NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pelakor jahat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Duda / Berbaikan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Makan Siang & Prosedur Konyol

​"Gila! Ini gila banget, Ndan!"

​Raka menepuk meja rapat dengan semangat berapi-api, matanya tidak lepas dari layar monitor besar di dinding.

Peta digital kota yang tadinya penuh dengan titik merah kini mengerucut pada satu area spesifik: Kompleks Pergudangan West Bay.

​"Data jejak pembelian dry ice ilegal dan akses rumah sakit ini... semuanya mengarah ke satu nama. Dr. Hanggara, mantan ahli anestesi yang dipecat enam bulan lalu," lanjut Raka sambil membalik halaman laporan dengan cepat. "Profil psikologisnya juga cocok. Obsesif, narsis, dan punya riwayat kekerasan. Kita nggak perlu lagi nyisir satu kota. Kita tinggal serbu apartemennya!"

​Kalandra hanya diam, menyesap kopinya yang sudah dingin. Hatinya mencelos. Itu nama yang ada di dalam flashdisk pemberian Zoya.

Analisis istrinya bukan sekadar akurat, tapi menakutkan. Zoya praktis menyodorkan tersangka utama di atas piring perak.

​"Hebat banget insting Komandan," celetuk Sinta tiba-tiba. Polwan itu berdiri di samping proyektor, tersenyum manis ke arah anggota tim lain yang tampak kagum. "Padahal Komandan cuma tidur dua jam semalam, tapi masih sempat riset data seakurat ini. Beda ya kalau pemimpin yang punya dedikasi tinggi."

​Kalandra melirik Sinta tajam. "Sin, itu bukan—"

​"Ah, Komandan merendah terus," potong Sinta cepat, suaranya dikeraskan agar didengar seluruh ruangan. "Kita semua tahu kok, Komandan kerja sendirian semalaman suntuk di ruangan. Nggak kayak orang lain yang cuma taunya terima beres."

​Raka mengangguk setuju, tidak tahu apa-apa. "Benar juga. Untung Komandan gercep. Kalau nunggu forensik resmi, keburu kabur tuh orang."

​Kalandra mengatupkan rahangnya. Dia mau membantah, mau bilang kalau ini hasil kerja istrinya, tapi lidahnya kelu. Gengsinya menahan kejujuran itu. Lagipula, dia ingat pesan Zoya.

Sinta tersenyum puas, merasa berhasil mengamankan citra Kalandra—dan posisinya sebagai 'pendamping' setia sang Komandan di kantor.

​Sementara itu, di halaman parkir Markas Besar Kepolisian, sebuah taksi premium berhenti. Pintu terbuka, dan sepasang heels berwarna nude menapak aspal panas yang berdebu.

​Zoya turun dengan anggun. Penampilannya hari ini sangat kontras dengan suasana kantor polisi yang suram dan penuh orang-orang berseragam kucel.

Dia mengenakan blazer linen warna oatmeal dengan potongan clean cut yang membalut kaos putih polos, dipadukan dengan celana kulot senada. Simpel, tapi siapa pun yang tahu mode pasti mengenali logo kecil Valora di kacamata hitamnya.

​Aura Old Money-nya menguar kuat. Dia tidak perlu logo besar mentereng untuk terlihat mahal.

​Di tangan kanannya, Zoya menenteng rantang susun stainless steel premium yang dibungkus kain furoshiki jepang.

Isinya gulai kepala kakap pesanan mertuanya yang super rewel. Kalau bukan karena Ibu mertuanya yang menelepon sambil menangis minta Zoya "melayani suami", Zoya lebih memilih tidur siang di rumah.

​Zoya berjalan masuk ke lobi. Beberapa polwan muda yang sedang ngerumpi di dekat mesin kopi langsung terdiam, menatap Zoya dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan iri bercampur minder.

​"Siapa tuh? Artis?" bisik salah satu dari mereka.

​Zoya mengabaikan bisik-bisik itu. Dia berjalan lurus menuju gerbang keamanan digital yang memisahkan lobi umum dengan area kantor divisi kriminal. Langkahnya mantap, tatapannya tersembunyi di balik kacamata hitam.

​"Berhenti!"

​Suara melengking itu membuat langkah Zoya terhenti tepat di depan palang pintu otomatis.

​Sinta muncul dari balik meja resepsionis, seragamnya ketat seperti biasa, wajahnya penuh riasan tebal yang mulai luntur karena minyak. Dia melipat tangan di dada, menghadang jalan Zoya dengan dagu terangkat.

​"Mau ke mana, Bu?" tanya Sinta dengan nada yang dibuat-buat sopan tapi matanya menyiratkan permusuhan.

​Zoya menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap Sinta datar. "Antar makan siang buat Kalan."

​"Maaf ya, Bu Zoya," Sinta menekankan nama 'Zoya' dengan nada meremehkan. "Sekarang lagi jam operasional steril. Sesuai SOP baru, warga sipil dilarang masuk ke area penyidikan. Komandan lagi sibuk banget memimpin rapat strategi. Nggak bisa diganggu urusan perut."

