Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok dari Masa Lalu dan Intelijen Daster
Malam yang harusnya penuh bunga-bunga cinta di balkon unit 402 mendadak berubah jadi rapat intelijen dadakan. Pesan misterius tadi bener-bener ngerusak suasana vibes tunangan baru mereka. Nara yang tadi udah siap mau tidur sambil senyum-senyum liatin cincin, sekarang malah duduk tegang sambil meluk bantal dinosaurusnya.
"Mas... ini beneran nggak bakal berakhir ya? Baru aja Pak Handoko masuk sel, masa udah ada pemain baru lagi?" tanya Nara dengan suara agak gemeteran.
Rian yang udah ganti baju pakai kaos hitam polos, lagi sibuk depan laptopnya bareng Bima lewat sambungan video call. "Tenang, Nara. Di dunia bisnis, musuh itu kayak kecoak, satu mati, koloninya dateng. Tapi yang ini beda... cara dia ngirim pesan dan cara dia ngumpet itu rapi banget."
Bima di layar monitor nyela, "Yan, gue udah lacak nomor itu. Hasilnya nihil. Itu nomor sekali pakai (burner phone) yang sinyalnya dipantulin ke sepuluh VPN berbeda. Orang ini bukan amatiran kayak Kevin."
Satya, sang ajudan, masuk ke ruang tamu bawa beberapa lembar foto dari kamera CCTV gedung. "Pak Rian, ini foto motor sport hitam yang tadi sore ngikutin Bapak dan Mbak Nara ke pasar kaget. Plat nomornya palsu, tapi dari model modifikasinya, ini motor khusus buat intelijen lapangan."
Nara makin pucat. "Hah?! Intelijen?! Mas, saya cuma desainer grafis yang hobi makan seblak, kok musuh saya udah kayak musuh James Bond sih?!"
Rian nyamperin Nara, dia duduk di sampingnya terus ngerangkul pundak Nara biar tenang. "Nara, dengerin saya. Siapa pun dia, dia punya masalah sama saya, bukan kamu. Dia cuma jadiin kamu titik lemah buat nyerang saya. Jadi, tugas saya sekarang adalah bikin kamu nggak punya titik lemah sedikit pun."
Besok paginya, Rian nggak kasih izin Nara buat ke kantor dulu. Dia mau Nara "ngumpet" di dalam apartemen yang pengamanannya udah ditingkatin jadi level maksimal. Pintu unit 401 dan 402 sekarang dijaga dua orang anak buah Satya.
Nara yang bosennya udah di ubun-ubun, akhirnya mutusin buat bersih-bersih unitnya sendiri. Pas dia lagi ngerapiin tumpukan majalah lama di gudang kecilnya, dia nemuin sebuah kotak kayu tua yang udah berdebu banget.
"Lho, ini kotak punya siapa ya?" gumam Nara.
Pas dibuka, isinya adalah foto-foto lama dan beberapa surat. Nara baru inget, ini adalah kotak peninggalan almarhum ayahnya yang dulu pernah kerja sebagai sopir pribadi di sebuah keluarga kaya. Nara iseng buka salah satu foto.
Di foto itu, ayahnya lagi berdiri di depan mobil mewah bareng seorang pria paruh baya yang mukanya... mirip banget sama Rian.
"Lho?! Ini kan... Papa-nya Mas Rian pas masih muda?" Nara melongo.
Tapi yang bikin Nara kaget bukan fotonya, melainkan sebuah surat kecil yang terselip di balik foto itu. Isinya cuma satu kalimat pendek: "Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Rahasia Ardiansyah ada di tanganmu, kawan."
Nara langsung ngerasa merinding satu badan. Ternyata hubungan dia sama keluarga Rian bukan cuma sekadar tetangga yang kebetulan ketemu. Ada sesuatu yang lebih gelap di masa lalu.
Nara langsung lari ke unit 402 sambil bawa kotak itu. "MAS RIAN! MAS! LIHAT INI!"
Rian yang lagi meeting virtual sama klien luar negeri langsung kaget dan minta izin berhenti sebentar. "Ada apa, Nara? Kenapa kamu lari-lari?"
Nara nunjukin foto dan surat itu. Rian yang biasanya tenang, kali ini matanya membelalak kaget. Dia ngambil surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Ini... tulisan tangan almarhum sopir Papa saya. Namanya Pak Surya. Tunggu... Nara, nama ayah kamu siapa?"
"Nama ayah saya Surya, Mas..." jawab Nara pelan.
Hening. Satu ruangan mendadak kayak nggak ada udara. Rian langsung meluk Nara erat banget. "Nara... jadi selama ini... ayah kamu itu orang yang nyelamatin Papa saya dari kecelakaan sabotase dua puluh tahun lalu? Papa saya selalu cerita soal pahlawannya yang hilang tanpa jejak setelah kejadian itu."
"Ayah saya meninggal pas saya umur lima tahun, Mas. Katanya kecelakaan kerja," Nara mulai nangis.
Tiba-tiba HP Rian bunyi lagi. Pesan dari "Si Bayangan" masuk lagi.
Pesan: "Sudah ketemu kotaknya, Nara? Bagus. Sekarang kamu tahu kenapa kamu nggak akan pernah bisa tenang hidup bersama Ardiansyah. Darah ayahmu ada di tangan mereka."
Rian langsung ngelempar HP-nya ke meja. "BRENGSEK! Dia mau adu domba kita pake sejarah masa lalu!"
"Mas, maksudnya apa? Kenapa darah ayah saya ada di tangan keluarga Mas?" tanya Nara dengan suara parau.
