Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: ANTARA YANG PERGI DAN YANG DATANG
Pekan berlalu dengan ritme baru. Kinan perlahan pulih, lukanya sudah mulai mengering meski masih ditutup perban kecil. Bima kembali ke rutinitas sekolahnya, tapi sekarang ada yang berbeda—dia sesekali tersenyum tanpa alasan, dan tidak lagi menawarkan diri untuk mengerjakan semua tugas rumah sendirian.
Maya... Maya masih seperti kaca retak yang baru saja ditempel kembali. Cantik, tapi rapuh. Transparan, tapi penuh garis-garis yang mengingatkan pada kerusakan. Aku belajar membacanya belajar kapan harus mendekat, kapan harus memberi ruang. Belajar bahwa cinta tidak hanya tentang pelukan dan kata-kata manis, tapi juga tentang kesabaran dan pengertian akan batas-batas yang tak terlihat.
Hari ini ada tamu.
Ibu Maya bibi Sartika datang tanpa pemberitahuan. Aku mengenalinya dari mobil yang berhenti di depan pagar: Toyota Kijang tua warna hijau yang sama delapan tahun lalu.
"Raka?" Bibi Sartika terkejut melihatku membukakan pagar. "Kamu... kapan pulang?"
"Sudah beberapa minggu, Bibi," jawabku sambil mencium tangannya.
Matanya memindai aku dari kepala ke kaki, seperti mencari perubahan. "Lama tidak kelihatan. Sudah jadi orang Singapura ya?"
"Tetap orang Makassar, Bibi. Cuma sempat singgah di Singapura sebentar."
Dia tersenyum tipis, lalu masuk ke rumah. "Maya di mana?"
"Mandi, Bibi. Sebentar lagi keluar."
Aku mempersilakannya duduk, lalu membuatkan teh. Dari dapur, aku mendengar percakapan mereka.
"Kenapa tidak bilang-bilang kalau Raka pulang?" suara Bibi Sartika.
"Baru beberapa minggu, Mak. Lagian... belum ada kepastian." Suara Maya, hati-hati.
"Kepastian apa? Dia kan cuma sepupu, mau tinggal berapa lama terserah dia."
Diam sebentar. Lalu Maya: "Raka mau tinggal menetap, Mak. Tidak kembali ke Singapura."
"APA?!"
Gelas yang sedang kucuci hampir terlepas. Aku berusaha tetap tenang, terus bekerja, tapi telinga tetap menyala.
"Raka mengundurkan diri dari pekerjaannya di Singapura. Mau cari kerja di sini."
"Dan kamu setuju?" Suara Bibi Sartika meninggi. "Maya, kamu baru cerai! Belum genap setahun! Orang akan bicara!"
"Apa yang mereka mau bicara, Mak? Bahwa sepupuku pulang untuk membantuku? Bahwa keluarga saling membantu?"
"Bukan seperti itu dan kamu tahu! Raka bukan 'sepupu biasa'! Dulu"
"Dulu sudah lama, Mak." Suara Maya tegas. "Dan sekarang, dia yang ada untukku dan anak-anak ketika tidak ada orang lain."
"Kami ada untukmu! Bapakmu dan aku selalu"
"Memberi uang sekali-sekali? Menanyakan kabar lewat telepon? Itu tidak cukup, Mak! Aku butuh seseorang di sini! Setiap hari! Ketika Kinan demam tengah malam! Ketika Bima butuh ditemani ke dokter gigi! Ketika genteng bocor dan hujan masuk!"
Aku mendengar Maya menangis. Hati ingin berlari ke sana, tapi kaki terpaku. Ini percakapan antara ibu dan anak. Ini urusan mereka.
"Kamu marah pada kami," suara Bibi Sartika lebih lembut sekarang.
"Bukan marah. Tapi... lelah. Lelah menjelaskan. Lelah membela diri. Lelah merasa seperti beban."
"Kamu bukan beban, Sayang."
