NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Angin laut yang dingin menerpa wajah Relia saat ia melangkah turun dari mobil di dermaga tua yang terbengkalai.

Aroma garam bercampur bau karat menusuk indra penciumannya.

Di tengah gudang terbuka, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya

Ariel terikat di kursi dengan sebuah kotak besi berisi kabel-kabel yang berkedip di bawahnya sebuah bom waktu.

Markus berdiri di samping Ariel dengan wajah bengis, sementara Tino memegang detonator di tangannya.

"Lepaskan Mas Ariel! Aku mohon. Ambil saja aku, tapi lepaskan dia!" teriak Relia dengan suara parau.

Markus tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan amplas.

"Aku akan melepaskannya, tapi tutup mulutmu dulu dan buka pakaianmu! Aku ingin melihat apa yang sangat dibanggakan oleh dokter ini sebelum dia mati!"

Ariel, dengan sisa kekuatannya, meronta hebat. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, matanya membelalak memberi isyarat agar Relia tidak menuruti perintah gila itu.

"Masih berani melawan?" Markus murka.

Ia menghantam wajah Ariel dengan gagang pistol berkali-kali.

Darah segar mengucur dari pelipis dan mata Ariel hingga ia terkulai lemas, tidak sadarkan diri.

Relia menjerit tertahan.

Di balik tangisnya, ia menyentuh antingnya, sebuah kode rahasia bagi tim penembak jitu yang sudah mengintai dari kejauhan.

Ia kemudian mengambil kain hitam yang dilemparkan Markus dan menutup mulutnya sendiri, seolah menyerah pada keadaan.

Dengan tangan gemetar, Relia mulai membuka kancing pakaiannya satu per satu untuk mengalihkan perhatian kedua pria iblis itu.

DOR! DOR!

Dua tembakan presisi mengguncang kesunyian dermaga.

Peluru dari senapan sniper menembus tepat di kaki Markus dan Tino secara bersamaan.

Keduanya jatuh tersungkur sambil mengerang kesakitan, melepaskan detonator dari tangan mereka.

"SEKARANG!" teriak Satrio yang tiba-tiba muncul dari balik kontainer.

Satrio dan timnya berlari secepat kilat. Satrio mengeluarkan pisau komando, memotong tali pengikat Ariel dalam hitungan detik.

Timer pada bom menunjukkan angka sepuluh detik terakhir.

"Cepat kita pergi dari sini!" teriak Satrio sambil menggendong tubuh Ariel yang tak berdaya di pundaknya.

Ia merangkul Relia yang nyaris kehilangan kesadaran karena syok.

Tepat saat mereka melompat ke balik tembok beton tebal di ujung dermaga.

BOOM!!

Ledakan dahsyat mengguncang bumi. Api menjilat langit malam, menghanguskan gudang tua itu.

Markus dan Tino yang mencoba merangkak melarikan diri dengan kaki bersimbah darah langsung disergap oleh puluhan polisi yang sudah mengepung area tersebut.

Mereka diseret paksa masuk ke mobil tahanan, mengakhiri pelarian berdarah mereka selamanya.

Relia melihat tubuh Ariel yang penuh darah di gendongan Satrio sebelum pandangannya mengabur.

Dunia terasa berputar, dan ia pun jatuh pingsan di pelukan tim medis.

Sirine ambulans membelah keheningan malam saat kedua korban dibawa pergi menuju rumah sakit dalam kecepatan tinggi.

Perjuangan hidup dan mati kini berpindah ke ruang gawat darurat.

Lampu koridor rumah sakit berpendar pucat saat ranjang Ariel dan Relia didorong masuk secara bersamaan ke ruang UGD.

Mama Wahyuni berdiri di depan pintu dengan wajah yang hancur oleh kesedihan, tangannya tak henti meremas tasbih, mulutnya komat-kamit merapal doa untuk putra dan menantunya.

Di balik tirai pertama, tim medis bekerja cepat menangani Ariel.

Dokter Uma memeriksa luka di wajah Ariel dengan raut wajah sangat serius.

Hantaman gagang pistol Markus ternyata berakibat fatal.

"Luka di area orbita sangat dalam. Segera tutup dan perban mata kanannya untuk mencegah infeksi lebih lanjut dan pendarahan internal," perintah Dokter Uma tegas kepada asistennya.

Ariel masih tak sadarkan diri, wajahnya yang tampan kini tertutup perban putih yang melingkari sebagian kepalanya.

Pemandangan itu begitu memilukan, seolah-olah separuh cahaya dari hidup pria itu telah direnggut paksa.