"Dulu, ada persaingan bisnis yang bener-bener gila, Nara. Mobil Papa saya disabotase, dan ayah kamu yang lagi nyetir mutusin buat nabrakin mobilnya ke arah pohon biar Papa saya selamat, meskipun risikonya dia yang paling parah," Rian ngejelasin sambil matanya berkaca-kaca. "Papa saya cari keluarga Pak Surya bertahun-tahun buat balas budi, tapi katanya alamat kalian udah pindah dan nggak bisa dilacak."
Nara narik napas panjang. "Ibu saya emang langsung ajak saya pindah ke luar kota setelah Ayah meninggal, Mas. Katanya biar nggak trauma."
"Orang misterius ini... dia tahu segalanya, Nara. Dia bukan cuma mau harta saya, dia mau hancurin mental kamu biar kamu benci sama saya," Rian megang kedua pipi Nara. "Tolong, jangan percaya apa yang dia bilang. Kita bakal cari tahu siapa dia bareng-bareng."
Nara ngapus air matanya. "Mas, saya nggak bakal benci sama Mas. Ayah saya itu pahlawan, dan kalau dia milih buat nyelamin keluarga Mas, berarti dia percaya kalau keluarga Mas itu orang baik. Sekarang, saya nggak mau cuma diem di apartemen. Saya mau ikut bantu cari si Bayangan ini!"
"Gimana caranya?"
Nara nyengir licik, meskipun matanya masih merah. "Mas lupa? Saya punya ribuan followers di akun desain saya, dan banyak dari mereka itu detektif internet yang handal. Plus, saya punya Bang Satya. Kita bakal pancing dia keluar!"
Strategi pun disusun. Nara nge-post sebuah desain di Instagram-nya yang kelihatannya biasa aja—cuma gambar abstrak dengan warna-warna tajam. Tapi di dalam desain itu, Nara nyelipin kode rahasia dalam bentuk steganografi (data tersembunyi dalam gambar) yang cuma bisa dibaca kalau orang itu tahu algoritma tertentu.
"Kalau dia beneran 'pro' di bidang intelijen, dia pasti bakal ngecek setiap postingan saya buat cari info. Dan di dalam gambar ini, saya kasih umpan lokasi koordinat palsu buat kita ketemuan," jelas Nara.
Rian ngelihatin Nara dengan tatapan takjub. "Kamu... sejak kapan belajar begini?"
"Belajar dari komunitas hacker desain, Mas! Jangan remehkan desainer yang sering dapet klien aneh-aneh!"
Malam harinya, di lokasi koordinat palsu yang udah disiapin (sebuah gudang tua di pinggiran Jakarta yang udah dikepung tim Satya), sebuah motor sport hitam beneran muncul.
Orang itu turun dari motor, dia masuk ke gudang sambil bawa senter. Begitu dia sampai di tengah, lampu gudang langsung nyala semua. JEPRETT!
Rian, Satya, dan Bima muncul dari balik bayangan. Tapi Nara? Dia nggak di sana, dia mantau lewat drone dari dalem mobil.
"Buka helm kamu," perintah Rian dingin.
Orang itu perlahan ngelepas helmnya. Dan ternyata... dia adalah seorang pria muda dengan bekas luka di pipinya. Wajahnya asing, tapi matanya sangat mirip dengan...
"Tante Shinta?!" gumam Rian kaget.
Pria itu ketawa sinis. "Halo, Sepupu. Lama nggak ketemu ya?"
"Andra?! Kamu... bukannya kamu di penjara di Australia karena kasus penipuan?" Rian kaget bukan main. Itu adalah Andra, anak dari adiknya Papa Rian yang selama ini jadi "hitam" di keluarga mereka.
"Gue udah bebas, Yan. Dan gue nggak terima Papa gue diusir dari perusahaan cuma gara-gara lo yang 'sempurna' itu. Gue bakal ambil apa yang harusnya jadi milik gue, termasuk cewek lo yang pinter itu," ucap Andra sambil nunjuk ke arah kamera drone Nara.
Nara yang denger dari mobil langsung merinding. "Wah, ternyata ini urusan keluarga yang lebih ribet dari sinetron ikan terbang!"
Andra mau kabur, tapi Satya dengan sigap langsung nangkring di atas motor Andra dan nyabut kuncinya. "Mau ke mana, Mas? Mi instannya belum mateng nih," sindir Satya dengan gaya kaku andalannya.
Rian nyamperin Andra, terus dia narik kerah jaketnya. "Jangan pernah sebut nama Nara dari mulut kotor kamu. Kamu mau perang sama saya? Silakan. Tapi jangan sekali-kali libatin masa lalu yang suci buat rencana busuk kamu."
Andra pun diamankan oleh tim Satya untuk diserahin ke pihak berwajib atas tuduhan teror dan ancaman pembunuhan. Masalah masa lalu pun akhirnya terbuka terang benderang.
Malam itu, Rian dan Nara duduk di taman komplek. Rian ngasih sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk palet lukis buat Nara.
"Nara, makasih ya. Kamu udah berani ngadepin Andra bareng saya. Dan soal ayah kamu... saya janji, mulai sekarang, keluarga Ardiansyah bakal jaga kamu bukan karena hutang budi, tapi karena kamu adalah bagian dari kami."
Nara nyenderin kepalanya di bahu Rian. "Mas, kayaknya kita harus bikin syukuran deh. Kasihan jantung saya tiap hari diajak maen action terus."
Rian ketawa, dia meluk Nara erat banget. "Siap, Bos Kecil. Kita bakal bikin pesta paling gede, dan kamu bebas pakai daster buah naga warna apa pun yang kamu mau."
"Beneran ya?! Janji?!"
"Janji."
Hidup mereka mungkin emang nggak bakal pernah sepi dari masalah, tapi selama ada cinta, keberanian, dan sedikit kegilaan ala Nara, mereka tahu mereka bakal selalu menang.