"Tapi rasanya seperti itu. Setiap kali minta tolong, setiap kali butuh bantuan... rasanya seperti mengemis. Dan dengan Raka... tidak. Dia datang tanpa diminta. Dia membantu tanpa disuruh. Dia... ada."
Diam lagi. Lalu: "Kamu masih mencintainya, bukan?"
Aku berhenti bernapas.
"Ya," jawab Maya, pelan tapi jelas. "Selama ini."
"Dan dia?"
"Dia juga."
"Tapi Maya... kalian sepupu. Orang akan"
"Aku tidak peduli lagi apa kata orang, Mak. Aku sudah terlalu banyak peduli. Peduli sampai menikah dengan Rangga yang tidak kucintai. Peduli sampai pura-pura bahagia selama delapan tahun. Sekarang... sekarang aku mau bahagia dengan caraku sendiri."
"Dan anak-anak? Mereka akan diejek! Anak-anak sepupu yang hidup bersama!"
"Mereka akan tumbuh dengan cinta. Dengan seseorang yang memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Bukankah itu lebih penting daripada gelar 'keluarga normal'?"
Aku tidak bisa berdiam lagi. Aku keluar dari dapur, membawa teh. Bibi Sartika menatapku, matanya penuh pertanyaan yang tak terucap.
"Bibi," kataku sambil menempatkan gelas di depannya. "Aku tahu ini tidak biasa. Aku tahu ini akan jadi bahan omongan. Tapi tolong percaya pada satu hal: aku mencintai Maya. Selama ini. Dan aku akan melakukan apa pun untuk membuatnya dan anak-anak bahagia."
Bibi Sartika memandangiku lama. "Kamu yakin? Ini bukan hanya rasa bersalah karena delapan tahun pergi?"
"Delapan tahun itu membuatku sadar bahwa hidup tanpa mereka kosong. Jadi ini bukan rasa bersalah. Ini pilihan untuk mengisi kekosongan itu."
"Dan kalau keluarga besar tidak menerima?"
"Maka kami akan membangun keluarga kami sendiri. Kecil, tapi penuh cinta."
Dia menghela napas, meminum tehnya. "Kamu berdua selalu keras kepala. Dari kecil sudah begitu."
Maya tersenyum kecil. "Turunan dari ibu."
"Jangan salahkan aku," bibi Sartika mencibir, tapi sekarang ada senyum di matanya. "Tapi dengarkan: aku tidak bisa menjamin reaksi keluarga besar. Bapakmu, Raka... dia mungkin tidak akan senang."
Aku tahu. Ayahku adik kandung ayah Maya adalah orang tradisional. Untuknya, keluarga harus mengikuti norma. Dan hubungan sepupu, meski diperbolehkan, adalah "tidak elok dipandang".
"Kami akan menghadapinya nanti," kataku. "Satu per satu."
Bibi Sartika mengangguk. Lalu tiba-tiba: "Raka, kamu ada kerjaan di sini?"
"Belum, Bibi. Masih mencari."
"Suami sepupuku punya bengkel. Butuh orang yang bisa urus administrasi. Kamu jago angka-angka kan? Lulusan akuntansi?"
"Iya, Bibi."
"Besok aku antar kamu ke sana. Gajinya mungkin tidak sebesar di Singapura, tapi cukup untuk hidup sederhana."
Ini... tidak kusangka. "Bibi, kenapa...?"
"Karena kalau kamu serius mau tinggal, kamu butuh kerja. Dan karena..." dia menatap Maya, "...anakku sudah cukup menderita. Aku tidak mau dia menderita lagi karena kekurangan."
Air mata Maya mengalir lagi. "Mak..."
"Tapi!" Bibi Sartika menunjuk jari ke arahku. "Kamu sakiti Maya lagi, aku yang urus kamu. Mengerti?"
"Janji, Bibi," jawabku, tersenyum lega.
---
Setelah Bibi Sartika pergi, Maya duduk di sofa, terlihat lelah tapi lega.
