Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Singgasana di Atas Badai
Setelah penaklukan Sekte Daun Hijau yang hanya memakan waktu satu malam, kabar tentang kemunculan seorang pemuda misterius berjubah abu-abu menyebar seperti api liar di wilayah Gunung Canglan.
Namun, Xiao Chen tidak terburu-buru. Ia menghabiskan tujuh hari di dalam aula utama yang kini telah direnovasi total dengan kain-kain hitam yang menjuntai, memberikan kesan agung sekaligus mencekam.
Hari ini adalah hari penyatuan resmi. Halaman luas sekte yang dulunya hijau kini dipenuhi oleh seratus mantan murid Daun Hijau dan tiga puluh bandit Geng Tengkorak Hitam. Mereka semua berdiri dalam keheningan yang menyesakkan, menatap ke arah tangga aula.
Pintu aula terbuka perlahan. Xiao Chen melangkah keluar.
Ia tidak mengenakan zirah perang yang berat atau jubah sutra yang mencolok. Ia hanya mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat dengan bordiran perak tipis di bagian kerah—sebuah penghormatan sunyi untuk warna rambut Bai.
Rambut hitamnya dibiarkan terurai, dan setiap langkahnya memancarkan ketenangan yang begitu dalam hingga mampu membungkam naluri liar para bandit di bawahnya.
Karisma yang ia miliki bukan berasal dari kekuatan otot, melainkan dari aura seorang penguasa yang telah melihat keruntuhan kekaisaran dan kebangkitan dewa.
Matanya yang hitam pekat seolah mampu menembus jiwa siapa pun yang berani menatapnya.
Xiao Chen berdiri di depan tangga, menatap massa di bawahnya. Ia tidak berteriak, namun suaranya yang tenang bergema dengan jelas di telinga setiap orang berkat kontrol Qi yang presisi.
"Kalian berdiri di sini dengan rasa takut, rasa ingin tahu, dan mungkin kebencian," ucap Xiao Chen. Ia berjalan perlahan di sepanjang tepi balkon. "Beberapa dari kalian adalah bandit yang terbiasa hidup di lumpur, dan beberapa adalah murid sekte yang terbiasa hidup dalam ilusi kehormatan. Tapi bagi dunia luar, kalian semua sama: Mangsa."
Ia berhenti dan menatap Ye Fan, sang mantan ketua sekte yang kini berlutut di barisan depan.
"Dunia ini tidak peduli seberapa keras kalian berlatih jika kalian berdiri sendiri. Kekuatan tanpa persatuan adalah debu yang menunggu ditiup angin," Xiao Chen merentangkan tangannya, dan tiba-tiba kabut ungu halus muncul dari telapak tangannya, membentuk naga kecil yang berputar di udara sebelum menghilang. "Aku tidak menjanjikan kalian kebaikan. Aku menjanjikan kalian kekuatan untuk tidak lagi menjadi mangsa."
Seorang murid Daun Hijau yang masih ragu berteriak dari kerumunan, "Bagaimana kami tahu kau bukan sekadar tiran lain?!"
Xiao Chen menoleh. Tatapannya tidak mengandung amarah, hanya keheningan yang dingin. "Seorang tiran mengambil milikmu untuk kepentingannya. Aku? Aku memberikan kalian teknik yang akan membuat kalian ditakuti oleh mereka yang meremehkan kalian. Jika itu disebut tirani, maka berlututlah pada tirani ini, karena alternatifnya adalah kematian di tangan musuhmu."
Seketika, ia melepaskan sedikit tekanan mental dari sisa-sisa Ranah Raja Roh yang tersimpan di dalam jiwanya.
Meskipun basis kultivasinya masih rendah, kehendak miliknya adalah milik seorang legenda. Seluruh kerumunan tiba-tiba merasa lutut mereka lemas, bukan karena dipukul, tapi karena jiwa mereka merasa sedang berhadapan dengan langit itu sendiri.
Di saat ketegangan mencapai puncaknya, gerbang luar sekte tiba-tiba hancur berkeping-keping.
BOOM!
"Xiao Chen! Keluar kau, pengecut!" seorang pria raksasa setinggi dua meter dengan kulit berwarna perunggu gelap masuk sambil menyeret kapak perang raksasa. Di belakangnya, puluhan pria beringas berpakaian kulit serigala mengikuti.
Dialah Guan Tie, pemimpin Geng Serigala Besi. Ia berada di Ranah Pengumpulan Qi tingkat puncak dan terkenal memiliki teknik "Tubuh Besi Karang" yang tidak bisa ditembus pedang biasa.
"Aku mendengar ada pengemis yang mencoba bermain menjadi raja di sini!" Guan Tie tertawa kasar, suaranya menggetarkan kaca-kaca bangunan. "Ye Fan, kau benar-benar memalukan karena bersujud pada bocah ingusan ini!"
Xiao Chen tidak bergeming. Ia bahkan tidak mengubah posisinya. Ia hanya menatap Guan Tie dari atas tangga dengan senyum tipis yang penuh penghinaan.
"Guan Tie," suara Xiao Chen terdengar begitu tenang di tengah kegaduhan itu. "Kau datang tepat waktu. Aku sedang mencari seseorang untuk menunjukkan kepada pengikutku... apa yang terjadi pada seekor serigala yang mencoba menggigit naga."
Xiao Chen mulai berjalan turun tangga, langkah demi langkah. Setiap langkahnya membuat aura hitam di sekitarnya semakin padat.
"Tuan, biarkan hamba menghadapinya!" Ye Fan mencoba maju, namun Xiao Chen mengangkat tangan, menghentikannya.
"Tidak, Ye Fan. Karisma seorang pemimpin tidak hanya dibangun dengan kata-kata, tapi dengan darah musuh yang paling keras sekalipun," Xiao Chen berdiri di hadapan Guan Tie yang ukurannya dua kali lipat darinya. "Guan Tie, aku akan memberimu tiga serangan gratis. Jika kau bisa menggeserku sejengkal saja, aku akan memberikan kepalaku padamu."
Mendengar tantangan yang begitu sombong namun penuh wibawa itu, seluruh halaman sekte menjadi sunyi senyap.
Keberanian dan ketenangan Xiao Chen yang luar biasa mulai meracuni pikiran semua orang dengan satu keyakinan: Pria ini tidak mungkin kalah.
Guan Tie meraung, otot-ototnya membengkak hingga urat-uratnya terlihat seperti akar pohon. "Mati kau, bocah sombong!"
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.