❌Dilarang promo, bukan areanya ❌
Follow ig author 👉 Yellow_bitz
Mungkin diluar sana tidak tau apa rasanya memang benar "mencintai" atau sekedar "nafsu"......
Ini dialami oleh gadis manis, Silvia Salmanira, ia yang awalnya bahagia dengan pernikahan tantenya, Mira.
Tetapi yang dibahagiakan menjadi bencana, om nya sendiri, Queretta Thomas, melakukan hal bejat yang mungkin akan membekas seumur hidup pada kehidupan Salma.
Akankah ada titik terang dari kelamnya hidup Salma?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow_bitz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24: Bersikap adil
Note author: maaf jika banyak kekurangan pada cerita, karena author masih pemula 🔰
.
Pov author
Jderr! Salma terkaku bahkan speechless, ia tidak bisa lagi melawan disaat Thomas mengetahui bahwa ia sedang hamil.
"Jangan bicara sembarangan! "
"Sembarangan? Terus di dekat rak sabun kamar mandimu itu apa? "
Salma hanya terkaku, ia bahkan tidak bisa beralasan apa apa.
"Mulai dari sekarang, lembut lah pada Om ya sayang"
Thomas mencolek dagu dan mencubit pipi Salma, tetapi Salma menepis tangan Om nya dan mengarahkan pandangan nya ke arah jendela.
Thomas tersenyum dan menghidupkan mobil, ia merasa senang dapat benar-benar menaklukkan Salma.
Diambang malu, kesal dan sedih, Salma hanya bisa diam, ia sebelumnya tidak ingin Om Thomas mengetahui bahwa ia sedang hamil.
Salma berjalan ke kamar mandi, ia membuang testpack tersebut ke kloset.
Salma menangis, ia tidak ingin selalu terikat dengan Thomas, tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur, ia tidak dapat melawan takdir hidupnya dan hanya bisa menangisi nasibnya sekarang.
'Apa aku harus memberitahu kan hal ini di depan papa mama dan tante Mira? '
Malam harinya, seperti biasa sesudah magriban, keluarga Salma makan malam.
Salma yang fokus ke makanannya mengangkat wajahnya, ia melihat keluarga nya makan dengan lahap dan tertawa saat mengobrol.
Salma menghela nafasnya, ia memanggil orang tuanya dan tantenya.
"Mah, Pah, tante, Salma mau ngasih tau.... "
Maggie, Phillip dan Mira menorehkan pandangannya ke arah Salma, mereka berbalik bertanya dengan Salma apa yang ingin diberitahukan pada mereka.
"Salma... Salma mau jujur..... "
Salma melihat Thomas menatapnya tajam, membuat Salma tambah grogi.
"Kamu kenapa nak? " Tanya Maggie
"Pak Doni minta papa yang datang untuk masalah nilaimu? " Tanya Phillip pada Salma sambil mengerutkan keningnya
"Ada apa Salma? "
Salma merasa gemetaran, ia hanya bisa menyebut namanya berulang-ulang.
"Ah, Salma jujur kalau Salma ingin belajar...... "
Phillip dan Maggie mendengar hal tersebut mengerutkan kening mereka, sedangkan Mira hanya melongo, dan Thomas tersenyum sinis.
"Aneh kamu ihhh, belajar kan menjadi kewajibanmu"
"Baguslah kalau begitu, biar ngga banyak melongo pas bimbingan kuliah"
Salma hanya tersenyum, ia tidak mau memberitahu yang sebenarnya, karena ia tidak ingin tante Mira terkejut bahkan bisa pingsan mendengar yang sebenarnya ia rasakan.
.
Pov Thomas
Kenapa ngga langsung kasih tau saja? Kan lebih bagus kalau begitu.
Ah, kalau dia tidak mau juga kasih tau yaa itu urusannya, bukan urusanku.
Urusanku pada nya adalah menjaganya dan bertanggungjawab dengan anakku yang kini sedang dikandungnya.
"Mir, buatkan aku kopi"
Lagi lagi aku harus minta tolong pada sampah itu, ya daripada kedua kakak iparku menganggapku tidak membutuhkan Mira dan hanya meminta tolong pada anak mereka, padahal memang aku yang tidak butuh si sampah itu.
Kulihat wajah wanitaku, hooo auranya terlihat memancar dibalik cemberut nya.
"Kenapa sayang? Kenyang lagi? "
Aku menggodanya, terlihat wajah sinisnya mengarah padaku, tolonglah tersenyum padaku seperti dulu.
"Sibuk banget urusan orang... "
Nada pembicaraan nya padaku seperti jual mahal saja, padahal dia sudah kuberi tanda serta anak padanya.
