Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bintang di Langit Plumbon
Abimanyu Narapati, atau yang akrab disapa Abim, adalah teman se-SMA Sekar Arum. Mereka berdua tidak terlalu dekat karena Abim memang dikenal sebagai sosok yang pendiam dan pemalu. Namun, Sekar Arum tahu bahwa Abim adalah anak yang pintar dan baik hati. Ia juga tahu bahwa Abim memiliki minat yang sama dengannya terhadap seni dan budaya Jawa. "Kamu juga suka wayang, Bim?" tanya Sekar Arum, sedikit terkejut namun senang.
Abimanyu tersenyum malu-malu. "Iya, Sekar. Aku dari dulu suka banget sama wayang. Apalagi kalau dalangnya Ki Bimo Samudra. Dia itu idolaku," jawab Abimanyu dengan nada antusias.
"Wah, sama! Aku juga ngefans banget sama Ki Bimo Samudra. Sabetan wayangnya itu lho, kayak setan!" kata Sekar Arum sambil tertawa kecil.
"Iya, bener! Makanya dia dijuluki Dalang Setan," timpal Abimanyu sambil tersenyum lebar. "Kamu paling suka adegan yang mana tadi?"
"Aku paling suka pas adegan Gatotkaca terbang. Keren banget!" jawab Sekar Arum dengan mata berbinar-binar. "Kalau kamu?"
"Aku suka pas adegan Arjuna memanah. Gerakannya itu lho, luwes banget," kata Abimanyu.
Mereka berdua terus membahas tentang lakon Wahyu Makutharama, teknik mendalang Ki Bimo Samudra, dan tokoh-tokoh pewayangan yang mereka sukai. Sekar Arum merasa senang karena bisa berbagi minat dengan Abimanyu. Ia merasa ada koneksi yang kuat di antara mereka berdua.
Tiba-tiba, Abimanyu melihat jam tangannya. "Wah, udah jam segini. Kamu nggak takut pulang sendirian, Sekar?" tanya Abimanyu dengan nada khawatir.
Sekar Arum sedikit tersentak. Ia baru menyadari bahwa pertunjukan wayang sudah selesai dan lapangan sudah mulai sepi. Ia merasa sedikit takut juga kalau harus pulang sendirian.
"Iya, sih. Agak takut juga," jawab Sekar Arum dengan nada ragu.
"Rumahmu kan beda desa ya? Jauh juga lagi," kata Abimanyu sambil berpikir. "Gini aja, biar aku anterin kamu pulang ya? Nggak apa-apa kok, sekalian aku pengen lihat bintang di langit Plumbon."
Sekar Arum terkejut mendengar tawaran Abimanyu. Ia merasa
Sekar Arum terkejut mendengar tawaran Abimanyu. Ia merasa jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia tidak menyangka bahwa Abimanyu, si cowok pendiam dan pemalu, akan berani menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. "Beneran nggak apa-apa, Bim? Rumahmu kan jauh," tanya Sekar Arum, berusaha menyembunyikan rasa senangnya.
Abimanyu tersenyum tulus. "Nggak apa-apa kok, Sekar. Aku juga nggak enak kalau kamu pulang sendirian malam-malam begini. Lagian, aku juga pengen lihat bintang di langit Plumbon," jawab Abimanyu dengan nada meyakinkan.
Sekar Arum terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran Abimanyu. Di satu sisi, ia merasa senang karena Abimanyu perhatian padanya. Di sisi lain, ia merasa sedikit canggung karena harus berjalan berdua dengan Abimanyu di malam hari.
Namun, rasa takutnya untuk pulang sendirian mengalahkan rasa canggungnya. Ia akhirnya mengangguk setuju. "Ya udah, deh. Makasih ya, Bim," kata Sekar Arum dengan senyum manis.
"Sama-sama, Sekar," jawab Abimanyu dengan wajah berseri-seri.
Mereka berdua kemudian berjalan meninggalkan lapangan desa. Suasana malam semakin sepi dan dingin. Hanya suara jangkrik dan binatang malam lainnya yang terdengar. Langit Plumbon terlihat indah dengan taburan bintang yang berkelap-kelip.
Abimanyu berjalan di samping Sekar Arum, menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. Ia berusaha mencari topik pembicaraan agar suasana tidak terlalu canggung.
"Kamu sering nonton wayang, Sekar?" tanya Abimanyu membuka percakapan.
