NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: PENJARA TAK KASATMATA

​Dinding-dinding mewah gedung Dirgantara Tower yang tadinya terasa seperti istana, kini berubah menjadi jeruji besi yang dingin bagi Alana. Sudah dua belas jam ia dikurung di dalam ruang kerjanya yang luas. Semua akses komunikasi diputus, jendela antipeluru tidak bisa dibuka, dan di depan pintu, dua pengawal paling setia klan Dirgantara berjaga dengan senjata lengkap.

​Alana duduk bersandar di kaki meja kerja, menatap nanar serpihan kristal safir yang berserakan di lantai—sisa-sisa kalung yang dihancurkan Arkano semalam. Hatinya terasa lebih hancur daripada perhiasan itu. Ia mengusap lehernya yang masih terasa panas bekas cengkeraman Arkano. Bukan rasa sakit fisiknya yang perih, melainkan tatapan mata Arkano yang penuh luka dan kebencian.

​"Kau menang, Hendrawan," bisik Alana dengan suara serak. "Kau tidak perlu peluru untuk membunuhku. Kau hanya perlu menghancurkan satu-satunya tempat di mana aku merasa diterima."

​Alana tahu ia tidak bisa hanya diam meratapi nasib. Jika ia terus terkurung di sini, Hendrawan akan terus melancarkan rencananya, dan Arkano mungkin akan benar-benar kehilangan kepercayaan—atau nyawanya. Alana berdiri, menghapus air matanya dengan punggung tangan. Insting agen Nightingale yang selama ini ia tekan kini bangkit kembali. Kali ini, ia tidak bertarung untuk negara, tapi untuk cintanya.

​Ia mulai memeriksa ruangan itu dengan teliti. Arkano mungkin telah memutus internet, tapi ia lupa bahwa Alana-lah yang merancang protokol keamanan internal divisi intelijen klan ini minggu lalu. Di bawah meja, terdapat panel akses darurat untuk sistem ventilasi pusat yang terhubung langsung ke ruang server di lantai bawah.

​Di sisi lain gedung, di dalam kamar utamanya yang gelap, Arkano duduk di tepi ranjang dengan sebotol wiski yang hampir habis. Ia menatap telapak tangannya sendiri—tangan yang semalam mencengkeram leher wanita yang ia puja. Rasa sesak di dadanya tidak kunjung hilang.

​Marco masuk dengan kepala menunduk. "Tuan, kami sudah memeriksa microchip dari kalung itu."

​Arkano tidak menoleh. "Apa hasilnya?"

​"Chip itu tipe pasif, Tuan. Ia hanya mengirimkan sinyal jika berada dalam radius lima kilometer dari alat penerimanya. Artinya, Hendrawan baru bisa melacak koordinat Nyonya Alana jika dia sudah berada dekat dengan kita," lapor Marco ragu-ragu. "Dan... kami menemukan bekas perekat halus di bagian belakang safir itu. Sepertinya chip itu dipasang secara terburu-buru, kemungkinan besar saat penyerangan di pulau tempo hari, lewat drone atau saat kekacauan terjadi."

​Gelas di tangan Arkano bergetar. "Maksudmu, dia benar-benar tidak tahu?"

​"Sangat mungkin, Tuan. Jika Nyonya Alana adalah agen ganda yang ingin membunuh Anda, dia tidak akan sebodoh itu membiarkan chip yang mudah ditemukan tetap berada di lehernya setelah dia menyelamatkan nyawa Anda berkali-kali," tambah Marco berani.

​Arkano memejamkan mata, rasa bersalah menghantamnya seperti palu godam. Ia teringat tangisan Alana semalam. Ia teringat bagaimana wanita itu memohon agar dipercaya. Ia telah menjadi monster bagi wanita yang justru mengkhianati dunianya demi dirinya.

​"Aku harus menemuinya," ujar Arkano sambil berdiri dengan langkah terhuyung.

​Namun, sebelum Arkano mencapai pintu, suara alarm keamanan gedung berbunyi nyaring. Lampu merah berkedip di seluruh koridor.

​"Tuan! Ada pembobolan di sektor ventilasi lantai 40! Nyonya Alana... dia melarikan diri!" suara pengawal terdengar panik melalui radio.

​Alana merayap di dalam lorong ventilasi yang sempit dan berdebu. Napasnya memburu, keringat membasahi dahi dan punggungnya. Ia tidak menggunakan senjata api; ia hanya membawa pisau lipat kecil yang ia sembunyikan di dalam sepatu botnya. Ia berhasil keluar di area parkir bawah tanah, tempat mobil-mobil operasional klan terparkir.

​Ia melumpuhkan satu penjaga dengan gerakan cepat—sebuah tendangan ke saraf leher yang membuatnya pingsan seketika—lalu mengambil kunci mobil SUV hitam.

​"Maafkan aku, Arkano. Aku harus menyelesaikan ini dengan caraku," gumam Alana saat menyalakan mesin mobil.

​Mobil itu melesat keluar dari gedung, menembus barisan penjaga yang tidak berani menembak karena tahu siapa yang berada di balik kemudi. Alana mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju koordinat pangkalan logistik di Bogor yang sempat ia lacak sebelumnya. Ia tahu ini adalah jebakan. Ia tahu Hendrawan menunggunya dengan pasukan lengkap. Tapi ia lebih baik mati di tangan Hendrawan daripada hidup dalam keraguan Arkano.

