan pasca-Hendra. Jika kita menyerang mereka secara frontal, kita akan menarik perhatian interpol. Kita butuh cara yang lebih... elegan."
Arkano bersedekap, tersenyum bangga. "Dan apa rencana permaisuriku?"
"Kita akan menjatuhkan mereka dari dalam. Aku sudah menyusup ke rekening rahasia pemimpin mereka. Dalam tiga hari ke depan, semua dana operasional mereka akan membeku. Mereka akan saling tuduh satu sama lain sebagai pengkhianat. Saat itulah, kita masuk bukan sebagai penyerang, tapi sebagai penyelamat yang mengambil alih aset mereka dengan harga murah."
Ruangan itu hening. Para staf ahli IT menatap Alana dengan rasa hormat yang bercampur takut. Arkano tertawa rendah, suara tawanya menggema di ruangan sunyi itu. Ia berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Alana.
"Kau jauh lebih kejam dariku, Alana. Dan itu membuatku semakin gila padamu."
Malam harinya, suasana di vila terasa lebih intim. Arkano menyiapkan makan malam pribadi di tepi tebing, hanya ada mereka berdua di bawah taburan bintang. Namun, di balik keromantisan itu, Alana masih memiliki satu ganjalan di hatinya.
"Bagaimana kabar Rian?" tanya Alana di sela-sela makannya.
Arkano meletakkan gelas wiskinya. Ekspresi wajahnya sedikit berubah. "Dia sudah pulih. Luka tembaknya sudah kering. Tapi dia masih menolak untuk makan dengan benar. Dia masih bersikeras bahwa aku adalah monster yang mencucimu otakmu."
Alana mendesah. "Boleh aku menemuinya? Tanpa pengawalan?"
Arkano menatap mata Alana cukup lama. Kecemburuan dan rasa posesifnya adalah api yang selalu menyala, namun ia juga tahu bahwa jika ia terlalu mengekang Alana sekarang, wanita itu akan memberontak.
"Satu jam," ujar Arkano tegas. "Dan Marco akan menunggu di luar pintu. Itu batas maksimal toleransiku, Alana."
Alana mengangguk. Ia segera menuju ke sayap medis vila. Di sana, di sebuah ruangan yang lebih mirip kamar hotel mewah namun terkunci dari luar, Rian duduk termenung di tepi jendela yang berjeruji.
"Rian," panggil Alana.
Rian menoleh. Matanya membelalak melihat penampilan Alana. "Alana? Apa yang terjadi padamu? Kau memakai berlian itu seolah-olah itu adalah mahkota. Kau lupa apa yang dia lakukan padamu?"
Alana duduk di kursi di depan Rian. "Aku tidak lupa, Rian. Aku tidak pernah lupa bahwa Arkano membeliku. Tapi aku juga tidak lupa bahwa duniaku yang lama menghancurkanku. Di sini, aku punya kekuatan. Di sini, aku bukan lagi pion yang bisa dibuang."
"Kau menjadi salah satu dari mereka!" bentak Rian. "Kau menjadi mafia, Alana! Kau adalah polisi terbaik yang pernah kukenal!"
"Polisi itu sudah mati di dermaga, Rian," sahut Alana dengan suara datar. "Sekarang, aku hanya ingin bertahan hidup dan memastikan orang-orang yang mengkhianati keluargaku menderita. Arkano memberiku alat untuk itu. Jika aku harus menjadi ratu mafia untuk menghancurkan mereka semua, maka biarlah."
Rian menggelengkan kepala, kecewa. "Dia sudah mendapatkanmu sepenuhnya, bukan? Dia tidak hanya membeli tubuhmu, dia membeli jiwamu."
Alana terdiam sejenak. Ia teringat ciuman Arkano, perlindungannya, dan bagaimana pria itu menatapnya seolah ia adalah pusat semesta. "Mungkin kau benar. Tapi di dunia ini, lebih baik menjadi milik seorang monster yang mencintaimu daripada menjadi milik sistem yang ingin membunuhmu."
Alana bangkit berdiri. "Aku datang ke sini untuk memberitahumu satu hal. Aku akan mengirimmu ke luar negeri besok pagi. Identitas baru, uang yang cukup untuk seumur hidup. Pergilah, Rian. Jangan pernah kembali ke kota itu, dan jangan pernah mencariku lagi. Ini adalah permintaan terakhirku sebagai sahabatmu."
"Kau mengusirku?"
"Aku menyelamatkanmu," bisik Alana.
Begitu Alana keluar dari ruangan, ia menemukan Arkano yang sudah berdiri di lorong, bersandar di dinding dengan tangan di saku celana. Pria itu mendengar semuanya.
"Kau melepaskannya?" tanya Arkano.
"Dia adalah sisa terakhir dari masa laluku yang masih bersih. Aku tidak ingin dia hancur karena berada di dekat kita," jawab Alana sambil berjalan melewati Arkano.
Arkano menarik tangan Alana, memutar tubuhnya dan menghimpitnya ke dinding lorong. Ia menatap dalam ke mata Alana. "Berarti sekarang, hanya ada aku di hidupmu? Tidak ada lagi bayang-bayang polisi itu?"
Alana melingkarkan tangannya di leher Arkano, menarik pria itu mendekat hingga bibir mereka bersentuhan. "Hanya kau, Arkano. Hanya ada kita."
Arkano mencium Alana dengan gairah yang meledak-ledak. Ia mengangkat tubuh Alana, membawanya menuju kamar mereka. Malam itu, Alana menyerahkan sisa-sisa keraguannya pada angin laut. Ia telah memilih jalannya. Ia telah memilih rajanya.
Namun, di balik kegelapan malam, di sebuah kantor rahasia di ibu kota, seorang pria misterius baru saja menerima laporan tentang aktivitas siber dari pulau pribadi Arkano. Pria itu menyalakan cerutu dan menatap foto Alana yang ada di atas mejanya.
"Kau pikir kau sudah mati, Alana? Permainan ini baru saja naik ke level berikutnya."