NovelToon NovelToon
LINTAS DIMENSI

LINTAS DIMENSI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Time Travel / Penyeberangan Dunia Lain / Hari Kiamat / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..

Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.

Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.

Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.

Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.

Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Berhasil lagi

Meski hanya fokus dengan makanannya, Aruna masih bisa memahami apa yang terjadi. Racun Pelangi memang sangat mematikan, Tapi racun ini tidak memiliki efek kepada menusia, kecuali ada pemicunya.

"Masih bisa diselamatkan!" ucap Aruna santai namun penuh keyakinan. Dia memang bisa menyelamatkannya, racun ini hanya dianggap mainan di tahun 3000.

Serempak orang-orang yang berbalik untuk mencari tau sumber suara itu. Seperti sebelumnya, mereka pasti terpesona dengan wajah Aruna yang sangat cantik, ketakutan yang mereka rasakan seketika hilang tergantikan dengan rasa kagum.

"Kau, tidak usah ikut campur. Tabib Jung saja tidak bisa menyelamatkan sahabatku." Ucap Lusi dengan geram, setelah melihat Aruna yang sangat cantik.

"Nona, ini masalah besar. Jangan mengatakan yang tidak-tidak!" ucap sang Manager.

Semua orang mengangguk setuju, Nona ini memang cantik, tapi dia malah bercanda di waktu yang tidak tepat. Nyawa seseorang bukanlah lelucon untuk dipermainkan.

Tapi berbeda dengan Yumi, dia langsung beranjak dan berjalan ke sisi Aruna yang masih duduk dengan santai, Yumi tidak melihat adanya perubahan emosi setelah orang-orang mencibirnya.

"Nona,,, nona... Betulkah apa yang Anda katakan,? Sepupu saya masih diselamatkan?" Yumi bertanya dengan tergesa-gesa.

Orang-orang yang melihat tindakan Yumi hanya bisa menggeleng dengan prihatin, Yui adalah sepupunya, wajar dia bertindak seperti itu.

"YUMI,,, apa-apaan kamu? Kamu tidak lihat, nona ini hanya gadis muda yang seumuran dengan kita, mana mungkin dia mengerti tentang pengobatan, jikapun dia tau, pasti hanya untuk penyakit ringan saja." Lusi menjelaskan dengan perasaan kalut.

Yumi yang tadinya memiliki sedikit harapan, seketika sirna. Apa yang dikatakan Lusi memang benar, Nona cantik ini tidak mungkin bisa menyelamatkan sepupunya, pasti dia hanya membual saja.

"Ya, apa yang dikatakan Nona Lusi benar. Yang aku tau, Tabib perempuan hanya ada di Ibu Kota, itupun sudah berumur." Salah satu Pelanggan wanita yang menggunakan pakaian mewah.

Orang-orang menatap Aruna dengan pandangan yang berbeda-beda. Untung dia cantik, jika tidak, mungkin saat ini dia sudah dimaki-maki atau bahkan sudah di usir dari Restoran.

"Astaga,, Nona itu Anda..?" Seru Tabib Jung dengan wajah berseri-seri. Dia baru mengenali Aruna setelah melihat dari jarak dekat. Tabib Jung juga sempat terpesona melihat kecantikan Aruna, mengingat tingkahnya yang menggelikan membuatnya sangat malu.

Aruna sangat suka perdebatan ini, dia hanya diam dan mendengar mereka saling berdebat, tapi dia terkejut karena ada seseorang yang mengenalinya.

Ternyata Tabib yang pernah datang ke Desa Jujing, sehingga keduanya saling kenal secara singkat. "Ya, dari tadi aku di sini." kata Aruna sambil beranjak menuju gadis yang masih tergelatak.

"Nona, apakah benar bisa di selamatkan?" tanya Tabib Jung dengan rasa penasaran.

Tabib Jung mengutuk dirinya sendiri, kenapa dia tidak sadar akan kehadiran Aruna sejak awal, padahal wajah Aruna yang paling mencolok.