"Sering, apalagi kalau ada Ki Bimo Samudra. Aku nggak pernah absen," jawab Sekar Arum sambil tersenyum. "Kamu juga?"
"Iya, aku juga mau nggak ketinggalan kalau ada pertunjukan wayang," kata Abimanyu. "Dulu, waktu kecil, aku sering diajak kakekku nonton wayang. Dari situ aku jadi suka sama wayang."
"Wah, sama! Kakekku juga dulu sering cerita tentang wayang," timpal Sekar Arum. "Makanya aku juga jadi suka sama wayang.
Mereka berdua terus bercerita tentang pengalaman mereka dengan wayang, tokoh-tokoh pewayangan favorit, dan filosofi hidup yang mereka dapatkan dari kisah-kisah wayang. Sekar Arum merasa semakin nyaman dengan Abimanyu. Ia menyadari bahwa Abimanyu adalah sosok yang cerdas, berwawasan luas, dan memiliki selera humor yang bagus.
Saat mereka melewati jalan yang gelap dan sepi, Abimanyu berjalan lebih dekat ke Sekar Arum, seolah ingin melindunginya. Sekar Arum bisa merasakan kehangatan tubuh Abimanyu di dekatnya. Ia merasa sedikit gugup, namun juga merasa aman.
"Langitnya indah banget ya, Sekar," kata Abimanyu sambil mendongak ke atas. "Bintangnya banyak banget."
Sekar Arum ikut mendongak ke atas. Ia melihat bintang-bintang berkelap-kelip di langit Plumbon. Ia merasa seolah bintang-bintang itu ikut menyaksikan perjalanannya bersama Abimanyu malam ini.
"Iya, indah banget," jawab Sekar Arum dengan nada pelan. "Aku jadi ingat sama cerita wayang tentang Arjuna yang memanah bintang."
"Wah, iya! Aku juga ingat cerita itu," timpal Abimanyu. "Arjuna itu memang ksatria yang hebat."
Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati keindahan langit malam. Kemudian, Abimanyu kembali membuka percakapan.
"Sekar, tadi Ki Bimo Samudra bilang kalau lakon Wahyu Makutharama ini punya makna yang dalam tentang kepemimpinan. Menurut kamu, apa makna yang paling penting dari lakon ini?" tanya Abimanyu dengan nada serius.
Sekar Arum berpikir sejenak, mencoba merenungkan pesan yang disampaikan oleh Ki Bimo Samudra melalui lakon tersebut. "Hmm, menurutku sih, yang paling penting itu adalah amanah," jawab Sekar Arum setelah beberapa saat. "Seorang pemimpin itu harus bisa memegang amanah yang diberikan kepadanya. Dia harus bisa menjaga kepercayaan rakyatnya dan selalu bertindak demi kepentingan mereka.
"Hmm, menurutku sih, yang paling penting itu adalah amanah," jawab Sekar Arum setelah beberapa saat. "Seorang pemimpin itu harus bisa memegang amanah yang diberikan kepadanya. Dia harus bisa menjaga kepercayaan rakyatnya dan selalu bertindak demi kepentingan mereka."
Abimanyu mengangguk-angguk setuju. "Bener juga. Aku setuju banget sama kamu," kata Abimanyu. "Selain amanah, menurutku yang penting juga adalah kebijaksanaan. Seorang pemimpin itu harus bisa mengambil keputusan yang tepat dalam situasi apapun. Dia harus bisa melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan mempertimbangkan segala kemungkinan sebelum bertindak.
"Selain amanah, menurutku yang penting juga adalah kebijaksanaan. Seorang pemimpin itu harus bisa mengambil keputusan yang tepat dalam situasi apapun. Dia harus bisa melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan mempertimbangkan segala kemungkinan sebelum bertindak."
Sekar Arum mengangguk setuju. "Iya, kebijaksanaan itu penting banget. Tapi, menurutku, seorang pemimpin juga harus punya keberanian," timpal Sekar Arum. "Dia harus berani mengambil risiko dan menghadapi tantangan demi mencapai tujuan yang lebih besar."
"Iya, kebijaksanaan itu penting banget. Tapi, menurutku, seorang pemimpin juga harus punya keberanian," timpal Sekar Arum. "Dia harus berani mengambil risiko dan menghadapi tantangan demi mencapai tujuan yang lebih besar."
Abimanyu tersenyum kagum. "Kamu pintar banget, Sekar. Aku suka cara berpikirmu," kata Abimanyu dengan tulus. "Kamu kayaknya cocok jadi pemimpin.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*