NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kencan "Riset"

Setelah dua hari mengurung diri karena badai komentar di forum kampus, Rara merasa ia tidak bisa terus membiarkan rasa takut menang. Namun, ia juga tahu bahwa Genta, yang telah habis-habisan membelanya di balik akun anonim, pasti merasakan tekanan yang sama beratnya. Genta butuh keluar. Bukan sebagai Presiden Mahasiswa yang diagungkan, bukan sebagai target empuk Kania, melainkan sebagai seorang pemuda biasa.

Maka, di suatu sore yang mendung, Rara mengirimkan sebuah pesan singkat.

**Rara_The_Healer:**Paladin, aku dapat tugas riset mata kuliah Kritik Film. Harus nonton film genre thriller-psikologi yang baru rilis. Tapi aku takut nonton sendirian. Mau temani? Anggap saja ini bagian dari wawancara eksklusif kita.

Ada jeda lima menit sebelum ponselnya bergetar.

**Paladin_Z:**Di tempat umum?

**Rara_The_Healer:**Pakai penyamaran tingkat tinggi. Aku jamin nggak ada yang bakal kenal kamu. Gimana? Deal?

**Paladin_Z:**Deal. Jemput aku di gerbang belakang kampus satu jam lagi.

***

Genta Erlangga biasanya adalah definisi dari pakaian rapi. Kemeja yang selalu disetrika tajam, celana kain yang pas, dan rambut yang tertata sempurna. Namun, sore itu di gerbang belakang kampus, Rara nyaris tidak mengenali pria yang berdiri di samping motor matic tua.

Genta mengenakan hoodie oversized berwarna hitam pekat dengan tudung yang ditarik menutupi kepalanya. Ia memakai masker medis hitam dan sebuah topi baseball yang ditarik rendah hingga menutupi dahinya. Kacamata berbingkai hitam yang ia pakai saat menjadi asdos kembali bertengger di hidungnya.

"Tuan Presma?" bisik Rara sambil mendekat, menahan tawa.

"Jangan panggil aku begitu," gumam Genta dari balik masker. Suaranya terdengar sengau dan sedikit gugup. "Aku merasa seperti buronan internasional sekarang."

Rara tertawa kecil, ia sendiri hanya memakai kaus santai dan jaket jins, rambutnya dikuncir kuda sederhana. "Kamu kelihatan kayak trainee K-Pop yang lagi sembunyi dari paparazzi, Genta. Keren kok. Ayo, kita ke mal yang agak jauh dari kampus biar aman."

Sepanjang perjalanan, Genta nampak kaku di boncengan motor Rara. Ia memegang pinggiran besi jok dengan sangat erat, menjaga jarak agar tubuhnya tidak bersentuhan langsung dengan punggung Rara. Rara bisa merasakan radiasi kegugupan dari pria di belakangnya itu. Bagi Genta, setiap pasang mata di lampu merah nampak seperti ancaman, seolah-olah mereka semua tahu bahwa di balik masker itu adalah sang Presiden Mahasiswa Nusantara.

***

Mereka memilih mal di pinggiran kota yang jarang dikunjungi mahasiswa. Setelah membeli tiket dan popcorn besar, mereka segera masuk ke dalam studio yang sudah gelap karena film akan segera dimulai.

"Aman," bisik Rara saat mereka duduk di barisan belakang yang cukup sepi.

Genta akhirnya berani membuka tudung hoodie dan maskernya, meski topinya tetap terpasang. Ia menghela napas panjang, bahunya yang tadi tegang perlahan merosot. "Bau popcorn ini jauh lebih baik daripada bau ruang rapat BEM," gumamnya.

Film dimulai. Bukan film romantis yang mendayu-dayu, melainkan sebuah thriller mencekam tentang pengejaran pembunuh berantai. Rara sengaja memilih genre ini agar ada alasan untuk "riset", tapi sebenarnya ia ingin melihat bagaimana reaksi Genta.

Suasana studio yang dingin dan sunyi, hanya diisi oleh dentuman sistem suara surround, menciptakan intimidasi tersendiri. Di layar, sang protagonis sedang merangkak di dalam lorong gelap dengan napas yang memburu. Musik latar mulai naik, menciptakan ketegangan yang membuat bulu kuduk berdiri.

JUMP SCARE!

Tiba-tiba sebuah bayangan muncul di layar diiringi suara dentuman keras. Rara tersentak kaget, namun reaksi Genta jauh lebih drastis. Pria itu secara refleks menarik tangan orang yang berada di sampingnya.

Rara merasakan jemari Genta yang panjang dan kuat menyambar telapak tangannya, menggenggamnya dengan sangat erat seolah-olah tangan Rara adalah satu-satunya pegangan yang bisa menahannya agar tidak jatuh ke dalam jurang ketakutan.

