Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SpongeBob dan Tragedi Bubur Ayam
Minggu pagi di kediaman keluarga Adiwangsa di Menteng biasanya diawali dengan ketenangan, sarapan bergaya English Breakfast, dan obrolan tentang saham. Tapi pagi ini, suasana rumah itu lebih mirip posko pengungsian bencana alam.
Gorden-gorden tebal tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari masuk. Telepon rumah sudah dicabut kabelnya karena berdering non-stop sejak subuh.
Di ruang tengah, Tuan Adiwangsa duduk merosot di sofa kulit mahalnya. Dia mengenakan piyama sutra, wajahnya kusut masai, matanya bengkak. Di tangannya ada tablet yang menampilkan Trending Topic Twitter (X) Indonesia.
#1. DirekturSpongeBob
#2. NVTSquarePants
#3. CelanaMelorot
#4. BikiniBottomCorp
"Sialan!" umpat Tuan Adiwangsa lemah, melempar tablet itu ke bantal sofa. "Siapa... siapa yang bikin meme ini?!"
Di layar tablet yang tergeletak, terlihat meme viral: Wajah Tuan Adiwangsa diedit ditempel ke badan Patrick Star yang sedang kaget, dengan caption: "Ketika lo sadar lupa pake iket pinggang Hermes tapi inget pake boxer SpongeBob."
Di sudut lain, Nyonya Linda sedang menangis histeris sambil memeluk tas-tas branded-nya seolah itu adalah anak-anaknya yang mau diambil penculik.
"Habis... habis sudah reputasi Mama!" ratap Nyonya Linda, air matanya melunturkan masker wajah charcoal yang dia pakai, membuatnya terlihat seperti zombie belepotan lumpur. "Grup arisan Mama bubar! Tante Sinta kick Mama dari grup WhatsApp! Katanya dia malu temenan sama istri 'Pecinta Kartun Laut'! Padahal Mama udah bilang itu seni pop art!"
"Pop art gundulmu!" semprot Tuan Adiwangsa emosi. "Kamu yang beliin boxer sialan itu kan?! Katanya lucu?! Lucu apanya?! Itu pembunuh karir Papa!"
"Ya mana Mama tau bakal dipake pas pesta resmi?!" balas Nyonya Linda tak mau kalah. "Lagian Papa ngapain pidato sambil busungin perut buncit gitu? Sabuknya jadi nggak kuat nahan beban dosa Papa!"
"Diam kamu!"
Sementara orang tua mereka saling serang, Rana dan Rani duduk di karpet bulu dengan wajah tak kalah hancur. Mereka memakai kacamata hitam di dalam rumah (entah buat apa, mungkin buat gaya atau nutupin mata bengkak).
Rani sedang scrolling TikTok dengan tangan gemetar.
"Kak... liat nih," bisik Rani horor, menyodorkan HP-nya ke Rana.
Di layar, ada video Re-create kejadian semalam yang dibuat oleh selebgram terkenal. Si selebgram pake wig pirang ala Rana, pura-pura kejepit tas, lalu jatuh ngangkang. Sound-nya pake lagu remix dangdut "Sakitnya Tuh Di Sini". Video itu udah ditonton 5 juta kali.
"AAAARRGHHH!" Rana menjerit frustrasi, menjambak rambutnya sendiri. "Gue jadi badut nasional! Followers gue turun drastis! Malah haters yang nambah!"
Rana berdiri, mondar-mandir kayak setrikaan panas. "Ini semua gara-gara Sifa! Pasti dia yang santet sabuk Papa! Nggak mungkin sabuk kulit asli bisa putus sendiri!"
"Santet?" Tuan Adiwangsa mendengus. "Jangan bego. Ini zaman teknologi. Tapi... emang aneh. Rasanya kayak ada getaran sebelum copot."
Tiba-tiba, pintu depan diketuk keras. DOK! DOK! DOK!
Semua orang di ruangan itu melonjak kaget, saling berpelukan ketakutan.