"Ibu menerima," bisiknya, seperti tidak percaya.
"Sepertinya iya."
"Tapi masih panjang. Masih banyak yang harus kita hadapi."
Aku duduk di sampingnya. "Kita sudah melalui delapan tahun terpisah. Apa lagi yang lebih sulit dari itu?"
Dia menatapku. "Banyak. Reaksi ayahmu. Reaksi keluarga besar. Proses cerai dengan Rangga yang belum selesai. Mencari rumah baru karena tetangga pasti mulai mengomentari..."
"Kita akan hadapi. Bersama."
"Kadang aku takut, Raka," ucapnya, suara kecil. "Takut ini terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Takut aku terbangun dan ternyata ini mimpi."
Aku memegang tangannya, menekannya ke dadaku. "Rasakan? Detak jantungku. Nyata. Aku di sini. Nyata. Dan ini bukan mimpi."
Dia tersenyum, lalu tiba-tiba ingat sesuatu. "Oh iya, tadi pagi ada telepon dari pengacara. Proses perceraian dengan Rangga... ada perkembangan."
"Apa?"
"Dia setuju untuk cerai secara damai. Tidak memperebutkan apa-apa. Bahkan... dia mau menyerahkan hak asuh penuh padaku."
Itu berita bagus. Tapi ada sesuatu di cara Maya mengatakannya yang membuatku curiga. "Tapi?"
"Tapi dia minta satu hal: bertemu anak-anak. Satu kali saja. Untuk pamit."
"Kamu setuju?"
"Harus. Untuk anak-anak. Mereka berhak pamit yang layak dari ayah mereka."
Aku mengerti. Tapi hati tetap merasa tidak nyaman. Rangga... pria yang meninggalkan mereka delapan bulan lalu, tiba-tiba ingin kembali, meski hanya sebentar.
"Kapan?" tanyaku.
"Minggu depan. Dia terbang dari Jakarta khusus untuk ini."
---
Minggu itu berlalu dengan cepat. Aku mulai bekerja di bengkel milik sepupu bibi Sartika. Pekerjaannya sederhana: mencatat pemasukan pengeluaran, mengurus faktur, mengelola gaji karyawan. Gajinya memang jauh dari gajiku di Singapura, tapi cukup. Dan yang penting: aku dekat dengan rumah. Bisa pulang untuk makan siang. Bisa antar-jemput anak-anak jika Maya sibuk.
Hari pertemuan dengan Rangga tiba.
Maya memutuskan pertemuan di taman dekat rumah, tempat netral. Kinan tidak terlalu mengerti apa yang terjadi baginya, ini sekadar bertemu dengan "Papa yang sudah lama tidak ketemu". Tapi Bima... Bima tegang sekali. Pagi itu, dia memakai baju terbaiknya, rambut disisir rapi, sepatu mengkilap.
"Kenapa pakai baju bagus begitu?" tanyaku sambil mengantarnya ke taman.
"Biar Papa lihat kalau aku baik-baik. Kalau aku nggak butuh dia."
Kalimat itu menusuk. Anak delapan tahun seharusnya tidak perlu membuktikan apapun pada ayahnya.
"Kamu tidak perlu membuktikan apapun, Bima. Kamu sudah hebat dengan caramu sendiri."
Dia mengangguk, tapi aku tahu dia tidak percaya.
Rangga sudah menunggu di bangku taman. Pria itu... terlihat lebih tua dari delapan bulan lalu. Rambut mulai memutih di pelipis. Matanya lelah. Tapi ketika melihat Maya dan anak-anak, dia tersenyum, senyum sedih yang membuatku, musuhnya, merasa iba.
"Maya," sambutnya, suara serak.
"Rangga," balas Maya, dingin tapi sopan.
Lalu matanya beralih ke anak-anak. "Bima... Kinan..."
Bima diam, hanya mengangguk. Kinan bersembunyi di balik kaki Maya.
"Kinan, ini Papa," bisik Maya.
