NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:104
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 - Pensi

Seorang wanita paruh baya berjalan memasuki kamar putrinya dengan membawa setumpuk pakaian di tangan. Melihat ke sekeliling, Atika tidak menemukan sesuatu yang aneh. Justru kamar Giselle terlihat sangat rapi. Anak gadisnya itu memang terbilang cukup rajin kalau menyangkut tentang kebersihan. Tidak seperti remaja kebanyakan yang sangat sulit ketika disuruh untuk merapikan kamarnya sendiri.

Wanita itu meletakkan pakaian yang sudah dilipat rapi di atas ranjang. Membuka lemari, Atika menata satu persatu pakaian Giselle sesuai tempatnya. Kebetulan sekali hari ini wanita itu libur dari pekerjaannya, karena itu ia bisa mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Biasanya, ia selalu membiasakan putrinya untuk bersikap mandiri, seperti mencuci pakaiannya sendiri.

Ketika hendak menutup kembali pintu lemari, pandangan Atika tertuju pada sebuah kertas yang menyembul dari bawah salah satu pakaian. Karena penasaran, wanita itu menarik kertas itu hingga menampilkan deretan tulisan tangan Giselle.

Mata Atika seketika menajam ketika menyadari kertas apa yang ia temukan. Kertas ulangan Giselle. Memastikan sesuatu, Atika meneliti kembali isi lemari putrinya.

"Apa-apaan ini?" geram Atika ketika menemukan berlembar-lembar kertas ulangan dengan nilai di bawah rata-rata. Wajah wanita paruh baya itu memerah menahan amarah. Kecewa pada putrinya.

Brakk

Atika menutup pintu lemari dengan kasar. Tangannya mengepal, berusaha untuk tidak meluapkan emosinya. Tidak sekarang, tapi nanti. Ia akan menunggu putrinya kembali dari sekolah.

Lihat saja nanti.

...***...

Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh murid di SMA Trisakti akhirnya tiba. Halaman sekolah yang biasanya lenggang, kini ramai oleh murid-murid yang sedang hilir mudik kesana-kemari. Terlihat beberapa anggota OSIS sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara pentas seni yang akan dimulai beberapa menit lagi.

Sepasang remaja sedang duduk di ruang kelas yang sudah disulap menjadi ruang tunggu untuk murid-murid yang akan tampil nantinya. Sebuah gitar berada di pangkuan Libra, gitar milik Giselle yang dibeli dengan uang Libra.

"Gue deg-degan."

"Kalau nggak deg-degan ya mati."

Giselle berdecak kesal mendengar balasan Libra yang terdengar sangat menyebalkan.

"Nggak gitu, Ba!"

Libra terkekeh geli sembari mengacak rambut Giselle.

"Jangan diacak-acak nanti jelek." Giselle memukul lengan Libra kesal. Seharusnya pemuda itu memenangkannya, bukannya malah duduk santai dan terus membuatnya kesal. Ini pertama kalinya Giselle akan bernyanyi di depan semua orang. Tentu gadis itu sangat gugup. Bagaimana jika ia membuat kesalahan nanti? Bagaimana jika ia salah menyanyikan lagu? Atau, bagaimana jika ia lupa lirik lagunya nanti?

"Nggak usah dipikirin. Jangan peduliin orang-orang yang ada disana. Yang perlu lo lakuin adalah bernyanyi seperti yang biasa lo lakuin. Anggep aja kita lagi duet kayak waktu itu di kamar gue." Kali ini Libra mengusap kepala Giselle memberi semangat. Tidak membiarkan sahabatnya itu terlarut dalam pikiran negatifnya.

"Kalau suara gue jelek gimana, Ba?" Giselle merengek ketakutan sembari menarik-narik jari Libra. Persis seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ayahnya karena mainannya dicuri oleh temannya.

"Suara lo bagus, Pen!" ujar Libra dengan gemas. "Percaya sama diri sendiri, oke?"

"Inget, lo gak sendirian. Gue ada di sebelah lo!"

Giselle tersenyum lebar. Benar, ia tidak sendirian. Ia akan melakukan ini bersama dengan sahabatnya, jadi untuk apa takut.

"Oke!"

"Mau latihan sekali lagi?"

"Ayo!"

...***...

"Ini dia couple kita, udah siap buat tampil?" tanya Farhan dengan senyuman lebar. Pemuda itu berjalan mendekati Giselle dan Libra yang sudah bersiap berdiri di belakang panggung. Setelah ini mereka akan tampil. Di belakang Farhan, ada Nando, Danu, dan Pipit yang berjalan mengekori Farhan seperti induk.

"Gigiiii, semangat, ya!" teriak Pipit heboh. Ia benar-benar senang bisa melihat temannya itu ikut tampil di acara pensi tahun ini.

"Makasih, Pipit." Giselle tersenyum lebar menatap Pipit yang kini berdiri di sisinya.

"Kalian semua ngapain kesini?" tanya Libra.

"Heh, kita itu mau kasih semangat buat kalian," ujar Danu sembari merangkul bahu Libra.

