Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-Hari yang Berbeda
Setelah percakapan singkat di kelas, Sekar Arum dan Sinta kembali menjalani hari-hari mereka. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Suasana tidak lagi sama seperti dulu.
Di kelas, mereka tetap duduk bersebelahan, tapi tidak lagi seakrab dulu. Tidak ada lagi bisik-bisik saat guru sedang menjelaskan pelajaran. Tidak ada lagi tawa riang yang seringkali membuat mereka ditegur oleh guru. Sinta lebih banyak diam, fokus pada pelajaran, dan jarang mengajak Sekar Arum berbicara.
Saat jam istirahat, mereka tetap bersama Rini. Tapi, Sinta lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-teman yang lain. Ia sesekali mengajak Sekar Arum berbicara, tapi obrolannya hanya seputar hal-hal yang ringan dan tidak personal.
Sekar Arum menyadari perubahan sikap Sinta. Ia tahu, Sinta masih merasa tidak nyaman dengannya. Ia tahu, Sinta masih menyimpan rasa suka pada Abimanyu, dan ia merasa bersalah karena telah membuat Sinta terluka.
Namun, Sekar Arum memilih untuk tidak membahasnya. Ia tidak ingin memperkeruh suasana. Ia tidak ingin membuat Sinta merasa lebih bersalah. Ia hanya berusaha untuk bersikap seperti biasa, seolah tidak ada yang terjadi.
Ia tetap mengajak Sinta berbicara, tetap menemaninya saat istirahat, dan tetap mendengarkan curhatannya. Ia berharap, dengan bersikap seperti biasa, Sinta akan merasa lebih baik dan persahabatan mereka akan kembali seperti dulu.
Di luar sekolah, Sekar Arum dan Sinta tidak lagi sering menghabiskan waktu bersama. Sinta lebih sering pergi dengan teman-teman yang lain. Ia sesekali mengajak Sekar Arum untuk ikut, tapi Sekar Arum selalu menolak dengan alasan sibuk.
Sekar Arum tahu, Sinta sengaja menjauhinya. Ia tidak ingin membuat Sekar Arum merasa tidak nyaman. Ia ingin memberikan waktu bagi Sekar Arum untuk melupakan Abimanyu.
Sekar Arum mengerti. Ia tidak marah pada Sinta. Ia hanya merasa sedih karena persahabatan mereka tidak lagi sama.
Suatu sore, saat sedang duduk sendirian di kamarnya, Sekar Arum memandangi foto-foto mereka berdua. Ada foto saat mereka masih kecil, saat mereka baru masuk SMP, saat mereka merayakan ulang tahun bersama, dan saat mereka pergi liburan bersama.
Air mata mulai membasahi pipi Sekar Arum. Ia merindukan masa-masa saat mereka masih akrab dan tidak ada masalah apapun. Ia berharap, suatu hari nanti, persahabatan mereka akan kembali seperti dulu.
Namun, untuk saat ini, ia hanya bisa menerima keadaan. Ia hanya bisa bersabar dan berharap yang terbaik. Ia akan terus berusaha untuk menjadi sahabat yang baik bagi Sinta, meskipun Sinta menjauhinya. Ia percaya, persahabatan sejati akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.
Malam itu, saat sedang berbaring di tempat tidurnya, Sekar Arum memikirkan Abimanyu. Ia merindukannya. Ia merindukan senyumnya, tawanya, dan semua hal yang ada pada dirinya.
Namun, Sekar Arum tahu, ia tidak bisa bersama Abimanyu. Ia harus mengorbankan perasaannya demi persahabatannya dengan Sinta.
Ia harus mengorbankan perasaannya demi persahabatannya dengan Sinta. Ia harus menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa memiliki semua yang ia inginkan.
Sekar Arum memejamkan matanya, mencoba untuk melupakan Abimanyu. Ia membayangkan hal-hal yang indah, seperti pemandangan sawah di Eromoko saat matahari terbit, suara burung berkicau di pagi hari, dan senyum ibunya yang penuh kasih sayang.
Ia berharap, dengan membayangkan hal-hal yang indah, ia bisa melupakan kesedihannya dan kembali bersemangat untuk menjalani hari esok.
Keesokan harinya, saat tiba di sekolah, Sekar Arum melihat Sinta sedang berdiri di depan kelas bersama teman-teman yang lain. Sekar Arum menghampiri mereka dan mencoba untuk ikut bergabung dalam obrolan mereka.
Sinta menyambut Sekar Arum dengan senyuman tipis, tapi ia tidak terlalu banyak berbicara padanya. Ia lebih banyak berbicara dengan teman-teman yang lain.
Sekar Arum tidak mempermasalahkannya. Ia tahu, Sinta masih butuh waktu untuk menerima keadaan. Ia akan terus bersabar dan menunggu sampai Sinta siap untuk kembali menjadi sahabatnya.
Saat jam istirahat, Sekar Arum mengajak Sinta untuk pergi ke kantin.
"Mau ikut ke kantin?" tanya Sekar Arum dengan nada ramah.
Sinta terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Boleh deh," jawabnya singkat.
Mereka berdua berjalan menuju kantin dalam diam. Tidak ada percakapan yang berarti di antara mereka. Suasana terasa canggung dan tidak nyaman.
Sesampainya di kantin, mereka memesan makanan dan mencari tempat duduk yang kosong. Saat sedang makan, Sekar Arum mencoba untuk membuka percakapan.
"Gimana pelajaran tadi?" tanya Sekar Arum.