"Si-siapa itu?" tanya Nyonya Linda gemetar. "Wartawan? Polisi? Atau... Sifa mau nagih nyawa?"
"Cek CCTV!" perintah Tuan Adiwangsa pada Rani.
Rani membuka aplikasi CCTV di HP-nya. Di layar terlihat seorang kurir ojek online membawa bungkusan styrofoam.
"Cuma ojol, Pa. Bawa makanan," lapor Rani lega.
"Siapa yang pesen makanan?" tanya Tuan Adiwangsa.
"Aku, Pa," jawab Rana pelan. "Laper. Dari semalem belum makan gara-gara pingsan."
"Ya udah, ambil sana! Jangan sampe wartawan liat muka kamu!"
Rana mengendap-endap keluar, membuka pintu sedikit, mengambil bungkusan itu cepat-cepat lalu membanting pintu lagi.
Dia kembali ke ruang tengah, membuka bungkusan styrofoam itu. Isinya bubur ayam.
"Bubur ayam?" cibir Rani. "Kita lagi krisis gini lo makan bubur pinggir jalan? Downgrade banget."
"Diem lo! Gue lagi pengen yang anget-anget buat nenangin jiwa!" Rana mulai mengaduk bubur itu.
Tapi, saat dia mengaduk, sendok plastiknya membentur sesuatu yang keras di dalam bubur.
Tuk.
Rana mengernyit. "Apaan nih? Tulang ayam?"
Dia mengorek benda itu keluar. Bukan tulang. Itu adalah sebuah kartu plastik kecil yang terbungkus plastik klip bening biar nggak kotor kena bubur.
Rana mengambilnya, membersihkan sisa bubur dengan tisu. Matanya membelalak saat melihat apa itu.
Itu kartu akses karyawan NVT miliknya. Dan di bawahnya ada satu kartu lagi: milik Rani.
Tapi kartu itu sudah digunting jadi dua.
Dan ada secarik kertas bon kecil yang bertuliskan pesan singkat dengan tinta merah:
"SURAT PHK DIKIRIM VIA EMAIL. JANGAN DATANG KE KANTOR LAGI KECUALI MAU DIPERMALUKAN SATPAM. - ADI PRATAMA"
"PAPAAAAA!" Rana menjerit histeris, melempar bubur ayam itu ke udara. Bubur panas muncrat ke mana-mana, mengenai wajah Nyonya Linda yang baru saja mau tenang.
"PANAS! PANAS! MUKA MAMA!" jerit Nyonya Linda, mengelap bubur di pipinya. Masker charcoal-nya kini bercampur bubur dan cakwe.
"Kita dipecat, Pa! Dipecat!" Rana menangis meraung-raung, memungut potongan kartu aksesnya yang berlumuran kuah kuning. "Karir Rana! Masa depan Rana! Rana nggak mau jadi pengangguran!"
Rani ikutan nangis. "Rani juga dipecat? Terus Rani bayar cicilan iPhone gimana? Paaa, tolongin kita!"
Tuan Adiwangsa memijat dadanya yang sesak. "Adi... anak ingusan itu beneran nekat. Dia berani pecat anak komisaris?"
"Papa harus lawan! Pecat balik Adi!" hasut Rana.
"Nggak bisa, bego!" bentak Tuan Adiwangsa. "Dia pegang bukti korupsi Papa! Flashdisk itu ketinggalan di meja semalem! Kalau Papa macem-macem, Papa yang masuk penjara!"
Keheningan melanda ruangan itu. Keheningan yang menyedihkan. Mereka sadar, mereka sudah kalah telak. Skakmat. Raja, Ratu, dan dua Pion busuk ini sudah tidak punya langkah lagi.
Tiba-tiba, HP Tuan Adiwangsa yang tergeletak di meja bergetar. Satu pesan masuk. Dari nomor tidak dikenal.
Tuan Adiwangsa membukanya dengan ragu.
Isinya sebuah video pendek.
