NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: TOPENG YANG RETAK

Suara denting gelas kristal dan musik orkestra dari pesta tadi masih terngiang-ngingang di telinga Arunika. Hari ini, dia resmi menyandang status sebagai Nyonya Valerius. Gelar yang mungkin bikin ribuan wanita di luar sana iri setengah mati. Tapi sekarang, berdiri di tengah kamar pengantin yang penuh dengan mawar putih, Arunika justru merasa mual. Semua kemewahan ini terasa seperti sedang mengejeknya.

Arunika menatap dirinya sendiri di cermin besar berbingkai emas. Gaun pengantin ballgown seharga miliaran rupiah itu terasa sangat berat. Rasanya seolah kain mahal itu sengaja dirancang untuk menenggelamkannya. Di balik riasan wajah yang terlihat sempurna, matanya yang sembap tidak bisa berbohong.

Cuma ada satu alasan kenapa dia berdiri di sini: utang.

Ayahnya terseret skandal korupsi di Valerius Group. Lalu Adrian Valerius—sang Direktur Utama—datang. Dia tidak datang untuk menolong, melainkan memberikan penawaran yang tidak bisa ditolak. "Menikahlah denganku, dan semua bukti itu akan hilang selamanya."

Suara pintu kamar terbuka membuat bahu Arunika menegang. Dari pantulan cermin, dia melihat Adrian masuk. Pria itu sudah melepas jasnya, hanya menyisakan kemeja putih yang pas di badannya yang tegap. Dia melonggarkan dasi dengan gerakan santai, tapi matanya tetap mengunci Arunika.

"Kenapa masih berdiri di sana, Istriku?" tanya Adrian. Suaranya rendah dan tenang, tapi cukup untuk membuat detak jantung Arunika berhenti sejenak.

Arunika berbalik pelan sambil meremas kain gaunnya. "Aku... aku sedang mencoba membuka kancing belakang. Agak sulit."

Adrian berjalan mendekat. Setiap langkah sepatunya di lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur yang mencekam. Dia berhenti tepat di belakang Arunika. Bau parfum woody yang tajam dan dingin langsung menyergap indra penciuman Arunika.

"Biar aku bantu," bisik Adrian tepat di telinganya.

Tangan Adrian yang dingin menyentuh kulit punggung Arunika. Sentuhan itu tidak terasa seperti sentuhan suami pada umumnya; rasanya lebih seperti seorang predator yang sedang memeriksa mangsanya. Satu per satu, Adrian membuka kancing gaun itu dengan sangat teliti.

"Kamu cantik sekali hari ini, Arunika. Semua orang menatapmu dengan iri. Mereka pikir kamu wanita paling beruntung di dunia," kata Adrian datar, tanpa emosi sama sekali.

"Aku... aku berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan Ayah," bisik Arunika lirih.

Gerakan Adrian terhenti. Dia memutar tubuh Arunika agar mereka saling berhadapan. Dengan satu tangan, dia mengangkat dagu Arunika, memaksa wanita itu menatap matanya yang gelap.

"Jangan salah paham, Sayang," Adrian tersenyum tipis, senyuman yang terlihat begitu manis oleh mata. "Aku nggak melakukan ini karena kasihan. Aku melakukannya karena aku menginginkan sesuatu yang bisa kukendalikan sepenuhnya. Dan ayahmu memberikanmu sebagai jaminan."

Air mata yang sejak tadi ditahan Arunika akhirnya jatuh juga. "Jaminan? Jadi kamu menganggap aku sebagai barang?"

Adrian mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. Gerakannya lembut, tapi tekanannya terasa kuat. "Barang itu kata yang kasar. Aku lebih suka menyebutmu sebagai... koleksi pribadiku yang paling berharga. Dan aku sangat posesif soal itu."

Tiba-tiba, sosok "malaikat" yang Adrian tunjukkan selama masa pertunangan hilang begitu saja. Tatapannya berubah tajam dan mengintimidasi. Dia menarik Arunika lebih dekat sampai napas mereka beradu.

"Di luar sana, aku adalah Adrian Valerius yang dermawan. Tapi di dalam rumah ini, aku adalah tuanmu. Kamu tidak boleh pergi tanpa izin, tidak boleh bicara dengan pria lain tanpa persetujuanku, dan jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku. Paham?"

Arunika ternganga tidak percaya. "Kamu... kamu nggak bisa mengatur hidupku seperti itu!"

BRAK!

Adrian tidak memukul wajahnya, tapi dia menghantam dinding di samping kepala Arunika dengan tangan kosong. Suaranya menggelegar di kamar yang sunyi itu. Arunika terlonjak kaget dan langsung memejamkan mata rapat-rapat.

"Aku bisa, Arunika. Karena aku yang memilikimu sekarang," bisik Adrian tepat di depan bibir Arunika yang bergetar. "Jangan pernah coba-coba melawanku. Kamu tidak akan suka melihat apa yang bisa kulakukan pada ayahmu kalau kamu tidak patuh."

Adrian melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju sofa. Dia duduk dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa, lalu mengambil tablet dan mulai memeriksa laporan perusahaan.

"Sekarang, bersihkan dirimu. Bau parfum pesta ini membuatku pusing. Dan jangan menangis lagi di depanku. Aku tidak suka melihat air mata yang tidak ada gunanya."

Arunika berdiri kaku. Dia menatap pria yang kini jadi suaminya itu dengan rasa ngeri yang mendalam. Dia sadar, pernikahan ini bukan awal kebahagiaan, tapi awal dari penjara yang akan mengurung jiwanya.

Arunika berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Di bawah kucuran air shower, dia menangis sejadi-jadinya. Dia membekap mulutnya sendiri agar suaranya tidak terdengar keluar. Dia merasa kotor, merasa terjual, dan hancur.

Malam pertama yang seharusnya romantis, justru berubah jadi mimpi buruk. Di balik pintu kamar mandi, dia tahu Adrian sedang menunggunya—bukan sebagai suami, melainkan sebagai seseorang yang sedang menunggu mainan barunya siap.

Arunika menatap pantulan dirinya yang kacau di cermin. Mulai hari ini, hidupku bukan lagi milikku, batinnya pahit.

Sementara itu, di luar, Adrian menyesap wiskinya sambil menatap layar CCTV di tabletnya. Layar itu menunjukkan setiap sudut kamar, termasuk ruang ganti. Senyum tipis kembali muncul di bibirnya.

"Selamat datang di duniamu yang baru, Arunika. Kamu tidak akan pernah bisa lari," gumamnya pelan, lalu menghabiskan minumannya.

Malam itu, lilin-lilin aromaterapi di kamar terus terbakar, mengeluarkan wangi manis yang berusaha menutupi rasa putus asa yang mulai memenuhi setiap sudut ruangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!