NovelToon NovelToon
Takdir Paranormal Gadungan

Takdir Paranormal Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Mata Batin / Iblis / Anak Yatim Piatu / Roh Supernatural / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Princss Halu

Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
​Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
​Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
​Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
​Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Menembus Kabut ilusi

Pesawat mendarat di Bandara Ubon Ratchathani tepat saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, menciptakan semburat warna oranye yang tajam, seolah langit sendiri sedang terbakar. Freen dan Nam segera mengambil kunci mobil SUV four-wheel drive yang telah dipesan. Udara di Ubon terasa berbeda—lebih kering, lebih sunyi, dan sarat dengan aroma tanah hutan yang lembap.

"Kita punya waktu sekitar tiga jam berkendara menuju distrik Buntharik sebelum benar-benar memasuki kawasan Taman Nasional," ujar Nam sambil menyalakan sistem navigasi.

"Tapi Freen, jalur ini akan membawa kita sangat dekat dengan perbatasan Laos. Jika kita tersesat di sana malam-malam, kita tidak hanya berurusan dengan roh, tapi juga patroli perbatasan."

"Ikuti saja petanya, Nam. Mustika ini akan menjadi kompas kita," jawab Freen. Ia bisa merasakan denyut hangat di dadanya semakin intens.

Perlintasan Menuju Phu Chong–Na Yoi

Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalan aspal yang mulus, namun perlahan berubah menjadi jalan tanah berbatu saat mereka memasuki kawasan hutan lindung. Pohon-pohon besar menjulang di sisi jalan seperti raksasa yang mengawasi.

Saat mereka melewati tanda batas wilayah yang samar, suasana berubah drastis:

Kabut Tebal: Secara tiba-tiba, kabut putih menyelimuti kaca depan, mengurangi jarak pandang hingga hanya dua meter.

Gangguan Elektronik: Layar GPS di dasbor mulai berkedip liar. Panah navigasi berputar tanpa arah, seolah-olah kutub magnet di tempat itu telah menghilang.

Suara Tanpa Wujud: Suara gesekan daun terdengar seperti bisikan ribuan orang yang memanggil nama mereka.

"Freen! GPS-nya mati!" seru Nam panik, mencengkeram kemudi dengan kuat. "Aku tidak bisa melihat jalan!"

Freen menutup matanya, memegang Mustika Merah Delima di lehernya. "Jangan lihat dengan matamu, Nam. Lihat dengan cahaya batu ini.“

Tiba-tiba, Mustika itu memancarkan cahaya merah delima yang menembus kabut. Cahaya itu membentuk jalur redup di atas tanah, menunjukkan jalan setapak yang tidak terlihat oleh lampu mobil.

Teras Batu Phlan Kong Kwian: Gerbang Ilusi

Setelah dua jam merayap di tengah kegelapan, mereka tiba di Phlan Kong Kwian. Tempat itu adalah sebuah teras batu luas yang dikelilingi oleh formasi batuan aneh yang menyerupai gerobak kuno yang membatu. Di bawah sinar bulan, batu-batu itu tampak bernapas.

"Kita harus turun," kata Freen tegas.

Baru saja kaki mereka menyentuh tanah, udara di sekitar mereka bergetar. Nam tersentak saat melihat ke arah perbatasan Laos yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari sana. Di sana, di antara pepohonan, tampak sebuah siluet bangunan yang megah namun transparan seperti fatamorgana di atas padang pasir.

"Freen... itu dia? Candi Bayangan?" bisik Nam gemetar.

Namun, saat Freen menoleh, bangunan itu menghilang. Yang ada hanyalah kegelapan total dan suara tawa lembut yang bergema dari segala arah.

"Selamat datang, pembawa karma," sebuah suara berat, sedalam jurang, mengguncang kesadaran mereka. Bukan suara Mae Nakha yang melengking, melainkan suara yang memiliki otoritas matahari yang membakar.

Tantangan Pertama: Membedakan Realitas

Tiba-tiba, Nam menghilang dari samping Freen.

Freen berdiri sendirian di tengah teras batu yang kini berubah menjadi aula emas yang sangat megah. Di depannya, berdiri seorang pria dengan jubah berwarna emas yang bercahaya, wajahnya tertutup topeng emas berbentuk matahari.

"Berikan Mustika itu kembali, Freen Sarocha," kata pria itu. "Kau telah menggunakannya untuk mencampuri urusan manusia terlalu jauh. Keberhasilanmu adalah pelanggaran."

Freen merasakan tarikan kuat pada kalungnya. Ia melihat ke arah tangannya sendiri, dan ia melihat cek dari Khun Rinda berubah menjadi daun kering. Ia melihat Nam berteriak di kejauhan, terperangkap dalam kobaran api ilusi.