Video itu menampilkan rekaman CCTV ballroom semalam, tepat saat celananya melorot. Tapi video ini sudah diedit. Ada tambahan musik lagu tema SpongeBob SquarePants yang ceria, dan ada efek suara BOING! pas celananya jatuh.
Dan di akhir video, muncul teks hitam dengan latar kuning:
"GAME OVER. NEXT TIME, PAKE IKET PINGGANG KARET AJA YA, OM. - YOUR FRIENDLY NEIGHBORHOOD AI."
Tuan Adiwangsa menatap layar HP dengan mulut menganga. AI? Apa maksudnya?
"Setan..." desisnya ngeri. "Kita bukan ngelawan manusia. Kita ngelawan setan digital."
"Pa, kenapa?" tanya Nyonya Linda sambil membersihkan sisa kacang kedelai dari alisnya.
Tuan Adiwangsa melempar HP-nya ke lantai sampai pecah.
"KITA PINDAH!" teriaknya putus asa. "Kita pindah ke Bali hari ini juga! Papa nggak kuat di Jakarta! Papa mau sembunyi di villa Ubud! Di sana nggak ada sinyal! Nggak ada internet! Nggak ada Sifa! Nggak ada SpongeBob!"
"Tapi Pa, arisan Mama..."
"PERSETAN SAMA ARISAN KAMU!" Tuan Adiwangsa berdiri, celana piyamanya sedikit kendor, membuatnya trauma dan refleks memeganginya erat-erat. "Packing sekarang! Bawa baju seperlunya! Sisanya tinggalin! Kita kabur!"
Keluarga Adiwangsa pun panik. Mereka berlarian ke kamar masing-masing, melempar baju ke dalam koper dengan asal-asalan. Rana menangis sambil memasukkan koleksi tas KW-nya. Rani menangis sambil memasukkan skincare. Nyonya Linda menangis sambil memasukkan perhiasan.
Satu jam kemudian, mobil Alphard hitam meluncur keluar dari gerbang rumah mewah di Menteng. Di kaca belakang mobil, terlihat wajah-wajah sembap yang ketakutan, seolah dikejar hantu.
Padahal tidak ada yang mengejar. Hanya ada rasa malu mereka sendiri yang menghantui.
Di trotoar depan rumah mereka, seorang tukang sapu jalanan yang sedang istirahat melihat mobil itu pergi. Dia menggeleng-gelengkan kepala.
"Orang kaya aneh," gumamnya. "Pagi-pagi udah main drama. Mending gue, makan bubur ayam tenang."
Tukang sapu itu membuka bungkusan bubur ayam yang dia temukan tergeletak di depan pagar (bekas Rana tadi yang belum sempat dimakan habis).
"Rezeki anak soleh," katanya sambil menyuap bubur gratis itu.
Sementara itu, jauh di atas sana, satelit komunikasi mengirimkan sinyal data. Chrono, yang sedang standby di tangan Sifa yang sedang naik busway, mendeteksi pergerakan GPS mobil Adiwangsa yang menjauh ke arah bandara.
"Target eliminated. Musuh melarikan diri dari medan perang," lapor Chrono pada Sifa.
Sifa tersenyum kecil di dalam busway yang padat. "Mereka pergi, Chrono?"
"Iya. Ke Bali. Kabur dari kenyataan. Dasar pengecut."
"Biarkan saja," kata Sifa damai. "Semoga mereka belajar sesuatu di sana. Bahwa hidup nggak melulu soal pamer dan injek orang lain."
"Lo terlalu baik, Fa. Kalau gue jadi lo, gue bakal retas sistem pesawat biar muter lagu SpongeBob selama penerbangan."
Sifa tertawa renyah, membuat penumpang di sebelahnya menoleh bingung.
Keluarga Adiwangsa mungkin kalah dan pergi. Tapi cerita mereka menjadi legenda komedi yang akan diceritakan turun-temurun di kantor NVT. Tentang kesombongan yang runtuh oleh kekuatan celana dalam kartun.
semangat kakak