​Di belakangnya, konvoi mobil Arkano mengejar dengan liar. Arkano sendiri yang mengemudikan mobil sportnya, wajahnya pucat pasi karena ketakutan. Ia tidak marah karena Alana kabur; ia takut Alana sengaja menyerahkan diri ke tangan Hendrawan untuk membuktikan kesetiaannya.

​"Alana, jangan bodoh! Berhenti!" teriak Arkano seolah wanita itu bisa mendengarnya. "Marco! Perintahkan tim penembak jitu untuk bergerak ke Bogor! Jika ada satu peluru yang mengenai Alana, aku akan meratakan seluruh kepolisian pusat!"

​Pangkalan logistik tua itu tampak menyeramkan di bawah sinar bulan yang tertutup awan. Alana menghentikan mobilnya di depan gerbang yang terbuka lebar. Ia turun, berjalan dengan langkah mantap menuju gudang utama yang lampunya menyala terang.

​Di dalam gudang, Pak Hendrawan duduk di atas kursi plastik, dikelilingi oleh belasan anggota unit khusus yang bersenjata lengkap. Di sampingnya, terdapat sebuah monitor besar yang menampilkan radar pergerakan Arkano yang semakin mendekat.

​"Akhirnya, Nightingale kembali ke sangkarnya," ujar Hendrawan dengan senyum kemenangan.

​Alana berhenti sepuluh meter di depan Hendrawan. "Hentikan semua ini, Hendrawan. Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Arkano sudah meragukanku. Reputasiku sudah hancur. Lepaskan klan Dirgantara dari targetmu."

​Hendrawan tertawa terpingkal-pingkal. "Kau pikir ini hanya tentang kau, Alana? Ini tentang kekuasaan. Arkano Dirgantara adalah penghalang bagi bisnis baruku dengan klan internasional. Kau hanyalah alat untuk membuatnya lengah. Dan lihat, sekarang dia berlari ke sini seperti anjing yang mengejar tuannya. Dia sangat mencintaimu, dan itu akan menjadi lubang kuburnya."

​Hendrawan memberi isyarat, dan para anak buahnya segera menodongkan senjata ke arah Alana.

​"Berlutut, Alana. Berikan aku kode akses data intelijen klan Dirgantara yang kau curi kemarin, atau aku akan meledakkan mobil Arkano sebelum dia sempat menginjakkan kaki di sini," ancam Hendrawan.

​Alana mengepalkan tangannya. Ia menoleh ke arah gerbang, melihat lampu mobil Arkano yang mulai terlihat di kejauhan. Hatinya terasa sakit. Ia tidak bisa membiarkan Arkano masuk ke dalam jebakan maut ini.

​"Aku tidak akan memberikannya," jawab Alana tegas. Ia mencabut pisau lipatnya. "Dan kau tidak akan pernah menyentuh Arkano selama aku masih bernapas."

​Tepat saat itu, pintu gudang ditabrak oleh mobil Arkano yang masuk dengan kecepatan tinggi. Baku tembak pecah seketika. Arkano melompat keluar dari mobil, menembakkan senjatanya dengan membabi buta ke arah anak buah Hendrawan sambil berteriak memanggil nama Alana.

​Di tengah hujan peluru, Alana berlari ke arah Hendrawan. Ia tidak peduli pada nyawanya sendiri. Ia hanya ingin mengakhiri sumber penderitaan ini. Namun, sebuah peluru melesat mengenai bahu Alana, membuatnya jatuh tersungkur.

​"ALANA!" teriak Arkano histeris. Ia berlari menerjang rentetan peluru, tidak peduli pada keselamatannya sendiri, hanya untuk mencapai tubuh istrinya yang berlumuran darah.

​Arkano mendekap Alana di tengah medan perang itu. Air matanya mengalir deras, bercampur dengan debu dan mesiu. "Maafkan aku... Maafkan aku, Sayang! Aku bodoh! Aku seharusnya memercayaimu!"

​Alana tersenyum lemah, menyentuh wajah Arkano dengan tangannya yang berdarah. "Aku... aku mencintaimu, Arkano. Selalu..."

​Hendrawan berdiri di kejauhan, mengarahkan senjatanya ke arah pasangan itu yang sedang berpelukan. "Adegan yang sangat menyentuh. Sekarang, matilah bersama."

​Namun, sebelum Hendrawan menarik pelatuk, sebuah ledakan hebat mengguncang sisi gudang. Marco dan pasukan elit klan Dirgantara masuk dengan kekuatan penuh. Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Leebit
hehehe..
makasih ya udah mampir, semoga betah ya😁
Gheya Giyani
ikut deg deg kan kak
Siti Patimah
semoga badai cepat berlalu, dan kalian bisa hidup bahagia
Leebit
terima kasih😍
Diana
😍
Murni Dewita
👣👣
Murni Dewita: sama-sama thor
total 2 replies
Leebit
siap!!! mari kita hancurkan, hehe..
makasih ya udah dukung karya ku😊
Siti Patimah
hayo tetap bersatu hancurkan para musuh,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!