NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab2 Akad tak terduga

Di dalam mobil, suasana terasa sangat khidmat. Ustadz Ayyan duduk terdiam di samping jendela, sesekali merapikan sorban putih di bahunya. Di sampingnya, Umi Fatimah tersenyum melihat putranya yang tampak tenang, meski sebenarnya Ayyan terus berdzikir untuk meredakan debar di dadanya.

"Sudah siap, Yan? Malam ini bukan cuma lamaran, tapi langsung akad seperti kesepakatan Abah dan orang tua Namira. Mereka ingin menghindari fitnah karena kalian sama-sama muda," bisik Umi Fatimah lembut.

Ayyan hanya mengangguk pelan. "Insyaallah, Mi. Ayyan siap."

Sementara itu, di rumah Namira, suasana jauh dari kata tenang. Namira yang baru saja dipakaikan kerudung putih cantik dengan hiasan melati, mondar-mandir di kamarnya.

"Bun, kok ada penghulu? Ini beneran mau nikah sekarang? Mira kira cuma kenalan dulu!" rengek Namira panik.

"Sudah, tenang saja. Calonmu sudah sampai," ucap Bunda sambil menarik tangan Namira menuju ruang tamu.

Begitu sampai di ambang pintu ruang tamu, langkah Namira mendadak terkunci. Matanya membelalak sempurna saat melihat rombongan pria yang duduk di seberang ayahnya. Fokusnya tertuju pada satu pria yang sangat familiar—pria tinggi, berhidung mancung, dengan tatapan tajam yang baru saja ia temui di masjid sore tadi.

"LHO! INI KAN KULKAS DUA PINTU YANG DI MASJID TADI!" teriak Namira refleks sambil menunjuk ke arah Ayyan.

Seketika suasana ruang tamu yang hening dan sakral itu menjadi riuh rendah. Abah Kyai dan Ayah Namira saling pandang kebingungan. Ayyan yang mendengarnya hanya bisa memejamkan mata sejenak, menahan diri agar tidak menghela napas panjang.

"Namira! Jaga bicaranya!" tegur Bunda sambil mencubit pelan lengan Namira. "Astagfirullah, anak ini... Maafkan ya, Ustadz, Kyai... Namira memang sedikit... ekspresif."

Namira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, tapi matanya tetap melotot ke arah Ayyan. Ia berbisik pelan ke arah Bundanya, "Tapi Bun, itu orang yang ngatain doa Mira aneh tadi sore!"

Ayyan akhirnya membuka suara, suaranya terdengar berat dan sangat tenang di tengah kegaduhan itu. "Ternyata benar... doanya memang sangat banyak, ya."

Wajah Namira memerah antara malu dan kesal. Sementara para orang tua hanya bisa tertawa kecil melihat interaksi pertama calon pengantin ini.

"Sudah, sudah. Mari kita mulai prosesinya," ucap Abah Kyai menengahi.

Namira hanya bisa duduk terpaku dengan bibir mengerucut.Ya Allah... kenapa harus ustadz galak ini sih yang jadi 'good rekening'-ku?! batinnya pasrah.

***

Suasana yang tadinya mulai khidmat dan tegang seketika buyar. Penghulu sudah siap, Ayah Namira sudah menjabat tangan kekar Ayyan, dan para saksi sudah bersiap mengucapkan kata "Sah". Namun, interupsi Namira benar-benar di luar dugaan.

"Eh, bentar-bentar! Berhenti dulu!" seru Namira sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, persis seperti murid yang ingin bertanya di kelas.

Semua mata di ruangan itu tertuju padanya.

Ayah Namira melotot, Bunda sudah memegang keningnya karena malu, sementara Ustadz Ayyan hanya menoleh perlahan dengan tatapan dinginnya yang menusuk.

"Ada apa lagi, Namira?" tanya Ayahnya dengan suara ditekan, menahan malu di depan calon besan.

Namira tidak gentar. Ia menatap Ayyan dengan berani, meskipun tingginya saat duduk membuat ia harus sedikit mendongak. "Anu... Pak Ustadz," ucap Namira ragu-ragu tapi tetap ceriwis. "Tadi kan situ denger doa saya di masjid. Soal... itu... yang 'rekening' tadi. Jadi gimana? Situ masuk kriteria nggak? Jangan sampai nanti pas sudah nikah, saya nggak boleh jajan seblak!"

Umi Fatimah dan Abah Kyai sampai tersedak menahan tawa, sementara Bunda Namira langsung mencubit pinggang putri mungilnya itu.

"Aduh! Sakit, Bun!" ringis Namira.

"Namira! Ini acara sakral, jangan bahas seblak dulu!" tegur Bunda dengan bisikan tajam yang bisa terdengar ke seluruh ruangan.

Ayyan menghela napas panjang, mencoba menjaga kewibawaannya di depan calon mertua. Ia menatap Namira lekat-lekat, membuat gadis itu sedikit menciut.

