NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: ABU DI ATAS LUKA

Malam itu, langit di atas sektor utara tampak seperti kanvas hitam yang pekat. Alana berdiri di balik dinding kaca ruang kendali rahasia mansion Dirgantara. Napasnya terasa berat saat ia menatap deretan layar monitor raksasa yang menampilkan siaran langsung dari kamera-kamera tersembunyi di sebuah gudang distribusi tua.

Di sampingnya, Arkano berdiri dengan keangkuhan yang tenang. Ia menyesap wiski mahalnya perlahan, suara es batu yang berdenting di dalam gelasnya terasa seperti hantaman palu di telinga Alana.

"Lihatlah, Sayang. 'Pahlawan-pahlawan' kiriman Hendra sudah tiba di tempat jagal," bisik Arkano dengan suara bariton yang rendah.

Di layar monitor, Alana melihat dua truk taktis kepolisian berhenti dengan senyap. Pasukan SWAT keluar dengan gerakan taktis yang presisi. Alana mengenali formasi itu. Itu adalah tim cadangan dari divisinya. Meskipun Rian—sahabat terbaiknya—masih mendekam di gudang bawah tanah mansion ini, melihat rekan-rekan sejawatnya yang lain masuk ke dalam perangkap tetap membuat hati Alana hancur.

"Arkano, kumohon... batalkan ini. Mereka hanya menjalankan perintah Hendra!" suara Alana bergetar hebat.

Arkano tidak bergeming. Ia justru melangkah ke belakang Alana dan melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu, memaksanya untuk terus menonton. "Aku tidak akan membunuh mereka, Alana. Aku hanya ingin memberi mereka pelajaran agar mereka tahu bahwa informan kebanggaan mereka, Silent Cat, sekarang sudah menjadi milikku."

Tepat saat pintu besi gudang didobrak, sebuah ledakan frekuensi suara tinggi dan gas air mata yang sudah dipasang Arkano meledak serentak. Di layar, rekan-rekan polisi Alana tumbang seketika, mengerang kesakitan sambil memegangi telinga mereka. Dalam sekejap, anak buah Arkano muncul dari balik bayangan dan melucuti senjata mereka tanpa perlawanan berarti.

"Selesai," gumam Arkano puas. Ia mengecup pelipis Alana yang kini basah oleh air mata. "Mulai malam ini, namamu di kepolisian resmi mati. Hendra akan menganggapmu pengkhianat yang menjebak timnya sendiri. Sekarang, tidak ada lagi jalan kembali ke sana."

Keesokan paginya, Alana terbangun dengan perasaan kosong. Namun, dunianya yang baru tidak memberinya waktu untuk meratapi nasib. Marco masuk membawa sebuah kotak besar berisi gaun bodycon berwarna merah menyala dengan potongan leher yang rendah.

"Tuan Arkano ingin Anda tampil sempurna hari ini, Nyonya. Kita ada pertemuan penting di pusat kota," ucap Marco datar.

Alana menatap pantulannya di cermin saat para pelayan merias wajahnya. Riasannya dibuat berani—smokey eyes dan lipstik merah gelap yang membuatnya tampak tangguh namun berbahaya. Ia bukan lagi agen Alana yang idealis. Ia kini tampak seperti pajangan mewah milik seorang mafia.

Limasin hitam membawa mereka ke sebuah kasino pribadi yang eksklusif. Di dalam ruangan VIP yang dipenuhi aroma cerutu mahal, Alana harus menjalankan perannya sebagai istri mafia yang glamor. Arkano duduk di kursi kebesarannya, dan tanpa ragu ia menarik Alana untuk duduk di pangkuannya di depan Mr. Chang, pemimpin kartel internasional.

"Jadi ini istri yang kau banggakan, Arkano? Cantik sekali, tapi apakah wanita cantik bisa menjaga rahasia bisnis kita?" tanya Mr. Chang dalam bahasa Inggris.

Arkano mengusap paha Alana dengan ibu jarinya, sebuah gestur posesif yang membuat Alana harus menahan diri. "Dia bukan hanya istri. Dia adalah perisai informasiku. Jika ada tikus yang mencoba menyusup, dialah orang pertama yang akan mencium baunya."

Alana terpaksa tersenyum tipis. Namun, instingnya sebagai agen intelijen tidak bisa mati begitu saja. Matanya menyisir setiap orang di ruangan itu. Saat matanya jatuh pada anak buah Mr. Chang yang berdiri di pojok, ia melihat sebuah tonjolan aneh di balik kerah jas pria itu—sebuah pemancar mini.

Mereka sedang menyadap Arkano, pikir Alana secepat kilat.

Inilah momen dilemanya. Jika ia diam saja, Arkano mungkin akan jatuh dalam jebakan. Namun, ia teringat Rian yang masih disekap. Jika Arkano hancur sekarang dalam kekacauan, klan rival pasti akan menyerbu mansion dan menghabisi semua orang, termasuk Rian yang tak berdaya.

Alana mencondongkan tubuhnya ke telinga Arkano, berpura-pura memberikan ciuman manja di pipi pria itu. "Arkano, dengarkan aku," bisiknya sangat lirih. "Pria di sebelah kiri Mr. Chang membawa alat penyadap aktif. Mr. Chang tidak datang untuk bernegosiasi, dia datang untuk merekam bukti transaksi kita."

Arkano tidak mengubah ekspresi wajahnya, namun Alana bisa merasakan otot tubuh Arkano yang mendadak mengeras. "Oh, begitu? Bagus sekali, Sayang. Kau benar-benar istri yang berguna."

Tiba-tiba, Arkano tertawa keras hingga seisi ruangan terdiam. "Mr. Chang, aku baru sadar kalau aku tidak suka dengan 'telinga' tambahan yang kau bawa ke dalam ruanganku!"

Dalam sekejap mata, Marco dan anak buah Arkano mencabut senjata mereka. Arkano menarik pistol dari balik jasnya dan menodongkannya tepat ke dahi Mr. Chang. "Kau berani menyadapku di rumahku sendiri, Chang?"

Setelah kekacauan itu berakhir dan musuh-musuh diseret keluar, Arkano kembali duduk di sofa. Ia menarik Alana ke dalam pelukannya yang sangat erat. "Kau baru saja membuktikan loyalitasmu, Alana. Kau menyelamatkan nyawa suamimu hari ini."

Arkano mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. Alana terbelalak. Itu adalah foto Rian yang sedang duduk di sebuah kafe di pinggiran kota, sedang meminum kopi dengan perban di kepalanya.

"Sesuai janjiku. Karena kau membantuku malam ini, aku sudah memerintahkan Marco untuk melepaskan sahabatmu itu satu jam yang lalu. Dia aman sekarang," ujar Arkano.

Alana merasa lega sekaligus sesak. Rian selamat, tapi harga yang harus ia bayar adalah kehilangan seluruh hidup lamanya. Arkano mencium kening Alana dengan lembut, sebuah ciuman yang terasa seperti segel kepemilikan.

"Mulai besok, aku akan memberimu sedikit kebebasan. Kau boleh berjalan di taman tanpa pengawalan ketat Marco. Anggap itu hadiah karena telah menjadi istri yang baik," bisik Arkano.

Alana menatap Arkano dengan pandangan yang sulit diartikan. Kebebasan itu adalah peluang. Di balik gaun merah yang glamor ini, Alana tahu satu hal: Permainan baru saja dimulai. Ia akan menggunakan kebebasan itu untuk mencari tahu apa sebenarnya "Projek Silent Cat" yang disembunyikan Arkano.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!