Film berlanjut ke adegan yang lebih tenang, namun Genta tidak melepaskan tangan Rara.

Rara bisa merasakan telapak tangan Genta yang sangat dingin. Ada lapisan keringat tipis di sana, tanda bahwa sistem saraf Genta sedang bekerja keras. Ini bukan hanya karena film horornya, ini adalah pertama kalinya Genta menggandeng tangan seorang gadis di tempat umum, di bawah risiko dikenali oleh siapa saja yang mungkin lewat.

Genta tetap menatap layar dengan kaku, namun genggamannya justru mengencang. Seolah-olah ada pertempuran hebat di dalam kepalanya antara keinginan untuk melepaskan karena cemas dan keinginan untuk tetap menggenggam karena merasa nyaman.

Rara tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ia memutar telapak tangannya agar jemari mereka saling bertautan. Ia mengusap punggung tangan Genta dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang sangat lembut dan ritmis.

Heal-ku masuk, Genta, batin Rara.

Perlahan, Rara merasakan perubahan. Tangan Genta yang tadinya sedingin es mulai menghangat. Gemetar halus di ujung jarinya mereda. Genta akhirnya menoleh sedikit ke arah Rara di kegelapan itu. Mata mereka bertemu, hanya berpendar oleh cahaya dari layar perak.

Tidak ada kata-kata. Tidak perlu ada istilah game atau kode rahasia. Genta hanya menghembuskan napas panjang yang lega dan membalas genggaman Rara dengan kekuatan yang lebih mantap. Di saat itu, Genta menyadari bahwa ia tidak lagi takut pada kegelapan di depannya, karena ia memiliki cahaya yang nyata di sampingnya.

***

Film berakhir dan lampu studio menyala. Genta segera mengenakan maskernya kembali dengan gerakan cepat. Mereka berjalan keluar dari bioskop dengan langkah terburu-buru, mencoba untuk tetap tidak terlihat mencolok.

"Gimana risetnya? Dapat data?" tanya Genta, suaranya kembali ke nada datarnya, meski matanya nampak lebih hidup.

"Dapat banyak. Terutama soal bagaimana seorang subjek merespons jump scare dengan cara menarik tangan pewawancaranya," goda Rara.

Wajah Genta yang tertutup masker nampak memerah hingga ke telinga. "Itu... itu refleks."

Saat mereka sampai di lobi mal yang ramai, tiba-tiba Rara melihat dua sosok yang sangat familiar sedang berdiri di depan gerai kopi. Mereka memakai kemeja organisasi BEM. Itu adalah anggota Departemen Luar Negeri, bawahan langsung Genta.

"Gawat!" bisik Rara. Ia segera menarik lengan baju Genta dan membawanya lari ke arah berlawanan.

"Ada apa?" tanya Genta panik.

"Ada anak buahmu di depan! Ke sana!"

Mereka berlari kecil, menghindari kerumunan, dan akhirnya bersembunyi di balik sebuah pilar beton besar di dekat area parkir yang agak remang-remang. Tubuh mereka merapat ke pilar, napas mereka berdua terengah-engah karena lari mendadak dan adrenalin yang terpompa.

Rara mengintip dari balik pilar, memastikan kedua orang itu sudah menjauh. Begitu merasa aman, ia menoleh ke arah Genta yang masih berdiri sangat dekat dengannya.

Seketika, tawa Rara pecah. "Hahaha! Kita... kita kayak penjahat yang lagi dikejar polisi!"

Genta tertegun sejenak, menatap Rara yang tertawa hingga matanya menyipit. Perlahan, tawa Genta ikut keluar. Awalnya hanya dengusan kecil, lalu berubah menjadi tawa rendah yang renyah. Tawa yang sangat jarang terdengar di koridor kampus.

"Ini konyol," gumam Genta di sela tawanya. "Aku Presiden Mahasiswa mereka, dan aku sembunyi di balik pilar parkiran mal."

"Tapi seru, kan?" Rara menyenggol bahu Genta. "Daripada rapat anggaran yang membosankan itu?"

Genta menatap Rara cukup lama. Tawa mereka mereda, menyisakan keheningan yang hangat di antara mereka berdua. "Iya. Jauh lebih seru."

Genta memberanikan diri. Tanpa ada skenario riset atau alasan tugas, ia mengulurkan tangannya dan menepuk puncak kepala Rara dengan lembut. "Terima kasih untuk hari ini, Ra. Risetnya... sukses besar."

Rara tersenyum manis, merasakan hangat yang menjalar dari puncak kepalanya ke seluruh tubuh. Mereka berjalan menuju parkiran motor dengan langkah yang jauh lebih santai, membawa rahasia baru tentang genggaman tangan dan tawa di balik pilar yang tidak akan pernah diketahui oleh siapa pun di Universitas Nusantara.

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!