"Saya sudah menjawab doa kamu di masjid tadi dengan kata 'aneh'," ucap Ayyan dengan nada datar dan tegas. "Tapi kalau soal tanggung jawab... insyaallah, saya tidak akan membiarkan istri saya kelaparan, apalagi hanya sekadar seblak. Sudah cukup interupsinya?"

Namira mengerjapkan matanya yang lentik berkali-kali. Jawaban Ayyan yang sangat formal dan dingin itu justru membuatnya sedikit salah tingkah.

"Ya... ya udah sih, nanya doang. Galak banget," gumam Namira sambil membuang muka, wajahnya yang putih bersih itu kini merona merah seperti tomat.

"Bisa kita lanjut?" tanya Penghulu sambil tersenyum maklum.

Ayah Namira mengangguk mantap, lalu kembali menjabat tangan Ayyan. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Muhammad Ayyan Hilman bin Kyai... dengan putri kandung saya, Namira Salsabila..."

Ayyan tidak memberikan jeda sedikit pun. Genggaman tangannya menguat, suaranya yang berat dan menggema memenuhi ruangan, memutus keraguan yang sempat tercipta akibat interupsi seblak tadi.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Namira Salsabila binti Bapak dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Bagaimana saksi? Sah?" tanya Penghulu.

"SAH!" seru para saksi dan keluarga besar dengan serempak.

"Alhamdulillah..."

Doa mulai dipanjatkan. Namira yang biasanya tidak bisa diam, mendadak kaku. Ia menunduk dalam, melihat jari-jarinya yang mungil saling bertautan.

Kalimat "Saya terima nikahnya" yang diucapkan Ayyan barusan terdengar sangat berwibawa, jauh lebih merdu daripada suara kulkas dua pintu yang ia bayangkan.

Setelah doa selesai, Bunda menyentuh pundak Namira. "Mira, ayo salim sama suamimu. Sekarang sudah jadi imam kamu."

Namira bergeser dengan canggung. Ia meraih tangan besar Ayyan yang terasa hangat namun sangat kokoh. Saat bibirnya menyentuh punggung tangan Ayyan, ia bisa mencium aroma kayu cendana yang menenangkan dari tubuh pria itu.

"Ehem," Ayyan berdehem, membuat Namira mendongak.

Ayyan meletakkan tangannya di atas kepala Namira, membacakan doa singkat yang sangat khusyuk. Setelah itu, ia menatap istrinya yang mungil itu dengan tatapan yang masih datar namun sedikit lebih lembut.

"Sekarang sudah tidak boleh mengomel sembarangan lagi. Sudah sah," bisik Ayyan tepat di telinga Namira, suaranya sangat rendah hingga membuat bulu kuduk Namira meremang.

Namira yang sudah mulai terbawa suasana baper, seketika tersadar. Jiwa bawelnya kembali bangkit. "Tuh kan! Baru semenit sah, udah mulai ngatur-ngatur. Padahal tadi di masjid situ yang duluan ngatain doa orang aneh!" balas Namira dengan bisikan yang cukup keras.

"Namira!" tegur Bunda lagi, kali ini dengan mata yang memberi kode keras agar Namira diam.

Ayyan hanya menarik sudut bibirnya sedikit—hampir mirip seringai kecil yang misterius. "Tugas saya sekarang bukan cuma aminin doa kamu, tapi bimbing istrinya biar doanya nggak soal seblak terus."

Namira memutar bola matanya, "Ih, galak banget sih ustadz satu ini!"

"Ayo, sudah-sudah. Ini bentar lagi mau Isya, lebih baik kita shalat dulu berjamaah," potong Ayah Namira menengahi perdebatan kecil pengantin baru itu.

Namira langsung terdiam, meski bibirnya masih sedikit manyun. Sementara Ayyan mengangguk takzim. "Nggih, Bah. Mari kita persiapan," jawab Ayyan dengan suara baritonnya yang tenang.

Saat semua orang mulai berdiri menuju mushola di dalam rumah, Namira masih duduk terpaku di tempatnya. Ia menatap punggung lebar Ayyan yang berjalan mendahuluinya. Pria itu terlihat sangat gagah dengan baju koko putih dan sarung yang rapi, langkahnya sangat mantap.

"Mira! Malah bengong, ayo ambil wudhu. Shalat Isya pertama kamu jadi makmum suami, lho!" goda Bunda sambil menarik tangan Namira.

"I-iya Bun, ini juga mau bangun," jawab Namira gugup.

Sesampainya di tempat wudhu, Namira sempat bercermin sebentar. Ia merapikan bulu matanya yang lentik dan mengusap wajahnya yang masih memerah. Duh, kenapa jantung aku malah makin kencang sih? Padahal tadi pas akad pengennya ngajak ribut terus, batinnya.

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!