Setelah lulus SMA, Syafana menikah siri dengan kekasihnya yang baru saja lulus Bintara TNI-AD. Sebagai pengikat bahwa Dallas dan Syafana sudah memiliki ikatan sah. Pernikahan itu dirahasiakan dari tetangga maupun kedinasan.
Baru beberapa hari pernikahan siri itu digelar, terpaksa Dallas harus mengikuti pendidikan selama dua tahun. Mereka berpisah untuk sementara.
"Nanti setelah Kakak selesai pendidikan dan masa dinas dua tahun, kakak janji akan membawa pernikahan kita menjadi pernikahan yang tercatat di secara negara," janji Dallas.
"Kak Dallas janji, harus jaga hati," balas Syafana.
Namun baru sebulan masa pendidikan, Dallas tiba-tiba saja menalak cerai Syafana. Syafana hilang kata-kata, sembari melepas Hp nya ke ubin, tangan Syafana mengusap perutnya yang kini sudah ditumbuhi janin. Tangis Syafana pecah seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Obrolan Asik Bersama Pelanggan Baru
"Silahkan Mbak Syafa diminum?" Bidan Dista mempersilahkan Syafa minum saat seorang ART meletakkan secangkir teh panas dan camilannya di atas meja.
"Tidak perlu repot-repot Bu Bidan, saya tidak akan lama." Syafana masih terlihat malu-malu.
"Tidak apa-apa, saya tidak repot," ujar Bidan Dista seraya meraih kantong yang isinya gaun muslimah pesanannya.
"Silahkan, semua pesanan Bu Bidan sudah saya simpan di sana. Diperiksa dulu takutnya ada yang kurang srek." Syafana membiarkan Bidan Dista meraih satu per satu gaun pesanannya dari dalam kantong yang bertuliskan nama butik Syafana.
"Wah, cantik banget. Sesuai dengan di foto. Saya suka gaun ini. Sebetulnya saya ini baru belajar berhijab sudah setahun ini. Meskipun hijab yang saya kenakan masih hijab yang belum sepenuhnya syar'i. Dan saya bingung harus mencari referensi gaun muslimah yang modis tapi tetap sopan dan tidak mengganggu aktifitas sehari-hari saya. Namun, ketika melihat butik Mbak Syafa, sepertinya gaun muslimahnya cocok dengan selera saya," tutur Bidan Dista senang.
"Alhamdulillah kalau Bu Bidan senang dengan gaun yang diproduksi butik saya. Saya juga sama, dalam berpakaian hijab masih belum baik, saya masih belajar dan belum sepenuhnya syar'i," balas Syafana.
"Tidak apa-apa yang penting kita harus terus belajar, bukankah begitu Mbak?"
"Betul sekali Bu Bidan," balas Syafana diimbuhi senyum. Syafana merasa asik ngobrol dengan Bidan Dista. Dia tidak merasa canggung lagi, padahal mereka baru hari ini kenal.
Tidak terasa obrolan mereka yang awalnya hanya obrolan seputar gaun muslimah, kini melebar ke mana-mana sampai masalah pribadi. Tadinya Syafana tidak akan lama, tapi jam di tangan justru sudah menunjukkan 45 lebih dari rencana awal, yang niatnya sebentar. Syafana merasa keasikan ngobrol dengan Bidan Dista, Bidan Dista pun demikian. Sepertinya hari ini di kliniknya Bidan itu sedang tidak sibuk.
"Kebetulan di klinik ada suami saya. Kami sama-sama tenaga kesehatan. Kami buka praktek di klinik yang sama. Kebetulan saat ini saya sedikit santai sehingga bisa meninggalkan klinik sebentar," ceritanya dengan antusias tanpa ditanya.
Syafana menduga kalau suaminya Bidan Dista adalah Dokter. Dan memang benar dugaannya, sekilas tadi saat dia akan mengetuk pintu rumah Bidan Dista, ada seorang laki-laki sekitar 50 tahun melewati halaman rumah lalu masuk ke dalam klinik.
"Mbak Syafa sudah menikah?" tanya Bidan Dista tiba-tiba. Sejenak Syafana tersentak dan terpaku, ia tidak menyangka bakal ada orang lain yang menanyakan hal itu.
"Saya sudah menikah, tapi suami saya sudah meninggal," akunya pada akhirnya, tapi berbohong.
"Innalillahi. Maafkan saya Mbak. Saya tidak bermaksud mengingatkan Mbak Syafa pada suaminya. Sekali lagi mohon maaf," ucap Bidan Dista merasa menyesal.
"Tidak apa-apa Bu Bidan, saya sudah ikhlas," ucap Syafa lagi sembari merapikan tasnya. Kali ini Syafa akan mengakhiri keberadaannya di rumah Bidan Dista, karena waktu semakin bergulir siang, apalagi ia rencananya akan ke rumah orang tuanya di kota Bdg.