"Kau berhenti mengguncang tubuhnya, racun itu akan lebih cepat menyebar jika tubuhnya ada pergerakan" Tegur Aruna pada Yumi.

"Tentu bisa diselamatkan!" lanjutnya menjawab.

Melihat Tabib Jung yang berbicara sopan dengan Aruna, membuat orang-orang penasaran dengan hubungan keduanya.

"Tidak... Kau tidak boleh menyentuh sahabatku. Kau akan membunuhnya lebih cepat," Lusi kembali menentang Aruna.

"Tabib Jung, Anda Tidak bisa percaya begitu saja dengan orang lain. Tapi melihat kalian berdua saling kenal, mungkin ada hubungan yang spesial." lanjutnya sambil tersenyum licik.

Mendengar Lusi makin menjadi, tatapan Aruna berkilat di tajam, "Dari tadi kau sangat berisik, sahabatmu sedang diambang kematian, tapi kau bahkan tidak terlihat bersedih. Kau malah sibuk menghalangi bantuan, apa jangan-jangan kau yang -----"

"Apa yang kau katakan haa,,? Mana mungkin aku meracuni sahabatku sendiri." Ujarnya buru-buru tanpa sadar.

Aruna menyeringai "Oh, padahal aku tidak mengatakan itu." katanya dengan semangat, ternyata seru juga berdebat dengan bocah ingusan.

Orang-orang yang cepat tanggap langsung menatap Lusi dengan pandangan tajam. Omongannya yang tidak sadar barusan, menuntun mereka untuk mengingat kembali dari awal, dan ya, Lusi tidak pernah terlihat bersedih.

Lusi menatap Aruna tajam, dia terjebak dengan kata-katanya sendiri. Baru saja dia ingin beralasan, tapi pintu Restoran terbuka, Tim Penyelidik akhirnya datang. Dia bisa menghela nafas lega, tidak perlu lagi menjelaskan ucapannya.

"Beri jalan, Tim penyelidik sudah tiba!" ucap seorang pengawal dengan suara tegas dan sedikit keras.

Kerumunan langsung mundur untuk memberi ruang kepada Tim penyelidik. Ada sekitar 5 orang yang datang, pemimpin mereka terlihat masih berumur di bawah 30 tahunan.

Sang Manager menjelaskan apa yang terjadi. Setelah mengetahui situasinya merekapun hanya bisa menghela nafas, Tabib saja tidak mampu, apalagi mereka. Namum, mereka bisa membantu menyelidiki dari mana asal racun itu.

"Tabib Jung, sisa 10 menit lagi." Aruna tiba-tiba menyahut di saat semuanya orang terdiam.

"Oh kau gadis yang mengaku bisa menyelamatkannya?" tanya si Pemimpin. Dia Juga tertegun melihat wajah cantik Aruna.

"Hanya bisa dibuktikan setelah mencobanya!" Balas Aruna dengan raut wajah tenang. Dia tidak terburu-buru atau gelisah karena waktu tinggal sedikit lagi.

"Saya setuju dengan ucapan Nona Aruna, daripada hanya diam tidak melakukan sesuatu. Jikapun tidak berhasil, setidaknya kita sudah berusaha!" Ujar Tabib Jung.

Mendengar Tabib Jung menyebut nama Aruna dengan santai, sepertinya mereka memang sudah sangat akrab. Tapi siapa gadis ini? Semua makin penasaran.

Tim Penyelidik juga sebenarnya setuju, tapi mereka tidak berhak untuk mengambil tindakan. Tugas mereka hanya menyelidiki kasus tersebut.

"Nona, saya setuju. Selamatkan sepupu saya! Saya akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu," Yumi memohon dengan putus asa.

"Ya, saya juga yang akan bertanggung jawab!" Tabib Jung memberi dukungan.