"Salma, masa sama Om mu begitu! ngga sopan! Minta maaf sekarang!"
Mbak Maggie memang hebat dalam menceramahi nya, terlihat wajahnya marah.
Ugh, wajahku disiram secangkir air dengannya, aku ingin marah, tetapi aku terpaksa mengalah saja.
"Belain aja terus! "
Dia melemparkan sendoknya ke arah wajahku, aku hanya menahan sakit wajahku.
"Mir, ambilkan handuk untuk suamimu"
Mbak, kenapa mbak memanggilnya?! Aku tidak butuh bantuan si sampah itu!
Kuambil tisu yang ada di meja dan ku lap wajahku.
Bajuku basah di dekat kerah, akibat disiram secangkir air oleh keponakanku, aku langsung saja berjalan ke kamar untuk ganti baju.
"Mas handuknya"
"Ngga usah, aku ganti baju saja"
.
Pov Salma
Aku sungguh kesal dengan mama, mama lebih milih belain si bajingan itu ketimbang aku anaknya sendiri!
Kututup pintu kamarku, kukurungkan diriku di dalam kamarku dan aku mematikan lampu kamarku.
Aku merenung di balik gelap kamar, memang terpancar sinar bulan, aku berdiri dan mendekati jendela kamarku.
Sinar bulan terlihat cerah, tapi tidak dengan diriku, aku berdo'a dibawah sinar bulan seperti di film film.
"Ya Allah, berikanlah hamba dan anak hamba kesabaran dibalik rumitnya hamba menghadapi semua ini.... "
Kudengar pintu kamarku diketok, siapa lagi yang mengetok pintu kamarku, aku berjalan dan kubuka pintu kamarku.
"O.. Om.... Apa lagi hah?! "
"Jangan marah sayang, Om minta maaf ya buat kamu marah.... Jangan sampai marahmu kebawa sama anak kita"
"Kita?! Enak saja! Aku tidak sudi Om menyebut 'kita' pada anakku! "
Aku menolaknya, enak saja aku ingin beranak dengannya.
Ah, tanganku di genggam olehnya, aku tidak terima dan aku memberontak.
Dengan lancang dia memegang perutku, mengelus elus layaknya aku butuh, mungkin anak ini tidak mau dielus oleh si bejat ini!
"Dengarkan aku, aku juga berhak! Dia anakku, aku bertanggungjawab dengannya dan aku akan menjaga dirimu! Jangan sesekali kau nekat menyakiti maupun membunuhnya! "
Wajahku dicekam, setelah tanganku digenggam kasar olehnya sekarang wajahku, dasar psikopat!
"Tolong jaga dia, Om janji akan bawa kamu sejauh mungkin, kita akan menjalani hidup baru bersama..... "
Tadi kasar, kini melembut, dia ini psikopat sekaligus bipolar!
Dia ingin mencium ku, tetapi wajahnya duluan yang kutampar, aku masuk ke dalam kamarku dan kututup pintu kamarku.
"Ingat Salma, jika kamu tidak melembut pada Om, Om pastikan Brian akan mengetahui hal ini...... "
Deg! Ancaman itu membuatku down, aku mulai ketakutan hingga menangis.
Aku mengingat pacarku yang begitu manis dan setia, aku seperti mengkhianati nya, padahal dia yang aku cinta dan tidak pernah sekalipun lancang.
Air mataku tak bisa terbendung, aku menangis sambil mengingat Brian di kepalaku.
"Maafkan aku Brian... Aku telah mengkhianati mu.... "
.
Pov author
Salma semakin hari semakin berubah, ia menjadi sangat murung dan kacau, sekalinya ia sering menghindari Brian maupun Thomas, karena rasa trauma itu makin menjadi.
Stress, pusing dan lelah Salma rasakan, ia harus menerima semua ke adaan yang ia rasakan saat ini.
Ditambah lagi Thomas yang terkadang masuk tanpa permisi kekamar Salma, entah itu memastikan anaknya ataupun melakukan hal bejat itu lagi.
"Aku capek dengan semua ini.... Lelah, pusing dan otakku seketika blank dengan semua ini.... "
Salma menjatuhkan kepalanya ke meja belajar, ia merasa lelah dengan semua hal yang terjadi pada nya.
Salma merasa perutnya sangat sakit, ia bahkan meringis kesakitan memegang perutnya.
"Aghh.... Sakit sekali..... "
Merasa perutnya sakit serta terasa celananya basah, ia melihat ke bawah dan terkejut.
"Da... Darah....? "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣
masak sudah diperkosa,si ceweknya anteng² aja gak mau ngelaporin si prianya,
MALAES X NGELANJUTIN BACA NOVEL INI,
gak realita banget