"Betul, sebagai ketua kelas yang baik, gue harus selalu kasih support buat rakyat-rakyat gue."

Serentak, mereka berlima mendengus ketika mendengar perkataan Nando. Ingin memukul kepala pemuda itu rasanya.

"Nando harus traktir kita setelah kita tampil, gak mau tau!" ujar Giselle tiba-tiba membuat Nando melotot tak terima.

"Ogah, apa-apaan."

"Sebagai ketua kelas yang katanya baik, gak boleh pelit sama rakyat-rakyatnya," ujar Giselle sembari tersenyum manis.

Farhan tertawa kencang mendengar Giselle berujar dengan tampang polosnya. Ah, ia gemas ingin mencubit pipi chubby itu. Tangannya sudah terangkat hendak menyentuh pipi Giselle ketika tiba-tiba sebuah tangan memukul tangannya dengan keras.

"Ngapain, lo?" Libra menatap tajam ke arah Farhan.

"Ya ampun, ada yang kebakaran," celetuk Danu yang mengamati perubahan raut wajah Libra.

"Bacot."

"Udah-udah! Itu kelas sebelah udah mau selesai. Kalian siap-siap, gih. Kita mau balik ke depan," ujar sang ketua menengahi sebelum baku hantam terjadi.

"Semangat, woy!" ujar Farhan.

"Kalian pasti bisa!" Danu menepuk pundak Libra dua kali sebelum berjalan menjauh diikuti yang lainnya.

"NANDO JANGAN LUPA TRAKTIRANNYA!" teriak Giselle membuat sang empunya nama mendengus kesal.

"Iya-iya, bawel."

...***...

"Can we just sit down, have a little conversation?"

Giselle memulainya terlebih dahulu, membuat ratusan murid yang sebelumnya terdengar gaduh, kini senyap. Semua pasang mata, memfokuskan diri pada objek yang sedang berdiri di atas panggung.

Diiringi oleh petikan gitar Libra, Giselle dengan percaya diri menatap ke depan seraya bernyanyi dengan suaranya yang merdu.

"Yeah, I wanna talk it out 'cause I'm all up in my feelings... I never felt this before and I just wanna feel some more... We used to keep casual... Now I wanna just be yours... Can we sit down, try to have little conversation?"

Lagu berjudul 24/7 milik Celina Sharma & Harris J menjadi pilihan Libra dan Giselle setelah perdebatan yang panjang.

Giselle tersenyum ketika bernyanyi. Sesekali matanya menatap Libra yang berdiri di sebelahnya. Mengiringi dengan petikan gitarnya. Gadis itu berusaha untuk menghayati setiap lirik yang ia nyanyikan.

"See, you got me all in my head. Every day with you is like the weekend."

Kali ini, Giselle menghadap Libra sepenuhnya. Menatap dalam pada pemuda itu, seolah-olah lagu ini memang ia tujukan padanya.

"I try to quit, but truth is I don't want to, yeah. 'Cause twenty-four seven I'm thinking about you.

Twenty-four seven I'm thinking about

You, you, you, you, you, you, you-ooh

You, you, you, you

Twenty-four seven I'm thinking about

You, you, you, you, you, you, you-ooh (thinking about you, ooh)

You, you, you, you (no)

Twenty-four seven I'm thinking about you."

Libra tersenyum sembari membalas tatapan Giselle. Sekarang adalah gilirannya. Ia menatap Giselle sama dalamnya, seolah dunianya hanya berpusat pada gadis yang berdiri di depannya saat ini.

"Staring at the clock, how'd I get so damn impatient? I know you just left but I'm missing you like crazy... I usually don't get this far, always cut 'em off before... My heart gets in too deep... I'ma let you in too deep... Now tell me how's that for a little motivation."

Beberapa murid menahan napas ketika melihat penampilan keduanya. Terlihat sangat serasi, suara Libra dan Giselle menyatu dalam lagu 24/7 milik Celina Sharma dan Harris J.

"See, you got me all in my head

Every day with you is like the weekend."

Keduanya berdiri berhadapan, saling melempar senyum. Siapa pun yang melihatnya, pasti bisa melihat dengan jelas bahwa keduanya saling menyayangi. Bagian berikutnya, keduanya bernyanyi secara bersama. Menciptakan melodi yang indah dari perpaduan suara keduanya.

"I try to quit, but truth is I don't want to, yeah

'Cause twenty-four seven I'm thinking about you

Twenty-four seven I'm thinking about

You, you, you, you, you, you, you-ooh

You, you, you, you

Twenty-four seven I'm thinking about

You, you, you, you, you, you, you-ooh (thinking about you, ooh)

You, you, you, you (no)

Twenty-four seven I'm thinking about you."

Suara tepukan tangan yang begitu meriah, mengakhiri penampilan Libra dan Giselle. Sepasang remaja itu tersenyum puas ketika melihat para penonton yang terlihat antusias. Tidak ada yang lebih membahagiakan Giselle dari ini semua.

Setelah menunduk singkat, keduanya pun berjalan menuruni tangga dengan perasaan lega karena berhasil memberikan penampilan yang terbaik versi mereka.

...***...

19 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!