Semua pelanggan yang tadinya ragu, seketika maju satu persatu untuk mendukung. Mereka merasa tercerahkan setelah mendengar ucapan Tabib Jung, 'Setidaknya kita sudah berusaha'. Apalagi Tabib Jung mengenal Aruna, tidak mungkin Tabib Jung bertindak gegabah.

Tapi tiba-tiba kembali terdengar keributan dari luar, rombongan keluarga Yu masuk, wajah mereka terlihat sedih, gelisah dan juga takut. Saat seseorang datang memberitahu, jika Yui keracunan, membuat keluarga Yu meninggalkan pekerjaan dan bergegas ke Restoran Boilu.

"Yuii,, Yuiiii.. Anakku Yuii,, Wuwuwuw." Seorang wanita langsung bersimpuh dan memeluk Yui sambil menggoyangkan badannya, berharap anaknya bangun.

"Nyonya, apa yang anda lakukan itu akan mempercepat kematiannya." Aruna kembali menjelaskan.

Mendengar ucapan Aruna, wanita itu langsung terdiam. "Apa maksudmu? Anakku masih hidup?" tanyanya dengan suara serak.

"Ya, tersisa 5 menit lagi."

Tabib Jung langsung menceritakan apa yang terjadi. Keluarga Yu langsung lemas tak berdaya saat mendengar anaknya keracunan 'Rumput Pelangi', Bahkan Ibu Yui langsung tidak sadarkan diri. Ibu Yui di bawah ke sebuah ruangan, dia hanya terlalu syok, sampai pingsan.

Tabib Jung, meminta Keluarga Yu untuk mengizinkan Aruna segera melakukan pemeriksaan. Dia bahkan memberitahu, jika Aruna adalah Tabib sakti yang sudah menyelamatkan nyawa Ibu dan Anak, saat persalinan dengan posisi tidak normal.

Mendengar status Aruna sebagai Tabib Sakti, semua langsung heboh. Siapa yang tidak tau berita yang lagi ramai dibicarakan di kota Nuwu, Bahkan mereka sampai berdoa bisa dipertemukan dengan sang Tabib. Tapi, setelah diberi kesempatan, mereka malah meragukannya. Ini semua salah Tabib Jung, karena tidak memberitahu mereka lebih awal.

Tabib Jung hanya tertawa canggung, dan langsung meminta maaf. Tertundanya penyelamatan Yui juga karena dirinya.

"Tabib Jung, apa Anda yakin? Tabib sakti itu adalah gadis ini?" Tanya Lusi sambil menatap Aruna tak percaya.

Tabib Jung memutar matanya dengan kesal. "Saya datang langsung ke Desa Jujing untuk membuktikannya. Bagaimana, apa kau belum puas?"

Ayah Yui menatap Lusi dengan tajam, dia juga kesal, karena dari cerita yang dia dengar, Lusi selalu mengulur-ulur waktu agar Aruna tidak memeriksa Anaknya.

"Saya sebagai Ayahnya, memberi izin kepada Nona Aruna, jadi kau diam saja!" Ucapnya dengan tegas, dia sebenarnya tidak suka Anaknya berteman dengan Lusi, tapi Anaknya mempunyai sifat yang terlalu baik, berteman kepada siapapun.

Lusi hanya diam, dia seketika gugup. Bagaimana jika Aruna benar-benar bisa menyelamatkan Yui?

Karena sudah diberi izin, Aruna duduk bersila di samping Yui, "Silahkan mundur sejauh dua meter!" Pintanya sambil mengeluarkan sesuatu dalam bajunya, Sebenarnya dari dalam ruangnya.

Terlihat dompet kain yang berwarna merah, saat isinya dikeluarkan ternyata jarum perak yang sangat banyak.

Tabib Jung terbelalak, dia berseru pelan dengan gembira. "Astaga,,, itu jarum Akupuntur."