​Zoya mengangkat alis sebelah. "SOP? Sejak kapan istri dilarang masuk ruangan suami? Kemarin aku ke sini nggak ada aturan begitu."

​"Namanya juga aturan, bisa berubah sewaktu-waktu demi keamanan negara," jawab Sinta asal, bibirnya menyunggingkan senyum licik. "Kalau Ibu mau maksa kasih makanan, taruh saja di sana."

​Sinta menunjuk meja resepsionis kayu yang penuh tumpukan paket, helm ojek online, dan noda lingkaran bekas gelas kopi yang lengket dikerubungi semut.

​Zoya melirik meja kotor itu, lalu kembali menatap Sinta. "Kamu suruh aku taruh makanan Kalan di tempat sampah?"

​"Lho, itu meja resepsionis, Bu. Bukan tempat sampah," elak Sinta santai. "Kalau Ibu nggak mau, ya bawa pulang lagi aja. Komandan juga belum tentu doyan masakan rumah, beliau biasanya makan katering sehat yang saya pesankan."

​Kata-kata itu sengaja dipilih untuk memanas-manasi. Tapi Zoya tetap tenang. Wajahnya sedingin es batu.

​"Minggir. Aku mau lewat," ucap Zoya pelan namun tegas.

​"Eh, nggak bisa gitu dong!" Sinta merentangkan tangan, menghalangi sensor pintu. "Saya ini petugas yang berwenang di sini. Ibu harus patuh sama prosedur. Lagian, saya harus periksa dulu barang bawaan Ibu. Tas mahal Ibu itu... siapa tahu isinya alat penyadap atau benda tajam yang membahayakan Komandan."

​Alasan yang konyol. Sinta jelas-jelas hanya ingin mempermalukan Zoya. Tanpa permisi, tangan Sinta langsung menyambar tali tas Valora yang tersampir di bahu Zoya.

​"Sini tasnya! Buka!" bentak Sinta kasar, kukunya yang panjang nyaris menggores kulit tas kulit asli itu.

​Zoya tidak tinggal diam.

​Plak!

​Dengan gerakan cepat dan tak terduga, Zoya menepis tangan Sinta keras-keras. Bukan tepisan manja, tapi tepisan bertenaga yang membuat tangan Sinta terpental dan membentur pinggiran meja resepsionis.

​"Aw! Kasar banget sih jadi orang!" pekik Sinta, memegangi pergelangan tangannya sambil mendelik. Beberapa petugas jaga di lobi langsung menoleh kaget, tapi tidak ada yang berani mendekat melihat aura membunuh dari Zoya.

​Zoya tidak marah. Dia tidak berteriak. Dia justru merogoh saku blazernya dengan santai.

​Sinta mundur selangkah, waspada. "Ibu mau ngapain? Mau ngeluarin senjata? Saya teriak nih!"

​Zoya mengeluarkan sebuah stopwatch digital kecil berwarna perak—barang yang biasa dia pakai di lab untuk mengukur waktu reaksi kimia.

​Klik.

​Angka di layar mulai berjalan.

​"Aku beri waktu tiga puluh detik," ucap Zoya dingin, matanya menatap tajam tepat ke manik mata Sinta yang mulai goyah. "Tiga puluh detik untuk menyingkir dari hadapanku dan membuka gerbang itu."

​"Hah? Ibu ngancem saya?" tantang Sinta, meski suaranya mulai gemetar. "Siapa Ibu main perintah-perintah di kantor polisi?"

​"Dua puluh lima detik," hitung Zoya tanpa peduli protes Sinta. Dia mengangkat ponselnya dengan tangan kiri. "Atau aku telepon Kalan sekarang. Aku akan bilang kalau logistik Komandan ditahan oleh anak buahnya yang menyalahgunakan wewenang dengan alasan SOP palsu. Kita lihat siapa yang akan kena sanksi disiplin hari ini. Istri Komandan, atau polwan yang sibuk mengurus tas tamu daripada menangkap penjahat?"

​"I-itu..." Sinta tergagap. Wajahnya pucat. Dia tahu Kalandra paling benci kalau urusan pribadinya diganggu, apalagi kalau tahu Sinta berbohong soal SOP.

​"Lima belas detik," lanjut Zoya, jarinya sudah melayang di atas tombol panggil cepat nomor Kalandra. "Pilih, Sinta. Harga dirimu, atau seragammu?"

1
olyv
🤣🤭 pak komandan fall in love bu dok
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
hahah dadah ulat bulu 🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
🤣🤣🤣🤣 ngakak...senjata makan tuan
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
olyv
👍👍
Yensi Juniarti
mulai posesif mas pol ini 🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha iya
total 1 replies
Warni
Wah sdh di teror gais
Savana Liora: mulai ya
total 1 replies
Warni
🤣
Warni
😫
Warni
🥰😂
Warni
😂
tutiana
hadir Thor⚘️⚘️⚘️
Savana Liora: selamat baca kk
total 1 replies
Warni
😂
Warni
Di sentil
Warni
🥰
Warni
Wauuu🥰
Warni
😱
Warni
🥰
olyv
wokeh thor... semangat 👍👍💪💪💪
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Warni
Akur🤣
Warni
Wau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!