NovelToon NovelToon
Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.

Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.

Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Sate dan Pengakuan di Bawah Lampu Jalan

Nara berdiri di depan cermin unitnya, memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Dia sudah ganti baju sampai tiga kali. Daster buah naga? Jelas dicoret. Kaos kebesaran? Terlalu biasa. Akhirnya, dia memilih turtleneck tipis warna krem dengan rok plisket cokelat tua. Simpel, tapi manis.

"Cuma makan sate, Nara. Jangan dandan kayak mau ke kondangan," omelnya pada diri sendiri sambil menepuk-nepuk bedak tipis di pipinya.

Tepat sepuluh menit, suara ketukan di pintu terdengar. Nara menarik napas panjang, menyemprotkan sedikit parfum aroma vanila, lalu membuka pintu. Di sana, Rian sudah menunggu. Pria itu sudah ganti baju lagi—kali ini memakai jaket bomber warna hitam di atas kaos putihnya.

"Tepat waktu," komentar Rian sambil melirik jam tangannya. "Ayo, sebelum tempatnya terlalu ramai."

Mereka berjalan menuju area parkir. Nara mengira mereka akan naik ojek online atau mobil, tapi Rian malah berhenti di depan sebuah motor besar berwarna hitam doff yang terlihat sangat gagah dan bersih—sama bersihnya dengan pemiliknya.

"Naik motor, Mas?" Nara agak kaget. Dia pikir tipe seperti Rian hanya mau naik mobil dengan AC yang suhunya diatur presisi.

Rian memberikan helm cadangan pada Nara. "Di Jakarta, kalau mau makan sate enak tanpa terjebak macet dua jam, motor itu solusi paling logis. Kenapa? Takut rambutmu berantakan?"

Nara menyambar helm itu dengan semangat. "Siapa takut! Saya malah lebih suka naik motor, lebih kerasa anginnya."

Nara naik ke jok belakang. Karena jok motor sport itu cukup tinggi dan nungging, mau tidak mau Nara harus duduk sangat dekat dengan punggung Rian.

"Pegangan," kata Rian singkat.

"Hah? Pegangan ke mana?"

Tanpa bicara, Rian menarik tangan Nara dan melingkarkannya di pinggangnya sendiri. "Ke sini. Saya nggak mau ada laporan tetangga jatuh dari motor di tengah jalan."

Nara merasa wajahnya memanas seketika. Telapak tangannya bisa merasakan kerasnya otot perut Rian di balik jaket bomber itu. Rian menyalakan mesin, suaranya menderu rendah, lalu motor itu meluncur membelah jalanan Jakarta yang mulai dihiasi lampu-lampu kota.

Tempat sate yang dimaksud Rian ternyata adalah sebuah warung tenda legendaris di pinggir jalan yang meskipun ramai, suasananya tetap terasa "intim" karena letaknya di bawah pohon besar yang rindang.

"Sate kambing dua porsi, Pak. Yang satu jangan pakai lemak, nasinya setengah," pesan Rian dengan sangat spesifik. "Kamu mau apa, Nara?"

"Sama deh, tapi saya pakai lemak nggak apa-apa! Lemak itu sumber kebahagiaan," jawab Nara antusias.

Mereka duduk di bangku plastik panjang. Di depan mereka, asap bakaran sate mengepul, membawa aroma daging yang sangat menggoda.

"Mas Rian sering ke sini?" tanya Nara sambil membuka tutup botol teh kemasannya.

"Dulu, waktu saya masih sering lembur di kantor lama daerah sini. Ini satu-satunya tempat yang tetap buka sampai subuh dan rasanya tetap konsisten," cerita Rian. Matanya menatap ke arah panggangan sate, ada binar yang lebih santai di sana.

"Mas, saya mau nanya deh," Nara menopang dagunya dengan tangan. "Kenapa Mas kaku banget sih? Maksudnya... hidup Mas itu kayak udah di-setting sama komputer. Jam sekian harus ini, jam sekian harus itu. Apa nggak capek?"

Rian terdiam sebentar. Dia mengambil selembar tisu dan membersihkan meja di depan Nara yang sebenarnya sudah bersih. "Orang-orang punya cara masing-masing buat bertahan hidup, Nara. Bagi saya, keteraturan itu adalah pelindung. Kalau semuanya terencana, risiko kecewa itu makin kecil."