"Ya ya,, aku juga pernah melihatnya di dalam buku sejarah. Dan sekarang aku bisa melihatnya secara langsung" Wanita berpakaian mewah juga tak kalah antusias.

"Tak disangka, ternyata masih ada Tabib yang bisa melakukan akupuntur, selain Tabib Istana.

Aruna mengabaikan semua itu, dia hanya fokus dengan jarum peraknya.. Semua juga ada urutannya, tidak asal tusuk saja. Bagian kepala, dada dan kaki.

Setelah selesai, dia harus melukai setiap ujung jari Yui agar racun lebih cepat keluar, karena racun sudah tersebar luas, Aruna melepas jepit rambutnya. Dan,

Klik...

Sebuah pisau kecil, tipis tapi tajam langsung kelaur dari ujung jepitannya. Tindakannya, membuat semua orang terkejut sekaligus takjub.

"Waahh, perpaduan yang sangat unik!"

"Ya,, tak disangka jepit rambut itu sangat berbahaya!"

"Aku juga ingin benda seperti itu, terlihat sangat berguna, bisa untuk berjaga-jaga jika berjalan keluar rumah sendiri"

Para kerumunan kembali heboh tapi dengan suara pelan. Mereka bertanya-tanya, di mana Aruna membeli jepit rambutnya itu. Para Tim penyelidik juga bahkan sampai tertarik, Kecil tapi berbahaya.

Dari ujung jari Yui yang sudah terluka, mengeluarkan darah berwarna hitam. Itulah racun Rumput Pelangi yang sudah menyatu dengan darah.

Aruna beranjak menghampiri Tabib Jung, "Tolong, perhatikan darahnya! Jika sudah kembali normal, bersihkan dan balut."

Aruna juga mengatakan, Jika Yui sudah bisa digerakkan. Jadi Ayah Yui, meminta keluarganya untuk membawa Yui ke sebuah Klinik yang tidak jauh dari Restoran.

"Nona apakah Anda tidak ikut?" tanya Ayah Yui dengan cemas. Dia belum bisa bernafas lega, karena Yui belum sadar.

"Tidak, aku menunggu di sini, kalian panggil aku setelah tiga puluh menit" Aruna lapar, jadi dia ingin melanjutkan tujuannya datang ke Restoran.

Ayah Yui mengagguk, dia mengerti maksud Aruna. Dan dia meminta pelanggan lainnya kembali memesan makanan, dia yang akan membayar semuanya. Makan mereka semua terganggu karena Anaknya keracunan.

Mendengar itu, semua orang berseru dan mengucapkan terima kasih. Mereka juga meminta Ayah Yui untuk tidak merasa bersalah, karena semua terjadi tanpa terduga. Tim penyelidik, sudah berpencar untuk mencari tau racun itu dijual di mana saja. Menurut Tabib Jung, makanan yang dimakan Yui tidak beracun, jadi mereka menyimpulkan, Yui sudah keracunan sebelum datang ke Restoran.

Di luar Restoran sudah ramai orang-orang berkumpul, karena melihat kedatangan Tim penyelidik dan keluarga Bangsawan Yu. Jika berkaitan dengan Tim Penyelidik, pasti ada masalah besar. Dan setelah Yui di bawa ke klinik menggunakan tandu barulah mereka berani bertanya, kepada orang-orang yang ada di dalam.

Tidak butuh waktu lama, kabar dari Anak Bangsawan Yu yang keracunan Rumput Pelangi tersebar luas.

Aruna di dalam Restoran hanya memesan teh hangat saja, setelah melihat dan mendengar para pelanggan akan makan gratis setelah Yui dinyatakan selamat. Tidak mungkin mereka makan dengan bahagia, sedangkan disisi lain ada seseorang yang sedang sekarat, dan mereka semua menyaksikannya secara langsung.

Aruna bertanya ke pada sala satu pelayan, apakah ada ruangan yang bisa dia gunakan untuk beristirahat. Sang pelayan dengan semangat mengajaknya ke ruang peristirahatan mereka.

