NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:718
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: SISA AMIS DI BALIK KELEMBUTAN

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah gorden dengan begitu tenang, seolah dunia baik-baik saja. Namun bagi Ghea, setiap inci udara di kamar itu terasa beracun. Ia terbangun dengan ingatan yang masih tajam tentang kejadian semalam—tentang bagaimana tubuhnya diangkat oleh tangan yang baru saja merenggut nyawa seseorang.

Ghea duduk di tepi ranjang, menatap telapak tangannya. Meskipun ia sudah mencucinya berkali-kali semalam, ia merasa seolah noda darah itu masih tertinggal di sana, meresap ke dalam pori-porinya.

Cklek.

Pintu terbuka. Adrian masuk dengan penampilan yang sangat kontras dari semalam. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang lengannya digulung hingga siku. Rambutnya masih basah, wajahnya segar, dan ia membawa nampan berisi sarapan serta segelas susu hangat.

"Selamat pagi, Sayang. Kau tidur nyenyak sekali di sofa semalam," ucap Adrian dengan senyum yang terlihat sangat tulus.

Ghea memaksakan sebuah senyuman kecil, meski perutnya mual melihat wajah pria itu. "Aku... aku hanya bosan di kamar. Aku mencoba membaca buku sejarah seni itu, tapi sepertinya aku malah tertidur."

Adrian meletakkan nampan di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia duduk di sisi ranjang, mendekatkan wajahnya ke arah Ghea. Ghea secara refleks menahan napas, namun ia terlambat. Aroma sabun maskulin yang segar mencoba menutupi sesuatu yang lain. Di balik wangi sabun itu, insting detektif Ghea menangkap bau besi yang samar—bau amis darah yang tidak bisa hilang sepenuhnya hanya dengan sekali mandi.

"Kenapa, Ghea? Kau tampak pucat," tanya Adrian, tangannya terulur mengusap pipi Ghea.

"Aku hanya... sedikit pusing. Mungkin efek terlalu lama tertidur di sofa dengan posisi yang salah," jawab Ghea pelan. Ia berusaha keras agar suaranya tidak bergetar.

Adrian terkekeh pelan. "Lain kali, jika kau merindukanku, tunggu saja di kamar. Aku tidak suka melihatmu tidur di ruang tengah. Bagaimana jika kau terjatuh dari sofa?"

Ghea hanya mengangguk patuh. Ia menatap steak yang ada di piringnya. Potongan daging yang sedikit kemerahan itu tiba-tiba mengingatkannya pada jaket Adrian yang lembap semalam. Ia segera mengalihkan pandangan ke gelas susunya.

"Adrian," panggil Ghea, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Tadi malam... kau pergi ke mana? Kau pulang sangat larut."

Gerakan tangan Adrian yang sedang mengupas jeruk terhenti sejenak. Ia menatap Ghea dengan sorot mata yang sulit diartikan—dingin, namun penuh dengan rasa bangga yang terpendam.

"Aku hanya pergi membereskan beberapa masalah, Ghea," jawabnya santai. Ia menyodorkan sepotong jeruk ke mulut Ghea. "Ada sampah yang sudah terlalu lama menumpuk di kota ini. Hukum yang dulu kau bela terlalu lambat untuk membersihkannya, jadi aku membantunya sedikit."

Ghea mengunyah jeruk itu, rasanya masam dan getir. "Sampah? Maksudmu... orang?"

Adrian mengusap sudut bibir Ghea dengan ibu jarinya. "Orang jahat tidak layak disebut manusia, Sayang. Ingat kasus pemerkosaan berantai di distrik timur yang kau tangani tiga bulan sebelum kecelakaanmu? Hakim membebaskan pelakunya karena kekurangan bukti."

Jantung Ghea berdegup kencang. Nama kasus itu... ia seolah pernah mendengarnya di balik kabut ingatannya.

"Pelaku itu... apa dia yang kau 'bereskan' semalam?" bisik Ghea.

Adrian tidak menjawab secara langsung. Ia hanya tersenyum lebar, sebuah senyuman yang tidak menyentuh matanya yang gelap. "Dunia sudah sedikit lebih bersih pagi ini, Ghea. Kau tidak perlu khawatir lagi tentang ketidakadilan. Selama kau bersamaku, aku akan menjadi pedang dan perisaimu. Aku baru saja selesai membereskan sampah terakhir yang pernah membuatmu menangis di kantor polisi dulu."