"Itu tidak nyata," gumam Freen pada dirinya sendiri. "Nam ada di sampingku. Uang itu adalah komitmenku. Dan batu ini... batu ini bukan milikmu lagi."

Freen berdiri di titik nol antara realitas dan kehampaan. Cahaya merah dari Mustika di dadanya berdenyut liar, melawan aura emas yang menyesakkan dari sosok Sun, sang Dewa Takdir, yang berdiri menjulang di hadapannya.

​Di sisi lain, Freen melihat Nam tertidur lelap dalam sebuah gelembung cahaya. Wajah Nam tampak sangat damai. Dalam ilusi itu, Nam kembali menjadi manusia normal—tanpa hantu, tanpa teror, dan tanpa beban spiritual yang selama ini ia pikul demi mendukung Freen.

​Dua Pilihan di Teras Phlan Kong Kwian

​Sun mengangkat tangannya, dan suara itu bergema langsung di dalam tengkorak Freen, membelah kesadarannya.

​"Freen Sarocha, si Gadungan yang melampaui batas. Aku memberimu pintu keluar. Serahkan Mustika itu, dan aku akan menghapus namamu dari buku Takdir. Kau dan sahabatmu akan kembali ke Bangkok sebagai manusia biasa. Tanpa ingatan, tanpa kutukan, dan tanpa beban dunia spiritual."

​Sun menggerakkan jarinya, dan sebuah bayangan gelap muncul di lantai batu, menunjukkan sebuah penglihatan mengerikan di Utara, Chiang Mai.

​"Tapi jika kau memilih tetap memegang kunci ini, kau bukan lagi penonton. Kau akan menjadi Penjaga Kunci Takdir. Konsekuensinya? Kebangkitan telah dimulai. Asura Khrung, Raja Iblis Kuno, sedang menggeliat di bawah tanah Chiang Mai. Para anteknya telah mengendus keberadaanmu. Hidupmu akan menjadi medan perang abadi."

Freen tidak ragu sedikit pun. Meskipun 'Sun' telah memperlihatkan konsekuensi mengerikan dari tindakannya, Freen melihat risiko itu sebagai harga dari kebaikan yang ia ciptakan. Ia menoleh ke Nam, yang mengangguk kecil, memberikan dukungan penuh tanpa kata-kata.

Freen Sarocha kembali menghadap sosok 'Sun', Pemilik Takdir.

"Saya memilih pilihan kedua," kata Freen, suaranya mantap dan penuh ketegasan. Ia meletakkan tangan di atas Mustika Merah Delima, menegaskan kepemilikannya.

"Saya tidak akan menyerahkan Mustika ini. Saya menerima Takdir baru saya."

"Saya tahu tindakan saya menciptakan musuh, dan saya tahu saya telah melampaui batas yang Anda tetapkan. Tetapi saya tidak menyesalinya," lanjut Freen.

"Saya menukar kehidupan Vongrak dengan pemulihan kuil. Saya menukar kemarahan dukun dengan keselamatan seorang anak. Jika itu berarti saya harus menghadapi Iblis yang disegel dan musuh baru yang saya ciptakan, maka saya akan menghadapinya. Saya siap menjadi Penjaga Kunci."

Sosok 'Sun' memandang Freen. Tatapannya bukan lagi menguji, melainkan menilai.

"Sangat berani, Freen Sarocha," ujar 'Sun', suaranya kini terdengar seperti persetujuan yang agung. "Keputusanmu menciptakan Takdir baru, bukan hanya untukmu, tetapi untuk dunia yang kau lindungi. Kau telah melewati ujian ini. Kau layak menjadi Penjaga Kunci."

'Sun' kemudian menoleh ke Mae Nakha.

"Utusan," perintah 'Sun'. "Tugasmu selesai. Kini, Penjaga Kunci bertindak atas otoritasnya sendiri. Beri dia informasi yang dia butuhkan."

Mae Nakha membungkuk hormat kepada 'Sun', lalu beralih menatap Freen. Senyumnya kini kembali penuh kelegaan dan sedikit bangga.

"Selamat, Gadungan. Kau lulus," kata Mae Nakha. "Sekarang, dengarkan. Kunci Emas yang kau gunakan untuk menyegel Iblis, tempatnya di Kuil Chiang Mai, kini rentan. Kekuatan yang kau tarik di lautan dari Cermin Kuno telah mempercepat waktu kebangkitan Iblis itu. Kutukan Iblis akan terlepas sepenuhnya dalam tiga bulan."

Freen menegang. Tiga bulan.

"Tugasmu sekarang, Penjaga Kunci, adalah menemukan tempat suci terkuat di bumi yang bisa menahan Kunci Emas itu selamanya, atau cara untuk menghancurkan Kunci Emas dan Iblis itu bersama-sama. Aku tidak bisa membantumu lagi, tetapi Mustika itu kini menjadi pelindung penuhmu." Mae Nakha kemudian menoleh ke Nam. "Dia adalah jangkar akal sehatmu. Jaga dia, Freen."