Pelayan bertanya. "Nona, apa Anda perlu dibuatkan sesuatu?" Menatap Aruna dengan berbinar.

"Tidak perlu" balasnya.

Setelah melihat Pelayan itu pergi, Aruna masuk dan mengunci pintu. Sebenarnya dia sangat lapar, apalagi sekarang sudah jam 12 siang, Aruna masuk ke dalam ruangnya, dia mandi terlebih dahulu dan mencari makanan yang siap saji.

Beberapa menit berlalu, Aruna mendengar ketukan pintu. Dia keluar dan melihat seseorang yang berbeda.

"Nona, saya dari Klinik, diminta untuk memanggil Anda!" Ucapnya sedikit gugup.

Ternyata sudah waktunya, "Baik, ayo kita pergi."

Setelah keluar dari Restoran, ternyata masih banyak orang yang berkumpul di depan. Mereka menunggu, karena penasaran dengan Tabib Sakti, setelah melihat Aruna keluar dan berjalan dengan penuh wibawa membuat mereka jantungan. 'Cantik dan menawan.'

Hanya perlu menyeberang jalan untuk ke Klinik. Melihat keluarga besar Yu yang masih berkumpul dengan raut penuh ke khawatiran membuatnya sangat iri kepada Yui. Keluarga? Dia bahkan tidak tau, apakah orang tuanya masih hidup atau tidak.

Masuk ke ruang pasien, ada Tabib Jung yang baru saja menyelesaikan tugasnya, membalut jari-jari Yui.

Tabib Jung langsung beranjak, dia tau sekarang waktunya untuk mencabut jarum. Dia berdiri di samping Aruna untuk melihat cara kerjanya. Gesit tapi teratur, itulah yang dia lihat, makin membuatnya bertanya-tanya. Apakah Aruna belajar pengobatan dari bayi?

"Tabib Jung, bagaimana kondisinya?" tanya Aruna disela-sela kegiatannya.

"Nadinya masih lemah!" ujarnya.

Aruna mengangguk lalu berkata. "Tolong, periksa kembali!" Jarum juga sudah tercabut semua.

Meski bingung, Tabib Jung tetap memeriksa nadi Yui. Dia terkejut lalu berseru "Astaga, nafasnya sudah stabil..Nona Yui benar-benar telah selamat. Nona Anda berhasil"

Aruna tidak terkejut, dia sudah berkata, racun itu hanya mainan baginya.."Ya, selanjutnya Tabib Jung ambil alih. Saya harus balik kerombongan, mereka pasti sudah menungguku."

"Astaga saya hampir lupa!" Dia benar-benar lupa jika Aruna hanya mampir di kota Nuwu. "Baik nona, jadi apa yang dilakukan selanjutnya?"

"Dia hanya perlu minum obat selama tiga hari, agar tenaganya cepat pulih." jelas Aruna

"Baik-baik,,, nanti saya akan tulis resep obatnya."

Keduanya beranjak keluar, dan Tabib Jung memberi tahu kabar tersebut. Keluarga besar Yu sangat bahagia, semua langsung bernafas lega karena Yui bisa selamat dari racun Rumput Pelangi. Aruna juga mangatakan, jika Yui akan bangun sekitar satu jam kedepan.

"Yuii Yuii,,, wuwuwu kamu selamat Nak,!"

Aruna mengizinkan keluarga besar Yu masuk untuk melihat Yui secara bergiliran. Dia berjalan keluar dan melihat ada beberapa orang yang datang untuk sedang membeli obat.

1
Andira Rahmawati
ceritanya sgt keren
Andira Rahmawati
kerennnn👍👍👍👍
lanjut thorr💪💪💪
Chen Nadari
luar biasa thor👍
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
👍👍👍👍👍
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
ayo Thor lanjut 👍👍👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!