"Tapi kecewa itu kan bagian dari hidup. Kalau nggak pernah kecewa, Mas nggak bakal tahu rasanya bahagia pas sesuatu di luar rencana ternyata berakhir bagus," balas Nara dengan nada yang lebih serius dari biasanya.

Sate pesanan mereka datang. Rian memberikan porsi yang tidak pakai lemak ke arah Nara.

"Lho, ini kan punya Mas? Punya saya yang ada lemaknya," protes Nara.

"Makan saja yang itu. Kamu habis sakit perut semalam karena makan gosong, jangan ditambah lemak kambing dulu. Nanti saya yang repot kalau kamu pingsan lagi," ucap Rian tanpa menatap mata Nara, sibuk mengaduk kecap di piringnya.

Nara tersenyum kecil. Tuh kan, robot ini sebenarnya punya hati yang lembut banget, batinnya.

Sambil makan, Nara bercerita banyak hal. Tentang mimpinya jadi desainer ternama, tentang bagaimana dia sering bertengkar dengan ibunya soal jodoh, sampai hal-hal konyol seperti ketakutannya pada kecoak terbang. Rian lebih banyak mendengarkan, sesekali dia memberikan komentar pedas yang lucu, tapi dia tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Nara.

"Mas Rian... makasih ya buat malam ini," kata Nara saat mereka sudah selesai makan dan sedang menikmati angin malam.

"Untuk apa? Ini kan cuma sate."

"Bukan cuma sate. Makasih karena udah mau keluar dari 'zona aman' Mas dan makan di pinggir jalan sama saya. Saya tahu Mas sebenarnya risih sama asap dan debu di sini."

Rian menatap ke arah jalanan yang ramai. "Mungkin... asapnya nggak terlalu buruk kalau temen ngobrolnya nggak berhenti bicara."

Nara tertawa renyah. "Itu pujian atau ejekan?"

"Anggap saja dua-duanya."

Mereka kembali ke motor. Saat perjalanan pulang, suhu udara Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Nara tanpa sadar merapatkan pegangannya di pinggang Rian, menyandarkan helmnya di bahu pria itu. Rian merasakannya, tapi dia tidak menjauh. Sebaliknya, dia sedikit melambatkan laju motornya, seolah ingin memperlama waktu di jalanan.

Sampai di depan pintu unit 401 dan 402, suasana kembali hening.

"Mas, makasih mienya semalam, makasih sarapannya, makasih satenya hari ini," Nara tersenyum lebar sambil memegang kunci unitnya.

"Nara," panggil Rian saat Nara baru saja mau masuk.

"Ya?"

Rian merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk buah naga yang lucu. "Tadi saya liat ini di meja kasir tempat sate. Anggap saja ini tambahan untuk 'Kontrak Damai'. Supaya kuncimu nggak gampang hilang lagi karena kecerobohanmu."

Nara menerima gantungan kunci itu dengan mata berbinar. "Wah! Lucu banget! Makasih, Mas Robot!"

"Sama-sama. Tidur sana. Besok jangan telat bangun, kita harus rapihin buku-buku di rak baru," ucap Rian sambil masuk ke unitnya sendiri.

Nara masuk ke kamarnya dengan perasaan yang meluap-luap. Dia merebahkan diri di kasur, memandangi gantungan kunci buah naga itu di bawah lampu kamar. Jantungnya masih berdegup dengan irama yang sama seperti saat di atas motor tadi.

"Duh, gawat... kayaknya klausul 'Dilarang Jatuh Cinta' itu beneran bakal susah banget buat ditepati," bisik Nara pada kegelapan kamar.

Sementara itu di sebelah, Rian duduk di sofa cokelatnya yang baru divakum. Dia melihat ke arah meja kerja, ke arah sketsa anak kecil di dalam kotak kayu yang kini sudah tersimpan rapi di rak baru. Dia sadar, dunianya yang selama ini hanya berisi angka-angka dan logika, mulai dipenuhi oleh warna-warna cerah dari seorang gadis bernama Nara.

Dan untuk pertama kalinya, Rian tidak merasa terancam oleh kekacauan itu.

1
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!