'Sun' kembali berbicara. "Kekuatan barumu akan membawamu ke tempat di mana cahaya dan bayangan paling gelap bertemu. Pergilah. Takdirmu menantimu."

Sosok 'Sun' memudar, cahayanya perlahan menghilang. Mae Nakha memberikan wai terakhir dan juga lenyap, diikuti oleh ilusi Candi Bayangan yang akhirnya menghilang, meninggalkan Freen dan Nam berdiri di tengah dataran batu yang sunyi.

Freen Sarocha kini bukan lagi 'Paranormal Gadungan' yang mengambil klien Mae Nakha. Ia adalah Penjaga Kunci Merah Delima, dengan tenggat waktu tiga bulan untuk menyelamatkan dunia dari kebangkitan Iblis yang disegelnya sendiri.

Ia menoleh ke Nam, wajahnya serius namun bertekad.

"Nam, lupakan liburan sebulan. Kita punya tiga bulan untuk mencari tempat suci yang bisa menahan Iblis selamanya. Kita harus segera kembali ke Chiang Mai dan mengambil Kunci Emas."

"Baik, Freen," jawab Nam, penuh kesiapan. "Misi baru: Mencari segel pamungkas. Tiga bulan dimulai dari sekarang."

Freen menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pegunungan yang kini terasa dingin dan penuh beban. Ujian telah usai, tetapi beban di pundaknya justru berlipat ganda. Tiga bulan. Batas waktu yang mengerikan untuk mencegah bencana spiritual.

"Ayo, Nam. Kita harus segera kembali ke mobil," ujar Freen, suaranya terdengar serak tetapi penuh urgensi.

Mereka berdua bergegas meninggalkan dataran batu Phlan Kong Kwian. Energi ilusi telah hilang, meninggalkan tempat itu sunyi dan biasa. Mereka kembali menyusuri jalur setapak berbatu yang menantang.

"Tiga bulan, Freen? Itu terlalu cepat," kata Nam, langkahnya cepat mengikuti Freen.

"Dan Iblis itu... Iblis yang disegel Kunci Emas? Itu berarti kita menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar dari yang pernah kita bayangkan."

"Kunci Emas itu adalah bagian dari segel yang harusnya bertahan ribuan tahun, Nam," jawab Freen, pandangannya tajam.

"Tapi tindakan kita menarik energi Cermin Kuno dari laut dan menyatukannya dengan Kunci itu mengganggu segelnya. Kita tidak punya waktu untuk panik. Kita harus bergerak. Target pertama: Kunci Emas di Kuil Chiang Mai."

Mereka akhirnya tiba di mobil off-road sewaan mereka. Freen segera menyalakan mesin.

"Nam, dalam perjalanan kembali ke Ubon, kau harus melakukan riset," instruksi Freen, saat mobil mulai melaju di jalur tanah merah. "Cari tahu tentang: Tempat suci purba di Thailand yang dikenal memiliki daya tahan spiritual paling tinggi. Tempat yang diakui sebagai 'paku bumi' spiritual. Kita butuh tempat yang lebih kuat daripada kuil biasa."

"Aku mengerti. Kuil Gunung yang sangat tua, mungkin yang dibangun di atas lempeng energi murni," jawab Nam, langsung membuka tabletnya.

Ia tahu, riset kali ini jauh lebih penting dari sebelumnya. "Kita juga harus memikirkan bagaimana cara memindahkan Kunci Emas itu. Itu adalah artefak yang sangat besar dan berat, dan rentan terhadap serangan spiritual selama perjalanan."

"Kita akan meminta bantuan dari Phra Khru di Kuil Agung. Beliau akan tahu cara terbaik untuk membawanya. Kita akan menggunakan bayaran besar dari Khun Rinda untuk menyewa keamanan dan ritual suci yang diperlukan," kata Freen.

Freen memegang kemudi dengan erat, merasakan Mustika Merah Delima memancarkan panas yang menenangkan sekaligus memacu adrenalin. Ia kini seorang Penjaga Kunci dengan batas waktu yang ketat. Rasa lelah setelah liburan panjang hilang sepenuhnya, digantikan oleh fokus dan tekad untuk menyelamatkan dunia yang tanpa sengaja ia jadikan taruhan.

"Jangan khawatir, Nam," kata Freen, tersenyum tipis. "Kita punya Mustika Merah Delima yang kini bekerja penuh untuk kita, dan kita punya uang yang banyak. Kita akan menyelamatkan dunia dengan logistik yang sempurna dan karma baik."