"Biasa aja," jawab Sinta singkat.
"Ada tugas nggak?" tanya Sekar Arum lagi.
"Ada," jawab Sinta.
Sekar Arum menghela napas dalam-dalam. Ia merasa percakapannya dengan Sinta sangat sulit. Sinta seperti sengaja menghindarinya.
"Yaudah, kalau gitu aku duluan ya," kata Sekar Arum. "Aku mau ke perpus."
Sinta mengangguk tanpa menatap Sekar Arum. "Oke," jawabnya.
Sekar Arum bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Sinta sendirian di kantin. Ia merasa sedih dan kecewa. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar Sinta bisa kembali menjadi sahabatnya.
Di perpustakaan, Sekar Arum mencoba untuk membaca buku. Tapi, pikirannya terus melayang pada Sinta. Ia tidak bisa fokus pada bacaannya.
Ia memejamkan matanya dan membayangkan wajah Sinta. Ia merindukan tawanya, candaannya, dan semua hal yang ada pada dirinya. Ia berharap, suatu hari nanti, mereka akan bisa kembali menjadi sahabat seperti dulu.
Namun, untuk saat ini, ia hanya bisa bersabar dan menunggu. Ia akan terus berusaha untuk menjadi sahabat yang baik bagi Sinta, meskipun Sinta menjauhinya. Ia percaya, persahabatan sejati akan selalu menemukan jalannya untuk kembali, meski butuh waktu yang lama. Dan sementara itu, ia akan belajar untuk menerima kenyataan dan menjalani hari-harinya dengan tegar, meski ada sedikit rasa sakit yang
Dan sementara itu, ia akan belajar untuk menerima kenyataan dan menjalani hari-harinya dengan tegar, meski ada sedikit rasa sakit yang mengganjal di hatinya. Ia akan belajar untuk mandiri dan menemukan kebahagiaan dalam hal-hal lain selain persahabatannya dengan Sinta.
Waktu terus berjalan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Sekar Arum semakin terbiasa dengan perubahan sikap Sinta. Ia tidak lagi terlalu berharap agar Sinta kembali menjadi sahabatnya seperti dulu. Ia hanya berusaha untuk tetap bersikap baik pada Sinta, meskipun Sinta tidak membalasnya dengan hangat.
Sekar Arum mulai fokus pada dirinya sendiri. Ia semakin rajin belajar, mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, dan mengembangkan bakatnya dalam menulis puisi. Ia menemukan kebahagiaan dalam hal-hal tersebut. Ia merasa lebih percaya diri dan lebih bersemangat untuk meraih mimpinya.
Ia juga mulai menjalin pertemanan dengan orang-orang baru. Ia bertemu dengan teman-teman yang memiliki minat yang sama dengannya, seperti membaca buku, menulis puisi, dan menonton film. Ia merasa senang bisa berbagi pengalaman dan cerita dengan mereka.
Namun, meski ia sudah memiliki teman-teman baru, ia tidak pernah melupakan Sinta. Ia selalu mengingat masa-masa indah yang pernah mereka lalui bersama. Ia selalu berharap agar suatu hari nanti, mereka bisa kembali menjadi sahabat seperti dulu.
Suatu hari, saat sedang berjalan di koridor sekolah, Sekar Arum tidak sengaja berpapasan dengan Sinta. Sinta sedang berjalan bersama teman-teman yang lain.
Sekar Arum tersenyum pada Sinta, tapi Sinta hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Ia tidak berhenti dan tidak mengajak Sekar Arum berbicara.
Sekar Arum merasa sedikit kecewa, tapi ia tidak mempermasalahkannya. Ia sudah terbiasa dengan sikap Sinta yang seperti itu.
Ia melanjutkan perjalanannya menuju kelas. Saat sedang berjalan, ia melihat sebuah kertas pengumuman yang tertempel di dinding. Ia berhenti dan membaca pengumuman tersebut.
Pengumuman itu berisi tentang lomba menulis puisi tingkat kabupaten. Sekar Arum tertarik untuk mengikuti lomba tersebut. Ia memang suka menulis puisi, dan ia ingin menguji kemampuannya.
Ia memutuskan untuk mendaftar lomba tersebut. Ia berharap, dengan mengikuti lomba ini, ia bisa mengembangkan bakatnya dan meraih prestasi yang membanggakan.
Setelah mendaftar lomba, Sekar Arum mulai fokus untuk mempersiapkan diri. Ia membaca buku-buku tentang puisi, mencari inspirasi dari berbagai sumber, dan berlatih menulis puisi setiap hari. Ia ingin memberikan yang terbaik dalam lomba ini.
Ia juga meminta bantuan dari guru bahasa Indonesianya untuk memberikan masukan dan saran. Guru bahasa Indonesianya sangat senang dengan semangat Sekar Arum dan bersedia membantunya.
Dengan dukungan dari guru dan teman-temannya, Sekar Arum semakin bersemangat untuk mempersiapkan diri. Ia yakin, ia bisa meraih prestasi dalam lomba menulis puisi ini.
Waktu perlombaan semakin dekat. Sekar Arum semakin gugup dan tegang. Ia takut tidak bisa memberikan yang terbaik.
Namun, ia berusaha untuk tetap tenang dan fokus. Ia mengingat semua yang telah ia pelajari dan persiapkan. Ia percaya, jika ia berusaha semaksimal mungkin, ia akan mendapatkan hasil yang terbaik pula. Ia juga ingat pesan ibunya untuk selalu percaya pada diri sendiri dan tidak mudah menyerah.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*