Ghea membeku. Ia menatap Adrian dengan rasa ngeri yang semakin mendalam. Pria ini bukan hanya menculiknya; pria ini menganggap pembunuhan yang dilakukannya sebagai persembahan cinta untuk Ghea. Adrian adalah seorang vigilante psikopat yang merasa memiliki hak untuk menentukan hidup dan mati seseorang.

"Kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Ghea lirih.

"Karena aku mencintaimu," jawab Adrian tanpa ragu. Ia berdiri, lalu membungkuk dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Ghea, aroma mint dari napasnya bercampur dengan sisa bau amis yang masih tertangkap indra penciuman Ghea. "Dan karena aku ingin kau tahu, bahwa hanya aku yang bisa memberikan keadilan sejati bagimu. Bukan lencana yang kau temukan itu."

Adrian kemudian menegakkan tubuhnya. "Habiskan sarapanmu. Setelah ini, aku akan mengizinkanmu ke taman belakang. Kau butuh udara segar agar wajahmu tidak sepucat itu."

Setelah Adrian keluar dan mengunci pintu, Ghea segera berlari ke arah wastafel dan memuntahkan jeruk yang tadi ia makan. Ia mencengkeram pinggiran wastafel dengan tangan gemetar.

"Dia gila... dia benar-benar gila," isak Ghea tanpa suara.

Ia menyalakan keran air dengan kencang untuk menyamarkan suara tangisnya. Adrian tidak hanya mengurung fisiknya, tapi juga sedang mencoba menyeret moralitas Ghea ke dalam kegelapan yang sama dengannya. Adrian ingin Ghea merasa berutang budi atas nyawa-nyawa yang ia hilangkan.

Ghea menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak sangat rapuh, namun matanya memancarkan api yang berbeda. Ia teringat kembali kata-kata Adrian: 'Lencana yang kau temukan itu'.

Adrian tahu tentang lencana itu, dan dia tidak takut. Itu berarti Adrian merasa sudah memegang kendali penuh atas segalanya. Namun, ada satu hal yang Adrian lewatkan.

Adrian tidak tahu bahwa semalam Ghea tidak hanya tidur di sofa. Ghea sudah mulai memetakan sistem keamanan rumah ini. Ghea tahu kapan lampu sensor menyala, ia tahu durasi pintu otomatis mengunci, dan ia tahu bahwa di suatu tempat di gudang belakang, ada sisa-sisa hidupnya yang disembunyikan.

Ghea menyeka wajahnya dengan handuk. Ia harus bersikap lebih tenang. Ia harus membuat Adrian percaya bahwa ia mulai menerima "keadilan" versi pria itu.

"Jika kau ingin aku menjadi bagian dari kegelapanmu, Adrian... maka aku akan menjadi kegelapan yang paling pekat sampai kau tidak sadar kapan aku akan menelanmu," desis Ghea pada bayangannya sendiri.

Siang harinya, sesuai janji Adrian, Ghea diizinkan keluar ke teras belakang. Adrian duduk di kursi rotan tak jauh darinya, sibuk dengan sebuah buku catatan hitam kecil. Bi Inah datang membawakan teh, dan kali ini, mata Bi Inah sempat melirik ke arah gudang alat di pojok taman.

Itu adalah isyarat.

Ghea tahu, waktunya telah tiba untuk mencari "harta karun" yang disembunyikan Adrian. Ia harus menemukan cara untuk melepaskan diri dari pengawasan Adrian di teras ini, meski hanya untuk sepuluh menit.

Ia melihat ke arah Adrian yang tampak sangat fokus menulis. Ghea mulai mengatur siasat. Ia butuh sebuah gangguan. Sebuah alasan untuk menghilang sejenak ke arah gudang tanpa memicu kecurigaan sang monster yang sedang jatuh cinta itu.

"Adrian," panggil Ghea dengan nada yang paling manis yang bisa ia buat. "Bolehkah aku minta tolong? Aku meninggalkan buku sketsaku di kamar atas. Bisakah kau mengambilkannya untukku? Aku ingin mencoba menggambar pemandangan taman ini."

Adrian mendongak, matanya menatap Ghea dengan lembut. "Tentu, Sayang. Tunggu di sini, jangan bergerak ke mana-mana, ya?"

Ghea mengangguk patuh. Begitu Adrian melangkah masuk ke dalam villa, Ghea langsung bangkit dari kursinya. Ia mengabaikan rasa nyeri di kakinya dan berlari sekencang mungkin menuju gudang alat yang pengap itu.

Pencarian besar dimulai sekarang.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!