"Mohon maaf, Bu Bidan, sepertinya saya harus pamit. Sebab waktu semakin siang. Rencananya saya mau mengunjungi dulu kediaman ibu dan bapak saya di kota Bdg." Syafana berpamitan karena ia merasa sudah terlalu lama di rumah Bidan Dista.
"Sayang sekali waktu kita hanya sebentar, ya. Padahal obrolan kita barusan menyenangkan. Senang bertemu Mbak Syafana. Nanti kalau ada gaun terbaru, insya Allah saya pesan lagi dan pasti menghubungi butik Syafana."
"Dengan senang hati Bu Bidan, kalau begitu saya pamit ya. Terimakasih atas jamuannya," pamit Syafana sembari menuju pintu.
"Kenapa dengan kaki Mbak Syafa, apakah sakit?" Bidan Dista heran saat melihat Syafa berjalan dengan sedikit pincang.
"Tidak apa-apa Bu Bidan, kemarin saya sempat tertimpa motor, kena kaki kanan saya. Hari itu juga saya langsung urut, sekarang sudah mendingan, ini sakit hanya karena efek dari memarnya," terang Syafa sembari berjalan menjauh pintu.
"Sebentar," ujar Bidan Dista seraya masuk ke dalam rumah. Syafa menahan langkahnya. Tidak lama dari itu Bidan Dista muncul seraya memberikan sesuatu pada Syafana.
"Ini ada salep, sale ini bisa meredakan bekas sakit terkilir atau keplitek. Buat pegal-pegal juga bisa, saya juga suka pakai salep ini, rasanya meresap dan hangat ke badan," jelasnya sambil meletakkan ke telapak tangan Syafana.
"Terimakasih banyak Bu Bidan, tapi ini bagaimana bayarannya. Maksudnya berapa harganya?" tanya Syafana.
"Tidak usah bayar, itu untuk Mbak Syafa. Anggap saja rasa terimakasih saya karena Mbak Syafa mau datang langsung ke tempat saya sehingga saya bisa berkenalan langsung dengan Mbak," ucap Bidan Dista tulus.
Syafana senyum terharu, berkali-kali ia berterimakasih pada Bidan Dista.
"Sekali lagi terimakasih banyak Bu Bidan. Saya pamit, ya. Assalamualaikum." Kali ini Syafana benar-benar pamit dan mulai bergegas meninggalkan halaman rumah Bidan Dista yang luas.
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Mbak." Bidan Dista menatap kepergian Syafana yang semakin jauh dari rumahnya. Kepergian Syafana menyisakan kesan yang dalam. Baru saja bertemu sekali, akan tetapi Bidan Dista merasa obrolan mereka asik dan nyambung.
"Kasihan juga perempuan itu, dia masih muda sudah ditinggalkan suaminya pergi ke alam baqa. Sepertinya kesedihannya teramat dalam dibandingkan ketika aku diceraikan mantan suamiku dulu, Dallas. Tapi, dia masih betah menjanda, padahal dia masih muda dan cantik. Nasib-nasib," renungnya, seketika Bidan Dista teringat kembali dengan masa lalunya bersama Dallas mantan suaminya.
"Dallas, bahkan sampai lima tahun berlalu dari perceraian kami, dia masih betah menduda. Apakah perempuan yang dinikahi sirinya dulu, belum juga ditemukan, atau perempuan itu justru sudah berumah tangga kembali? Dallas, ternyata cintamu pada perempuan cinta pertamamu masih menyala sampai saat ini," gumam Bidan Dista tidak habis pikir.
Sementara dirinya, setelah dua tahun berpisah dari Dallas, datang seorang dokter yang melamarnya. Dengan ketulusan menerima Dista apa adanya, akhirnya Bidan Dista bisa move on dari Dallas, meskipun ia tidak bisa memberikan keturunan pada suaminya, akan tetapi hati Bidan Dista jauh lebih bahagia sekarang dibanding saat bersama Dallas yang dipaksakan.
"Betapa bodohnya aku dulu, memaksa lelaki yang tidak pernah mencintaiku untuk bertahan di sampingku. Dallas, aku juga menyesal karena telah memisahkan kamu dengan cinta pertamamu atas nama balas budi. Aku sungguh menyesal," gumamnya sedih.
"Sayang, kita makan sore di luar," ajak seorang lelaki paruh baya berpakaian dokter memanggil Bidan Dista. Bidan Dista terkejut dari lamunannya, dia segera menoleh ke arah suaminya yang sudah kurang lebih tiga tahun menemani hari-harinya.
"Baiklah, aku siap-siap dulu." Bidan Dista menyambut ajakan suaminya dengan senyum bahagia.
***
jejak dlu ka ya Lina, iklan mndarat salam dari Sebatas Istri Simpanan.. 🤗