Sementara itu, di tirai sebelah, perawat sedang memasang selang infus ke pergelangan tangan Relia yang pucat.

Tubuhnya masih lemas akibat syok hebat dan efek pingsan yang panjang. Namun, saat Dokter Uma memeriksa denyut nadi dan kondisi perut Relia, ia tiba-tiba menghentikan tindakannya.

"Perawat, tahan obat penenang berdosis tinggi itu! Panggil Dokter Sukma dari bagian Obgyn, sekarang!" seru Dokter Uma.

Ketegangan meningkat. Mama Wahyuni yang mendengar kegaduhan itu langsung mendekat saat Dokter Uma keluar dari ruang tindakan dengan wajah yang sulit diartikan—antara haru dan cemas.

"Dokter, bagaimana keadaan anak-anak saya? Bagaimana Ariel? Bagaimana Relia?" tanya Mama Wahyuni dengan suara gemetar.

Dokter Uma menarik napas panjang, menatap Mama Wahyuni dengan lembut.

"Ibu, Dokter Ariel masih dalam kondisi kritis namun stabil. Kami harus melakukan observasi ketat pada matanya. Tapi..."

Dokter Uma menjeda kalimatnya sejenak. "Ada kabar yang mengejutkan dari Nyonya Relia. Tubuhnya sangat lemah karena syok, tapi kami menemukan alasan mengapa kondisi fisiknya begitu rentan. Nyonya Relia sedang hamil, usianya baru memasuki beberapa minggu."

Mama Wahyuni menutup mulutnya dengan

tangan, air matanya tumpah seketika.

Sebuah kehidupan baru hadir di tengah badai yang nyaris menghancurkan mereka.

Ada secercah harapan di tengah duka, namun juga kekhawatiran besar.

Suasana rumah sakit terasa begitu berat sekaligus penuh harapan.

Setelah melewati masa kritis di UGD, pihak rumah sakit akhirnya memindahkan Relia dan Ariel ke ruang perawatan VIP.

Demi kemudahan pemantauan, Mama Wahyuni meminta agar ranjang mereka diletakkan di ruangan yang sama, meskipun dipisahkan oleh tirai tipis.

Ariel masih terbaring kaku dengan perban putih yang menutupi salah satu matanya, sementara Relia mulai menunjukkan tanda-tanda akan sadar dengan selang infus yang terus mengalirkan nutrisi untuk dirinya dan janin di rahimnya.

Mama Wahyuni berjalan keluar ruangan dengan wajah tegang namun penuh determinasi.

Di depan pintu, Satrio sudah berdiri tegap seperti karang yang tak tergoyahkan.

"Satrio," panggil Mama Wahyuni dengan suara rendah namun sangat tegas.

"Iya, Nyonya Besar," jawab Satrio sambil membungkuk hormat.

"Kamu sudah dengar kabar dari dokter tadi, kan? Relia sedang hamil. Di dalam dirinya ada penerus keluarga Arkatama yang sangat berharga," Mama Wahyuni menatap tajam ke arah koridor.

"Meskipun Markus dan Tino sudah ditangkap, aku tidak mau kecolongan lagi. Sisa-sisa pengikut mereka mungkin masih ada di luar sana."

Satrio mengangguk paham. "Saya mengerti, Nyonya. Saya akan segera menambah personel keamanan di seluruh area lantai ini."

"Bagus. Pastikan tidak ada orang asing, bahkan perawat sekalipun, yang masuk tanpa pemeriksaan identitas yang ketat. Aku ingin perlindungan berlapis untuk Relia dan Ariel. Jangan sampai ada satu berita pun tentang kehamilan ini bocor ke publik sebelum situasi benar-benar aman," tambah Mama Wahyuni.

"Siap, Nyonya. Saya juga akan menempatkan dua orang penjaga berpakaian sipil di lobi dan area parkir untuk memantau setiap pergerakan yang mencurigakan," lapor Satrio dengan nada yang sangat meyakinkan.

Mama Wahyuni menghela napas panjang, sedikit merasa lega.

Ia kembali masuk ke dalam ruangan, duduk di antara dua ranjang anak-anaknya.

Ia menggenggam tangan Relia yang dingin, lalu beralih menyentuh tangan Ariel yang tak berdaya.

"Bertahanlah, Nak. Kalian harus kuat demi malaikat kecil yang akan hadir di tengah-tengah kita," bisiknya lirih sambil meneteskan air mata haru.

1
Yuningsih Nining
😭😭
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!