"Papa?" Kinan mengintip. "Papa yang di Jakarta?"
"Iya, Sayang," jawab Rangga, berjongkok. "Papa datang khusus ketemu kamu."
"Kenapa lama nggak datang? Adek ulang tahun yg kelima tahun papa nggak datang."
Rangga terlihat seperti ditampar. "Papa... Papa sibuk. Tapi Papa kirim hadiah kan?"
"Hadiah nggak sama dengan Papa," bantah Kinan polos, dan itu adalah tamparan kedua.
Aku memutuskan untuk memberi mereka ruang. "Aku tunggu di mobil."
"Tidak," kata Maya tiba-tiba. "Kamu tetap di sini."
Itu adalah pernyataan. Kepada Rangga, kepada anak-anak, kepadaku: bahwa aku adalah bagian dari keluarga ini sekarang. Bahwa aku berhak ada dalam momen-momen sulit ini.
Rangga menatapku, lalu kembali ke Maya. "Dia...?"
"Raka. Sepupuku. Yang sekarang tinggal dengan kami."
"Raka..." Rangga mengangguk, seperti mengingat sesuatu. "Dulu kamu sering cerita tentang sepupumu yang pergi ke Singapura."
"Dia sudah kembali."
"Untuk selamanya?"
"Untuk selamanya."
Rangga memandangiku lagi, kali ini lebih dalam. Lalu dia berkata sesuatu yang tidak kusangka: "Bagus. Anak-anak butuh figur ayah. Dan kamu... kamu pantas mendapatkan kebahagiaan, Maya."
Maya terkejut. Aku juga.
"Kamu tidak marah?" tanya Maya.
"Marah untuk apa? Aku yang pergi. Aku yang gagal. Aku tidak punya hak marah." Rangga memandang Bima dan Kinan. "Aku cuma minta maaf. Pada kalian berdua. Pada Maya. Untuk delapan tahun kebohongan. Untuk delapan bulan menghilang."
Bima akhirnya bicara. "Kenapa kamu pergi, Pa?"
Pertanyaan sederhana. Tapi jawabannya berat.
"Karena Papa... tidak bahagia. Dan Papa pikir, dengan pergi, Mama akan bahagia."
"Tapi Mama nggak bahagia. Mama nangis terus."
Rangga menutup mata. "Papa salah. Papa egois. Dan sekarang Papa mau memperbaiki dengan... dengan pergi untuk selamanya. Tapi dengan pamit yang baik."
Dia mengeluarkan dua amplop dari tas. "Untuk kamu dan Kinan. Tabungan pendidikan. Cukup untuk sekolah sampai kuliah."
Maya menggeleng. "Kami tidak butuh"
"Tolong terima. Biar aku merasa masih berguna sedikit. Biar aku bisa tidur di malam hari tanpa merasa seperti monster sepenuhnya."
Maya melihatku, meminta persetujuan. Aku mengangguk pelan. Ini untuk anak-anak.
Kinan, yang mulai bosan, menarik-narik baju Maya. "Mama, Adek mau main ayunan."
"Iya, Sayang. Sebentar." Maya melihat Rangga. "Ada yang mau kamu katakan pada anak-anak?"
Rangga berjongkok lagi, memandang Bima dan Kinan bergantian. "Papa sayang kalian. Selalu. Tapi Papa... Papa sakit. Sakit di sini." Dia menunjuk kepalanya. "Dan Papa butuh pergi untuk sembuh. Maafkan Papa?"
Bima mengangguk, air mata mulai menggenang. Kinan hanya melihatnya dengan bingung.
Lalu Rangga berdiri, menghadap Maya. "Terima kasih. Untuk delapan tahun. Untuk dua anak yang luar biasa. Dan... maafkan aku."
Maya mengangguk, tapi tidak berkata apa-apa. Maaf mungkin datang nanti. Atau tidak pernah datang. Tapi itu haknya.