***

Freen mengemudi kembali ke kota Ubon Ratchathani dengan kecepatan tinggi yang terkontrol. Di kursi penumpang, Nam sudah tenggelam dalam risetnya, cahaya tabletnya menerangi wajahnya yang tegang.

"Freen, aku menemukan beberapa kandidat untuk 'segel pamungkas'," lapor Nam, setelah hampir dua jam penuh pencarian.

"Semua merujuk ke tempat-tempat di Thailand Utara atau wilayah Lanna kuno. Daerah itu memang dikenal memiliki energi spiritual yang terkonsentrasi."

Nam mendaftarkan temuannya:

"Pertama, Wat Phra That Doi Suthep di Chiang Mai. Terkenal, suci, puncaknya adalah paku bumi Lanna. Keuntungannya, dekat dengan Kuil Agung tempat Phra Khru berada, jadi kita bisa dengan mudah mengambil Kunci Emas."

"Kedua, Phu Chi Fa, di perbatasan utara. Bukan kuil, tapi gunung suci alami. Legenda mengatakan energi purba bumi mengalir di sana. Namun, sangat terpencil dan sulit diakses."

"Dan yang paling menarik," lanjut Nam, nadanya bersemangat, "adalah Kuil di bawah tanah di Phatthalung, Selatan. Sebuah kuil gua kuno yang dulunya digunakan oleh pertapa. Konon, gua itu terhubung langsung ke energi kerak bumi, tempat yang sempurna untuk menyegel Iblis."

Freen mempertimbangkan opsi-opsi itu saat ia mengemudi. "Selatan terlalu jauh, dan kita butuh waktu. Phu Chi Fa terlalu liar dan sulit diamankan. Kita butuh tempat yang memiliki otoritas spiritual dan keamanan fisik."

"Doi Suthep," putus Freen. "Itu pilihan yang paling logis. Kita akan ke sana, berbicara dengan Phra Khru, mengambil Kunci Emas, dan memohon izin untuk membawa Kunci itu ke Doi Suthep. Jika Doi Suthep menolak, baru kita pertimbangkan opsi lain."

Mereka tiba di Ubon Ratchathani, mengembalikan mobil sewaan, dan langsung mengambil penerbangan malam kembali ke Chiang Mai.

Mereka tiba di kota utara itu saat tengah malam dan langsung menyewa kamar hotel kecil. Tidak ada waktu untuk istirahat.

Begitu pagi tiba, Freen dan Nam segera menuju Kuil Agung Chiang Mai.

Phra Khru menyambut mereka dengan ekspresi yang sudah menduga. Biksu bijaksana itu seolah sudah tahu bahwa 'ujian' Freen akan membawa masalah baru.

"Penjaga Kunci," sapa Phra Khru, menggunakan gelar baru Freen.

"Saya merasakan perubahan energi yang besar. Kekuatan Kunci Emas di Kuil ini telah bergetar sejak kau pergi. Waktu semakin sempit."

Freen segera menjelaskan situasinya, tanpa menyembunyikan detail tentang Mustika Merah Delima, Kunci Emas, dan tenggat waktu tiga bulan.

"Kami datang untuk mengambil Kunci Emas, Phra Khru," pinta Freen. "Kami harus menyegelnya di tempat yang jauh lebih kuat. Kami memilih Wat Phra That Doi Suthep."

Phra Khru mengangguk. "Doi Suthep adalah pilihan yang tepat. Namun, Kunci Emas adalah artefak raksasa. Beratnya sangat luar biasa, dan memindahkannya membutuhkan ritual yang kuat. Selain itu, Iblis yang disegel di dalamnya telah menyadari bahwa ia akan dipindahkan. Energi negatif akan menyerangmu dalam perjalanan."

"Kami punya uang, Phra Khru," kata Nam cepat.

"Kami akan membiayai semua ritual, transportasi khusus, dan pengamanan fisik. Kami akan menggunakan uang yang kami dapatkan dari misi terakhir untuk melindungi Kunci Emas."

"Baik," kata Phra Khru, setelah merenung sejenak. "Aku akan membantu. Aku akan memimpin ritual Pemasangan Perisai pada Kunci Emas itu. Tapi kau harus bergerak cepat. Pemindahan harus dilakukan dalam tiga hari."

Freen dan Nam meninggalkan Kuil Agung dengan tugas yang jelas: dalam waktu 72 jam, mereka harus mengatur logistik untuk memindahkan artefak spiritual yang sangat berat dan berbahaya, yang menarik kekuatan Iblis yang disegel di dalamnya, dari Kuil Agung ke puncak Doi Suthep.

Misi Penjaga Kunci Merah Delima untuk menyelamatkan dunia dari Iblis telah dimulai dengan balapan melawan waktu di Chiang Mai.

1
Princss Halu
mohon maaf ada perbaikan Bab. di sini bab ganga jadi harap di maklumi./Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!