Rangga pergi setelah itu. Berjalan pelan, punggungnya bungkuk, seperti pria yang menanggung beban seluruh dunia.
Kami berdiri di taman, menontonnya menghilang di balik pepohonan. Bima menangis pelan. Kinan memeluk kaki Maya. Dan aku... aku berdiri di samping mereka, merasa seperti penyusup sekaligus penjaga.
"Apakah dia benar-benar sakit, Ma?" tanya Bima.
"Ya, Sayang. Kadang orang dewasa juga sakit. Dan kadang, mereka butuh pergi untuk sembuh."
"Tapi kenapa nggak sembuh di sini? Bareng kita?"
"Karena sakitnya butuh obat yang berbeda. Dan obatnya... bukan kita."
Bima memandangku. "Om Raka nggak akan pergi kan? Kalau sakit?"
Aku berjongkok, memandangnya langsung. "Tidak. Om akan sembuh di sini. Bareng kalian."
"Janji?"
"Bukan janji. Tapi rencana."
Dia tersenyum kecil, lalu memelukku. Pelukan pertama yang dia inisiatifkan sendiri. Dan di taman itu, dengan Maya yang menangis pelan dan Kinan yang mulai tertarik pada kupu-kupu, aku merasa sesuatu yang hancur delapan tahun lalu mulai menyatu kembali.
Bukan sempurna. Masih ada retakan. Masih ada bekas luka.
Tapi retakan itu sekarang diisi oleh cahaya. Dan bekas luka itu menjadi bukti bahwa kami selamat. Bahwa kami masih di sini. Bahwa kami masih mencinta.
---
Malam itu, setelah anak-anak tidur, Maya dan aku duduk di teras. Bintang-bintang berkelap-kelip lagi, tapi malam ini terasa berbeda. Lebih ringan.
"Rangga sakit?" tanyaku.
"Depresi. Sudah lama. Tapi dia tidak pernah mau berobat. Katanya laki-laki tidak boleh lemah."
"Dan kepergiannya...?"
"Pelarian. Tapi juga pengakuan bahwa dia tidak bisa jadi suami dan ayah yang baik dalam kondisinya."
"Kamu tidak marah lagi?"
Maya memandang bintang-bintang. "Aku masih marah. Tapi sekarang lebih banyak sedih. Sedih karena delapan tahun terbuang. Sedih karena anak-anak terluka. Sedih karena... karena kita semua terluka."
Aku memegang tangannya. "Tapi kita masih di sini."
"Iya. Dan itu sudah jadi keajaiban."
Kami duduk dalam keheningan yang nyaman. Lalu Maya berkata: "Aku tidak mau terburu-buru, Raka. Aku butuh waktu. Untuk menyembuhkan. Untuk memastikan ini bukan hanya pelarian dari kesepian."
"Aku mengerti. Dan aku akan menunggu. Sepanjang yang kamu butuhkan."
"Dan anak-anak... mereka harus jadi prioritas."
"Tentu."
Dia menatapku, matanya berbinar dalam gelap. "Delapan tahun lalu, kita gagal karena terburu-buru. Karena tidak sabar. Sekarang... kita lakukan perlahan. Benar-benar."
Aku mengangguk. Perlahan. Langkah demi langkah. Hari demi hari.
Dan malam itu, ketika aku kembali ke kamarku (masih kamar Bima, karena kami memutuskan untuk tidak terburu-buru dalam hal ini juga), aku melihat secarik kertas di bawah pintu.
"Om Raka, terima kasih sudah tidak pergi hari ini. Dan terima kasih sudah jadi orang yang tetap di sini ketika Papa pergi. Aku senang kamu ada. - Bima"
Kertas itu kusimpan di dompet. Untuk dibaca di hari-hari ketika keraguan datang. Untuk mengingatkan bahwa terkadang, menjadi "orang yang tetap di sini" adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kita berikan.
Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, aku tidur dengan keyakinan: bahwa akhirnya, aku telah pulang ke tempat yang seharusnya tidak pernah kutinggalkan.